Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Kejutan untuk Medina


__ADS_3

Hanya butuh waktu satu jam, Rifky dan keluarganya telah sampai di tempat tujuan. Arshaka dan Arsyilla sangat antusias saat keluar dari mobil. Tanpa menunggu kedua orangtuanya, Shaka menarik tangan adiknya berlari menuju pantai.


" Ya Allah, anak itu semaunya sendiri." keluh Medina.


" Iya, bar - bar kayak bundanya." sahut Rifky sambil tersenyum jahil.


" Biarin aja, itu lebih baik daripada seperti ayahnya yang nyebelin." cibir Medina.


" Hmm... Tapi sayang, kan?"


" Terpaksa...!"


" Terpaksa apa?"


" Terpaksa sayang,"


Rifky merangkul pinggang istrinya lalu mencium pipinya karena gemas. Semakin hari istrinya semakin cantik dan bersikap dewasa. Dia mampu mengurus dan mendidik kedua anaknya dengan sangat baik.


" Bunda bantu bawa koper anak - anak, ya? Kita cek-in dulu buat menginap malam ini." ujar Rifky.


" Anak - anak gimana? Masa' mereka dibiarin di pantai tanpa pengawasan kita?" ucap Medina.


" Mereka bukan anak kecil lagi, sayang. Nanti kita susul mereka setelah menaruh koper di kamar."


Rifky menuju resepsionis untuk meminta kunci kamar yang telah ia pesan jauh - jauh hari sebelumnya.


" Ayah udah pesan sebelumnya?" bisik Medina.


" Iya, biar bisa pilih kamar yang nyaman. Nanti anak - anak di kamar sebelah kita."


" Mereka tidak sekamar dengan kita?"


" Tentu saja tidak, Ayah pengen menghabiskan malam ini berdua saja dengan Bunda."


Medina mengendikkan bahunya lalu berjalan mendahului suaminya menuju lift. Percuma saja ia menolak karena Rifky tidak pernah menerima penolakan terlebih untuk urusan privasi.


" Sayang...! Jangan tinggalin Ayah..." seru Rifky mempercepat langkahnya.


Rifky segera menggenggam jemari istrinya yang mengacuhkannya sedari tadi. Wajah cantiknya menggemaskan membuat Rifky tak tahan untuk menciumnya.


.


.


Selepas Ashar, Rifky kembali ke pantai bersama istri dan kedua anaknya. Mereka hanya berjalan - jalan saja tanpa berniat untuk basah - basahan bermain air. Shaka dan Syilla tak melepaskan tautan jemari mereka kepada sang ibu.


" Sayang, kita foto berempat yuk?" pinta Rifky.


" Ayo, tapi siapa yang fotoin kita?" tanya Medina.


" Biasanya ada fotografer keliling disini, sebentar Ayah panggil dulu." ujar Rifky.


Tak berselang lama, Rifky kembali bersama seorang fotografer. Tak perlu menunggu lagi, mereka berempat mencari posisi terbaik untuk mengabadikan moment yang takkan pernah mereka lupakan seumur hidup.


Hari semakin gelap, mentari mulai tenggelam secara perlahan. Mereka kembali mengabadikan moment indah kebersamaan yang entah kapan lagi bisa seperti ini.


" Bunda...! Kita foto dengan background sunset itu yuk?" seru Arsyilla.


" Boleh, tapi Adek sama kakak dulu berdua baru nanti sama Ayah dan Bunda." ujar Medina.


Selesai dengan sesi foto, Medina dan Arsyilla terlihat sangat lelah. Mereka memutuskan untuk kembali ke hotel untuk sholat maghrib.


" Bunda mau Ayah gendong?" bisik Rifky pada istrinya.


" Ayah gendong Syilla aja, Bunda masih kuat jalan."


Arshaka yang mendengar suara lirih bundanya langsung jongkok di hadapan adiknya yang memang terlihat lelah.


" Dek, ayo kakak gendong!" ujar Shaka seraya menepuk punggungnya sendiri.


Arsyilla menatap kedua orangtuanya bingung sekaligus meminta pendapat pada mereka melalui ekor matanya.

__ADS_1


" Memangnya Kak Shaka kuat gendong Adek Syilla?" tanya Medina.


" Kuat, Bunda. Syilla tubuhnya kecil tidak akan berat." jawab Shaka bersemangat.


" Terima kasih, Kakak Shaka yang tampan." seru Syilla riang.


Arsyilla langsung naik ke punggung kakaknya sambil tersenyum. Gadis kecil itu memang selalu senang saat Shaka menunjukkan kasih sayang kepadanya walaupun tanpa ia sadari sifat posesif kakaknya sudah mulai terlihat.


" Shaka aja bisa gendong adiknya, Bunda mau digendong juga nggak?" bisik Rifky lembut.


" Boleh, Bunda juga lelah." sahut Medina yang langsung naik ke punggung suaminya.


" Tapi nanti malam kita keluar lagi jam delapan." ujar Rifky.


" Kemana lagi, Yah?"


" Nanti juga Bunda tahu."


Sampai di depan lift menuju kamar mereka, Rifky dan Shaka menurunkan dua wanita kesayangannya itu. Mereka berempat masuk ke dalam lift dengan bergandengan tangan.


" Bunda mandi duluan saja, Ayah mau cek anak - anak." ujar Rifky.


" Jangan lama - lama, Yah. Pastikan anak - anak tidak lupa sholat." sahut Medina.


" Iya, Bunda sayang."


.


