
" Ayah... Kakak...! Sarapan, jangan ghibah...!" teriak Medina kencang.
" Dinaaa...!" tegur Rifky dan pak Hasan kompak.
Medina mendengus kesal dengan teguran menantu dan mertua yang kompak itu. Dia langsung masuk ke dalam kamar sambil menggerutu.
" Pasti ngambek lagi, Yah. Susah buat Rifky berangkat kerja kalau kayak gini." lirih Rifky.
" Yang sabar, Nak. Sifatnya memang masih kekanakan." ujar Pak Hasan.
" Tidak apa - apa, Yah. Nanti Rifky bujuk saja biar tidak marah lagi."
Mertua dan menantu itu beriringan masuk ke dalam rumah. Pak Hasan langsung mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Sedangkan Rifky, dia harus masuk kanar untuk menyimpan pakaiannya dan juga membujuk istrinya yang merajuk di pagi yang cerah.
" Sayang... tolong taruh pakaian Kakak di lemari, dong?" pinta Rifky dengan suara sehalus mungkin.
Bukannya menjawab, Medina justru langsung merebut pakaian di tangan suaminya. Setelah merapikan lipatannya, pakaian itu disimpan rapi di dalam lemari.
" Kamu marah, Dek?" lirih Rifky.
" Tidak," jawab Medina datar.
" Marah juga tidak apa - apa, suamimu ini memang sering berbuat salah dan tidak bisa memahami perasaanmu. Maafin kakak, ya?"
" Dina nggak marah!"
" Kalau nggak marah itu senyum, bukannya teriak - teriak. Malu kalau di dengar tetangga, sayang."
" Iya... Dina tidak akan berteriak lagi."
" Istriku sangat pintar, kakak mau ganti baju dulu."
" Kenapa ganti lagi?"
" Nanti dipakai lagi, sekarangkan mau bersih - bersih rumah jadi pakai kaos sama celana pendek saja."
Rifky tanpa malu membuka pakaiannya di depan istrinya karena kamar mandi hanya ada satu dan sedang dipakai pak Hasan. Medina yang masih sedikit malu langsung memalingkan wajahnya.
" Hei... pemandangannya disini, kenapa lihat ke pintu?" goda Rifky.
" Apaan sih, Kak! Cepetan ganti bajunya."
Rifky yang sudah selesai ganti baju langsung mendekap tubuh istrinya dari belakang. Hidungnya yang mancung itu itu digesekkan di tengkuk Medina hingga wanita cantik itu melenguh pelan.
" Habis Ayah berangkat kerja boleh minta jatah, kan...?" bisik Rifky.
" Hmm..." gumam Medina pelan.
Rifky membalik tubuh istrinya lalu mendorongnya pelan ke dinding. Dihimpitnya tubuh kecil sang istri hingga tak ada jarak lagi diantara mereka. Kecupan hangat di kening perlahan turun ke hidung, bibir, leher dan terakhir berlabuh di dada Medina.
" Ayah sudah selesai mandi, kita sarapan dulu." lirih Medina.
" Hmm... kita lanjutkan nanti." jawab Rifky seraya merapikan kancing piyama istrinya yang entah kapan ia melepasnya.
Rifky dan Medina segera keluar dari kamar dan melihat pak Hasan sudah duduk di meja makan bersiap untuk sarapan.
__ADS_1
" Ayah, Dina ambilin makanannya ya?" ucap Dina.
" Terimakasih." balas pak Hasan.
Medina mengambilkan makanan untuk ayahnya lalu suaminya baru dirinya sendiri. Mereka bertiga makan dengan lahap apalagi sup hangat yang dibuat Mefina sangat cocok untuk pagi ini yang cuacanya dingin.
Selesai makan, Rifky mengeluarkan motor yang akan dipakai mertuanya untuk bekerja. Seandainya tidak ada kesibukan dengan pekerjaannya di kota, Rifky pasti lebih memilih untuk menetap di desa dengan pekerjaan yang tidak terlalu melelahkan seperti mertuanya.
" Dina, Rifky... Ayah berangkat dulu." pamit pak Hasan.
" Hati - hati, Yah."
" Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam."
Setelah motor pak Hasan tak terlihat lagi, Medina segera masuk untuk membersihkan dapur setehabis masak dan sarapan tadi.
" Mau kemana, sayang?"
" Ke dapur, Kak. Dina harus beres - beres rumah dulu biar nggak berantakan."
" Lupa sama yang tadi?" Rifky mengusap pelan leher istrinya.
" Beneran sekarang?"
" Kapan lagi, nanti kakak harus berangkat kerja jam sembilan. Semalam kamu terlihat sangat lelah, makanya kakak tidak memintanya."
