Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Dinner


__ADS_3

" Kak Hans... Kak Rifky kemana?" tanya Medina.


" Mungkin pergi sebentar, kita tunggu saja disini." sahut Hans.


Medina mengarahkan pandangannya ke sekitar dan melihat kekasihnya sedang bersama seorang wanita di depan salon kecantikan. Matanya tak berkedip melihat kedekatan Rifky dan wanita itu. Hans yang melihat wajah kesal Medina ikut menoleh ke arah pandang gadis itu.


" Shitt! Apa yang boss lakukan dengan wanita itu." umpat Hans dalam hati.


" Kak... saya mau jalan - jalan dulu." kata Medina datar.


" Mau kemana, Mey?" tanya Hans bingung.


" Kemana saja, mana ponselmu?"


" Ponsel? Untuk apa...?"


" Selama kita pergi, tidak ada yang boleh mengganggu kecuali istrimu."


" Why...? What wrong?"


" No, saya hanya ingin menikmati malam ini dengan tenang."


" Rifky ditinggal?"


" Kakak pilih saya atau dia!" sentak Medina.


Hans bingung harus melakukan apa. Bagaimana bisa ia meninggalkan bossnya di tempat ramai seperti ini. Tapi jika ia meninggalkan Medina, itu lebih tidak mungkin lagi. Gadis itu baru pertama kali datang ke negaranya.


" Semoga saja boss bisa mengerti keadaan sekarang." batin Hans.


Hans segera mengajak Medina ke tempat mobilnya terparkir. Walaupun merasa tidak enak pada bossnya, namun dia juga tak berani membantah calon nyonya bos. Rupanya gadis itu sudah prepare sebelumnya dengan menyita ponselnya.


" Mey, kamu yakin mau meninggalkan Rifky?"


" Kakak tidak mau antar aku?"


" Bukan begitu, Mey. Tapi_..."


" Ya sudah, Dina turun saja kalau tidak mau."


" Eh... jangan! Kita pergi sekarang."


Hans langsung melajukan mobilnya sambil sesekali menengok ke belakang. Mungkin saja Rifky melihat mobilnya dan menyusul.


" Cepat, kak!" pekik Medina.


" Mau kemana, Mey?"


" Keliling kota saja sampai tengah malam."


" Yakin? Besok saja ya? Nanti aku ajak ke tempat romantis di Seoul ini."


" Ish... memangnya kita sedekat apa sampai jalan romantis segala."


" Ok, tapi boleh pinjam ponselku sebentar?"


" Untuk apa?"


" Menghubungi istriku, dia sedang hamil dan selalu menungguku setiap malam."


" Apa nama kontaknya? Biar aku yang hubungi nanti kakak yang bicara."


" Cari kontak 'my wife'..."


" Ok!"


" Mey, kamu bisa bahasa Korea?"

__ADS_1


" Tidak, hanya bahasa Inggris saja. Kenapa?"


" No, aku pikir Rifky mengajarimu bahasa Korea."


Setelah panggilan tersambung, Hans segera berbicara dengan istrinya dengan bahasa Korea. Entah apa yang mereka bicarakan sampai panggilan terputus.


" Apa istri kakak marah?"


" Tidak, istriku ingin bertemu denganmu katanya."


" Ya sudah, bagaimana kalau besok? Pasti kak Rifky besok kerja, aku bosan di rumah sendirian."


" Ok, besok aku antar istriku ke rumah Rifky."


Setelah berkeliling cukup lama, Hans mengantar Medina pulang. Dia juga butuh istirahat karena besok masih banyak pekerjaan.


.


.


Sampai di rumah, Medina langsung turun dari mobil. Sementara Hans, ia langsung pulang ke rumahnya sendiri karena sudah larut malam.


Medina masuk ke dalam rumah yang sudah nampak sepi. Semua lampu di ruang utama sudah dimatikan. Dengan jalan perlahan, akhirnya gadis itu sampai juga di kamarnya. Dia membuka mantel yang dia pakai dan melemparkannya ke tempat tidur.


" Sudah puas jalan - jalan?"


Suara yang tak asing itu sungguh membuat Medina sangat terkejut. Dia menyalakan lampu dan melihat Rifky tiduran di ranjang dengan wajah yang tertutup mantel yang ia lempar sembarang tadi.


" Kakak...? Ngapain disini?"


" Ini rumahku, apa salahnya aku disini."


" Dina mau tidur, kakak keluar sana!"


" Kenapa? Aku calon suamimu dan aku berhak melakukan apapun padamu."


" Kamu suka posisi seperti ini?" bisik Rifky di telinga Medina.


