Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Malam mingguan


__ADS_3

Selepas isya', Rifky ke rumah Adam untuk membahas sesuatu tentang Medina. Disana juga ada Johan dan Bayu yang ikut berkumpul.


" Tumben kak Rifky nggak ke rumah Medina?" tanya Adam.


" Besok saja, sekarang ada yang ingin kutanyakan pada kalian soal Medina." kata Rifky.


" Medina kenapa, kak?" tanya Bayu.


" Kalian tahu soal hukuman Medina yang tidak boleh keluar rumah?"


" Tahu, kak. Tapi Medina tidak pernah bilang apa alasannya. Ponselnya juga disita oleh pak guru." kata Johan.


" Itu dia, Medina juga tidak mau cerita padaku. Paman juga tidak tahu kenapa Medina pergi tengah malam."


" Pergi tengah malam? Maksud kakak apa?" tanya Adam.


Rifky menyandarkan tubuhnya di kursi kayu sambil menghela nafas panjang.


" Jadi kalian benar - benar tidak tahu tentang Medina?"


" Iya, kak. Padahal kemanapun Medina pergi, dia selalu mengajak salah satu dari kami karena pak guru tidak pernah mengijinkan dia pergi sendirian meskipun di siang hari." kata Adam.


" Sepertinya dia tidak ijin pada ayahnya dan keluar masuk rumah lewat jendela kamar."


" Apa ini ada hubungannya dengan masalah preman yang malak di jalanan?" gumam Johan.


" Maksudmu... Mey mengurus masalah itu sendirian?" tanya Bayu.


" Dasar keras kepala! Dia anggap kita ini apa." geram Adam.


" Jadi, Medina menyerang para preman itu sendirian?" tanya Rifky.


" Sebaiknya kita tanya sama Jefri, mungkin dia tahu masalah ini." kata Johan.


¤ ¤ ¤


Johan menghubungi Jefri untuk menemuinya di perempatan ujung desa. Johan yakin jika Jefri tahu tentang masalah Medina. Dia sudah curiga saat Medina bicara berdua saja dengan Jefri.


Sampai di perempatan, Jefri dan dua anak buahnya sudah menunggu. Mereka membungkukkan badannya ketika Rifky dan ketiga temannya datang.


" Bang Jefri, saya ingin bertanya soal Mey beberapa hari lalu yang keluar rumah tengah malam. Apa kau tahu tentang itu?" tanya Adam dengan tatapan tajamnya.


" Saya... saya tidak tahu, Dam. Boss Mey tidak pernah menemui kami di malam hari." jawab Jefri gugup.


" Kau pikir saya bodoh! Cepat katakan atau kupatahkan lehermu!" ancam Rifky dengan mencengkeram dagu Jefri.


" Ba... baik, boss. Saya akan mengatakan dengan jujur." ucap Jefri terbata.


Jefry menceritakan kejadian malam itu dimana Medina bersikeras untuk melawan preman itu sendirian. Bahkan anak buah Jefri pun tidak ada yang boleh terlibat.


" Kenapa bang Jefri tidak beritahu kami?" geram Bayu.


" Maaf, ini perintah dari boss Mey. Saya tidak berani melawan perintahnya."


" Tapi kalau Mey terluka gimana?!" hardik Johan.


" Maaf, boss Mey hanya ingin agar kalian tidak terlibat dalam masalah ini. Terlalu banyak yang terlibat akan memicu permasalahan yang lebih besar lagi. Boss tidak ingin kalian terluka."


Mereka bertiga menggeram menahan amarah. Medina sudah tak menganggap mereka sama sekali. Masalah sebesar itu dia hadapi sendiri secara diam - diam.


" Kenapa dia keras kepala sekali!" geram Bayu.


" Sudahlah, lain kali jika ada masalah lagi bicarakan padaku dulu. Medina tidak perlu tahu, semuanya akan menjadi tanggung jawabku mulai sekarang." kata Rifky.


" Baik, boss."


¤ ¤ ¤

__ADS_1


Usai bertemu Jefri, Rifky mengajak tiga remaja itu ke rumah Medina. Waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam, pasti Medina belum tidur.


" Assalamu'alaikum," ucap Rifky seraya mengetuk pintu rumah Medina.


" Wa'alaikumsalam." sahut Medina dari dalam.


Dengan malas Medina melangkahkan kakinya ke depan karena tahu siapa yang datang.


" Kak Rifky? Kenapa malam - malam kesini?" ucap Medina malas.


" Kakak tidak sendiri, tuh ada teman - teman kamu." sahut Rifky.


" Meong, udah makan belum? Keluar yuk cari bakso?" seru Bayu.


" Sorry, aku ngantuk mau tidur." sahut Medina dengan ekspresi datarnya.


" Mey, ini baru jam sembilan. Sesekali malam mingguan kita," rayu Johan.


" Tidak bisa, Jo. Aku_..."


" Biar kakak yang bilang sama paman," bujuk Rifky.


" Jangan, kak. Dina tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Dina nggak mau ayah marah lagi."


Adam yang sedari tadi diam, mulai angkat bicara karena masih marah dengan sikap Medina yang meremehkannya.


" Oh... jadi kamu lebih suka jalan dengan bang Jefri daripada kami?" ketus Adam.


" Bukan begitu, Adam sayang. Ada hal yang harus aku selesaikan kemarin."


