
Tepat jam dua belas malam Medina sampai di rumah. Dia masuk lewat jendela kamarnya. Lampu kamar yang sengaja ia matikan sebelum pergi membuat ruangan itu gelap karena hanya terkena pantulan cahaya dari ruang tengah.
" Hah... akhirnya sampai rumah juga." gumam Medina.
Saat hendak duduk di tepi ranjang, ia kaget ketika lampu tiba - tiba menyala. Dia terkejut melihat seseorang berdiri di dekat saklar lampu.
" Ayah...!" jantung Medina seakan berhenti berdetak.
" Dari mana saja kamu tengah malam seperti ini?" ujar pak Hasan pelan namun tegas.
" Dina hanya... hanya cari angin diluar, Yah."
" Jangan bohong kamu! Ayah tadi ke rumah Adam dan dia bilang tidak tahu kemana kau pergi."
" Ayah, Dina cuma diluar sebentar."
" Kau membuatku terlihat bodoh dengan kebohonganmu itu!"
" Ayah_..."
" Diam! Mulai sekarang kau tidak boleh keluar rumah sampai satu minggu ke depan kecuali ke sekolah." tegas pak Hasan.
" Tapi, Yah_..."
Pak Hasan langsung keluar dari kamar Medina dengan menahan amarahnya. Baru kali ini dia melihat sang ayah sangat marah.
" Maafin Dina, Yah." lirih Medina.
¤ ¤ ¤
Pagi hari, seperti biasa Medina membersihkan rumah lalu membuat sarapan setelah shubuh. Ayahnya berada di teras menyapu halaman. Suasana sangat canggung karena bapak dan anak itu tak saling bertegur sapa.
" Ayah, sarapan dulu." ucap Medina.
" Ya." jawab pak Hasan singkat.
Mereka sarapan dalam diam hingga selesai. Medina tak berani menatap ayahnya yang sedari tadi mengacuhkannya. Ingin rasanya ia menangis saat ini juga di depan ayahnya agar dimaafkan.
Usai sarapan, pak Hasan langsung bergegas mandi dan bersiap - siap ke sekolah. Medina ragu untuk berpamitan karena sang ayah sedari tadi diam. Suara klakson motor Adam sudah berbunyi nyaring di depan rumah.
" Ayah, Medina berangkat sekolah dulu ya?" pamit Medina.
" Ayah yang akan mengantar kamu, nanti pulangnya juga ayah jemput." tegas pak Hasan.
" Iya, Yah." ucap Medina pasrah.
Medina keluar rumah bersama ayahnya lalu menghampiri Adam yang sudah menunggunya sedari tadi.
" Dam, aku berangkat diantar ayah, kamu duluan saja." ucap Medina.
" Tapi, Mey... biasanya juga sama aku?" sahut Adam.
" Tidak apa - apa, ayah lagi pengen aja antar aku."
¤ ¤ ¤
Beberapa hari kemudian,
__ADS_1
Hari ini sabtu, semua sekolah libur. Sudah tiga hari ia menjalani hukuman tidak keluar rumah. Saat teman - temannya bertanya, Medina enggan menjawabnya.
Medina mengecek bahan makanan di dapur ternyata sudah habis. Tinggal telur dan mie instan saja dan beras kira - kira dua liter.
" Semuanya habis, aku masak apa hari ini? Syah tidak akan mengijinkan aku keluar." gumam Medina.
Medina mondar - mandir di kamarnya sambil mencari cara untuk ia bisa makan siang ini. Saat hendak membuka pintu kamarnya, terdengar suara yang tak asing baginya.
" Kak Rifky," gumam Medina.
" Tidak, ayah tidak akan mengijinkan aku keluar dari rumah. Ponselku saja disita, untung semua pesan sudah kuhapus." batin Medina.
Medina mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar dan memilih berbaring di tempat tidurnya. Rasanya sangat bosan hanya berdiam diri di dalam rumah seperti ini.
Tanpa Medina sadari, ia tertidur padahal jam masih menunjukkan pukul sepuluh. Mungkin karena ia berpikir hanya masak nasi dan goreng telur saja, jadi tidak akan membutuhkan waktu yang lama.
Sementara diluar, Rifky sedang berbincang dengan pak Hasan yang baru pulang dari pasar.
" Paman, kok sendirian ke pasar? Medina kemana?" tanya Rifky.
" Ada di kamar, dari habis sarapan tadi belum keluar dari kamarnya." jawab pak Hasan.
" Apa Dina sakit, paman?"
