
Lima belas menit menunggu, akhirnya Nicko dan dua sahabatnya datang. Mereka labgsung menuju ruang keamanan sesuai perintah bossnya.
" Boss, kok bisa istrimu hilang?" cecar Nicko.
" Mana kutahu, tadi pagi habis shubuh masih ada di kamar. Dia pergi sekitar jam enam pagi."
" Kau mungkin tahu kenapa dia harus keluar dari hotel atau apa yang kalian bicarakan terakhir kali?" tanyag Jonathan.
" Apa ya...? Terakhir kali_..."
Rifky mencoba mengingat kejadian tadi pagi. Dia bangun jam lima untuk sholat lalu tidur lagi. Tak lama Medina membangunkannya untuk_....?
" Aku ingat, dia mengajakku untuk sarapan diluar. Tapi karena aku sangat mengantuk, jadi aku kembali tidur." kata Rifky.
" Ya Allah... Rifky, jadi orang bodoh banget sih! Kalian baru sehari menikah, romantis sedikit apa!" kesal Nicko.
" Boss, sebaiknya cari istrimu secepatnya. Tidak baik kalian seperti ini. Kalau orangtuamu tahu istrimu hilang sehari setelah pernikahan." Hans menepuk bahu sahabatnya itu.
" Ayo kita cari sekarang, Boss." kata Jonathan sambil berlalu keluar ruangan.
Mereka segera masuk ke dalam mobil yang sama karena Hans dan Jonathan tidak tahu jalanan di kota ini. Rifky juga tidak mungkin membawa mobil sendiri karena pikirannya sedang kacau.
" Kita cari arah mana, Boss?"
" Coba ke pusat kota dulu, mungkin istriku pergi kesana."
" Ok, sesuai perintah Anda."
Mereka berkeliling kota hingga satu jam lamanya namun tak ada tanda - tanda keberadaan Medina. Rifky terlihat semakin panik saat pencariannya tak membuahkan hasil.
" Boss... itu Medina...!" teriak Hans.
Nicko langsung menepikan mobilnya dengan cepat lalu berhenti. Rifky segera turun dari mobil dan menyeberang jalan ke arah gadis yang sedang berjalan sendirian di tengah teriknya matahari yang menyengat kulit.
" Dina...! Kamu kemana saja...?" seru Rifky sembari memeluk erat istrinya.
" Sayang_..." lirih Rifky setelah mengurai pelukannya.
" Kak Rifky kok disini?" ucap Medina pelan.
" Maafin Kakak soal tadi pagi, sayang. Kakak yang salah tidak menuruti keinginanmu."
" Tidak apa - apa, Dina nggak marah kok."
" Beneran nggak marah?"
" Iya, Kak. Dina yang seharusnya minta maaf sudah merepotkan kak Rifky."
" Ssttt...! Jangan bicara begitu lagi. Kau istriku, tanggung jawabku. Apapun yang kamu inginkan, kakak pasti berikan. Maaf sudah membuatmu kecewa, tolong jangan pergi lagi meninggalkanku."
" Maaf, Kak."
Rifky menatap wajah istrinya yang terlihat lelah. Keringat membasahi seluruh tubuh gadis itu membuatnya semakin merasa bersalah.
" Jangan pergi sendirian, kemanapun kamu ingin pergi harus kakak temani."
" Iya, sekali lagi Dina minta maaf. Sebenarnya Dina tidak berniat pergi lama - lama, hanya saja jalan disini membuat Dina pusing." ucap Dina pelan.
__ADS_1
Jo, Hans dan Nicko berjalan mendekat kearah Medina dan Rifky. Mereka mengucap syukur karena Medina dalam keadaan baik - baik saja saat ini.
" Mey, kenapa kabur? Kalau memang tidak cinta lagi dengan Boss, aku bisa menggantikan posisinya." ucap Nicko nyengir.
" Nickooo...! Kubunuh kau...!" teriak Rifky kesal.
" Hey... ayo pergi sekarang. Medina butuh istirahat itu...!" tegur Jonathan.
Hans tersenyum kecil melihat tingkah para sahabatnya yang kadang aneh, namun sangat perhatian. Setiap kali salah satu membutuhkan, walaupun jarak mereka jauh dan sibuk namun mereka tetap mengutamakan persahabatan.
Kini mereka masuk ke dalam mobil dengan Rifky yang harus berhimpitan di belakang bersama Medina dan Hans. Rifky yang berada di tengah, merasa begitu tidak nyaman.
" Sayang, kamu kalau pergi jangan sendirian. Kamu kan tidak tahu jalanan di kota, kalau nyasar gimana? Ponsel juga tidak kamu bawa, kan?"
