Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Bertemu Ayah kembali


__ADS_3

" Jadi, kapan kau menikahiku?" rengek Medina.


Rifky melepas pelukannya lalu mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil berwarna merah berada dalam genggamannya sekarang.


" Ini untukmu, sebagai pertanda keseriusanku untuk menikahimu. Setelah Ayah pulang nanti, kakak pasti akan menikahimu secepatnya." ucap Rifky serius.


Rifky memakaikan kalung berlian dengan desain yang sangat simple namun terlihat elegan. Gadis itu menangis haru dengan sikap romantis kekasihnya.


" Kakak jangan pergi lagi, Dina tidak mau sendirian."


" Iya, sayang... kakak tidak akan pernah meninggalkanmu. Sekarang kamu istirahat, biar cepet sembuh dan kembali ke rumah."


" Dina lapar, Kak."


" Itu makanannya sudah datang, Kakak ambilkan dulu ya?"


" Dina nggak mau bubur itu, pengen makan yang lain."


" Kamu baru sadar dari koma, sayang. Belum boleh makan yang lain dulu. Nanti kalau udah sembuh, mau apapun pasti kakak belikan."


" Huft... tapi Dina nggak suka bubur seperti itu."


Rifky kembali memeluk kekasihnya dan mengecup keningnya dengan lembut. Gadis kecilnya itu sungguh sangat manja dan sensitif semenjak bangun dari koma.


' Apapun akan kakak lakukan demi kebahagiaanmu, Medina. Kamu sudah berulang kali mengorbankan diri untuk keluargaku. Terima kasih untuk cintamu yang sangat luar biasa ini ' batin Rifky.


.


.


Keesokan harinya, kondisi fisik Medina semakin membaik. Dia sudah bisa ke kamar mandi sendiri tanpa bantuan walau masih berjalan cukup pelan.


" Sayang, ini sarapan dulu." ujar Rifky lembut.


" Bubur lagi...?" sungut Medina.


" Ayolah, sayang. Setelah ini kakak akan tanyakan pada dokter apakah boleh makan yang lain." bujuk Rifky.


Dengan muka cemberut, Medina tetap menerima suapan bubur dari Rifky. Dia menelan bubur itu dengan sangat malas karena rasanya terasa hambar di lidah.


" Sayang, habis ini Kakak ke kantor ya? Ada meeting penting pagi yang tidak bisa diwakilkan."


" Dina sendirian disini, Kak?"


" Nanti Kakak minta Mama supaya temenin kamu, gimana?"


" Jangan, Dina tidak mau merepotkan."


" Terus maunya sama siapa...?"


" Ririn boleh nggak kesini...?"


" Mmm... tapi dia masih di kampung, sayang. Siapa yang mau jemput? Nicko juga sangat sibuk hari ini."


" Adam dan yang lainnya...?"


Rifky berfikir sejenak lalu mengambil ponsel yang ia simpan diatas nakas. Dia mencari kontak seseorang dan segera mengirimkan pesan.


" Ya udah, nanti siang Adam kesini sama yang lain. Sekarang kamu istirahat dulu, biar cepet sembuh."


" Kakak kapan kembali?"


" Nanti sore, sayang. Hari ini jadwal meeting sangat padat, Kakak harus selesaikan pekerjaan dengan cepat supaya kita punya banyak waktu untuk mengurus pernikahan kita."

__ADS_1


" Baiklah,"


Rifky yang tidak tega melihat wajah sendu kekasihnya, akhirnya menunggu sampai gadis itu benar - benar terlelap setelah itu baru berangkat ke kantor.


.


Tengah hari, Adam, Bayu, Johan dan Ririn datang ke rumah sakit atas permintaan Rifky. Mereka membawa buah - buahan yang rasanya manis semua walaupun Medina sangat menyukai buah yang rasanya asam.


" Mey... udah bangun aja? Aku kira masih tahun depan." celetuk Bayu.


" Ish... pegel tahu rebahan terus!" keluh Medina.


" Walaupun rebahan terus dia tidak akan kekurangan apapun, calon suaminya kan konglomerat." sahut Ririn.


" Apaan sih, kalian kesini mau nemenin apa ngebully?" sungut Medina.


" Sorry, Mey... lagian kita tidak punya banyak waktu buat bully kamu lagi." ucap Johan.


" Memangnya kalian mau kemana...?"


Adam yang paling dekat dengan Medina ditatap dua orang temannya untuk menjelaskan. Karena menurut mereka, hanya Adam yang bisa mengerti keadaan Medina.


" Mey, setelah kamu menikah nanti... kami bertiga akan pergi ke Jepang. Hanya Ririn yang tetap tinggal disini." ucap Adam.