.


Tepat pukul delapan malam, Rifky menggandeng tangan istrinya menuju suatu tempat yang masih menjadi rahasia pria itu. Dengan mata tertutup, Medina berpegangan erat pada suaminya karena tak ingin terjatuh. Arshaka dan Arsyilla juga mengikuti kedua orangtuanya di belakang sambil bergandengan tangan.


" Ayah, kita mau kemana?" tanya Medina penasaran.


" Sebentar lagi sampai, Bunda." jawab Rifky dengan senyum bahagianya.


" Anak - anak dimana?"


" Siap Komandan...!" teriak Shaka dan Syilla.


Sampai di tempat tujuan yang entah dimana, Medina mendengar deru ombang disertai angin yang menerpa tubuhnya. Tanpa melihat, Medina sudah dapat menebak jika sekarang posisi mereka di tepi pantai.


" Ayah, sudah boleh buka menutup mata?" lirih Medina.


" Tentu saja, sayang. Bukalah...!" titah Rifky.


Dengan hati - hati Medina melepas kain yang menutup kedua matanya semenjak keluar dari hotel tadi. Saat kain itu terlepas, Medina terkejut melihat banyaknya orang di hadapannya di tambah kue tart yang menjulang setinggi satu meter yang dihias sangat cantik.


" Masya Allah, Ayah...!" pekik Medina.


" Kamu suka, sayang?" lirih Rifky.


" Tapi ini untuk apa...?"


" Apa kau lupa ini anniversary kita yang ke-14? Terimakasih untuk semua yang telah kita lewati bersama selama empat belas tahun ini. Pernikahan yang kita bangun dengan cinta dan kasih sayang kini telah menghadirkan putra putri kita yang tampan dan cantik."


Medina terharu dan tidak dapat mengucapkan satu patah katapun dari mulutnya. Beberapa detik kemudian ia menangis dalam pelukan sang suami.


Sementara itu, para tamu yang hadir memberikan tepuk tangan yang meriah. Namun yang membuat Medina melepas pelukannya adalah teriakan seseorang yang suaranya sangat familiar di pendengarannya.


" Ayah... Itu seperti suara Bayu?" lirih Medina.


" Lihat ke depan! Kamu pasti mengenal mereka semua." sahut Rifky.


" Happy anniversary, Ayah... Bunda." ucap Shaka dan Syilla bersamaan.


" Terimakasih, sayang." Medina memeluk kedua anaknya dengan penuh kasih sayang diikuti Rifky yang memeluk mereka juga.


" Selamat, Meong...!" seru Bayu.


" Terimakasih, Bay." ucap Medina lirih.

__ADS_1


Tak hanya hanya Bayu, semua sahabat Medina dan Rifky hadir di acara itu beserta keluarga kecil mereka masing - masing. Orangtua Rifky dan Ayah Medina juga turut hadir disana memeriahkan acara ulang tahun pernikahan mereka.


" Mey...selamat, ya? Semoga kalian langgeng sampai maut yang memisahkan." ucap pria yang sudah lama tak menampakkan diri.


" Dani...! Kau datang...?" pekik Medina.


" Tentu saja, Kak Rifky yang mengundangku." sahut Dani.


" Dia_..." Medina menatap wanita yang menggandeng lengan Dani.


" Ini Sarita, gadis yang waktu itu."


Medina langsung memeluk gadis itu dengan antusias. Sebelumnya mereka tidak pernah bertemu semenjak Rifky mengungsikannya entah kemana.


" Terimakasih, Medina." ucap gadis itu sendu.


" Lupakanlah masa lalu, masa depanmu pasti akan cerah seperti yang kau impikan." lirih Medina.


" Iya, Dani telah membuktikan janjinya dulu."


" Kalian sudah menikah?"


" Ya, kami sudah menikah empat tahun yang lalu."


Setelah acara bertegur sapa dengan para sahabatnya selesai, Medina menghampiri suaminya yang masih berbincamg dengan para sahabatnya.


" Wihhh... Pengantin lama..." ledek Nicko.


" Mr. Kim tuh lebih lama." sahut Medina melirik Jonathan yang sibuk dengan ponselnya.


" Jangan bawa - bawa aku, Mey." ujar Jonathan datar.


" Kak Jo lagi ada masalah?" Medina mendekati Jonathan yang duduk paling ujung.


" Tidak, kau nikmati saja pestamu malam ini."


" Kalau ada masalah, Kakak bisa bercerita sama Dina."


" Iya, terima kasih atas perhatianmu."


Medina kembali ke tempat duduknya di samping sang suami. Kepalanya ia sandarkan di bahu Rifky yang sedari tadi ia abaikan setelah acara potong kue karena berkumpul dengan para sahabatnya.


" Bunda capek? Mau kembali ke kamar saja?" ujar Rifky lirih.


" Anak - anak dimana, Yah? Dari tadi Bunda nggak lihat mereka."


" Sudah kembali ke hotel bersama kakek Hasan."


" Acaranya udah selesai, kan?"


" Sudah, besok kita bisa kumpul lagi disini."


" Baiklah, tapi gendong seperti tadi sore."


Rifky mengecup kening istrinya dengan lembut lalu mendekap tubuh ramping itu dengan penuh cinta dan kasih sayang.


" Mau gendong depan atau belakang?"


" Belakang saja, Ayah."


Setelah berpamitan dengan para sahabatnya, Rifky menggendong Medina ala bridal style yang membuat semua orang iri dengan keromantisannya.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2