Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Curahan hati Nicko


__ADS_3

" Nick...!" seru Rifky kaget.


" Apa aku terlihat sangat buruk untuk dicintai?" lirih Nicko.


" Hei...! Look at me...! Sejak kapan seorang Nicko merasa rendah diri!" sentak Rifky.


" I don't know, she doesn't like me." lirih Nicko.


" Jadi Ririn menolakmu?"


" Dia hanya diam saat aku mengajaknya bicara. Aku tidak sanggup, Ky."


" Tapi dia tidak bilang kalau menolakmu, kan!"


" Tidak, mungkin dia akan mengatakannya. Tapi aku tidak akan sanggup mendengarkannya."


Rifky menghela nafas pelan lalu menatap Nicko dengan tatapan tajam. Entah ia harus mengatakan bahwa sahabatnya itu sangat bodoh atau pengecut.


" Dengarkan aku! Sebelum dia mengatakan dengan jelas bahwa benar - benar tidak mencintaimu, kau tidak boleh menyerah."


" Apa yang harus kulakukan?"


" Tunjukkan jika kamu benar - benar serius mencintainya. Ungkapkan perasaanmu, bukan dengan emosi. Aku tahu kau tengah cemburu karena kedekatan Ririn dan Johan."


.


.


Rifky mengajak Nicko untuk kembali ke Villa dan bergabung bersama Medina dan teman - temannya. Saat sampai disana, Rifky melihat Ririn yang sedang membakar sosis sendirian karena Medina baru saja mauk ke dalam Villa, Clarissa duduk di samping Devan.


" Nick, bantu Ririn. Sekalian minta maaf padanya, aku mau susul Medina dulu." ujar Rifky.


" Iya, Boss."


Rifky segera menyusul istrinya ke kamar. Tampak sang istri sedang membenahi selimut putranya yang sedikit tersingkap.


" Bunda..." lirih Rifky sambil memeluk erat dari belakang.


" Astaghfirullah...! Ayah jangan ngagetin, untung Bunda nggak teriak." omel Medina.


" Sorry, honey... I miss you so much."


" Apaa...? Kita masih diatap yang sama, Yah."


" Iya, tapi seharian ini Bunda benar - benar melupakan Ayah."


" Baru juga sehari, gimana kalau Bunda perginya seminggu?"


" Tidak boleh! Bunda tidak boleh pergi tanpa Ayah."


Medina mengusap pelan lengan suaminya sambil tersenyum. Dia tidak pernah menyangka bisa memiliki suami yang sangat perhatian dan sangat mencintainya.


" Kok jadi manja begini, sih? Biasanya juga Ayah yang ninggalin Bunda keluar negeri."


" Itukan masalah pekerjaan, Bunda sayang. Ayah beneran cuma kerja, bukan liburan."


" Iya, Bunda percaya sama Ayah."


" Terima kasih, cantik."


" Turun, yuk? Nggak enak yang lain masih di bawah." ajak Medina.


Saat Medina hendak menghampiri Ririn, ternyata disana sudah ada Nicko yang menemani. Rifky segera menarik istrinya agar ikut bergabung di depan api unggun saja.


Sementara itu, Nicko sedari tadi tidak berani bicara karena Ririn selalu menatapnya tajam seakan hendak menerkamnya.


" Kak Nicko ikut yang lain sana, ini tinggal sedikit lagi." usir Ririn.

__ADS_1


" Rin, maaf soal tadi. Kakak cuma_..."


" Cuma apa...!"


" Kakak cuma mau bilang kalau kakak cinta sama kamu." lirih Nicko.


" Terus...?" sahut Ririn datar.


Ririn melihat Nicko gugup dan tidak berani menatapnya. Sebenarnya Ririn tidak mengerti apa yang sebenarnya dilakukan pria di hadapannya itu. Bicara tidak jelas dan berbelit - belit.


" Mmm... Aku minta maaf."


" Hah...?!" Ririn hampir saja berteriak.


" Maaf, aku mau kembali ke kamar." ucap Nicko kemudian sedikit berlari menuju ke dalam Villa.


" Aneh...!" gumam Ririn.


Ririn yang sudah selesai membakar semua bahan makanan segera membawanya ke dekat api unggun tempat teman - temannya berkumpul.


" Udah selesai, Rin?" tanya Medina.


" Sudah, ayo makan." sahut Ririn.


" Rin, mau ikut pulang kampung? Kami bertiga mau pulang sebentar, takut dijadiin jambu monyet sama Ibu." ucap Bayu.


" Minggu kemarin udah pulang, nggak enak sama tante Kamila harus bolos kerja sama kuliah."


" Kalau kamu, Mey?" tanya Johan.


" Dua minggu lalu Ayah udah ke rumah, jadi nggak pulang kayaknya. Kak Rifky juga lagi banyak kerjaan."


" Kalian nggak asyik!" keluh Bayu.


" Sudah, mereka punya kesibukan masing - masing. Lagian juga mereka deket bisa pulang kapan saja." sahut Adam.


