
Nicko mengantar Rifky dan Medina ke Bandara. Tak ada perbincangan selama perjalanan karena Medina diam saja semenjak masuk ke dalam mobil. Sampai di bandara, Rifky menyuruh Medina untuk duduk di ruang tunggu sementara dirinya mengurus tiket keberangkatannya.
" Mey... kamu kenapa diem dari tadi? Kayaknya tegang banget." tanya Nicko.
" Mmm... Dina takut, kak. Ini pertama kalinya Dina naik pesawat." ucap Medina sendu.
" Hah... jadi kamu murung seperti itu karena takut naik pesawat?"
" Iya... pesawatnya tidak akan jatuh, kan?"
" Kamu tenang saja, kakak juga sering naik pesawat dan tidak pernah terjadi apa - apa. Apapun yang terjadi, semua sudah kehendak Allah. Berdo'alah agar selamat sampai tujuan."
" Terimakasih, kak. Dina jadi lebih tenang sekarang."
" Sini peluk kakak... satu minggu kita tidak akan bertemu."
Nicko merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan Medina. Namun tanpa ia sadari, dari arah belakang ada yang menarik telinganya dengan kencang.
" Auwww...!" rintih Nicko kesakitan.
" Mau yang satunya juga!" geram Rifky.
" Aduh, Boss... aku cuma bercanda tadi sama Medina."
" Bercadaanmu kelewatan!"
" Kak Rifky... udah dong, malu jadi tontonan orang banyak." lerai Medina.
" Kamu kok belain dia sih, sayang?"
" Bukan gitu, kak. Kalian itu pengusaha, jaga image di tempat umum bisa nggak?"
" Hhh... baiklah, kali kau kulepas! Tapi jangan pernah kamu ulangi lagi perbuatanmu."
" Baik, Boss... sorry,"
Rifky segera mengajak Medina masuk ke dalam pesawat karena sudah ada panggilan bahwa pesawatnya akan segera take off.
" Aku pergi dulu, urus proyek yang ada di kota sebelah. Jangan sampai proyek itu mendapat gangguan dari pihak luar."
" Siap, Boss!"
" Ayo, sayang... sudah waktunya kita pergi."
" Iya, kak... Kak Nicko, Dina pamit ya."
" Tidak usah pamitan sama dia,"
Mereka berdua segera masuk ke dalam pesawat. Medina memilih duduk di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan diluar.
" Sayang, pakai sabuk pengamannya dulu. Pesawat sudah mau take off." titah Rifky.
" Pakainya gimana ini, kak? Ribet banget sih."
" Sini kakak yang pakaikan,"
Rifky segera memasang sabuk pengaman di tubuh Medina lalu mengecup singkat pipi kekasihnya itu dengan tersenyum.
" Kakak...!" pekik Medina kesal.
" Apa sih? Mau lagi...?" goda Rifky.
" Kakak jangan macam - macam, ya!"
" Sorry... jangan ngambek lagi, ya?"
Rifky membelai lembut puncak kepala kekasihnya yang terlihat masih kesal padanya. Dia harus bisa mencari topik pembicaraan yang bisa membuat Medina lupa dengan marahnya.
" Sayang_..."
Belum sempat Rifky bicara, Medina mencengkeram lengannya dengan kuat saat tiba - tiba pesawatnya bergetar. Gadis itu memejamkan matanya seraya menunduk.
" Sayang... kamu kenapa?"
__ADS_1
" Aku takut, kak... kita tidak akan jatuh, kan?"
" Tidak, sayang... jangan takut, kakak akan selalu bersamamu."
Rifky mengusap pelan tangan Medina yang masih bergetar karena ketakutan. Dia terus memberikan ketenangan untuk kekasihnya agar merasa aman dan nyaman.
" Sayang... pesawatnya udah diatas, sekarang lepas dulu sabuk pengamannya." lirih Rifky.
" Dina masih takut, kak!"
Rifky melepas sabuk pengaman miliknya lalu membantu Medina melepas sabuk pengamannya.
" Sudah... buka matamu, sayang. Look at Me! Kita baik - baik saja sekarang." bujuk Rifky.
Medina langsung memeluk erat tubuh Rifky. Matanya masih enggan untuk terbuka dan lebih memilih menenggelamkan wajahnya pada dada bidang kekasihnya.
" Sayang... ayolah, semua baik - baik saja."
" Nggak mau!"
" Ya sudah, tidurlah... perjalanan masih sangat lama."
Rifky mengusap punggung Medina dengan lembut agar gadis itu cepat tidur. Rifky tersenyum kecil melihat kekasihnya terlelap dalam pelukannya.
Setelah beberapa jam, Medina terbangun dan menatap Rifky yang juga tertidur. Dengan perlahan tangan Medina memindahkan tangan Rifky yang memeluk tubuhnya. Medina sedikit bergeser ke arah kaca untuk melihat pemandangan diluar.
Sebenarnya Rifky ingin mengajak Medina untuk naik privat jet miliknya, namun karena sedang pengecekan mesin yang rutin dilakukan setiap bulannya, maka dengan terpaksa harus naik pesawat biasa.
" Kamu suka pemandangan disini, sayang?" bisik Rifky.
" Iya, ternyata tidak menyeramkan seperti perkiraanku." sahut Medina.
" Lain kali kakak akan mengajakmu keliling dunia. Mau honeymoon kemana, sayang?"
" Ish... menikah juga belum, udah mikirin honeymoon aja sih!"
" Namanya juga rencana, sayang. Harus kita persiapkan semuanya dari sekarang, biar nanti saat udah selesai ijab qobul kita langsung berangkat bulan madu."
