
Medina menangis haru saat Adam melakukan panggilan video agar Medina bisa melihat langsung acara ijab qobul. Saat kata 'SAH' terucap dari saksi dan para tamu, mama Kamila memeluk menantunya dengan penuh kasih sayang.
Tak lama Rifky datang sehingga Mama Kamila dan Ririn segera keluar dari kamar itu membiarkan sepasang pengantin baru itu bertemu untuk pertama kalinya setelah menjadi pasangan halal.
" Assalamu'alaikum, istriku." sapa Rifky dengan senyum yang terkembang sempurna.
" Wa'alaikumsalam... apa sudah selesai?" balas Medina.
Medina meraih tangan Rifky dan diciumnya dengan takzim. Di saat bersamaan, Rifky meletakkan telapak tangan satunya diatas kepala istrinya lalu membacakan sebuah do'a kemudian mencium keningnya cukup lama.
" Kenapa menangis? Ini adalah hari bahagia kita berdua, tersenyumlah untuk suamimu." bisik Rifky dengan suara yang sangat lembut.
" Aku masih tidak percaya statusku berubah secepat ini, Kak."
Rifky meraih tubuh istrinya dan membawanya dalam dekapan yang begitu hangat. Tak bisa ia ungkapkan dengan kata - kata betapa bahagianya dia saat ini.
" Kita ke bawah sekarang, semua orang sudah menunggu kedatangan kita."
" Kakak bilang tidak akan mengundang banyak orang?"
" Tidak banyak, sayang. Hanya dua ratusan orang saja hari ini. Nanti malam juga hanya sekitar seribu orang saja."
" Seribu orang kakak bilang 'hanya'...? Ish... dasar menyebalkan!"
" Jangan manyun begitu, kakak tidak akan bisa menahannya lebih lama." goda Rifky.
" Ish... minggir sana! Jangan dekat - dekat denganku!"
" Hahahaa... bagaimana mungkin, sayang. Kita harus naik ke pelaminan berdua."
" Huh...!"
Medina mendorong tubuh Rifky dengan kuat sehingga pria itu mundur beberapa langkah. Sungguh sangat menyenangkan bisa menggoda istrinya, apalagi setiap hari mereka akan hidup bersama dalam satu rumah, satu ranjang.
" Ya Allah... istriku sungguh sangat tidak romantis." lirih Rifky saat melihat Medina sudah keluar kamar lebih dahulu.
" Sayang... kita turunnya barengan, malu dilihat tamu kalau kamu marah di hari pernikahan kita." bujuk Rifky.
" Kakak masih punya malu juga?"
" Ya Allah, istriku yang cantik ini sangat menggemaskan sekali."
Rifky merangkul pinggang istrinya saat menuruni tangga menuju bawah sehingga menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di bawah. Kedua mempelai terlihat sangat serasi dengan balutan busana warna putih cerah. Medina memakai gaun panjang berenda dengan rambut yang disanggul keatas menjadikan dia terlihat lebih dewasa dari umurnya sekarang.
" Kamu sangat cantik hari ini, rasanya sangat tidak rela kalau kecantikanmu dipandang semua orang." bisik Rifky seraya mempererat rangkulannya.
" Kenapa tadi nggak dikarungin aja biar tidak ada yang lihat!" kesal Medina.
" Ssttt... senyum dong, sayang. Kakak minta maaf, istriku yang cantik." bujuk Rifky.
Sampai dibawah, suara tepuk tangan para undangan bergema di seluruh sudut rumah hingga kedua mempelai berdiri di pelaminan. Semua tamu berbaris rapi untuk mengucapkan selamat kepada sang pengantin.
" Selamat, Boss. Akhirnya status kita sama, hanya tinggal menunggu Nicko saja." ucap Hans yang tersenyum sangat manis hari ini.
Jangan lupakan bagaimana para kerabat Rifky terutama para gadisnya yang heboh saat melihat Hans dan Jonathan yang datang sebagai pengiring pengantin laki - laki dengan pakaian yang rapi serba putih. Wajah Asia yang paling digandrungi para kaum hawa terutama di Indonesia.
__ADS_1
" Terima kasih, Hans. Kau do'akan Nicko biar cepet ketemu dengan jodohnya." sahut Rifky.
" Tidak usah ngurusin hidup orang! Kayak hidup kalian udar bener aja!" kesal Nicko yang selalu jadi bahan bully'an bila menyangkut pasangan hidup.
" Kak Hans, Kak Jo... kita foto bareng yuk? Jarang - jarang kalian berempat bisa kumpul dengan formasi lengkap seperti ini." pinta Medina.
" Boleh, hari ini sang ratu boleh meminta apapun juga." ucap Jonathan dengan senyum tipisnya.
" Thank you, Kak Jonathan. You are very is the best!" seru Medina sambil merangkul lengan pria itu dengan erat.
" Sayang...! Jangan peluk - peluk suami orang!" tegur Rifky lembut namun tegas.
" Kau manis sekali, Mey." goda Jonathan.
