
Usai perdebatan yang melelahkan, mereka segera keluar dari butik mama Kamila. Medina masih memasang wajah juteknya dan tidak mau bicara dengan Rifky.
" Sayang... kakak sudah telfon ayahmu, beliau mengijinkan kamu ikut ke Korea." ucap Rifky memecahkan kesunyian.
" Hmm..." jawab Medina datar.
" Jangan begitu dong... kakak minta maaf,"
" Dina lapar, pengen makan seafood." rengek Medina tiba - tiba.
Rifky tersenyum lalu melajukan mobilnya mencari restoran yang menyediakan menu seafood. Sepertinya gadisnya memang sudah sangat lapar.
Sampai di Mall terbesar, Rifky segera mencari tempat parkir yang kosong karena weekend jagi Mall itu hampir penuh pengunjung.
Memasuki pintu utama Mall, Rifky menggenggam erat tangan Medina agar tak terpisah darinya. Tempat itu sangat sesak dengan pengunjung yang sangat membludak.
" Kak... cari tempat lain yuk? Disini ramai sekali, Dina nggak nyaman." rengek Medina.
" Tidak apa - apa, kita langsung ke lantai atas saja. Disana pasti nyaman dan kita bisa makan sepuasnya." ujar Rifky.
Medina merapatkan tubuhnya pada Rifky agar tidak bertabrakan dengan pengunjung yang lainnya. Rifky tersenyum senang lalu merangkul bahu gadisnya biar semakin aman dan nyaman.
Sampai di lantai paling atas, Rifky segera memesan privat room agar kekasihnya merasa nyaman saat makan.
" Sayang, kamu pilih menu yang kamu suka." titah Rifky.
Medina membaca daftar menu dan juga harganya. Dia sempat terkejut melihat label harga yang tertera. Satu macam menu saja harganya lebih tinggi daripada harga beras 10kg.
" Kak... cari tempat lain aja yuk?" bisik Medina.
" Kenapa? Tidak ada makanan yang kamu suka disini?" tanya Rifky bingung.
Medina hanya menggelengkan kepalanya takut mau jujur karena ada waiters yang sedang menunggu pesanan mereka.
" Mahal," bisik Medina.
Rifky tersenyum simpul lalu mengusap puncak kepala Medina dengan gemas. Dia segera mengambil buku menu dan menyebutkan beberapa makanan special yang ada di Resto tersebut. Setelah waiters pergi, Rifky menggenggam tangan kekasihnya.
" Sesekali kita menikmati hidup, sayang. Tidak setiap hari juga kan kita makan disini. Jujur saja, aku lebih suka masakanmu yang pakai bumbu special itu." ucap Rifky.
" Bumbu special? Kayaknya aku masak pakai bumbu biasa aja. Bawang merah, bawang putih, garam dan yang lainnya."
" Iya, tapi kamu masaknya dengan bumbu cinta dan kasih sayang."
" Ish... gombal...!"
Setelah pesanan datang, Rifky segera mengajak Medina untuk makan. Sesekali ia menyuapi Medina dengan makanan dari piringnya.
" Kak... Dina bisa makan sendiri."
" Tidak apa - apa, mumpung lagi berduaan begini kakak ingin memanjakanmu."
Usai makan, Rifky mengajak kekasihnya untuk berkeliling Mall untuk membeli pakaian yang akan dibawa Medina saat mengunjungi Korea. Disana sedang musim salju jadi perlu baju hangat walaupun Rifky sudah menyuruh Hans untuk membeli keperluan calon istrinya selama disana.
¤ ¤ ¤
Jam 12 siang, Nicko datang ke kediaman orangtua Rifky untuk menyerahkan paspor Medina yang ia urus tadi pagi. Untung saja Nicko punya rekan disana sehingga pembuatan paspor itu sangat cepat.
" Hai... Nona Boss," sapa Nicko.
" Eh... kak Nicko. Tumben kesini, bukannya kak Rifky di kantor?" sahut Medina.
" Ini mau kasih paspor kamu sekalian kamu ikut ke kantor saja biar sekalian ke bandara nanti sore."
" Kelamaan nunggu kalian kerja, biar nanti ketemu di bandara saja."
" Tidak bisa, Mey... Rifky pasti marah kalau kamu tidak ikut."
" Kenapa harus marah?"
__ADS_1
" Nggak penting bahas itu, cepat berkemas sekarang."
" Kak Rifky gimana? Dia belum packing kayaknya."
" Bawain aja sepasang bajunya, disana stok bajunya banyak."
Medina segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil barang - barang yang akan dia bawa pergi. Setelah berpamitan pada calon ibu mertuanya, mereka langsung pergi menuju kantor.
" Permisi, Boss... pengantinnya sudah datang." seru Nicko mengagetkan Rifky yang sedang serius dengan laptopnya.
" Astaga... kau mau membuatku serangan jantung!" teriak Rifky kesal.
