
Sore ini, Medina dan teman - temannya disibukkan dengan kegiatan Ramadhan di pasar. Ini adalah hari pertama puasa jadi mereka terlihat sedikit pucat walaupun tetap bersemangat.
" Mey, sebenarnya siapa sih donatur yang menyiapkan catering buat buka bersama? Kok langsung pesan di tempat ibu terus dibantuin sama ART dari rumah pak Jamal?" tanya Adam.
" Kenapa masih mikirin itu sih? Harusnya kamu itu bersyukur karena ibu mendapatkan orderan banyak di bulan berkah ini." sahut Medina sambil tersenyum.
" Kau ini, Mey. Paling pintar kalau cari alasan."
" Sudahlah, Darman. Yang penting itu dapat rejeki yang halal."
" Ish... kok Darman sih? Panggil ustadz Adam Maulana..." tegas Adam yang membuat Medina tertawa cekikikan.
" Kenapa malah tertawa? Memangnya aku nggak pantas jadi ustadz?"
" Iya... kamu pantas kok jadi ustadz. Ya udah, sekarang pak ustadz Adam Maulana silahkan masuk ke dalam karena acaranya akan segera di mulai."
Ririn, Bayu dan Johan sedang merapikan posisi duduk anak - anak yang akan belajar mengaji sesuai tingkatannya. Dibantu oleh beberapa anak buah Jefri yang sudah berpakaian rapi dengan baju koko dan sarung.
" Mey, ada beberapa anak buah bang Jefri yang ingin belajar mengaji. Siapa yang akan mengajar mereka?" tanya Ririn.
" Tenang saja, kan ada ustadz Adam." jawab Medina seraya melirik Adam.
" Kok aku, Mey?" protes Adam.
" Yang tadi ngaku jadi ustadz siapa?" ledek Medina.
" Huhh... baiklah, siapa yang berani membantahmu." ucap Adam pasrah.
Mereka membagi tugas sesuai kelompok masing - masing. Karena iqro' ada enam tingkat, jadi mereka membagi tugasnya secara bergantian setiap hari.
" Mey, kita hanya empat orang. Terus yang dua tingkat lagi siapa yang mengajar?" tanya Bayu karena Adam sudah ditugaskan mengajar anak buah Jefri.
" Bang Jefri...!" panggil Medina.
" Iya, Boss."
" Jangan memanggilku begitu, kalau ada orang luar yang dengar bisa jadi masalah besar."
" Maaf, Neng Medina."
" Ya sudah, Bang Jefri bisa kan mengajar ngaji?"
" Insya Allah, bisa Neng. Tapi iqro' satu ya, Neng?"
" Iya, tapi masih kurang satu lagi."
__ADS_1
" Aku bisa mengajar anak - anak."
Saat mereka sedang mencari orang yang bisa membantu mereka, tiba - tiba Dani datang menawarkan diri. Semua menoleh kearah sumber suara dan menatap pemuda itu tajam.
" Apa kau mau membuat kerusuhan disini?!" hardik Bayu.
" Bay, jaga bicaramu. Kita sedang berpuasa, jaga emosimu." kata Medina.
" Tapi, Mey_..."
" Biar aku yang bicara dengan Dani."
Medina mengajak Dani untuk duduk di samping Mushola. Dia tidak boleh mengambil keputusan sebelum ada penjelasan terlebih dahulu.
" Apa tujuanmu datang kesini?" tanya Medina datar.
" Mey, saya ingin memperbaiki akhlak disini. Apa saya tidak pantas untuk mendapatkan maaf?" ucap Dani tulus.
" Kau yakin? Apa jaminannya kau tidak berbuat ulah disini?"
" Demi Allah, Mey... saya benar - benar ingin bertobat. Saya juga sudah berusaha untuk bertanggung jawab pada gadis itu tapi sampai sekarang kamu tidak mau mengatakan dimana dia tinggal. Rumah orangtuanya juga sudah kosong sekarang."
" Baiklah, aku bisa terima kamu disini asalkan kau benar - benar tulus ingin memperbaiki diri."
" Terimakasih, Mey. Kau adalah teman yang baik. Bisakah saya menjadi bagian dari pertemanan kalian berlima? Anggap saja ini adalah sebuah permohonan. Saya butuh teman yang bisa mengajak kepada kebaikan."
" Sebaiknya kamu minta maaf sama mereka, semoga niatmu yang tulus bisa meluluhkan hati mereka."
