Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Kapan kau menikahiku?


__ADS_3

Siang hari setelah sholat dzuhur di kantor, Rifky bergegas pergi ke rumah sakit. Sudah tak sabar rasanya untuk kesana, padahal setiap hari ia juga terus menginap disana. Hanya semalam saja Rifky tidak kesana karena ada acara diluar kota dan baru pulang pagi tadi. Nicko juga ikut ke rumah sakit sebentar sebelum berangkat meeting.


" Sayang, sampai kapan kamu akan mendiamkan kakak seperti ini? Maaf sudah selalu merepotkanmu dengan keluhanku sepanjang hari." ucap Rifky pelan.


" Mey, beberapa hari lagi ayahmu pulang. Tidakkah kau mau menyambutnya?" celoteh Nicko.


Ya, dalam peristiwa sebulan yang lalu, Medina yang menjadi korban penembakan Anna karena ingin melindungi papa Surya. Gadis itu tertembak di punggungnya sehingga kritis dan sekarang koma.


" Apa yang harus kukatakan pada ayah, sayang. Aku tidak bisa menjagamu sebaik ayah." lirih Rifky.


" Sabar ya, Boss. Kita tidak boleh pesimis, teruslah berdo'a untuk kesembuhan Medina."


Tak berselang lama, Nicko pamit untuk berangkat meeting di Cafe yang tak jauh dari rumah sakit. Jonathan sudah kembali ke Jepang beberapa hari setelah kejadian itu karena harus mengurus perusahaan disana.


Hans juga sudah kembali ke Korea setelah keadaan benar - benar sudah aman untuk meninggalkan pak Hasan di Singapore bersama beberapa anak buahnya.


Rifky yang merasa lelah, ikut berbaring di samping Medina. Dia tidak peduli walaupun orangtuanya sudah melarang agar tak mengganggu istirahat Medina dengan berdesak - desakan tidur dalam satu ranjang.


.


.


Pukul empat sore, Rifky terbangun saat Tante Mita dan Om Jamal berkunjung. Mereka tidak habis pikir dengan tingkah keponakannya yang sangat manja terhadap kekasihnya yang tengah terbaring koma. Walaupun gadis itu hanya diam saja, namun Rifky selalu bercerita dan akan mengadu tentang lelahnya bekerja di kantor.


" Mandi dulu, Ky. Medina pasti muntah kalau bangun dengan tampang kamu yang seperti itu." ledek tante Mita.


" Apaan sih, Tan. Rifky itu tetep wangi walau seminggu tidak mandi." sahut Rifky malas.


" Dasar anak nakal...! Cepat mandi sana, dokter sampai urung memeriksa kondisi Medina karena kamu tak mau beranjak dari situ." omel tante Mita.


" Ah iya, Seno dimana tante? Kok nggak ikut kesini?" Rifky baru ingat dengan adik sepupunya itu.


" Ada di rumah Papamu, dia tidak mau ditinggal di kampung walaupun Adam sudah membujuknya untuk tinggal dan akan menemaninya bersama Bayu dan Johan." kata om Jamal.


" Ya sudah, Rifky mau mandi dulu supaya nanti bisa menyambut calon istriku dengan wajah yang semakin tampan."


" Ish... sombong sekali kau!" cibir tante Mita.


Selesai mandi, Rifky keluar dan mendapati dokter sedang memeriksa kondisi Medina yang semakin membaik.


" Apa ada perkembangan, Dok?" tanya Rifky.


" Semuanya sudah normal, luka bekas tembakan juga sudah tertutup sempurna. Tinggal menunggu Nona bangun dari tidur panjangnya." jawab dokter.


" Terima kasih, Dok."


" Sama - sama, Tuan."


Rifky sholat Ashar di samping brankar Medina setelah dokter dan Om Jamal serta tante Mita pamit untuk keluar dari ruangan. Selesai sholat, Rifky berdo'a dengan sangat khusyuk hingga samar - samar ia mendengar suara seseorang yang masih di dalam ruangan yang sama dengannya.


" Kapan kau menikahiku...?"

__ADS_1


Suara yang sangat pelan itu mengagetkan Rifky yang seketika langsung berdiri mencari arah sumber suara yang terdengar sangat dekat dengannya.


" Suara siapa tadi? Apa aku hanya berhalusinasi...?" gumam Rifky.


Hanya ada Medina yang masih terpejam dengan posisi yang belum berubah sama sekali sejak tadi. Tidak ada orang lain lagi di tempat itu selain mereka berdua.


" Sayang... Kakak dengar suara aneh tadi, apa kau juga mendengarnya?" pertanyaan bodoh yang ia lontarkan kepada orang yang sudah pasti tidak akan menjawabnya.