Devan dan Clarissa yang tak ingin mengganggu acara nostalgia mereka lebih memilih jalan - jalan di sekitaran Villa.


" Rin, kita berlima sudah berteman sejak kecil. Tidak ada satupun rahasia yang kita sembunyikan dari yang lain." ucap Medina tiba - tiba.


" Apa...? Kok jadi kesannya serius banget?" sahut Ririn penasaran.


" Soal Kak Nicko."


" Kenapa sama dia?" tanya Johan.


" Kak Nicko itu suka sama kamu, Rin. Apa kamu tidak punya perasaan yang sama?"


" Iya, Rin. Jangan kasih harapan jika kamu tidak bisa membalasnya." ujar Johan.


" Kamu sendiri yang bilang supaya aku tidak mudah percaya pada orang yang menyatakan cinta padaku." sungut Ririn pada Johan.


" Maksud Johan bukan begitu, Rin. Kamu sudah kenal Kak Nicko sejak lama, harusnya sudah paham seperti apa dia." ujar Adam.


Dari mereka berlima, hanya Adam yang terlihat lebih dewasa dari segi pemikiran dan juga tingkah lakunya. Jadi mereka selalu nyaman jika berbagi masalah dan keluh kesah kepada pria itu.


" Ririn terlalu banyak mikir, nanti kalau kak Nicko sudah berpaling sama wanita lain baru merasa kehilangan." celetuk Bayu.


" Bay...!" tegur Medina.


" Apa aku salah, pria itu bukan pengemis cinta yang mudah dipermainkan hatinya. Jika memang tidak mau ya cari wanita lain saja. Kenapa harus merendahkan harga diri untuk hal yang tidak penting?" ucap Bayu.


" Rin, jujur pada kami... Apa kamu tidak menyukai kak Nicko?" cecar Johan.


" Aku tidak tahu, selama ini Kak Nicko juga cuma iseng aja mengatakan suka padaku. Dia tidak pernah serius kecuali tadi." lirih Ririn.


" Jadi kak Nicko sudah mengungkapkan perasaannya padamu?" tanya Medina mulai kepo.

__ADS_1


" Hmm... Tapi dia tidak meminta aku untuk jadi kekasihnya atau apa, ya aku diam saja. Memangnya apa yang harus kukatakan?" jawab Ririn.


.


.


Sementara itu di lantai atas, Rifky yang sedang berbaring di samping putranya kaget karena tiba - tiba Nicko masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Astaghfirullah...! Kurang ajar sekali kau..!" sentak Rifky.


" Sorry, bisa kita bicara di tempat lain saja? Takut ganggu Shaka yang sedang tidur." ucap Nicko pelan.


" Di balkon saja!" sahut Rifky datar karena masih sedikit kesal.


Rifky dan Nicko duduk bersebelahan di kursi panjang sambil menatap langit yang begitu cerah, kontras dengan suasana hati Nicko yang sedang tertutup awan gelap dan mungkin saja petir bisa menghantamnya kapan saja.


" Aku takut, Ky." lirih Nicko.


" Kenapa...?" ucap Rifky pelan juga tak ingin putranya terganggu.


" Aku harus bagaimana kalau ternyata dia menolakku?"


" Cari yang lain saja, kau pikir penduduk di dunia ini cuma ada satu wanita single?"


" Tidak segampang itu, mana bisa aku move on secepat itu. Apalagi kami sering bertemu juga."


" Kau sudah mengungkapkan perasaanmu padanya?"


" Sudah,"


" Terus...?"


" Apa maksudmu? Ya sudah cuma itu saja."


" Cuma itu saja? Maksud aku itu, gimana reaksi Ririn? Apa yang dia katakan padamu setelah itu?" Rifky sepertinya harus bersabar menghadapi curahan hati sahabatnya itu.


" Waktu aku bilang kalau aku cinta padanya... Dia cuma bertanya ' terus?' gitu aja itupun dengan nada datar."


" Dan kau bilang apalagi?"


" Aku hanya minta maaf dan pergi, mungkin dia tidak nyaman dengan ungkapan perasaanku."


" Kau tidak bertanya apakah dia juga mencintaimu atau tidak?"


" Tidak,"


Rifky langsung berdiri dan memukul kepala Nicko dengan keras. Kalau membunuh tidak berdosa, mungkin sudah ia lemparkan sahabatnya itu dari balkon kamarnya.


" Bod*h...! Keluar dari kamarku!"


Rifky menyeret tubuh Nicko dengan emosi yang semakin memuncak. Ingin rasanya ia kubur hidup - hidup manusia semacam Nicko yang sangat bodoh itu.


" Apaan sih, Ky?" teriak Nicko.


" Pergi si*lan...! Dasar bod*h...!" umpat Rifky dengan tatapan tajamnya.


Rifky mendorong tubuh Nicko keluar dari kamarnya hingga tersungkur ke lantai. Medina yang baru saja datang langsung melerai keduanya takut terjadi baku hantam.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2