Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Penyesalan Dani


__ADS_3

" Aku benci kak Rifky...!" geram Medina.


Medina langsung mematikan ponselnya agar Rifky tak menghubunginya lagi. Medina ingin hidupnya kembali seperti dulu sebelum Rifky datang dalam kehidupannya.


Sementara itu di Apartemen mewah milik Rifky, pria itu uring - uringan karena gadis kecilnya kembali marah padanya. Nicko yang melihatnya merasa jengah karena sedari tadi bossnya itu mengumpat tidak jelas.


" Rifky, ini hampir tengah malam. Apa kau bisa berhenti teriak - teriak?" ketus Nicko.


" Diam kau! Jangan ikut campur urusanku!" balas Rifky dengan tatapan tajamnya.


" Besok pagi kau harus ke Singapore, jangan seperti anak kecil begitu."


" Medina marah, Nick." lirih Rifky.


" Dia itu masih remaja, pikirannya masih labil. Tidak usah terlalu kau pikirkan, Ky."


" Tapi, Nick. Sebenarnya salahku padanya apa ya?"


" Wanita itu sangat sensitif, Ky. Apalagi diusianya yang masih remaja, dia hanya butuh perhatian dan kasih sayang. Kamu harus sering - sering memberikan dia kabar supaya dia itu merasa diperhatikan, dicintai dan tidak merasa diabaikan." tutur Nicko.


" Apa karena itu Medina jadi marah padaku? Dia terlalu sensitif dan mudah terpancing emosi." keluh Rifky.


" Ya sudah, mulai sekarang kau harus sering - sering mengirimkan pesan padanya walaupun pekerjaanmu sangat banyak. Minimal satu jam sekali agar dia merasa tidak terabaikan."


" Ok, akan aku coba. Mulai besok aku harus lebih perhatian lagi dengannya."


¤ ¤ ¤


Medina terbangun saat suara adzan shubuh berkumandang. Dia segera bangun lalu mengambil air wudlu. Ayahnya seperti biasa sudah pergi ke Mushola.


" Ponselku dari semalam mati, dimana aku menaruhnya?" gumam Medina sambil mencari ponselnya di dalam selimut.


Usai sholat shubuh, Medina langsung ke dapur untuk membuat sarapan sebelum pergi ke sekolah. Hari ini ia akan memasak bubur ayam saja karena itu adalah kesukaan sang ayah.


" Assalamu'alaikum," ucap pak Hasan.


" Wa'alaikumsalam, Yah." jawab Medina.


" Masak apa kamu? Memangnya sudah sembuh?"


" Masak bubur ayam, Yah. Sepertinya Medina lagi pengen makan bubur hari ini."


" Kemarin ayah buatin nggak dimakan,"


" Kemarin lagi nggak nafsu makan, Yah."


Selesai membuat bubur, Medina menyiapkannya ke dalam dua mangkuk dan di sajikan di meja makan.


" Dina, tadi Rifky telfon ayah. Katanya ponsel kamu tidak aktif." kata pak Hasan.


" Tadi daya ponsel Dina habis, Yah."


" Nanti kamu hubungi Rifky, dia pasti khawatir karena kemarin kamu sakit."


" Iya, Yah."


Selesai sarapan, Medina segera mengambil tas di kamarnya lalu berpamitan dengan sang ayah. Adam sudah menunggu di depan rumah bersama Bayu.


" Pagi, Medina..." sapa Bayu dengan ekspresi tengilnya.


" Pagi, Bayu ganteng." sahut Medina dengan senyum manisnya.

__ADS_1


" Cihh... ganteng dari Hongkong!" cibir Adam.


" Adam, sayang... Ayo berangkat, udah siang." celoteh Medina.


" Hhh... habis kepentok apaan sih, Mey. Omonganmu ngawur tahu nggak." balas Adam.


" Sepertinya lagi amnesia nih," keluh Medina.


" Apanya yang amnesia? Jatuh cinta kali itu." seloroh Bayu.


" Hmm... aku butuh pelampiasan nih kayaknya." Medina mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan tajam.


" Cepat naik, Ririn dan Johan pasti sudah nungguin." seru Bayu takut gadis di depannya beraksi.


¤ ¤ ¤


Jam pelajaran sudah di mulai. Medina duduk di samping Ririn sambil menatap kosong ke arah depan. Sekilas memang ia seperti memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh guru, namun siapa yang tahu jika yang ada di dalam pikirannya jauh dari yang namanya materi pelajaran.


" Mey, kamu perhatiin pelajaran apa melamun?" bisik Ririn.


" Eh, iya... kenapa?" sahut Medina kaget.


" Kamu disuruh maju ngerjain soal nomor 3..."


" Astaga... aku belum ngerjain, Rin."


