Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Diserang preman


__ADS_3

Usai sholat maghrib dan buka bersama di Mushola, mereka segera pulang ke rumah masing - masing. Namun baru saja Medina hendak naik ke motor Adam, sebuah mobil berhenti di depannya.


" Assalamu'alaikum," sapa Rifky dengan senyum yang tergambar jelas di wajahnya.


" Wa'alaikumsalam, kak Rifky." jawab Adam.


" Kak Rifky baru datang dari kota?" tanya Medina.


" Sudah dari tadi, tapi sholat jamaah dulu tadi sama paman." jawab Rifky.


" Dam, Medina pulang sama saya." kata Rifky lagi.


" Iya, kak." sahut Adam.


Adam segera melajukan motornya meninggalkan Rifky dan Medina untuk menyusul yang lain.


" Kamu cantik," ucap Rifky dengan senyum khasnya.


" Apaan sih!" sahut Medina tersipu malu.


Untung saja hari sudah nampak gelap, jadi rona merah di pipinya tak terlihat oleh Rifky. Medina tampak salah tingkah dan canggung di depan Rifky.


" Ayo pulang, sebentar lagi sholat tarawih." ujar Rifky.


" Iya," jawab Medina singkat.


" Kamu kenapa? Apa ada masalah disini?"


" Tidak."


" Ya Allah, sayang. Sebenarnya ada apa? Kamu tidak boleh menyembunyikan apapun dari kakak."


" Dina tidak apa - apa, kak."


Rifky menatap lekat penampilan baru kekasihnya. Gadis yang biasanya berpakaian tomboi itu, kini nampak anggun dan feminim dengan gamis polos warna biru muda dengan kerudung putih yang menutup rapat seluruh tubuhnya.


" Kamu sangat cantik dengan pakaian seperti ini. Kakak berharap kamu bisa terus memakai kerudung biar terlihat semakin cantik." ucap Rifky serius.


" Mmm... kakak jangan membuatku malu. Dina belum siap untuk menggunakan hijab,"


" Tidak apa - apa, semua itu butuh proses. Tapi kakak senang melihat pancaran wajah cantik kamu membuat hati ini merasa nyaman."


Medina semakin tersipu dengan sikap Rifky yang memujinya terlalu berlebihan. Rifky sangat sulit untuk melepaskan pandangannya dari gadis cantik di hadapannya.


" Jangan memandangku seperti itu, risih tahu nggak!" sungut Medina.


" Menikahlah denganku biar halal setiap saat aku memandangmu."


" Ya Allah, kakak ini kenapa sih? Bicaranya semakin ngelantur aja."


" Kakak serius, sayang."


" Dina itu masih sekolah, kak. Lagian juga Dina masih mau kuliah belum kepikiran untuk menikah."


" Tidak masalah kamu masih ingin kuliah, menikah itu bukan sesuatu hal yang menghalangi cita - cita kamu di masa depan."


" Kak, bisakah kita pulang dan jangan bahas itu dulu?" rengek Medina.


" Iya, kakak minta maaf. Cuma bercanda, sayang... jangan terlalu difikirkan, kita akan menikah setelah lulus sekolah."


" Nggak mau, lagian juga orangtua kakak belum tentu setuju dengan hubungan kita."


Rifky menyuruh Medina untuk masuk ke dalam mobil. Gadis itu hanya diam saja dan tak mau menatap Rifky sama sekali. Mobil mulai melaju dengan perlahan meninggalkan pasar.


" Sayang, apa kamu marah karena aku mengajakmu menikah?"

__ADS_1


" Tidak, hanya saja Dina belum siap jika harus meninggalkan ayah sendirian."


" Jangan pikirkan itu dulu, fokus saja dengan sekolahmu. Kakak akan selalu setia menunggu sampai kamu siap."


" Orangtua kakak bagaimana?"


" Kakak akan meyakinkan mereka bahwa kamu adalah pilihan terbaik kakak."


" Masalah kak Devi gimana?"


" Masalah itu sudah selesai dan mama juga sudah tidak suka lagi padanya."


Sampai di perempatan ujung desa, ternyata mereka sudah dihadang para preman lebih dari sepuluh orang. Jalanan tampak sepi karena semua warna mungkin sedang menuju ke masjid.


" Kak, mereka siapa?"


" Tenanglah, mungkin bukan kita sasarannya."


" Tapi kalau mereka menyerang kita gimana?"


" Sayang, kamu tetap di dalam mobil biar kakak yang hadapi mereka."


" Jangan, kak. Mereka terlalu banyak untuk dihadapi sendiri. Pokoknya Dina ikut keluar."


" Dina... dengarkan, kakak! Ini sangat berbahaya, mereka bukan berasal dari daerah sini."


" Dina tidak akan membiarkan kakak melawan mereka sendirian. Bukankah kakak sendiri yang bilang kalau kita akan menghadapi apapun bersama?"


" Sayang_..."


" Kalau kakak tidak mengijinkan, Dina tidak akan bertemu dengan kakak lagi...!"


" Sayang, kakak hanya khawatir kamu terluka." bujuk Rifky.


" Aku tidak selemah itu...!" sungut Medina.


" Apa perlu Dina panggil bang Jefri?"