" Baiklah, tapi jangan lama - lama. Ingat, jangan meninggalkan bekas di leher."
" Iya, sayang. Paling juga cuma di dada." Rifky tersenyum jahil.
" Kakak kunci pintunya dulu." bisik Rifky.
Setelah mengunci pintu, Rifky langsung membopong tubuh istrinya menuju kamar. Dengan cepaf ia melepas semua pakaiannya dan istrinya. Dia harus melakukannya dengan cepat karena harus ikut membantu membersihkan rumah sebelum berangkat bekerja.
" Sudah siap, sayang? Kakak berharap akan tumbuh malaikat kecil dalam rahimmu secepatnya." lirih Rifky.
Tak ingin membuang waktu, Rifky segera menindih tubuh istrinya dan menciumi seluruh wajah dan tubuhnya. Bagian dada adalah area favoritnya sehingga ia meninggalkan banyak tanda merah disana. Medina hanya bisa pasrah dalam kungkungan suaminya yang bersemangat sekali melakukan olahraga pagi.
Keduanya sama - sama terengah saat hasrat yang semakin memuncak. Dengan sekali hentakan, Rifky menaburkan benih cinta di rahim sang istri.
" Terima kasih, sayang. Pagi yang hangat, tidak akan pernah kita lupakan." bisik Rifky.
" Kalau ini bukan pagi yang hangat, tapi panas." sahut Medina.
Rifky memeluk tubuh istrinya lalu kembali mencumbunya untuk menaikkan hasrat keduanya. Medina tak bisa menolak karena iapun juga sangat menginginkannya.
" Lanjut lagi?" lirih Rifky.
" Boleh, tapi sekali saja. Kakak janji mau bantu bersih - bersih rumah."
" Iya, sayangku. Sepertinya sangat menyenangkan jika setiap pagi kita olahraga seperti ini. Setiap hari akan menjadi pagi yang hangat.
" Memangnya kakak tidak bekerja?"
__ADS_1
" Kalau di rumah sendiri, kita bisa melakukannya setelah shubuh."
" Hhh... suamiku ini, begituan terus yang dipikirkan."
" Tentu saja, karena ini adalah olahraga yang paling menyenangkan."
.
.
Jam delapan pagi, Medina keluar dari kamar hanya memakai handuk saja ke kamar mandi karena ayahnya tak ada di rumah. Dia harus mandi dengan cepat lalu membersihkan rumah. Dia berdecak kesal karena Rifky tak menepati janjinya. Harusnya tak sampai satu jam, tapi sang suami malah tak melepaskannya.
Selesai mandi, Medina melihat suaminya mencuci piring dan peralatan dapur lainnya yang kotor. Rifky tahu istrinya itu sangat kelelahan setelah beberapa kali melayani hasratnya.
" Udah selesai mandi, sayang? Kamu istirahat saja dulu sebentar, pasti capek kan?"
" Tidak apa - apa, Kak. Nanti nggak jadi beres - beres rumah kalau istirahat dulu."
" Ya sudah, pakai baju dulu sana. Jangan menggodaku dengan memakai handuk sekecil itu."
Selesai membersihkan dapur, Rifky menyapu teras dan halaman rumah sedangkan Medina membersihkan bagian dalam rumah.
" Kak, udah setengah sembilan lebih. Mandi sana, biar nanti Dina yang teruskan."
" Tidak usah, Dek. Tinggal sedikit lagi kok, tidak sampai lima menit."
Rifky bergegas mandi usai membersihkan halaman. Dia tidak boleh terlambat sampai di kota karena ada meeting penting dengan seluruh divisi.
" Sayang, Kakak berangkat dulu. Hati - hati di rumah, jangan terlalu lelah beraktifitas."
" Kakak nanti pulang kesini lagi?"
" Insya Allah, mudah - mudahan saja bisa pulang cepat nanti. Kasihan juga Nicko harus kerja sendirian terus di kantor."
" Kalau nanti harus lembur, pulang saja ke rumah Mama. Dina nggak mau kalau kakak sakit,"
" Iya, sayang. Sini peluk dulu."
Medina memeluk suaminya dengan sangat erat. Setelah itu ciuman bertubi - tubi ia lakukan di seluruh wajah suaminya hingga Rifky kegelian.
" Kapan kakak berangkatnya kalau dicium tanpa henti seperti ini?"
" Ya udah, hati - hati di jalan. Jangan ngebut bawa mobilnya."
" Ok, sayangku. I love you."
" Love you too, my husband."
Rifky segera masuk ke dalam mobil setelah mengecup kening istrinya dengan lembut.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.