Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Seno menghilang


__ADS_3

Pagi hari setelah shubuh, Medina sedang bersih - bersih rumah karena ini hari sabtu jadi sekolah libur. Ayahnya seperti biasa, menyiram tanaman dan menyapu halaman.


" Kak Rifky dari kemarin tak ada kabar, apa sesibuk itu dia disana?" gumam Medina.


Setelah pembicaraan malam itu soal perusahaan di Korea, Rifky memang tidak mengabari Medina. Entah apa yang ia lakukan saat ini disana.


" Dina, keluar sebentar...!" teriak ayah dari teras.


Mendengar teriakan ayahnya, Medina tersadar dari lamunannya. Dia segera berlari ke depan takut terjadi sesuatu dengan sang ayah.


" Ayah_..." Medina mematung melihat ayahnya baik - baik saja.


" Dina, apa kamu melihat Seno?" tanya pak Hasan.


Ternyata di depan rumah ada pak Jamal dan istrinya yang terlihat sangat cemas.


" Tidak, Yah. Om... tante... sebenarnya ada apa?" tanya Medina.


" Din, tadi setelah sahur katanya Seno mau sholat shubuh ke Mushola, tapi papanya bilang kalau Seno tidak ada disana. Kami sudah mencari ke setiap sudut rumah namun Seno tetap tidak ketemu." kata tante Mita.


" Tante tenang dulu ya? Dina pasti cari Seno sampai ketemu." hibur Medina.


" Din, bagaimana kami bisa tenang jika Seno menghilang?" balas pak Jamal.


" Yah, tolong antar Om Jamal dan tante Mita pulang dulu. Dina akan mencari Seno bersama Adam."


" Ya sudah, kamu hati - hati."


Setelah sang ayah pergi, Dina bergegas menuju rumah Adam yang tepat di depan rumahnya. Hari libur seperti ini pasti pemuda satu itu masih bergelung dibawah selimut.


" Assalamu'alaikum," ucap Medina.


" Wa'alaikumsalam, Din... ada apa?" ibunya Adam tersenyum sambil menyuruh Medina masuk.


" Bu, Adam masih tidur ya?"


" Iya, kebiasaan kalau libur sekolah pasti tidur lagi habis shubuh."


" Dina ada perlu yang sangat penting dengan Adam, Bu."


" Ya udah kamu masuk aja ke kamarnya, ibu lagi menyiapkan bahan makanan untuk nanti sore. Sebentar lagi juga mau ke pasar untuk membeli stok makanan yang sudah habis."


" Iya, Bu."


Medina segera masuk ke dalam kamar Adam yang tidak terkunci. Sangat mudah membangunkan Adam, cukup dengan teriakan saja pasti dia itu bangun.


" Darmaannn...!" teriak Medina menggema.


" Ish... Dasar Meong! Apaan sih ganggu orang tidur aja." gerutu Adam.


" Dam, ini gawat! Seno tidak ada di rumahnya sejak habis sahur tadi."


" Halah... palingan lagi main petasan sama temannya di ujung desa sana." Adam kembali memeluk gulingnya.


" Darmaannn...! Aku serius...!" teriak Medina.


" Iya... aku mandi dulu sebentar." sungut Adam.


¤ ¤ ¤


Medina dan Adam berkeliling ke seluruh kampung untuk mencari Seno. Dia juga menyuruh Jefri dan anak buahnya untuk mencari di desa lain.


" Dam, gimana ini? Seno tidak ketemu juga." keluh Medina.

__ADS_1


" Kita cari lagi, Mey. Kita tanya anak - anak yang sedang bermain disana, mungkin saja ada yang melihat Seno."


Adam dan Medina bertanya pada setiap orang yang ditemui namun tak ada satupun yang melihatnya. Medina berhenti di ujung desa sambil menunggu yang lainnya.


" Bukankah Seno punya ponsel, Mey?"


" Iya, tapi ponselnya ada di dalam kamar."


" Hhh... mau cari kemana lagi?"


" Sebentar, aku telfon kak Nicko dulu."


Medina segera mencari kontak Nicko dan menghubunginya. Mungkin Nicko bisa mencari keberadaan Seno.


" Assalamu'alaikum, kak Nicko."


( " Wa'alaikumsalam, Mey. Ada apa pagi - pagi begini telfon?" )


" Maaf, kak. Dina mau minta bantuan kakak."


( " Bantuan apa?" )


" Seno, anaknya om Jamal menghilang. Katanya habis sahur itu mau ke Mushola bersama teman - temannya. Tapi di Mushola tadi dia tidak ada."


( " Apa disana tidak ada yang menjaga, Mey?" )


" Ada, kak. Tadi itu semua orang masih makan sahur termasuk para penjaga."


( " Ya sudah, kakak kesana sekarang." )


" Terimakasih, kak. Assalamu'alaikum."


( " Wa'alaikumsalam." )


Medina bersandar di bawah pohon. Dia merasa telah gagal menjaga keluarga om Jamal. Pasti Rifky sangat kecewa padanya karena tidak bisa menjaga Seno.


