
Medina dan Rifky kini berada di kediaman pak Jamal dengan pengawalan ketat. Rifky tidak mau keluarganya kembali diserang lagi karena target mereka adalah pak Jamal.
" Om, sebenarnya Om ada masalah dengan siapa?" tanya Rifky.
" Om tidak pernah merasa punya masalah sama siapapun, Rif. Om juga tidak tahu mereka siapa." jawab om Jamal.
" Mungkinkah ada orang dari masa lalu om Jamal yang kembali lagi?" tanya Medina.
Walaupun Medina masih terlihat lemah, namun gadis itu menolak saat disuruh istirahat. Saat ini ia rebahan di pangkuan tante Mita.
" Jangan - jangan papa punya pacar lagi ya?" bisik Seno.
" Bocah kurang ajar!" teriak pak Jamal murka.
" Kenapa, Om?" Medina sampai terlonjak dari pangkuan tante Mita.
" Hhh... tanya adik kamu itu, ngomongnya ngawur!"
Seno yang dimarahi cuma nyengir sambil berbisik sama Rifky. Entah apa yang mereka bicarakan, namun mereka terlihat sangat serius.
" Sayang, kamu istirahat dulu ya? Besok kita antar Ayah ke Singapore." bujuk Rifky untuk kesekian kalinya.
" Iya, kalau gitu Dina pulang dulu."
" Kok pulang sih? Kamu istirahat diatas di kamar kakak."
" Tapi_..."
" Medina...!"
" Iya..."
Rifky mengantar Medina sampai ke kamarnya dan menemaninya sampai gadis itu tidur. Sudah seperempat jam Medina berbaring, namun gadis itu tak jua memejamkan mata.
" Sayang... kamu mikirin apa sih?"
" Nggak tahu, Dina nggak bisa tidur."
" Kakak udah temenin disini masa masih susah tidur? Padahal kamu kelihatan capek banget loh,"
Saat Rifky ingin membuka laptopnya, Nicko menghubunginya via video call.
" Assalamu'alaikum, Boss..." sapa Nicko.
" Wa'alaikum salam, ada perkembangan?"
" Mmm... ada satu nama, tapi aku nggak kenal Rif."
" Siapa...?"
" Anna Atmaja, wanita berumur 42 tahun. Dia pemilik sebuah Bar di tengah kota."
" Siapa dia? Aku tak pernah mengenal dia."
" Coba kau tanya om Jamal, apa beliau mengenal wanita itu."
" Iya, nanti aku tanyakan. Kau sudah menangkap orang - orangnya?"
" Sudah, mereka di tempat yang aman."
__ADS_1
" Besok aku kesana setelah mengantar Ayah ke Bandara."
" Boss, kau yakin? Harus ada yang menjaga om Hasan dengan ketat. Aku yakin targetnya bukan hanya om Jamal, tapi om Hasan juga."
" Aku sudah mengirim pengawal khusus disana. Hans akan terbang langsung ke Singapore hari ini."
" Baiklah, nanti sore aku akan datang. Sekalian ada berkas yang harus kau tandatangani."
Rifky melirik Medina yang sudah tertidur setelah mengakhiri panggilannya dengan Nicko. Setelah membenahi selimut kekasihnya, Rifky keluar kamar mencari om Jamal.
.
.
" Om Jamal...!" Rifky mengejar pamannya yang hendak pergi.
" Rifky...? Ada apa?"
" Om mau kemana...?"
" Hanya di teras saja, suntuk dari kemarin di dalam rumah terus."
" Sebaiknya jangan keluar dulu, Om. Keadaan juga belum aman."
Rifky mengamati bagian luar rumah pak Jamal. Tampak ada motor yang sedikit melambat melewati depan gerbang dengan helm full face berboncengan.
" Om tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Rif. Om tidak pernah merasa membuat masalah dengan siapapun."
" Kita bicara di dalam, Om."
Rifky segera mengambil ponsel di saku celananya lalu mengirimkan pesan pada Adam.
Rifky : Dimana?
Adam : Di rumah, ada apa?
Rifky : Ada motor mencurigakan di depan rumah om Jamal, awasi!
Adam : Siap!
Rifky dan pak Jamal duduk di ruang tamu dengan wajah tegang. Rifky menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Om... Rifky ingin bertanya sesuatu." kata Rifky.
" Tanya apa, Rif...?"
