
" Dina, tunggu....!" seru Nicko.
Nicko menghampiri Medina dan melihat darah yang membasahi lengan gadis itu.
" Lukamu terbuka lagi? Kenapa bisa seperti ini? Ayo masuk ke dalam, biar diobati oleh dokter." ujar Nicko.
" Tidak usah, Dina mau pulang saja."
Rifky melirik sekilas ke arah Medina. Dia terkejut karena baju bagian lengan gadis itu basah dengan darah.
" Apa kau ingin mati...!" hardik Rifky.
Rifky langsung membopong tubuh Medina tanpa berkata apapun. Sebenarnya ia tidak tega melihat Medina menahan sakit seperti itu, namun egonya lebih tinggi di banding perasaannya.
Sampai di ruang rawatnya, Rifky langsung membaringkan gadis itu di brankar. Dokter yang mengikuti di belakang langsung memeriksa luka di lengan Medina.
" Kenapa bisa seperti ini? Apa lukamu terbentur sesuatu?" tanya Dokter.
" Tadi saya tidak sengaja menabrak orang diluar, jadi lengan saya jadi korbannya." jawab Medina.
" Dasar ceroboh!" umpat Rifky pelan.
" Rifky...!" tegur papa Surya.
" Hhh... Dokter, apa dia sudah boleh pulang. Saya akan mengajaknya pulang sekarang." kata Rifky.
" Rifky, kasihan Medina." ucap mama Kamila.
" Papa dan mama pulang saja, Rifky yang akan mengurus dia disini."
Dokter kembali menjahit luka Medina agar darahnya tak lagi keluar. Setelah itu, Medina disuruh istirahat sampai besok pagi supaya lukanya cepat membaik.
Orangtua Rifky dan juga Nicko berpamitan untuk kembali ke kota. Medina sebenarnya tidak ingin ditinggal berdua saja dengan Rifky karena pria itu seakan acuh padanya.
" Tante, jangan tinggalin Medina sendiri." rengek Medina.
" Dina, disini ada Rifky yang menjagamu." kata mama Kamila.
" Kalau nanti kak Rifky juga pergi, gimana?"
" Rifky tidak akan pergi, dia sangat sayang padamu." bisik mama Kamila.
Medina mengulas senyum dalam dekapan hangat ibunya Rifky. Medina merasa hubungannya dengan Rifky sudah mendapatkan restu.
Setelah orangtua Rifky dan Nicko pergi, Medina duduk di tepi ranjang berusaha untuk meraih botol infus karena ingin ke kamar mandi. Karena satu tangannya sakit, Medina jadi kesulitan untuk mengambilnya.
" Mau kemana?" tanya Rifky datar.
" Bukan urusanmu!" ketus Medina.
" Cukup! Aku tidak mau lagi berdebat denganmu."
" Jadi semua ini salahku? Baiklah... aku minta maaf."
Rifky langsung mendekati Medina dan memeluk gadis itu dari belakang. Hembusan nafasnya yang tidak beraturan membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
" Maaf... kakak hanya tidak ingin jauh darimu." lirih Rifky.
__ADS_1
" Lepas...!" pekik Medina.
" Sayang, jangan marah sama kakak ya? Kakak tidak punya niat sedikitpun untuk menyakiti hatimu."
" Terus tadi apa? Kakak juga mengusirku?"
" Ya Allah, sayangku... kakak tidak serius mengatakan itu,"
" Lepasin Dina, kak!"
" Tidak... janji dulu kamu tidak akan pernah meninggalkan kakak,"
" Kak... Dina mau ke kamar mandi, kakak mau ikut?"
" Hahh...? Kamar mandi...?"
Medina melepaskan pelukan Rifky kemudian sedikit berlari menuju kamar mandi karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil.
¤ ¤ ¤
Sore hari, Rifky dan Medina keluar dari rumah sakit karena gadis itu bersikeras ingin pulang. Dia tidak ingin membuat ayahnya khawatir dengan keadaannya.
" Sayang, nanti kakak menginap di rumah kamu ya?" ucap Rifky.
" Mau apalagi, kak?"
" Kakak tidak mau jauh dari kamu."
" Kak Rifky... kita ini bukan saudara, mana mungkin kita tinggal satu atap?"
" Ya udah, bagaimana kalau malam ini kita nikah saja biar bisa tinggal satu atap, eh bukan... satu kamar."
" Kakak serius, sayang..."
Rifky menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan. Ditatapnya gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Sayang, kakak tidak pernah bercanda untuk urusan hati. Kamu adalah satu - satunya orang yang ada di hatiku. Jadilah milikku seutuhnya, aku tidak mau berpisah denganmu lagi." ucap Rifky dengan serius.