" Kalian mau jadi TKI?" tanya Medina serius.


" Masya Allah, Meong... Ya kali kita nguli sejauh itu." sahut Bayu.


" Kita bukan jadi TKI, Mey. Kak Rifky menyuruh kita kuliah disana sekalian bantu kak Jonathan di perusahaannya." jawab Johan.


" Kita nggak akan ketemu lagi dong,"


" Tenang aja, Mey. Aku akan temani kamu disini." ucap Ririn.


" Benarkah? Kamu akan menetap disini, Rin?"


" Terus aku kerja apa dong?" sungut Medina.


" Kamu kerjaannya paling enak, Mey." kata Bayu.


" Apa...?"


Semua orang menatap Bayu yang hanya nyengir tak melanjutkan ucapannya. Medina yang penasaran langsung melempar Bayu dengan bantal.


Bukkk!!!


" Sayang...!"


Semua orang kaget saat Bayu menghindar justru orang yang baru masuk itu terkena lemparan bantal tepat di wajahnya.


" Kak Rifky...!" seru mereka bersamaan.


" Kalian itu bukan anak kecil lagi!" tegur Rifky sambil menepuk kepala mereka dengan bantal yang dibawanya bergantian.


" Kakak kok kesini? Katanya pulang sore...?"


" Nih, kakak bawa makanan untukmu sama yang lain."


Rifky membuka kantong plastik yang berisi lima kotak makanan dan dibagikan kepada teman - teman Medina.


" Wah... nasi padang...! Thank you, Oppa." seru Ririn.


" Memangnya Dina boleh makan ini, Kak?" tanya Medina.

__ADS_1


" Boleh, asalkan tidak pakai sambalnya."


" Ish... mana enak kalau nggak pakai sambal."


" Jangan protes, sini kakak suapi biar cepet. Habis ini kakak harus pergi lagi untuk meeting."


.


.


Dua hari kemudian,


Medina yang harusnya masih menjalani perawatan di rumah sakit, merengek ingin pulang dan ikut menjemput ayahnya di Bandara. Rifky sudah bersusah payah membujuknya namun tetap tak berhasil juga.


Adam yang baru datang karena mendapat pesan dari Rifky juga tak mampu membujuk gadis keras kepala itu sampai pada akhirnya Rifky mengalah dan membawa kekasihnya itu ke Bandara.


" Kak, Ayah kok belum datang sih?" keluh Medina.


" Sebentar lagi, sayang. Kamu capek, ya? Kakak kan udah bilang supaya kamu istirahat dulu di rumah sakit. Nanti juga pasti bertemu Ayah kok."


" Apa Ayah tahu kalau Dina sakit, Kak?"


" Belum, rencananya saat sudah sampai disini baru diberitahu."


" Tolong jangan diberitahu ya, Kak? Dina tidak mau Ayah khawatir."


" Tapi, sayang_..."


" Please, Ayah pasti sedih kalau tahu keadaan Dina yang sebenarnya."


" Jadi kamu nekat ikut ke Bandara buat menutupi keadaanmu pada Ayah?"


" Hmm..."


Medina menyandarkan kepalanya di bahu Rifky saat mereka sudah duduk di kursi ruang tunggu. Saat matanya hendak terpejam sebuah suara mengagatkannya.


" Ayaahhh...!" pekik Medina.


Medina langsung berlari menghamburkan diri ke pelukan ayahnya sambil menangis. Rasa bahagia tak dapat tergambarkan dengan apapun saat ini.


" Kamu kenapa menangis? Ayah baik - baik saja, Nak." lirih pak Hasan.


" Dina sangat senang bisa bertemu Ayah kembali. Dina sangat merindukan Ayah."


" Ayah juga merindukanmu, Nak."


Setelah cukup puas berpelukan, Medina langsung mengajak ayahnya untuk pulang. Mereka akan tinggal untuk sementara waktu di kediaman orangtua Rifky sampai pernikahan Medina dan Rifky dilaksanakan.


" Ayah, apa di Singapore sempat jalan - jalan?" tanya Medina saat mereka sudah berada di dalam mobil.


" Tidak, Ayah hanya di rumah sakit saja. Kamu pikir Ayah liburan disana."


" Hehehee... siapa tahu sambil menyelam minum air."


" Tenggelam yang ada, Dina. Kamu itu ada - ada saja."


Pak Jamal, istrinya dan Rifky hanya ikut tersenyum kecil dan bahagia dengan keadaan Medina dan pak Hasan sekarang. Mereka terlihat sangat bahagia sekali.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2