" Apa Om mengenal Anna Atmaja?"
" Hah...! Anna Atmaja...?"
" Iya, Om. Apa kalian saling mengenal?"
Pak Jamal nampak berpikir serius. Mungkin beliau sedang mengingat masa lalunya.
" Oh iya, Rif. Om mengenal Anna Atmaja, dia teman kuliah dulu."
" Apa kalian bermasalah...?"
" Mmm... sejujurnya Anna itu bermasalah tidak hanya denganku saja, tapi juga dengan Hasan."
__ADS_1
" Kok bisa, Om...?"
" Saya sama Hasan itu kuliah di kampus yang sama. Awalnya kami berteman cukup dekat dengan Anna. Namun suatu hari, Anna melakukan kesalahan yang tak bisa kami maafkan."
" Kesalahan...?"
" Iya, dia menjebak Hasan dengan memberinya obat perangsang. Untung saja Om dengan cepat menolongnya, jadi Hasan masih bisa diselamatkan. Anna dipenjara selama 5 tahun, setelah itu dibawa keluarganya ke luar negeri."
" Apa Om tahu kalau Anna sudah kembali ke kota ini?"
Apa?! Mungkinkah pak Jamal hanya salah dengar atau_.... Tidak mungkin! Wanita yang sejak dulu terobsesi dengan Hasan itu sudah kembali?
" Tidak. Kenapa kau bertanya soal wanita itu?"
" Sepertinya ini perbuatan dia, Om."
" Apaaa...?!"
" Sejauh ini, Rifky sudah menangkap pelaku penyerangan itu. Dia sudah mengakui semuaya, tapi Rifky tidak bisa membawanya ke polisi."
" Kenapa...?"
" Karena kakaknya adalah petinggi kepolisian. Kita belum cukup bukti untuk menyeret wanita itu ke bui."
Jamal jadi ingat saat ia menjebloskan Anna karena kasus Hasan dulu. Walaupun sebenarnya Hasan tak ingin memperpanjang masalah, namun Jamal bersikeras untuk tetap menyeretnya ke jalur hukum dengan membawa pengacara handal keluarga Mahendra.
" Tapi untuk apa dia menyerangku, Rif?"
" Mungkin dia belum bisa melupakan masa lalunya, Om. Sekarang dia membangun Bar di tengah kota."
" Kau benar. Anna itu tiga tahun di bawahku. Karena kami tergabung di organisasi yang sama, kami berteman akrab. Om tahu dia menyukai Hasan, tapi sifatnya yang terlalu bebas itu membuat Hasan lama - lama menghindarinya."
Rifky mendengarkan cerita Jamal tanpa menyela sedikitpun. Dia harus tahu motif apa yang sebenarnya dilakukan Anna.
" Saat itu, Om dapat kabar dari seseorang bahwa Anna hamil dan ingin Hasan menikahinya. Hasan tentu saja menolak dan mengusir Anna di hadapan banyak orang. Mungkin karena sakit hati, Anna menjebak Hasan."
" Semua itu sudah lama, Om. Kenapa dia mengusik lagi?"
" Tidak tahu, Rif. Tapi Anna bersikeras bahwa anak dalam kandungannya itu adalah anak Hasan."
" Tapi paman tidak mungkin melakukan itu kan, Om?"
" Om yakin sekali Hasan tidak melakukan itu, Rif. Dia itu orang yang baik dan selalu menjaga pandangan dari wanita."
" Ya sudah, Om. Berarti sudah jelas ini motif balas dendam. Rifky akan menyelidiki wanita itu sampai kita dapat bukti yang kuat menyeretnya kembali ke penjara."
Setelah cukup lama Rifky berbincang dengan pak Jamal, dia segera kembali ke kamar sebelum Medina bangun. Rifky juga cukup lelah karena sedari pulang dari Korea tidak pernah istirahat dengan cukup.
Melihat Medina masih terlelap, Rifky ikut berbaring di samping gadis itu walau terhalang guling di tengahnya. Rifky tidak mungkin tidur di sofa karena tubuhnya akan semakin sakit nantinya.
" Maaf ya, sayang... Kakak ikut tidur disini sebentar, besok aktifitas kita lebih padat dari sekarang." gumam Rifky.
Rifky langsung terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal. Rasa lelah dan kantuk tak tertahankan lagi, membuatnya lebih cepat tertidur.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.