Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Keliling di jalanan


__ADS_3

" Kak Rifkyyy...!" teriak Medina lantang.


" Dina, kenapa berteriak?" tiba - tiba pak Hasan masuk ke dalam rumah.


Rifky tersenyum jahil di belakang pak Hasan. Medina tidak mungkin berani bicara jujur kepada ayahnya soal perbuatannya tadi. Terlihat wajah Medina yang sedang menahan amarahnya.


" Maaf, paman. Tadi Rifky tidak sengaja menginjak kaki Dina, jadi putri paman yang cantik ini marah." ucap Rifky.


" Kalian ini kalau ketemu ribut terus. Nanti ayah nikahin sekalian." kata pak Hasan.


" Boleh juga itu, paman. Kalau perlu saat ini juga, Rifky siap lahir batin." sahut Rifky senang.


" Ish... Ayah sama kak Rifky sama saja." sungut Medina.


" Sudah, ayah cuma bercanda. Putri ayah tidak boleh marah, nanti cantiknya bertambah." bujuk pak Hasan.


" Dina marah sama ayah!"


" Sayang, tidak boleh bersikap begitu dengan ayah." tegur Rifky.


" Oh iya, paman. Rifky boleh ajak Dina keluar sebentar, ya? Rifky mau beli sesuatu sebelum berangkat ke kota besok pagi." ucap Rifky.


" Tapi jangan terlalu lama, kalau pulang beliin makanan seperti biasa. Dina tahu makanan kesukaan paman."


" Siap, paman. Nanti Rifky beliin buat paman."


¤ ¤ ¤


Rifky dan Medina berboncengan menyusuri jalanan dimana banyak para pedagang yang berjualan di sepanjang jalan. Medina menikmati angin malam yang terasa sangat dingin namun membuat hatinya merasa nyaman.


" Sayang, kita mau kemana ini?" tanya Rifky.


" Dina lapar, makan bakso yuk?" rengek Medina.


" Bukannya tadi habis makan sebelum tarawih, sayang?" tanya Rifky heran.


" Lapar lagi, kak. Mau ya...?"


" Ya sudah, calon istriku... silahkan pilih tempat yang kamu suka."


" Terimakasih, kak Rifky..."


Tak lama, mereka sampai di depan penjual bakso. Medina segera memesan dua porsi bakso dan teh hangat. Medina memilih duduk di tempat paling pojok.


" Sayang, kamu sering makan disini?"


" Tidak, biasanya kalau beli dibungkus."


" Mau bungkus buat ayah nggak?"


" Tidak usah, kak."


Tak lama pesanan mereka datang lalu Medina bergegas makan karena sangat lapar. Rifky tersenyum melihat gadis kecilnya yang dulu sangat susah makan, sekarang berubah drastis.


" Kenapa kakak lihatin Dina begitu?"


" Tidak, kakak hanya ingin menatapmu lebih lama. Besok kakak harus pergi."


" Tapi Dina merasa risih ditatap seperti itu,"


" Maaf, ya udah lanjutkan lagi makannya."


Rifky yang merasa masih kenyang hanya memakan sedikit makanannya, sesekali ia menyuapi kekasihnya yang sedari tadi hanya fokus pada makanannya.


" Kak, udah. Nanti Dina kekenyangan kalau makan punya kakak juga."

__ADS_1


" Tidak apa - apa, sayang. Biar tidak kurus seperti ini, lihat tubuhmu yang kecil itu."


" Kak, kapan - kapan Dina boleh ikut ke kota ya?"


" Mau apa? Enakan juga di desa, nyaman."


" Ish... bilang saja kakak tidak mau ketahuan punya pacar di kota."


" Ya Allah, sayangku. Jangan berprasangka buruk, kakak tidak pernah punya niat menduakanmu."


" Kalau begitu berikan alamat rumahmu disana, aku akan datang kapan - kapan."


" Sayang, apa yang harus kakak lakukan biar kamu percaya? Bukannya kakak melarang kamu datang ke rumah, tapi kakak kerja dari pagi sampai malam."


" Ya sudah, Dina nggak maksa kalau tidak boleh."


" Dasar gadis labil, kalau marah pelampiasannya preman di jalanan." batin Rifky.


Setelah selesai makan, Rifky mengajak Medina untuk pulang. Sebelumnya ia akan mencari makanan pesanan pak Hasan. Mereka berkeliling di sepanjang jalan mencari makanan itu.


" Kak, berhenti di depan." kata Medina.


Tanpa menjawab ucapan Medina, Rifky langsung menghentikan laju motornya. Medina langsung turun dan memesan makanan untuk dibungkus.


" Sayang, ini uangnya." Rifky memberikan uang untuk membayar makanan.


" Bukankah tadi kakak sudah memberiku uang? Dina tidak bisa menerimanya lagi."


" Hhh... kalau begitu, kakak juga tidak mau menerima uang dari temanmu itu."