" Tidak, paman hanya melarangnya keluar rumah selama masa hukuman."
" Hukuman? Medina salah apa, paman?"
Pak Hasan menceritakan kejadian malam itu dimana Medina pulang tengah malam sendiri. Keempat temannya tidak tahu kemana Medina pergi.
" Paman, boleh Rifky bertemu Medina?"
" Masuklah, paman tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa padanya."
" Rifky akan menasehati Medina pelan - pelan, paman. Medina adalah gadis yang baik, tidak mungkin dia berbuat hal yang akan mempermalukan paman."
Rifky masuk ke dalam rumah bersama pak Hasan dengan menenteng bahan makanan. Sebelum menemui Medina, Rifky menyusun belanjaan pak Hasan ke dalam kulkas.
" Biar paman yang lanjutkan, kamu bujuk Medina untuk keluar dari kamarnya."
" Iya, paman."
Rifky mengetuk pintu kamar Medina pelan sambil memanggil nama gadis itu berulang kali.
" Dina, ini kak Rifky. Buka pintunya, kamu di dalam, kan?" bujuk Rifky.
Tak ada sahutan dari gadis kecilnya, Rifky khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya. Secara perlahan Rifky membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu.
" Sayang_..." lirih Rifky.
Rifky semakin mendekat ke arah tempat tidur Medina. Gadis itu tak bergerak sama sekali sambil membelakangi Rifky.
" Masya Allah, Calis sayangku tidur jam segini." gumam Rifky sambil tersenyum.
Rifky membenahi selimut yang terlempar ke lantai akibat ulah gadis brutalnya yang entah sedang melakukan apa.
" Sayang, udah jam sebelas. Bangun yuk?" bisik Rifky di telinga Medina.
__ADS_1
Tak ada pergerakan sama sekali, Rifky akhirnya menyerah dan keluar dari kamar Medina setelah mengusap pelan pipi gadis itu.
" Paman, Dina masih tidur. Sepertinya sangat susah membangunkan dia." kata Rifky sambil membantu pak Hasan memasak.
" Ya sudah biarkan saja. Mungkin dia bosan di dalam rumah terus. Dia juga sering diam dan melewatkan makan siangnya." ujar pak Hasan.
" Nanti kalau sudah waktunya makan biar Rifky yang membujuknya lagi, paman. Dina tidak boleh sakit, dia bisa banyak ketinggalan pelajaran nanti."
" Anak itu sangat susah diatur jika sudah diam, paman sampai bingung sendiri." keluh pak Hasan.
" Paman tidak perlu khawatir, biar Rifky yang urus Medina."
Setelah semua makanan tersaji di meja makan, Rifky masuk ke kamar Medina untuk membangunkan gadis itu sembari menunggu pak Hasan yang sedang mandi.
" Sayang, mau sampai kapan kamu tidur? Ini sudah hampir jam dua belas." ujar Rifky lembut sambil duduk di samping Medina.
" Calis, kalau tidak mau bangun kakak cium nih?" ancam Rifky.
Medina yang merasa terusik segera membuka matanya perlahan dan kaget melihat Rifky tersenyum di hadapannya.
" Kakak, kenapa disini?" Medina menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
" Gadis nakal, mau sampai kapan mengeram di dalam kamar?"
" Hhh... kakak pikir Dina nggak bosan di dalam kamar terus," Medina mengerucutkan bibirnya.
" Memangnya siapa yang suruh di dalam kamar terus? Kan bisa di ruang tengah, di teras atau dimana saja yang kamu suka."
" Tidak, tempat yang paling nyaman itu adalah tempat tidur."
" Apalagi kalau tidurnya sama kakak," bisik Rifky.
"Ish... apaan sih! Dasar mesum!" desis Medina.
Rifky kembali tersenyum seraya meraih tubuh Medina ke dalam pelukannya. Beberapa hari tidak bertemu membuat Rifky sangat merindukan gadis itu.
" Calis, apa kamu tidak merindukan kakak? Beberapa hari ini ponselmu tidak aktif."
" Ponselku disita ayah selama satu minggu."
" Ayah tidak mungkin melakukan itu jika kamu tidak membuat kesalahan besar."
" Iya, Medina juga sadar kalau sudah berbuat salah."
" Memangnya kamu ngapain keluar rumah sampai tengah malam? Apa kata orang nanti jika melihat anak gadis berkeliaran tengah malam?"
" Sebenarnya_..."
.
.
TBC
.
.
__ADS_1