" Sayang, kamu apaan sih? Cuma aku yang boleh kamu panggil sayang." lirih Rifky setelah menarik gadis itu mendekat padanya.


Medina hanya nyengir lalu mencubit pinggang Rifky hingga pria itu meringis menahan sakit.


" Sebenarnya kalian kesini mau apa?" tanya Medina.


" Ssttt... jangan keras - keras, nanti kedengeran sama ayah!" ucap Medina pelan.


" Sudah, masalah ini sudah selesai. Sebaiknya kita usah bahas soal ini lagi. Mulai sekarang, kalian berempat fokus belajar saja. Urusan pasar nanti kakak yang handle." ujar Rifky.


" Aku minta maaf pada kalian semua, aku hanya tidak ingin kalian terluka." ucap Medina.


" Lain kali jangan begitu lagi, ya? Kami sangat khawatir padamu," ujar Rifky.


" Iya, Dina tidak akan begitu lagi." ucap Medina pelan.


" Mey, jadi keluar kan? Mumpung gratis, ayolah?" rengek Bayu.


" Mmm... gimana ya?" Medina ragu mau menjawab apa.


" Tunggu dulu disini, biar kakak yang minta ijin sama paman." kata Rifky.


Rifky masuk ke dalam rumah dan menghampiri pak Hasan yang sedang menonton tv di ruang tengah. Pria dewasa yang belum genap setengah abad itu menoleh saat Rifky datang.


" Rifky, duduklah!" titah pak Hasan.


" Iya, paman."


Setelah duduk, Rifky mengutarakan keinginannya untuk mengajak Medina keluar sebentar supaya gadis itu tidak merasa jenuh dan kembali bersemangat.


" Paman, boleh ya Medina keluar dengan Rifky dan teman - temannya?"


" Ya sudah, tapi jangan lama - lama. Kalau mau main itu kalau siang saja."


" Kalau besok Rifky ajak Medina liburan boleh ya, paman? Soalnya waktu Rifky di kota kemarin sudah janji mau ajak Dina liburan."


" Baiklah, asal perginya sama kamu paman percaya. Tapi kalau hanya dengan keempat temannya, paman masih ragu."

__ADS_1


" Ragu kenapa, paman?"


" Soalnya mereka itu tidak berani membantah ucapan Medina." ujar pak Hasan.


¤ ¤ ¤


Rifky mengambil jaket milik Medina di kamar lalu membawanya keluar dan diberikan kepada gadis kecilnya.


" Sayang, cepat pakai ini. Kita berangkat sekarang sebelum malam semakin larut." kata Rifky lirih.


Rifky sudah siap diatas motor menunggu gadis kecilnya yang masih memakai jaketnya. Gadis itu terlihat sangat cantik saat tersenyum kecil.


" Ayo, sayang. Pegangan ya biar nggak jatuh." ujar Rifky sambil nyengir.


" Ihh... modus!" cibir Medina.


Rifky melajukan motornya dengan kecepatan sedang diurutan paling belakang. Dia ingin menikmati waktu sebanyak mungkin bersama gadis yang sudah mengisi seluruh ruang hatinya.


" Sayang, apa kamu senang malam ini?" tanya Rifky.


" Tidak tahu, kak. Jujur ini pertama kalinya malam minggu keluar rumah. Biasanya paling ngumpul di rumah atau di tempat Adam."


" Masa' sih? Jadi gadis kecilku ini tidak pernah malam mingguan?"


" Nggak penting juga, kan Dina tidak pernah punya pacar."


" Berarti kakak dong yang pertama di hati Calis?"


" Tidak mau,"


" Kenapa?"


" Karena Dina tidak mau dengan bekas perempuan lain."


" Ya Allah, sayang. Kakak juga tidak pernah pacaran dengan siapapun." tegas Rifky.


Rifky menepikan motornya di pinggir jalan. Dia sedikit kesal dengan Medina yang menuduhnya bekas wanita lain.


" Kenapa berhenti disini? Yang lain sudah jauh, kak?"


" Bisa nggak jangan menuduh kakak seperti itu! Kakak tidak suka kamu begitu."


" Iya, maaf." lirih Medina.


" Hhh... jangan begitu lagi, kakak nggak suka." ucap Rifky datar.


Medina merasa bersalah dan takut dengan kemarahan Rifky. Ingin rasanya ia menangis, namun dia tahan agar tak terlihat pria itu. Sambil membalikkan badan membelakangi Rifky, Medina mengusap airmatanya. Dia sendiri heran, kenapa saat ayahnya yang marah ia masih biasa saja. Tapi ini, pria yang tak ada status apapun dengannya bisa membuat hatinya sakit hanya dengan bentakan kecil.


" Ayo pergi! Kamu mau disini terus?" ketus Rifky.


Seolah tuli, Medina hanya diam tanpa ekspresi apapun walau airmatanya perlahan menetes membasahi pipinya. Gadis itu duduk di atas rerumputan sambil memejamkan matanya. Tiba - tiba ia teringat dengan almarhumah ibunya yang selalu membelai rambutnya lalu memeluknya dengan erat saat ia menangis.


" Ibu, Dina rindu ibu..." batin Medina.


" Dina, ayo pergi sekarang. Kamu kenapa sih?" kata Rifky masih sedikit kesal.


Bukannya menyahut, Medina malah beranjak dari duduknya dan berjalan semakin menjauh dari Rifky. Entah kemana dia akan pergi, gadis itu itu tetap bungkam saat Rifky memanggilnya.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2