Karena penasaran, Rifky sampai mengecek ke bawan brankar dan juga kamar mandi lalu keluar dari ruangan juga.


" Tidak ada siapa - siapa... Jangan - jangan aku udah mulai gila." kesal Rifky.


" Siapa yang gila...?" suara itu datang lagi dan membuat Rifky terlonjak.


" Sayaannnggg...! Ka...kau... sudah sadar?" pekik Rifky.


Medina hanya tersenyum kecil melihat tampang bingung Rifky yang menurutnya sangat menggemaskan. Rasanya ingin menarik hidung mancung calon suaminya yang sangat tampan itu.


Rifky yang kaget langsung memeluk Medina dengan sangat erat. Diciumnya seluruh wajah kekasihnya tanpa rasa malu sedikitpun.


" Hentikan, Kak!" kesal Medina yang sulit bergerak karena dekapan Rifky.


" Sayang, sejak kapan kamu sadar...?"


" Kata Dokter sudah dari semalam, Dina tidak lihat jam."


" Kenapa Dokter diam saja dan tidak memberitahu kakak?"


" Dina yang suruh Dokter supaya tidak memberitahu Kakak. Mama dan Papa juga tadi pagi sudah kesini jenguk Dina."!


" Om dan Tante juga tahu, sayang?"


" Tentu saja, Kak Nicko juga tahu kok."


" Nicko...? Sial...! Kenapa dia berbohong padaku!" kesal Rifky.


Rifky membantu Medina untuk duduk lalu memberikan air putih yang telah tersedia di atas nakas. Dia baru ingat akan hal itu sekarang. Untuk apa Suster menyiapkan air minum disana dan hanya tinggal separuh saja di saat Medina masih koma.


" Ish... harusnya aku sadar dengan melihat minuman ini ada disini." gerutu Rifky kesal.


" Udah dong marahnya, calon suamiku." bujuk Medina.


" Tahu ah! Kamu kan tahu aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Kenapa kamu malah mempermainkan perasaanku!" kesal Rifky.


" Maaf, jangan marah lagi ya?"


" Kakak keluar dulu." ucap Rifky datar.


" Kak_..."


Rifky keluar begitu saja tak memperdulikan panggilan calon istri yang menatapnya sendu dan merasa bersalah.

__ADS_1


.


.


Hingga satu jam Rifky pergi dan tak ada kabar sama sekali membuat Medina bersedih. Gadis itu menangis tanpa sebab membuat suster yang merawatnya merasa bingung. Dokter juga sampai memeriksanya kembali takut pasiennya merasakan sakit di bagian bekas lukanya.


" Nona, apa masih ada yang sakit?" tanya Dokter cemas.


Medina tidak menjawab namun masih terisak sehingga Dokter dan suster itu semakin cemas.


" Nona, kita lakukan rongent untuk memastikan tak ada cidera di tubuh Anda." kata Dokter.


" Dia pergi..." lirih Medina.


" Siapa yang pergi?" tanya Dokter bingung.


" Dia pergi..." ucap Medina berulang - ulang.


Ketika dokter dan suster kebingungan menghadapi tingkah aneh Medina, Rifky sedang berjalan di lorong dengan senyum yang terkembang sempurna. Bahkan ia sempat menyapa beberapa orang yang dilewatinya.


Sampai di depan ruang rawat Medina, Rifky sempat berhenti sejenak untuk merapikan penampilannya. Ia kembali tersenyum kecil seraya membuka pintu.


" Sayang_..."


Rifky kaget saat melihat Dokter dan Suster yang kewalahan menghadapi Medina. Rifky langsung mendekat dan melihat kekasihnya yang dalam keadaan kacau.


" Sayang... ada apa denganmu?" Rifky memeluk Medina dengan erat walaupun gadis itu terus meronta.


" Sayang, tenanglah. Kenapa kamu seperti ini, hmm?"


" Kau jahat...!" lirih Medina.


" Hei... katakan padaku apa yang terjadi? Kau baru sembuh, jangan terlalu banyak gerak dulu."


" Kenapa kau meninggalkanku!"


Rifky menghela nafas pelan lalu menyuruh Dokter dan Suster untuk keluar saja karena semuanya tak ada hubungannya dengan mereka.


" Sayang, berhentilah menangis. Kakak tidak meninggalkanmu, lihat ini! Kakak beli bunga mawar putih untukmu. Hadiah untuk calon isstriku yang sudah sembuh. Dan kakak juga punya sesuatu untumu, tutup matamu!"


" Kakak tidak bohong?"


" Tentu saja, bukankah tadi bertanya kapan aku menikahimu?"


" Jadi, kapan kau menikahiku?"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2