" Kakak jangan macam - macam deh!" pekik Medina.


" Ish... kecilkan suaramu, sayang."


" Kak... lepasin aku! Jangan aneh - aneh dong."


Rifky menenggelamkan wajahnya di leher Medina. Aroma tubuhnya yang wangi membuat Rifky tak mau beranjak dari posisinya.


" Kenapa meninggalkanku tadi? Kalau ada yang menculikku gimana? Apa kau sudah ikhlas kehilangan aku?"


" Bukannya kakak sudah punya pacar disini? Kenapa harus mengajakku?"


" Hah... jadi karena itu? Lain kali jangan main kabur aja sebelum tahu yang sebenarnya. Dia itu anak dari klien penting, aku hanya bicara sebentar saja dengannya. Walaupun sungkan, namun karena ada ayahnya disana aku tidak mungkin pergi begitu saja."


" Beneran...?"


" Iya sayangku... I will always love you forever."


" Kak_..."


" Hmm..."


" Laper..."


Rifky beranjak dari posisi nyamannya lalu duduk disamping Medina. Dengan senyumnya yang menawan itu, Rifky menarik tubuh kekasihnya untuk bersandar di dadanya.


" Memangnya tadi belum makan? Kamu ngapain aja sama Hans sampai larut malam?"


" Cuma keliling - keliling kota aja, nggak turun dari mobil."

__ADS_1


" Hhh... kalau lapar itu jangan ditahan, nanti bisa sakit maagh."


" Dina kan nggak bawa uang, mau beli makanan pakai daun!"


" Masya Allah, sayangku... kamu itu perginya sama Hans, kamu bisa minta apapun padanya. Uang yang dia pegang itu punyaku juga."


" Ish... mana kutahu, kakak tidak bilang!"


" Ya udah, kita makan sekarang."


Rifky mengandeng tangan Medina keluar dari kamar. Jika lebih lama lagi di tempat itu, tak yakin ia dapat mengendalikan dirinya. Mereka menuju ke lantai dua lalu masuk ke kamar Rifky.


" Kak... kenapa jadi ke kamar sih?" sungut Medina.


" Kakak lapar, sayang..." seringai Rifky.


" Memangnya di kamar ada makanan?"


" Makan kamu..."


" Ish... Dina mau tidur saja!"


" Hehehee... jangan ngambek dong? Kakak cuma bercanda, sayang."


Rifky membawa Medina ke balkon kamarnya yang sudah dihias dengan indah. Di meja kecil terdapat beberapa menu makanan hangat yang sepertinya belum lama disiapkan.


" Ayo makan... maaf, kakak tidak bisa romantis seperti drama - drama film Korea." ucap Rifky sambil tersenyum.


" Tidak apa - apa, ini sudah lebih dari kata romantis." sahut Medina senang.


" Ayo duduk... kakak suapin ya?"


" Tidak usah, kak. Dina bisa makan sendiri."


" Jangan menolak! Kakak ingin memanjakan kamu mulai sekarang dan selamanya."


Rifky dan Medina menikmati dinner romantis di tengah dinginnya malam yang semakin larut. Mulai dari obrolan receh hingga rencana di masa depan telah mereka bahas walau Medina kadang - kadang tidak bisa serius.


" Sudah selesai makan... waktunya tidur yuk?" ajak Rifky.


" Dina boleh ikut tidur disini, kak?" tanya Medina setengah memohon.


" Kenapa...? Apa kamar dibawah tidak nyaman?"


" Bukan... hanya belum terbiasa aja."


" Ya sudah, kamu boleh tidur disini. Nanti kakak bisa tidur di sofa."


" Jangan! Dina aja yang di sofa, inikan kamar milik kakak."


" Tidak apa - apa, sayang... kamu biar nyaman tidurnya."


" Nggak mau... kakak juga ikut tidur di ranjang."


Rifky menghela nafas panjang lalu mengangguk seraya tersenyum. Gadisnya yang biasanya brutal kini terlihat sangat manja padanya.


Medina sudah bersiap tidur dengan selimut tebal yang menutup seluruh tubuhnya. Rifky mengecup kilas kening kekasihnya sebagai pengantar tidur. Setelah memastikan gadisnya benar - benar terlelap, Rifky segera beranjak dari ranjang untuk kembali ke ruang kerja mengambil laptopnya.


Rifky merasa lega karena Medina tidak lagi marah padanya. Untung saja istrinya Hans menelfon dan memberitahu soal Medina. Hans memang banyak akalnya, dia tahu kalau Medina tidak bisa bahasa Korea sehingga Hans menyuruh istrinya menghubungi Rifky dan menyiapkan dinner romantis itu.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2