Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Hari yang indah


__ADS_3

Seperti janjinya semalam, Rifky mengajak Medina untuk melihat sunrise di pantai. Walaupun harus menggendongnya lagi, Rifky tetap melakukannya dengan senang hati.


" Sayang, jangan main air dulu ya? Ini masih sangat pagi, kamu malah sakit." ujar Rifky.


" Iya... kita diatas batu karang itu saja, Kak. Dina juga kedinginan, nanti dipeluk ya?" sahut Dina manja.


" Istriku kalau manja begini jadi imut deh."


Setelah duduk di batu karang, Rifky segera mendekap tubuh istrinya agar tidak kedinginan. Keduanya tersenyum lalu menatap satu sama lain.


" Mau menyambut sunrise dengan cara yang berbeda?" bisik Rifky.


" Cara apa?" tanya Medina tidak paham.


Rifky mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya hingga tanpa jarak. Dengan lembut diciumnya bibir Medina bersamaan dengan mentari yang masih malu - malu menampakkan dirinya.


" Hmmmpppp...!"


" Kakak ihh...! Suka tiba - tiba kalau cium,"


" Suka, nggak?" goda Rifky.


Medina yang kesal langsung menciumi leher suaminya berkali - kali hingga Rifky merasa sangat geli tapi juga senang.


" Udah, sayang. Di bawah banyak orang yang lihat." bisik Rifky.


" Biarin aja, sejak kapan kak Rifky peduli pada orang lain." sahut Medina asal.


Rifky membiarkan istrinya itu kembali menciumi wajah dan lehernya lalu menggesekkan hidungnya pada dadanya yang entah sejak kapan sudah terbuka jaketnya bagian depan. Hanya kaos putih tipis yang membalut tubuh pria itu menjadi mainan sang istri.


" Sayang... jangan memancingku untuk melakukannya lagi." ucap Rifky dengan tatapan sayu.


" Lakukan saja kalau kakak mau," sahut Medina seraya mengusap dada Rifky dengan manja.


" Kau yang memulainya, jangan salahkan aku kalau tidak berhenti nantinya." geram Rifky.


Rifky mencium bibir istrinya dengan lembut, tangannya masuk ke dalam piyama yang juga tertutup jaket warna gelapnya.


" Ish... jangan disini...!" tegur Medina seraya menarik tangan suaminya.


" Kau yang menggodaku duluan, sayang. Aku paling tidak bisa menolak permintaanmu. Ya udah, kita kembali ke kamar sekarang."


" Dina pengen sarapan dulu, laper."


" Ya udah, habis sarapan bikin anggota baru, kan?" Rifky tersenyum jahil.


" Kakak pikir mau bikin tim,"


" Iyalah, nanti kita akan bangun rumah yang besar. Di dalamnya akan ada anak - anak kita yang akan meramaikan keluarga kita."

__ADS_1


" Terima kasih, Kak. Sekarang adalah hari yang indah untuk kita berdua. Semoga impian kita cepat terwujud dengan kehadiran malaikat kecil dalam rumah tangga kita."


" Kamu sudah benar - benar siap untuk memiliki anak, sayang? Kakak tidak akan memaksa, karena kamu juga masih muda. Pasti ada hal lain yang kamu inginkan sebelum sibuk mengurus anak - anak."


Bukannya menjawab, Medina justru memukul dada Rifky berkali - kali sambil menatap tajam suaminya.


" Apa...? Kenapa melotot begitu sama suami?"


" Kenapa bertanya sudah siap atau belum?"


" Salahnya dimana, istriku sayang...?"


" Tentu saja salah, kau berkali - kali menanam benihnya disini masih bertanya siap atau tidak." sungut Medina.


Rifky tersenyum geli melihat wajah kesal istrinya. Tapi ia juga menyadari kalau dirinya memang lupa sudah berkali - kali bercocok tanam di tanah yang sedang subur - suburnya itu.


" Hahahaa... iya, maaf. Anak - anak Papa segera tumbuh di perut Mama, ya? Papa tidak sabar menunggu kehadiran kalian." ucap Rifky sambil mengusap pelan perut istrinya.


.


.


Sore hari, Medina mengajak suaminya untuk berkeliling di kota wisata itu. Banyak tempat yang ingin ia kunjungi sebelum kembali ke rumah.


