Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Perhatian


__ADS_3

" Buka bajunya...!" seru Medina.


" Apaaa...?" kata Rifky kaget.


" Ayolah, kak. Dina harus tahu seberapa parah luka kakak."


" Sayang, ini di jalanan... kalau ada warga yang lihat nanti kita dikira berbuat yang tidak - tidak."


Medina yang sudah menarik baju Rifky langsung melepaskannya dan mengalihkan pandangannya ke depan.


" Maaf... Dina hanya... hanya mencemaskan kakak."


" Iya, kakak tahu. Terimakasih kamu sudah khawatir dan perhatian dengan kakak. Nanti bisa diobati di rumah, Calis sayangku..."


Medina merasa sangat malu pada Rifky. Tadi dia sangat khawatir hingga tak berpikir panjang ingin melihat luka di bahu Rifky.


" Maaf... Dina sudah bersikap tidak sopan sama kakak."


" Tidak apa - apa, sayangku. Semua yang ada pada diri kakak ini juga nantinya menjadi milik kamu setelah kita halal." goda Rifky.


" Ihh... kakak apaan sih? Dina pulang sendiri aja!" kesal Medina.


Medina langsung keluar dari mobil dengan cepat hingga Rifky tak sempat menahannya karena bahu kirinya sakit saat digerakkan.


" Sayang, kok marah sih? Kakak cuma bercanda tadi, ayo kakak antar sampai rumah." bujuk Rifky.


Rifky menghadang langkah Medina dengan cepat supaya gadis itu berhenti. Diraihnya tangan Medina dengan lembut seraya tersenyum.


" Maaf, ya? Kakak hanya merindukanmu, tak ada niat untuk membuatmu marah." rayu Rifky.


" Udah ah, Dina mau pulang!"


" Iya, ayo kakak antar sampai rumah. Sekarang masuk ke mobil lagi ya?"


" Hah... masuk mobil? Mau ngapain masuk mobil?"


" Pulang, sayang. Ayo kakak antar sampai rumah."


" Kakak nggak lihat Dina sudah di depan rumah?"


Rifky melihat ke sekeliling dan terkejut karena mereka sudah sampai di rumah. Rifky sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya tadi parkir di depan gerbang rumah pak Jamal.


" Astaghfirullah... kita sudah sampai, sayang?" ucap Rifky nyengir.


" Hhh... obatin sendiri ya lukanya?"


" Sayang... tega banget sih? Pokoknya kakak tidak akan pulang kalau belum diobatin sama calon istri."


" Manjaaa...!" ketus Medina.


Rifky mengikuti langkah Medina yang masuk ke dalam rumah namun segera dicegah karena di rumah tidak ada pak Hasan.


" Jangan ikut masuk, ayah tidak ada di rumah." kata Medina.


" Baiklah, tapi boleh minta minum kan?" rengek Rifky.

__ADS_1


" Sebentar, Dina ambilkan dulu ya."


Medina masuk mengambil air minum di dapur untuk Rifky. Setelah itu ia kembali masuk untuk membersihkan diri kemudian sholat isya.


" Kak, mau sholat sekarang?" tanya Medina setelah dirinya selesai sholat.


" Kakak belum mandi, sayang. Nanti aja kalau paman sudah pulang kakak juga pulang."


" Tapi luka kakak?"


" Ada mama di rumah Om Jamal, biar nanti diobati di rumah saja."


" Oh... jadi sekarang udah deket sama mamanya, berarti udah nggak butuh aku kan?"


" Sayang, apa kamu cemburu sama mama?"


" Tidak, nggak ada gunanya juga cemburu."


" Calis, mama sudah tidak menjodohkan kakak dengan Devi lagi. Devi dan keluarganya adalah seorang penipu. Kemarin kakak sudah memperlihatkan bukti - bukti tentang keluarga Devi."


" Benarkah? Terus seperti apa reaksi tante Kamila?"


" Mama dan papa sangat membenci mereka. Mulai sekarang, tidak akan ada yang mengatur hidupku lagi."


" Ya sudah, kakak pulang saja biar lukanya cepat diobati."


" Sayang, kakak tidak akan meninggalkanmu sendirian. Nanti tunggu paman pulang dulu."


Medina sebenarnya ingin mengobati luka Rifky, namun karena tidak ada orang lain yang menemani dia takut terjadi salah paham nantinya jika ada warga yang melihatnya.


" Kakak belum tahu, sayang. Tapi yang jadi targetnya adalah kakak, bukan kamu."