" Cepat, udah disuruh maju sama pak guru."


Medina yang tengah kebingungan tiba - tiba ditepuk dari belakang dengan sebuah buku dari belakang.


" Ini buat jawab soalnya," bisik Dani.


Tanpa berpikir panjang, Medina langsung mengambil buku milik Dani dan segera maju ke depan untuk menulis hasil jawabannya


" Sama - sama."


Satu persatu pelajaran telah dilalui Medina dan teman - temannya. Kini mereka sudah bersiap untuk pulang setelah pelajaran terakhir selesai.


" Mey, tunggu...!" panggil Dani.


" Ada apa?" tanya Medina.


Adam, Bayu dan Johan sudah pasang badan untuk melindungi sahabatnya dari gangguan Dani yang sudah membuat mereka berlima diskor selama satu minggu.


" Jangan berani mengusik Medina!" bentak Johan.


" Jo, biarkan dia bicara dulu." tegas Medina.


" Begini, Mey. Saya mau minta maaf soal kejadian waktu itu. Sebenarnya waktu itu saya dan teman - teman sedang taruhan untuk mengganggu gadis itu." ucap Dani.


" Tidak tahukah kau seperti apa keadaan gadis itu sekarang?! Dia masih terguncang jiwanya akibat ulah kalian!" hardik Medina.


Keempat teman Medina terkejut dengan penuturan sahabatnya itu. Pasalnya, selama ini mereka tidak pernah membahas lagi tentang korban yang mereka tolong waktu itu.


" Mey, saya sungguh tidak tahu tentang gadis itu. Semua masalah ini mama yang mengurusnya. Saya sungguh sangat menyesal dengan kejadian itu."


" Kau harus bertanggung jawab, Dani!" seru Adam.


" Bolehkah saya menemui gadis itu? Tapi jangan sampai siapapun tahu selain kalian, termasuk kepala sekolah."


" Kenapa?" tanya Medina.

__ADS_1


" Saya takut kalian kena masalah lagi seperti waktu itu." jawab Dani.


" Saya tidak akan percaya begitu saja denganmu!" sinis Johan.


" Sorry, untuk saat ini gadis itu belum bisa bertemu dengan siapapun. Lagi pula saya tidak akan mengijinkan siapapun menemuinya." kata Medina datar.


" Mey, percayalah padaku. Jika orangtuaku menemukannya terlebih dahulu, nyawa gadis itu dalam bahaya."


" Apa yang akan dilakukan orangtuamu padanya?"


" Sebaiknya kita bicara diluar saja, saya takut ada mata - mata mama di sekolah ini."


Medina mencari kebohongan di mata pria itu namun sepertinya memang dia jujur atau ahli dalam bersandiwara. Untuk saat ini Medina belum bisa percaya dengan Dani.


" Tidak perlu, saya ada urusan lain." kata Medina.


" Mey, saya mohon... jika sampai gadis itu ke kantor polisi, mama tidak akan pernah melepaskan dia dan keluarganya."


" Saya jamin saat ini gadis itu aman."


" Mey, tolonglah... saya ingin bertemu dengan gadis itu."


" Saya sudah bilang dia tidak bisa ditemui sekarang!" teriak Medina.


" Mey, saya sungguh menyesal. Saya janji akan melindungi gadis itu dari orangtuaku." ucap Dani menghiba.


" Tidak untuk saat ini, kondisinya masih belum stabil."


" Mey_..."


" Pergilah sebelum aku membuatmu babak belur!" ancam Medina.


Medina yang sudah kesal dengan Dani segera pergi diikuti para sahabatnya. Karena suasana hatinya yang sedang buruk, Medina memilih untuk ke pasar terlebih dahulu untuk mengecek keadaan disana.


" Siang, Boss," sapa para preman di pasar itu.


" Hmm... gimana keadaan pasar dan jalanan? Apa semuanya aman?"


" Aman, Boss di pasar. Tapi kalau dijalanan, sepertinya ada sedikit masalah."


" Masalah apa?"


" Ada pedagang yang mengeluh ada pemalakan di malam hari."


" Apa kalian sudah selidiki siapa mereka?"


" Belum, Boss. Sepertinya mereka ada di belakang kita, Boss. Mereka beraksi setelah kami selesai berkeliling kawasan itu."


" Baiklah, saya ada rencana untuk menangkap basah mereka."


" Mey, jangan bertindak gegabah!" seru Adam.


" Iya, jangan membuat masalah lagi." sahut Ririn.


Medina berpikir sejenak agar tidak timbul masalah lagi dan Rifky pasti akan memarahinya jika ia terluka. Namun sebagai leader keamanan pasar dan jalanan, Medina tidak bisa tinggal diam kawasannya di acak - acak orang.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2