" Keluarga om Jamal adalah tanggung jawabku, Dam. Apa yang harus aku katakan pada kak Rifky nanti?" ucap Medina.


" Hey... ini bukan kesalahanmu, kak Rifky pasti mengerti dengan keadaanmu." hibur Adam.


Tak lama, ketiga teman Medina datang. Bayu, Johan dan Ririn baru saja dikabari jika Seno menghilang.


" Mey, kenapa nggak bilang dari tadi sih? Kita kan bisa bantu cari Seno." kata Bayu.


" Iya, Mey. Bukankah kita akan menghadapi semua masalah bersama - sama?" timpal Ririn.


" Sorry, tadi terburu - buru jadi nggak sempat hubungi kalian." ucap Medina.


¤ ¤ ¤


Nicko sudah setengah perjalanan menuju ke desa tempat tinggal Medina. Sebenarnya hari ini ia berencana untuk istirahat di Apartemennya. Pekerjaan di kantor menguras tenaganya, apalagi Rifky belum juga kembali. Nicko belum sanggup jika disuruh mengurus kantor sendiri seperti Hans dan Jonathan.


Nicko berhenti sebentar untuk beristirahat di pinggir jalan. Saat ingin mengecek lokasi desa Medina, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari anak buahnya.


" Hallo... Ada apa?"


( " Hallo... boss. Maafkan kami, boss. Kami baru saja diserang saat mengantar nyonya Kamila. Beliau sekarang dibawa pergi oleh mereka." )


" Apaaa...? Nyonya Kamila diculik?"


( " Iya, boss. Kami tidak bisa melawan karena mereka menodongkan pistol kearah nyonya Kamila." )


" Sial...! Akan kuhabisi mereka semua! Kejar mereka dan temukan nyonya Kamila!"

__ADS_1


( " Baik, boss." )


Nicko menggeram menahan amarah. Bagaimana bisa semua ini terjadi dalam waktu bersamaan. Jangan - jangan hilangnya Seno ada kaitannya juga dengan orang yang menculik tante Kamila.


" Hahhh...! Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Nicko frustasi.


Nicko bingung mau meneruskan perjalanan ke desa Medina atau kembali ke kota mencari ibunya Rifky. Setelah memikirkan sejenak, Nicko memutuskan untuk menghubungi Medina.


" Assalamu'alaikum, Mey."


( " Wa'alaikumsalam, kak Nicko. Udah sampai mana?" )


" Ini udah setengah perjalanan, tapi_..."


( " Tapi apa kak? Apa ada masalah di jalan?" )


" Tidak, Mey. Tapi barusan ada kabar dari kota kalau ibunya Rifky diculik."


( " Apaaa...? Kok bisa tante Kamila diculik?" )


" Saya juga tidak tahu, Mey. Mobil yang membawa tante Kamila di serang dan beliau dibawa pergi."


( " Sekarang kita harus gimana, kak?" )


" Begini, Mey. Dugaan kakak, Seno pasti juga diculik. Mungkin saat ini dia ada bersama tante Kamila. Kakak akan kembali ke kota, sebaiknya kamu menyusul dengan pak Jamal ke kota."


( " Ya udah, kak. Kalau begitu Dina kasih tahu om Jamal dulu." )


" Iya, Mey. Kamu harus tetap waspada nanti dijalan. Sepertinya mereka bukan lawan yang mudah dikalahkan."


( " Iya, kak. Dina pasti hati - hati, ada teman - teman Dina juga yang ikut." )


" Ya sudah, kakak kembali lagi ke kota. Assalamu'alaikum."


( " Wa'alaikumsalam." )


Nicko segera kembali ke kota agar bisa semakin cepat menemukan keberadaan tante Kamila dan Seno. Nicko tidak tahu kapan Rifky akan kembali karena ada masalah di Korea.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Nicko sampai di rumah pak Surya Mahendra yang sudah sedari tadi menunggunya.


" Assalamu'alaikum, Om." sapa Nicko.


" Wa'alaikumsalam, apa sudah ada kabar tentang mamanya Rifky?" sahut pak Surya.


" Maaf, Om. Saya belum bisa melacak keberadaan tante Kamila. Tadi Nicko sedang dalam perjalanan menuju rumah om Jamal."


" Untuk apa kau kesana?"


" Seno hilang tadi setelah sahur, Om. Sekarang om Jamal dan Medina sedang menuju kemari."


" Astaghfirullah... siapa yang tega melakukan ini."


" Om jangan khawatir, Nicko pasti bisa menemukan Seno dan tante Kamila.


Satu jam kemudian, Medina dan yang lainnya sudah sampai di rumah pak Surya. Selain Medina dan pak Jamal, ada Bayu dan Adam yang ikut ke kota. Pak Hasan, Ririn dan Johan yang akan menjaga tante Mita di desa.


Setelah beristirahat sebentar, mereka segera menyebar di sekeliling kota untuk menemukan tante Kamila dan Seno. Medina ikut di mobil Nicko sedangkan Adam dan Bayu bersama anak buah Nicko.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2