" Jangan mengkhayal dulu, pikirin tuh kerjaan kakak."
Karena masih setengah perjalanan lagi, Medina memilih kembali tidur daripada harus mendengar gombalan kekasihnya.
" Kak, aku mau tidur lagi."
" Ya udah, sini di pangkuan kakak saja biar tidurnya lebih nyaman."
" Iya,"
Medina segera merebahkan tubuhnya di pangkuan Rifky. Dia berusaha untuk tidur kembali walaupun sangat susah karena ia belum lama terbangun.
" Kak..."
" Apa, sayang?"
" Kakak yakin mau menikahi Dina?"
" Kenapa bertanya seperti itu? Kau sudah tahu jawabanku apa."
" Dina merasa insecure aja saat jalan sama kakak."
" Hmm... tidak boleh seperti itu! Kamu adalah gadis yang paling istimewa bagiku. Tegakkan pandanganmu, jangan biarkan orang lain menginjak harga dirimu. Tidak ada kasta dalam sebuah cinta, bagiku cinta itu dari hati bukan harta dan tahta."
" Tapi_..."
" Tidurlah! Jangan sampai kakak mencium bibirmu yang terus saja berkicau!"
" Kakaakkk...!"
Rifky hanya tersenyum lalu mengusap kepala Medina agar cepat tidur dan berhenti mengoceh tidak jelas.
¤ ¤ ¤
Rifky dan Medina sudah sampai di Korea Selatan. Mereka di jemput langsung oleh Hans, tangan kanan Rifky di negara tersebut.
__ADS_1
" Boss, mau langsung pulang?" tanya Hans.
" Ya, kita antar Medina pulang dulu. Dia sangat lelah, tidak mungkin diajak bekerja." jawab Rifky.
Medina terlihat langsung terlelap setelah masuk ke dalam mobil. Jalanan kota yang dingin dipenuhi salju tak ia hiraukan karena tubuhnya sangat lelah.
Sampai di kediaman pribadi Rifky, Medina langsung diantar ke kamarnya. Rifky harus segera menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa mengajak kekasihnya jalan - jalan.
.
.
Sore hari, Medina sudah rapi didepan meja rias setelah mandi. Rifky yang baru pulang dari kantor langsung masuk ke dalam kamar Medina.
" Assalamu'alaikum, Calis..." sapa Rifky.
" Wa'alaikumsalam... kakak darimana? Kenapa Dina ditinggal sendirian disini." sungut Medina.
" I'm sorry, honey... Ada sedikit pekerjaan di kantor, jadi langsung pergi setelah mengantarmu pulang."
" Kemarin aku udah bilang sama kakak kalau tidak usah ikut saja! Disini cuma disuruh jaga rumah!"
" Sorry... sekarang kita keluar jalan - jalan yuk?" bujuk Rifky.
" Malas! Diluar pasti sangat dingin, mending tidur aja."
Rifky membuka lemari di sudut ruangan lalu mengambil mantel bulu tebal. Tanpa persetujuan terlebih dahulu, Rifky langsung memakaikan mantel itu di tubuh Medina.
" Pakai sepatu yang ada di rak, kamu pilih saja yang kamu mau. Kakak ke kamar dulu mau ambil mantel, kita jalan - jalan sebentar." ujar Rifky.
Setelah selesai bersiap - siap, Rifky kembali ke kamar Medina untuk mengajak gadis itu keluar jalan - jalan keliling kota Seoul. Hans sudah menunggu di dalam mobil untuk mengantar mereka.
" Kak... kota ini sangat indah, seperti di film drakor yang sering di tonton Ririn." kata Medina.
" Iya, kota ini sangat indah. Bahkan aku berniat menetap disini setelah menikah jika kamu setuju." sahut Rifky.
" Tidak... aku tidak mungkin meninggalkan ayah."
" Sayang... kita tidak mungkin tinggal bersama ayah terus - menerus di desa. Bagaimana kalau ayah kita ajak tinggal disini?"
" Nggak...! Aku mau tinggal di Indonesia saja."
" Fine... apapun keinginan tuan putri, pasti akan terkabul."
" Bisakah kita jalan kaki saja, apa enaknya keliling naik mobil?"
" Nanti kita bisa jalan - jalan di tempat yang pasti kamu suka."
Setelah dua puluh menit perjalanan, Rifky mengajak Medina berkeliling di wisata kuliner yang berjajar rapi. Hans mengikuti mereka di belakang untuk pengawalan.
" Kak, Dina mau coba makanan khas di negara ini," rengek Medina.
" Iya, kita cari sekarang ya? Di depan sana ada resto yang menjual makanan beraneka ragam yang kamu suka."
" Kenapa harus di resto? Disini juga banyak, kak."
" Ya sudah, malam ini adalah milikmu sayang."
Rifky menyuruh Hans untuk menuruti semua permintaan Medina. Mereka jalan bertiga berdampingan dan menjadi pusat perhatian semua orang.
Medina sangat menikmati keindahan kota ini. Berkali - kali ia foto bersama Rifky dan Hans. Walaupun baru sekali bertemu, Medina nampak akrab dengan Hans, apalagi pria asli Korea itu fasih berbahasa Indonesia.
" Kak Hans... cari makan di sebelah sana yuk?" Medina menarik lengan Hans menuju tempat makanan yang ia suka.
Tanpa Medina sadari, ternyata tak ada Rifky di sampingnya. Dia benar - benar melupakan pria itu karena asyik menikmati pemandangan kota yang indah.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.