" Iya, Mey. Saya pasti akan meminta maaf pada mereka."
" Tidak usah terlalu formal juga, kita kan berteman." ucap Medina.
Dani segera menghampiri Bayu dan teman - temannya. Medina yakin jika kali ini Dani memang serius ingin berubah.
" Bayu, Johan, Adam dan Ririn... saya ingin meminta maaf soal kejadian kemarin yang sangat merugikan kalian semua. Saya berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi dan tolong bantu saya untuk bisa berubah menjadi orang yang lebih baik." ucap Dani.
" Hmm... apa kau serius ingin berubah?" kata Adam.
" Kalau aku sih nggak percaya." sinis Bayu.
" Bay, tidak ada salahnya kita percaya. Mungkin Dani memang ingin berubah." sahut Medina.
Setelah perdebatan kecil, akhirnya mereka mau menerima kehadiran Dani walaupun masih merasakan keraguan.
" Ya sudah, kita mulai acaranya sekarang. Anak - anak sudah menunggu di dalam." kata Ririn.
__ADS_1
Mereka semua masuk ke dalam Mushola dan bersiap untuk mengajar anak - anak mengaji. Medina dengan telaten dan sabar mengajari anak - anak itu sampai bisa menghafal huruf demi huruf. Dia bertukar tempat dengan Jefri karena ternyata sangat susah mengajar mengenalkan huruf hijaiyah dari awal.
" Alif... Ba'... Ta'..." ucap Medina diikuti beberapa anak yang mungkin usianya sekitar lima tahunan.
" Kak, kenapa hurufnya aneh?" tanya seorang anak dengan kepolosannya.
" Hurufnya tidak aneh, Dek. Hanya saja kalian itu belum terbiasa belajar mengenalnya. Ini adalah huruf arab, langkah awal agar kita bisa membaca kitab suci Allah yaitu Al - Qur'an."
Medina kembali mengenalkan huruf demi huruf secara pelan - pelan agar anak - anak mudah dalam memahaminya. Memang tidak mudah untuk anak - anak bisa cepat menghafal huruf arab jika tidak belajar secara rutin.
" Mey, udah hampir maghrib. Kita sudahi kegiatan hari ini, catering juga sudah datang." kata Adam.
" Ya sudah, kamu kasih tahu anak - anak supaya mereka berdiri dengan rapi dan kita tutup kegiatan ini. Sebaiknya kita bagikan makanannya sekarang saja, takut nanti anak - anak kemaleman pulangnya. Kasihan yang rumahnya jauh."
Setelah acara penutupan selesai, mereka membagikan makanan kepada anak - anak itu kemudian disuruh langsung pulang biar tidak kemalaman sampai di rumah masing - masing.
" Hhh... ternyata capek juga mengajar anak - anak mengaji." keluh Bayu.
" Makanya, kita itu harus menghormati guru. Para guru itu setiap hari harus mengajarkan ilmu kepada anak didiknya dengan kesabaran ekstra. Contoh ayahnya Medina, beliau selalu sabar menghadapi anak didiknya walaupun kadang mereka berbuat onar sampai diluar batas." kata Johan.
" Sudah, namanya mencari pahala itu tidak ada yang mudah. Asalkan kita ikhlas, semua pasti menjadi berkah." tutur Ririn.
Semua duduk di serambi Mushola sembari menunggu waktu berbuka puasa. Medina menatap jalanan di depannya seakan sedang menunggu seseorang.
" Hei... kenapa melamun? Apa sedang menunggu seseorang ya?" tebak Dani.
" Tidak, lagi nungguin kamu adzan di Mushola." elak Medina.
" Benarkah? Jika itu bisa membuatmu percaya dengan ketulusanku, maka aku yang akan mengumandangkan adzan." balas Dani.
" Memangnya kamu bisa adzan?"
" Jadi kamu meragukan kemampuanku? Akan kubuktikan nanti jika waktunya tiba."
Adzan maghrib tinggal lima menit lagi, Dani bersiap untuk mengumandangkan adzan untuk pertama kalinya sejak dia masuk di bangku SMA. Jiwanya bergetar sangat kencang saat teringat dengan dosa - dosanya selama ini. Mungkin karena tak ada didikan yang baik soal agama dalam keluarganya, kehidupan Dani sangat jauh dari agama.
" Ya Allah, ampunilah segala dosa - dosa hamba selama ini. Terimalah taubat hamba karena telah lalai dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim." batin Dani.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.