" Kok bisa? Padahal kakak tidak punya musuh disini, kecuali kalau mereka itu orang suruhan kak Devi."


" Mungkin juga, kalau begitu papa dan mama pasti diincar juga."


" Kakak harus selalu waspada, suruh orang untuk menjaga Om Surya dan tante Kamila."


" Iya, sayang."


Sekitar pukul delapan, pak Hasan pulang bersama pak Surya dan pak Jamal. Mereka merasa heran melihat Rifky ada di rumah Medina.


" Assalamu'alaikum,"


" Wa'alaikumsalam."


Medina dan Rifky mencium tangan tiga orangtua di hadapannya. Setelah itu mereka duduk bersama sekedar untuk mengobrol.


" Om, Dina buatin kopi ya?" ucap Medina.


" Boleh juga kalau tidak merepotkan." sahut pak Jamal.


" Om Surya juga suka kopi, kan?" tanya Medina.


" Om tidak pilih - pilih minuman yang penting bukan miras." jawab pak Surya sambil tersenyum.

__ADS_1


" Ya udah, Dina masuk dulu buatin kopinya."


Setelah Medina masuk ke dalam rumah, Rifky berpamitan sebentar untuk pulang karena belum mandi dan sholat isya'.


" Paman, Rifky pulang dulu ya? Tapi papa sama om Jamal jangan pulang dulu ya, ada yang ingin Rifky bicarakan disini." ucap Rifky.


" Kenapa tidak sekarang saja, Rifky?" tanya pak Hasan.


" Rifky belum mandi dan sholat isya', paman." jawab Rifky.


Pak Surya melihat Rifky yang mengusap pundaknya seperti menahan sakit. Dia langsung mencegah kepergian putranya. Sebenarnya pak Surya sudah curiga dari tadi saat Rifky menggerakkan tangan kirinya seperti menahan rasa sakit.


" Tunggu...! Apa bahumu sakit?" kata pak Surya.


" Cuma sedikit, Pa. Tidak perlu dicemaskan, Rifky sudah biasa begini." jawab Rifky singkat.


" Coba sini papa lihat lukamu!"


" Pa, nanti saja... Rifky mau mandi dulu."


Rifky berlalu meninggalkan papanya yang bingung dengan tingkah putranya. Mereka memang tidak terlalu dekat selama ini. Bahkan pak Surya tidak pernah tahu bagaimana tumbuh kembang putranya sedari kecil hingga sekarang. Dia juga tidak pernah tahu apa keinginan anaknya itu.


" Sudah, Mas. Biarkan saja Rifky, dia sudah dewasa dan tahu apa yang harus dia lakukan. Kamu tidak perlu mengatur hidupnya, semua itu sudah terlambat. Seandainya kamu lebih dekat dengannya saat dia masih kecil dulu, mungkin kalian adalah ayah dan anak yang sangat harmonis." kata pak Jamal.


" Kau benar, Mal. Aku memang tidak pernah perhatian dengan putraku sendiri. Kami jarang sekali bertemu hingga akhirnya kukirim dia sekolah di luar negeri, kami bertemu hanya setahun sekali." ucap pak Surya sendu.


" Sudahlah, pak Surya tidak perlu menyesali yang telah lalu. Yang penting sekarang ini perbaiki hubungan Anda dengan Rifky. Walaupun selama ini jauh dari kita, tapi dia tumbuh mejadi pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Kita patut bangga dengan keberhasilan putra kita. Walaupun Rifky bukan anak kandungku, tapi dulu dia sangat dekat denganku. Dia selalu menjaga Medina, menyayangi putriku dengan tulus." kata pak Hasan.


Medina keluar dengan membawa empat cangkir kopi dan cemilan. Namun dia heran karena Rifky sudah tak ada disana.


" Yah, kak Rifky kemana?" tanya Medina.


" Pulang, mau mandi dulu katanya." jawab pak Hasan.


" Dina, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Rifky tadi terlihat seperti kesakitan?" tanya pak Surya.


" Maaf, Om. Sebaiknya biar kak Rifky sendiri yang cerita nanti."


" Dina, kamu tidak berbuat yang aneh - aneh lagi, kan?" tanya pak Hasan.


" Ayah kok nuduh Dina begitu? Kalau kak Rifky aja di percaya, tapi anak sendiri selalu disalahkan." sungut Medina kesal.


" Ayah hanya bertanya, bukan menyalahkan kamu."


" Terserah ayah saja, Dina mau tidur."


Dina langsung beranjak masuk ke dalam rumah dengan kesal. Dia tak menyangka ayahnya akan berbicara seperti itu.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2