" Tidak usah, jangan melibatkan banyak orang."


Rifky melihat para preman itu berjalan mulai mendekat kearah mobilnya. Sebelum keluar dari mobil, Rifky menggenggam erat tangan Medina.


" Hati - hati, sayang."


" Iya, kak. Jangan khawatir, Dina bisa jaga diri."


Rifky keluar dari mobil dan menghampiri para preman itu, sementara Medina masih bersandar di bagian depan mobil namun tetap waspada.


" Kenapa kalian menghadang jalanku?" tanya Rifky dengan tenang.


" Kami hanya ditugaskan untuk memberimu pelajaran!" kata salah satu preman.


" Siapa yang menyuruh kalian? Saya tidak pernah merasa memiliki musuh,"


" Kau tidak perlu tahu siapa yang menyuruh kami, cepat serang dia...!" perintah pimpinan preman itu.


Mereka segera menyerang Rifky. Medina hanya melihat kekasihnya yang sedang bertarung sengit dengan puluhan preman itu tanpa ekspresi. Dia ingin melihat seberapa besar kemampuan musuh agar bisa mengetahui titik lemahnya.


" Sial... mereka dari perguruan silat daerah pinggiran. Jika kak Rifky hanya menyerang badannya saja, mereka tidak akan bisa dikalahkan." gumam Medina.


Medina tahu gerakan silat para musuh adalah ciri khas perguruan silat yang pernah diceritakan gurunya. Perguruan itu memang sering menyewakan muridnya sebagai bodyguard maupun tukang pukul asalkan bayarannya besar. Untung saja gurunya juga pernah memberitahunya tentang kelemahan ilmu silat perguruan itu.


Medina segera membantu Rifky setelah dapat membaca pergerakan lawan. Dia langsung menerobos para preman itu agar bisa mendekati Rifky. Dengan gerakan cepat, Medina melayangkan tendangan di perut dan kaki para penjahat itu.


" Kak, serang bagian kakinya. Itu titik lemah mereka..." bisik Medina.

__ADS_1


" Dari mana kau tahu kelemahan mereka, sayang?" sahut Rifky.


" Saya tahu perguruan tempat mereka belajar ilmu bela diri."


" Ya sudah kita coba saja, mudah - mudahan berhasil."


Mereka kembali saling serang. Medina dan Rifky terus memberikan serangan pada kaki lawan hingga mereka kewalahan. Medina selalu waspada pada pergerakan lawan hingga dia bisa selalu menghindar saat serangan datang kemudian dengan gerakan cepatnya langsung membalas lawan secara bertubi - tubi. Begitu juga dengan Rifky, dia sudah melumpuhkan separuh lebih preman itu hingga mereka tak mampu lagi untuk melawan.


" Sayang, kamu tidak terluka kan?" tanya Rifky.


" Tidak, kak. Dina tidak apa - apa, jangan lebay..." sahut Medina.


Medina kembali menghajar beberapa preman yang masih tersisa. Walaupun mereka babak belur, namun Rifky dan Medina tak membuat cidera parah. Mungkin hanya memar saja tak sampai patah tulang.


" Jadi kalian tidak mau buka mulut?" hardik Rifky.


" Walaupun kalian membunuh kami, jangan harap kami akan buka mulut. Kami memang penjahat, tapi bukan penghianat." jawab mereka lantang.


" Saya tahu kalian hanya orang bayaran. Saya juga tahu kalian ini berasal dari mana. Bilang saja pada orang yang menyewa kalian bahwa targetnya lolos." kata Medina.


" Ya udah, Calis. Sebaiknya kita pulang saja, kakak gerah nih." ajak Rifky.


" Iya, kak. Ayah pasti khawatir sampai jam segini kita belum sampai rumah."


Rifky menyuruh Medina cepat masuk ke dalam mobil. Sebenarnya pundak Rifky juga terasa sakit saat berkelahi tadi terkena pukulan balok kayu. Untung saja kekasihnya tidak tahu saat kejadian tadi karena Medina juga fokus dengan lawannya.


" Kak...!" seru Medina.


Mobil sudah melaju pelan menuju ke rumah Medina. Rifky sedikit melamun saat perjalanan.


" Eh... iya, sayang. Ada apa? Apa kamu ada yang luka?" jawab Rifky.


" Tidak, Dina cuma mau tanya apa kakak terluka?"


" Sayang, kakak tidak apa - apa."


Medina menatap tajam kekasihnya. Sesekali terlihat Rifky menggerakkan pundak kirinya seperti meringis menahan sakit. Karena penasaran, Medina menepuk pundak Rifky sedikit keras.


" Auwww... sayang, kamu kenapa sih?" rintih Rifky.


" Kakak terluka?" ucap Medina kaget.


" Cuma sedikit, sayangku. It's ok... ini tidak sakit sama sekali."


" Dina tidak percaya sebelum melihatnya! Hentikan dulu mobilnya!"


" Tapi, sayang_..."


" Cepat berhenti...!"


Dengan sangat terpaksa Rifky menepikan mobilnya dan pasrah dengan tingkah gadis kecilnya.


" Udah berhenti, sayang. Sekarang mau apalagi?"


" Buka bajunya...!"


" Apaaa...?"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2