" Apa sih, kak! Marah - marah nggak jelas, laper ya?" cibir Medina.
" Sini, sayang... aku merindukanmu." rengek Rifky.
" Mulai deh, si bucin beraksi." ledek Nicko.
" Diam kau! Cepat pesan makanan sana!" perintah Rifky.
" Siap, Boss."
Nicko segera keluar dari ruangan bossnya sebelum dapat amukan dan umpatan lebih besar lagi.
" Jangan galak - galak begitu, nanti cepak tua loh!" ucap Medina.
" Nggak, sayang... aku sama Nicko sudah terbiasa seperti ini. Kami sudah seperti saudara, mana mungkin aku marah padanya." sahut Rifky.
Rifky menghampiri Medina yang duduk di sofa lalu merebahkan tubuhnya dengan kepala di pangkuan kekasihnya.
" Kakak... malu kalau dilihat orang." ucap Medina.
" Tidak ada yang berani masuk kesini kecuali Nicko. Kakak mau tidur sebentar, sayang." sahut Rifky.
" Kakak bisa tidur di kamar, please..."
" Disini aja, cuma sebentar."
" Boss_... Eh, dia tidur Mey?" Nicko menenteng papper bag berisi makanan untuk mereka bertiga.
" Iya, kak. Di suruh tidur di kamar tidak mau."
" Biarkan saja, mungkin Rifky sangat lelah. Dia harus mengurus banyak perusahaan sendiri. Kami sebagai asisten hanya bisa membantu saja, Rifky tetap memegang penuh kendali perusahaan."
" Kak Jonathan dan kak Hans posisinya sama seperti kak Nicko, ya?"
" Iya, kami bertiga bertanggung jawab di perusahaan negara masing - masing. Tapi Rifky, dia terus saja berkeliling dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain."
" Apakah setelah kami menikah, kak Rifky akan sering meninggalkanku?" ucap Medina sendu.
" Tidak akan ada yang meninggalkanmu, sayang." sahut Rifky tiba - tiba.
Rifky merapatkan wajahnya di perut Medina lalu memeluk erat pinggang gadis itu. Sebenarnya ia sudah bangun saat Nicko datang, namun ia masih enggan untuk membuka matanya.
" Kakak udah bangun? Ayo makan dulu, keburu dingin." ucap Medina.
" Kalau dingin tinggal dipeluk aja, nanti juga hangat." sahut Rifky asal.
" Ish... ngaco ngomongnya! Cepat bangun...!" ketus Medina.
Rifky segera duduk di samping Medina sambil melirik Nicko yang seakan tersenyum mengejek padanya.
" Sayang... lanjut tidur di kamar yuk? Disini kayaknya ada jomblo ngenes yang iri." sindir Rifky.
" Pergi sana! Yang jauh malah lebih nyaman buatku." kesal Nicko.
Nicko mengambil ponsel di saku jasnya lalu melakukan video call dengan dua sahabatnya diluar negeri.
Nicko
__ADS_1
" Hai... apa kalian sibuk?"
Hans
" No, saya baru kembali dari meeting."
Jonathan
" Saya habis lunch dengan istri tercinta."
Nicko
" Kalian beruntung sekali."
Jo & Hans
" Beruntung? Apanya yang beruntung?"
Nicko
" Look at this!" Nicko mengarahkan kamera belakangnya menghadap pasangan sejoli yang sedang kasmaran.
Hans
" Woww... amazing big boss, you harus sabar menghadapi cobaan hidup."
Jonathan
" Semoga kesabaranmu membuahkan hasil, my best friend."
Nicko
" Saya ini orang yang paling sabar di dunia. Harusnya sudah dapat piala oscar."
Rifky yang sedang bersandar di bahu Medina langsung merampas ponsel di tangan Nicko.
Rifky
" Hei... kalian tidak bekerja sampai melayani ocehan Nicko!"
Hans
" Selamat siang, Boss. Kami hanya menghibur saudara kita yang sedang berduka."
Jonathan
" Boss... apa di Indonesia sudah tak ada stok wanita single? Tolonglah kasihani saudara kita, setidaknya sisihkan satu untuknya."
Nicko
" Sialan kalian!"
Hans
" Hahahaa... Nona Boss, tolong carikan satu buat Nicko, di kolong jembatan juga tidak apa - apa."
Medina
" Kalian jangan seperti itu! Tidak ada yang boleh membully kakakku yang tampan ini."
Rifky merasa kesal karena kekasihnya malah memuji pria lain walaupun itu sahabatnya. Nicko yang jahil tentu saja tak ingin melewatkan kesempatan yang tak datang dua kali untuk membuat bossnya semakin kesal.
Perbincangan semakin ramai, walaupun Medina belum pernah bertemu dengan dua asisten Rifky itu. Mereka terlihat sangat akrab satu sama lama lain. Hingga percakapan berakhir karena Medina dan Rifky harus segera ke bandara.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.