Entah mengapa, Jonathan yang biasanya pendiam seperti batu itu berubah menjadi murah senyum dan sedikit menyebalkan bagi Rifky.
Rifky yang kesal langsung menarik Medina ke dalam pelukannya. Tatapannya yang tajam membuat Jonathan mundur beberapa langkah.
" Mey... ada yang datang ingin bertemu denganmu." bisik Adam.
" Siapa...?" Medina melonggarkan pelukan suaminya.
" Tuh dia orangnya." sahut Adam menunjuk seseorang yang berjalan kearahnya.
" Dani...!" pekik Medina.
" Selamat ya, Mey... semoga menjadi keluarga SAMAWA." ucap Dani tulus.
" Terima kasih, Dan. Aku kira kamu sudah berangkat ke Paris."
Medina menatap ke arah suaminya memohon. Dengan berat hati ia menuruti keinginan istrinya dengan mengajak Dani turun dari panggung pelaminan.
" Ada apa...?" tanya Rifky datar.
" Gadis itu masih ada sama kak Rifky, kan?" ucap Dani.
" Kenapa kau bertanya begitu? Apa kau pikir saya akan menyelewengkan uang kecilmu itu!"
" Bukan begitu, Kak. Saya akan pergi untuk waktu yang lama, tolong jaga gadis itu dengan baik. Saya akan datang lima tahun lagi untuk menikahinya. Saya tetap akan memberikan biaya hidup untuknya dan keluarganya melalui kakak."
" Baiklah, hanya lima tahun saya menjaganya. Jika sampai kau tak datang, jangan salahkan saya jika ada pria lain yang meminangnya."
" Saya janji akan datang lima tahun lagi, terima kasih."
Usai berbicara berdua, Dani langsung pamit pada teman - temannya. Tak lupa ia menyerahkan sebuah kado untuk Rifky dan Medina.
.
.
Malam harinya, resepsi pernikahan di gelar di hotel yang sangat mewah milik keluarga Mahendra. Medina hanya bisa mengelus dada saat melihat lautan manusia di hadapannya. Padahal sedari awal ia hanya akan mengadakan syukuran kecil saja di rumah, namun melihat betapa pentingnya acara seperti ini bagi suami dan mertuanya yang seorang konglomerat membuat Medina hanya bisa pasrah.
" Rifky... kenapa kamu malah tiduran! Cepat bersiap sana." seru tante Mita.
" Dina aja masih lama, Tante. Aku ngantuk mau tiduran sebentar." sahut Rifky malas.
__ADS_1
" Dasar anak nakal...! Ini moment sekali seumur hidup, jangan main - main!" tegur mama Kamila.
" Biarin aja, Ma. Suruh kak Jonathan aja buat gantiin kak Rifky di pelaminan." ucap Medina kesal.
" Eittts...! Jangan dong, masa' kamu mau bersanding dengan suami orang." sungut Rifky.
Rifky segera bangkit dari tempat tidurnya menghampiri sang istri yang tengah merajuk. Bisa kacau acara malam ini kalau pengantinnya memasang wajah cemberut seperti itu.
" Ya udah, kamu dandan yang cantik setelah itu kita ke pelaminan. Istriku menggemaskan sekali kalau lagi ngambek."
Mama Kamila dan tante Mita menggelengkan kepala melihat pasangan pengantin yang bersifat kekanakan itu. Mereka tidak terlihat seperti sepasang pengantin, melainkan adik kakak yang selalu bertengkar.
Kedua mempelai masuk ke dalam ruangan yang sudah di sulap semewah mungkin dengan hiasan bunga - bunga yang menghiasi setiap sudut ruangan. Malam ini pasti akan menjadi malam yang paling melelahkan bagi sepasang pengantin baru itu. Tamu undangan datang silih berganti untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
" Apa kau lelah, sayang?" bisik Rifky saat melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
" Iya, tapi acaranya belum selesai." sahut Medina.
" Mau minum...?"
" Tidak, pengen rebahan."
" Satu jam lagi acaranya selesai, duduk saja yuk."
" Hmm..."
Bayu datang membawa dua gelas soda dingin untuk sepasang pengantin yang kelelahan itu.
" Minum dulu, nanti pingsan lagi kalau dipaksakan seperti ini terus." ujar Bayu.
" Bay... ini masih lama ya? Capek, nih!" rengek Medina.
" Sebentar, aku tanyakan kak Nicko dulu."
Tak lama Bayu datang lagi bersama Nicko. Yang lain tampak sedang berbincang seperti Jo dan Hans yang tampak serius bersama Adam dan Johan.
" Boss, kalian istirahat saja. Biar kami yang urus semua tamu. Sebentar lagi juga acaranya selesai kok." ujar Nicko.
" Beneran Kak udah boleh pergi?" tanya Medina semangat 45.
" Iya, pergilah!"
" Thank you, Kakak..."
Medina langsung menarik lengan Rifky keluar dari tempat resepsi menuju kamar yang sudah disiapkan untuk mereka.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1