" Kak, nanti ke Sanur yuk? Dina pengen kesana."


" Iya, sayang. Mau bermalam disana...?"


" Ya udah, terserah kamu saja. Tapi lusa kita pulang, ya? Nicko sudah merengek nyuruh kita pulang."


" Pasti kerjaan kakak nanti menumpuk seperti gunung."


" Tidak apa - apa, nanti kamu bisa bantuin kakak kerja."


" Dina mana bisa bekerja seperti kakak?"


" Bantuin pijit aja, sayang."


Rifky melajukan mobilnya menuju pantai Sanur sesuai permintaan sang istri. Mereka sampai bersamaan dengan terbenamnya matahari di ufuk barat. Pemandangan yang sangat indah, apalagi bagi pasangan halal seperti mereka yang sekarang saling berpelukan dengan mesra.


" Kak, kalau nanti Dina punya anak kuliahnya gimana...?" tanya Dina sendu.


" Nanti ada pengasuh yang akan merawat anak kita selama kamu di kampus." jawab Rifky seraya menciumi rambut Medina.


" Apa bisa dipercaya, Kak?"


" Insya Allah, kita bisa ambil dari rumah Mama. Disana banyak pelayan yang bisa dipindahkan ke rumah kita."


" Terserah kakak aja, yang penting umurnya tidak boleh kurang dari 40 tahun."

__ADS_1


" Why...? Bukankah yang lebih muda itu kerjaannya lebih cepat?"


" Ish... iya, lebih cepat menggoda majikannya!"


Rifky tertawa melihat istrinya yang mulai posesif. Tapi dia senang karena itu artinya sang istri juga sangat mencintainya seperti dirinya.


" Cinta kakak hanya buat kamu dan anak - anak kita nantinya. Kamu adalah segalanya untuk kehidupanku, tanpa kamu hidupku juga tidak akan berjalan."


Baru juga beberapa hari menikah, mereka sudah membahas soal anak dan juga pengasuh. Rifky juga sudah memikrkan nama yang cocok untuk anak mereka nanti.


Tak terasa sudah jam sembilan malam, Rifky mengajak istrinya untuk pulang karena besok mereka akan berkeliling lagi di pulau Bali itu untuk mengunjungi destinasi wisata yang lain.


.


.


Pagi hari, Medina bangun terlebih dahulu. Sebelum membangunkan suaminya, ia membersihkan diri dulu di kamar mandi daripada harus mendengar rengekan suaminya yang meminta untuk mandi bersama.


" Pintar sekali istriku, sudah mulai berani pergi tanpa ijin."


Rifky melipat kedua tangannya di dada seraya berdiri di depan pintu kamar mandi. Medina yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat sang suami yang menatapnya tajam.


" Hehehee... Tadi kakak tidurnya pules banget, Dina tidak tega bangunin."


" Banyak alasan saja!"


Rifky kembali menarik istrinya masuk ke dalam kamar mandi, tak peduli sang istri sudah selesai mandi. Wanita itu harus mendapatkan hukuman karena tidak mengajaknya mandi bersama.


" Kak, Dina udah mandi?"


" Mandi lagi juga tidak masalah."


Rifky menarik handuk yang melilit di tubuh istrinya lalu membawanya ke tempat tidur. Dia belum puas juga padahal semalam sudah melakukannya sampai berkali - kali bahkan Medina sudah mandi dua kali.


" Kak, Dina udah mandi dua kali loh! Ini sudah siang, habis shubuh juga udah minta jatah sekarang minta lagi." sungut Medina.


" Kita habiskan hari ini di kamar saja, sayang. Nanti sore kita sudah harus pulang, di rumah pasti tidak akan sebebas ini kita melakukannya." rengek Rifky.


" Memangnya kakak tidak capek begituan terus?"


" Tidak, kakak selalu semangat jika melakukannya denganmu." seringai Rifky.


Hari yang indah namun juga sangat melelahkan bagi Medina. Suaminya tak pernah berhenti menjamahnya jika sedang berada di dalam kamar. Entah kekuatan apa yang ada di dalam tubuh suaminya hingga tak ada rasa lelah sedikitpun walaupun sudah berkali - kali menguras tenaga.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2