" Kak, Dina belum siap untuk menjalin ikatan seperti itu. Masih banyak hal yang harus kulakukan untuk membahagiakan ayah."
" Kakak tidak akan menghalangi keinginanmu itu. Kakak akan mendukung semua keinginanmu sampai hal itu bisa kamu capai."
" Benarkah? Kakak mau menuruti semua keinginanku?"
" Tentu saja, everything for you..."
Medina tersenyum bahagia. Tanpa sadar ia merebahkan kepalanya di bahu Rifky sambil memejamkan matanya.
" Tidurlah, kita jalan lagi biar sampai rumah sebelum maghrib." ucap Rifky.
" Mmm... iya, sayang." gumam Medina tanpa sadar.
Sumpah demi apapun, hanya karena panggilan 'sayang' itu membuat hatinya berbunga - bunga. Tidak sabar rasanya untuk segera menghalalkan kekasihnya itu. Pikirannya travelling entah kemana saat gadisnya itu terlelap di bahunya. Seandainya sudah halal, Rifky pasti tidak akan melewatkan kesempatan melihat bibir mungil yang sangat menggemaskan itu.
" Astaghfirullah... Sabar, Rifky!" batin Rifky merutuki pikiran mesumnya di saat sedang berpuasa.
Tak lama kemudian, Rifky dan Medina sampai di halaman rumah. Rifky segera membangunkan gadis itu karena pak Hasan sudah menyambut kedatangan mereka di teras.
__ADS_1
" Calis, udah sampai rumah." ucap Rifky lembut sambil mengusap pelan pipi gadis itu.
" Mmm... sebentar lagi, kak." gumam Medina.
" Sayang, itu ayah kamu udah nungguin di teras. Nanti tidur lagi setelah maghrib atau isya'..." bujuk Rifky.
Medina menggeliat sebentar lalu membuka matanya perlahan. Bertepatan dengan adzan maghrib, Medina mengulas senyum lebarnya menatap Rifky.
" Selamat berbuka puasa, sayang." bisik Medina seraya mencium pipi kekasihnya.
Rifky membeku seketika, jantungnya seakan berhenti berdetak. Apa yang dilakukan Medina sungguh diluar dugaannya. Mungkinkah obat dari rumah sakit mempengaruhi pikirannya? Seperti sebuah mimpi, Rifky benar - benar tidak percaya Medina akan melakukannya. Rifky sampai tidak sadar jika Medina sudah keluar dari mobil dan duduk di teras bersama ayahnya.
" Rifky... kamu ngapain bengong disitu?"
Rifky kaget mendengar ada yang mengetuk kaca mobilnya. Dia bergegas untuk membuka kaca mobilnya.
" Eh... Om Jamal? Ada apa?" tanya Rifky asal.
" Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" cecar om Jamal.
" Ti...tidak, Om. Kita batalkan puasa dulu, udah adzan maghrib."
Rifky turun dari mobilnya untuk berpamitan dengan pak Hasan. Jantungnya kembali berdetak saat melihat Medina yang tersenyum padanya.
" Paman, Rifky pulang dulu ya? Sebentar lagi maghrib, mau ke Mushola." pamit Rifky.
" Tidak buka puasa dulu disini? Paman sudah masak banyak untuk kalian."
" Mmm... itu, paman_..." ucap Rifky canggung.
" Jangan dipaksa, Yah. Makanan di rumahnya pasti lebih enak dibandingkan di rumah kita." sahut Medina.
" Bukan begitu, Dina. Kakak nanti kesini setelah pulang dari mushola." kata Rifky setelah meminta persetujuan pak Jamal lewat isyarat.
" Jangan dipaksakan kalau tidak mau,"
" Kakak tidak terpaksa, nanti kesini setelah sholat maghrib."
" Sudah jangan berdebat lagi, ayo siap - siap ke mushola." kata Om Jamal.
Setelah berpamitan, Rifky dan pak Jamal segera meninggalkan kediaman pak Hasan. Mobil ditinggalkan di halaman rumah pak Hasan daripada ribet hanya untuk pulang ke sebelah saja.
Baru saja Rifky masuk ke dalam kamarnya setelah minum segelas air putih, ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Rifky membaca pesan itu dan tersenyum lebar.
Medina
( " Sayang, nanti jadi buka puasa disini, kan?" )
Rifky ingin membalas pesan kekasihnya namun waktunya sudah begitu mepet untuk berangkat ke Mushola. Setelah ambil wudlu dan berganti pakaian, Rifky segera keluar dari kamarnya. Pak Jamal sudah menunggunya di teras untuk berangkat bareng jalan kaki.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.