" Kak... kok ngancam sih? Udah nggak sayang sama Dina?" kesal Medina.


" Makanya jangan suka membantah sama calon suami."


" Ish... menyebalkan."


" Ayo, kak."


" Mau pulang atau_..."


" Kita jalan - jalan sebentar ya? Keliling jalanan ini aja, besok kakak udah kerja lagi dan pasti pulangnya lama."


" Tidak usah sedih, kakak pasti akan sering menghubungi kamu. Walaupun raga kita terpisah jauh, namun hati kita tidak akan terpisah. Kamu akan selalu ada dalam setiap ingatanku, sayang."


Mereka berdua berkeliling menyusuri jalanan di malam yang semakin gelap. Hanya lampu - lampu yang menerangi jalan - jalan di beberapa titik.


" Kak, itu kenapa ada keributan?"


" Kamu tidak berniat untuk olahraga malam, kan?"


" Kak Rifky yang tampan dan baik hati, daerah ini masih wilayah kekuasaanku jadi tidak ada salahnya ikut campur."


" Hhh... dasar gadis brutal. Tangannya gatal kalau lihat orang berantem." gerutu Rifky.


Rifky menghentikan motornya di depan penjual nasi goreng. Terlihat ada dua preman yang memaksa pedagang untuk memberikan uang. Medina ingin menghampiri dan langsung menghajar preman itu namun dicegah oleh Rifky.


" Biar kakak yang tangani ini, kamu diam saja disini." titah Rifky.


" Tapi, kak_..."


" Dina...! Nurut sama kakak."


" Baiklah."


Rifky menghampiri preman itu dan berusaha untuk mengajaknya bicara baik - baik.

__ADS_1


" Maaf, Tuan. Apa kalian masih mengantri untuk membeli makanan? Saya buru - buru, bolehkah saya memesan terlebih dahulu?" ucap Rifky dengan sopan.


" Siapa kau...! Beraninya mengusik kesenanganku!" sentak preman itu.


" Saya tidak ingin mengusik kalian, tapi saya lihat kalian mengganggu pedagang disini."


" Jangan ikut campur urusanku!"


Melihat Rifky yang tidak segera bertindak, Medina merasa geram sendiri. Ingin rasanya ia segera menghabisi preman itu.


" Sayang, cepatlah! Apa kau tidak mau pulang?" teriak Medina.


Rifky terkejut tiba - tiba gadis kecilnya itu memanggilnya 'sayang'. Mungkinkah dia habis kepentok sehingga bisa seromantis itu?


" Iya, ini juga udah mau selesai." sahut Rifky dengan tersenyum.


Melihat kecantikan Medina, dua preman itu segera mengalihkan pandangannya dari Rifky. Mereka tersenyum satu sama lain.


" Gadismu sangat cantik, bolehkan kita berbagi?" kata preman itu sambil tertawa.


" Jangan memancingku untuk berbuat kasar!" geram Rifky.


" Sayang, dia ingin menggangguku... apa kau akan diam saja?" rengek Medina.


" Baiklah, aku tidak punya pilihan sayangku. Sepertinya olahraga malam cukup baik untuk kesehatan." sahut Rifky.


" Kalian berdua...! Jangan berani mengganggu para pedagang disini lagi...!" teriak Rifky.


" Kau siapa melarang kami? Kau bukan penguasa daerah ini."


" Tidak perlu jadi penguasa untuk menghajar tikus seperti kalian."


" Beraninya kau!"


Preman itu tidak terima dengan hinaan Rifky. Mereka secgera menyerang Rifky karena merasa sangat emosi. Medina hanya melihat saja karena Rifky telah melarangnya untuk ikut berkelahi. Rifky memberikan pukulan bertubi - tubi kepada dua preman itu tanpa jeda. Mereka bukanlah lawan yang seimbang baginya, mengingat dua preman itu tak punya keahlian bela diri khusus.


" Kak, udah... nanti mereka mati." seru Medina.


" Sampah masyarakat seperti mereka tidak pantas hidup." sahut Rifky.


Medina mendekati dua preman itu lalu menatap mereka dengan tajam.


" Jangan sampai aku mendengar ada pedagang yang dipalak lagi atau kalian benar - benar akan masuk liang lahat!" ancam Medina.


" Ka... kau... pimpinan baru daerah ini?" ucap preman itu terbata.


" Jangan sampai tanganku sendiri yang bertindak!"


" Maaf, Nona... kami tidak akan melakukannya lagi."


" Pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran!"


Dengan langkah tertatih, kedua preman itu pergi dari hadapan Medina. Mereka terlihat sangat takut dengan tatapan dingin penguasa jalanan itu.


" Sayang, ayo pulang!" titah Rifky.


" Boleh beli nasi gorengnya, kak?" rengek Medina manja.


" Makan lagi?"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2