" Maaf, tadinya Dina cuma pengen jalan - jalan ke depan hotel. Tapi tidak tahu kenapa malah kejauhan dan sudah berjalan hampir tiga jam sampai di taman yang depannya ada gedung pemerintahan kayak kantor walikota atau apa gitu."
" Itukan jauh banget, Mey. Kamu kenapa nggak balik ke hotel?" tanya Nicko.
" Dina lupa alamat hotelnya, Kak. Ini juga tadi jalan mau cari hotelnya."
" Kamu bisa naik taksi atau ojek, sayang."
" Dina nggak bawa uang, mau bayar pakai apa?"
" Ya udah, yang penting lain kali jangan pergi sendirian."
Rifky menyeka keringat yang masih melekat di kening Medina dengan lembut membuat iri ketiga sahabatnya yang sedari tadi melihat sikap romantis sepasang pengantin baru itu.
" Kak... Dina lapar." lirih Medina.
" Mau makan apa, sayang?" sahut Rifky.
" Hans, Jo... kalian mau makan apa...?"
" Apa saja, Boss. Asalkan tidak terlalu pedas."
" Nasi padang aja ya, Kak? Sambalnya dipisah, jadi bisa pakai porsi pedasnya sendiri." usul Medina.
" Ok, sepertinya tidak buruk." sahut Hans.
Mereka berlima masuk ke restoran padang dan mencari tempat duduk yang ada di paling pojok ruangan. Setelah memesan makanan, mereka berbincang sebentar sampai pesanan datang.
" Kak Hans, kapan istrinya lahiran?" tanya Medina.
" Sekitar dua mingguan lagi, kenapa Mey?" sahut Hans.
" Aku boleh kesana buat lihat anak kalian, kan?"
" Tentu saja, kau boleh datang kapanpun kau mau."
" Kak Rifky_..." rengek Medina.
" Iya, nanti lihat jadwal kakak dulu, sayang." ucap Rifky.
Setelah pesanan datang, mereka segera makan dengan lahap. Tak ada yang mengeluarkan suaranya karena sibuk dengan makanannya.
Selesai makan, Rifky lebih memilih naik taksi bersama Medina daripada harus berdesakan dengan Hans. Mereka akan berkeliling sebentar di Mall terdekat dari hotel.
__ADS_1
" Sayang, kita ke bioskop dulu yuk?" ajak Rifky.
" Bioskop...? Mau nonton film apa, Kak?" tanya Medina antusias.
" Terserah, apapun film yang kau suka akan kita tonton."
" Benarkah...?"
" Iya, istriku sayang."
" Ya udah, beli tiketnya dulu yuk?" ajak Medina.
" Tidak usah, kita tunggu aja dulu setengah jam di Cafe." sahut Rifky.
Rifky menggandeng tangan istrinya menuju cafe yang ada di lantai bawah. Dia tak ingin istrinya menghilang lagi darinya.
Setelah menunggu selama setengah jam, Rifky kembali mengajak istrinya menuju tempat bioskop. Disana, mereka sudah disambut beberapa pegawai.
" Kak... kok tempatnya sepi sih?" bisik Medina.
" Ayo masuk, kamu bisa pilih film yang kamu inginkan."
Di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua dan dua pegawai yang membawakan makan ringan dan minuman dingin. Setelah itu mereka memberikan daftar film yang akan dipilih Medina.
" Kak_..."
" Nikmati saja hari ini, kita akan menonton film berdua saja."
" Kakak menyewa tempat ini hanya untuk kita berdua?"
" Sudah, cepat pilih filmnya." bisik Rifky.
Medina segera memilih film action Jepang terbaru yang baru di rilis beberapa hari yang lalu. Rifky hanya ikut saja karena sebenarnya ia tidak begitu suka nonton film di bioskop.
Setelah film diputar, dua pegawai itu segera keluar dari ruangan. Rifky melihat istrinya sangat antusias melihat layar besar di hadapannya. Baru setengah jam saja, Rifky sudah bosan dan memilih untuk tiduran di pangkuan istrinya.
" Sayang... bagaimana kalau kita buat bioskop mini di rumah nanti. Jadi, kita tidak perlu jauh - jauh ke Mall." bisik Rifky.
Medina hanya melirik sekilas suaminya yang terlihat sudah bosan menemaninya. Dia mengusap pelan wajah suaminya yang hampir tertidur itu.
" Bosan ya? Sebentar lagi ya, suamiku sayang." Medina mencium bibir suaminya sekilas.
" Kok sebentar, sayang." rengek Rifky.
" Nanti dilanjutin di rumah, sekarang fokus sama filmnya." sahut Medina kembali menatap layar.
" Huft...!"
Dua jam di dalam bioskop, akhirnya mereka berdua kembali ke hotel. Medina sudah sangat lelah hari ini dan ingin segera tidur.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.