
Medina langsung menyuruh Nicko masuk ke dalam kamar sementara dirinya akan menenangkan suaminya yang terlihat tengah emosi.
" Ayah kenapa marah - marah sama Kak Nicko? Untung saja Shaka tidak bangun." ucap Medina lembut.
" Bagaimana Ayah tidak marah sama Nicko... Dia membuat masalah menjadi rumit sendiri." keluh Rifky sambil memijat tengkuknya yang terasa pegal.
" Jangan emosi, bicarakan baik - baik."
" Entahlah, Bunda. Ayah tidak menyangka Nicko sebodoh itu."
" Sekarang Ayah sedang emosi, istirahatlah."
" Ayah pengen Bunda," lirih Rifky.
" Ada Shaka, nanti kalau bangun gimana?"
" Kita bisa lakukan di sofa," rengek Rifky.
" Baiklah, tapi sekali aja! Bunda capek, besok juga masih mau jalan - jalan sebelum pulang."
" Tapi di rumah nanti lima kali, ya?"
" Ck! Terserah Ayah saja."
Rifky tersenyum tipis lalu menggendong sang istri ke sofa. Saat ingin melakukan aksinya, tiba - tiba Shaka bangun sambil menangis. Medina yang kaget langsung mendorong tubuh sang suami yang berada di atas tubuhnya.
" Sayang...!" pekik Rifky kaget.
" Sebentar, Yah. Shaka nangis, tuh!"
Rifky membiarkan Medina pergi lalu duduk di sofa sambil cemberut. Sudah sering hal semacam ini terjadi dan Rifky masih saja merasa kesal.
" Shaka kenapa, Yang...?" Rifky beranjak dari sofa ke tempat tidur.
" Kebangun aja, nggak ada kita."
" Ayah buatin susu dulu."
Rifky sudah menyiapkan air panas dalam termos kecil di kamar sehingga tidak perlu ke dapur. Melihat Medina yang tampak lelah, Rifky langsung rebahan di sampingnya setelah memberikan sebotol susu.
" Bunda tidurnya di tengah, ya? Ayah pengen peluk sampai pagi." lirih Rifky.
" Nggak jadi...?"
" Nanti saja di rumah, Ayah ngantuk."
.
.
Keesokan harinya, Rifky terbangun lebih dulu. Melihat anak dan istrinya masih terlelap, ia tidak tega membangunkannya. Namun melihat jam yang sudah hampir lewat waktu shubuh, dengan terpaksa ia harus membangunkannya.
" Yang, udah pagi. Bangun, yuk?" bisik Rifky.
" Jam berapa, Yah?" gumam Medina.
" Jam lima, sholat dulu."
Selesai sholat shubuh berjamaah, Medina kembali masuk ke dalam selimut karena merasa kedinginan. Rifky yang melihatnya tersenyum lalu ikut masuk ke dalam selimut.
" Yang, Shaka bangun jam berapa nanti?"
" Nggak tahu, bisa juga jam tujuh baru bangun. Soalnya disini udaranya dingin."
" Lanjut yang semalam, yuk? Pikiran Ayah belum bisa tenang kalau belum melakukan itu." lirih Rifky.
" Mau sekarang?"
" Iya,"
" Langsung saja, ya? Takut Shaka keburu bangun."
Rifky mengangguk lalu menyambar bibir istrinya dengan cepat. Keduanya berbagi kehangatan di pagi hari yang sangat dingin.
__ADS_1
Usai mencapai puncak bersama - sama, Rifky langsung mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi dan berendam bersama.
" Nanti Shaka bangun, Yah. Cepatlah mandi duluan, Bunda mau berendam sebentar."
" Iya, Ayah cepat kok mandinya."
Setelah membilas tubuhnya di shower, Rifky keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
Rifky berganti pakaian dengan sesekali melihat kearah putranya yang menggeliat pelan namun memejamkan matanya.
" Bangun, Shaka! Udah pagi, jalan - jalan diluar yuk?" ujar Rifky pelan.
" Shaka masih ngantuk,"
" Tidak mau main sama teman - temanmu? Dibawah ada Kak Alicia, Kak Arata dan Kak Siena."
" Mau, Yah."
" Ya sudah, sekarang bangun dan mandi."
.
.
Rifky keluar dari kamar bersamaan dengan Nicko yang membuka pintu. Saling bertatapan sesaat, Nicko mengalihkan pandangan kearah lain.
" Nick, maaf soal semalam." ucap Rifky tulus.
" Hmm..." sahut Nicko datar.
" Kau mau kubantu menyatakan cintamu pada Ririn dengan cara yang benar?"
" Gimana caranya?"
" Ayo turun, sarapan dulu."
Medina tersenyum seraya menepuk bahu Nicko dengan pelan untuk memberikan semangat kepada sahabat suaminya itu.
Sampai di bawah, semua sudah berkumpul di meja makan. Bayu mengambilkan makanan untuk ketiga bocah yang ia bawa dari luar negeri.
" Uncle Nick, suapi Shaka." rengek Shaka tiba - tiba.
" Loh? Kenapa nggak sama Ayah atau Bunda?"
" Mau sama Uncle saja."
" Baiklah,"
" Mau makan diluar saja."
" Diluar...?"
" Shaka memang suka makan diluar, Kak. Di teras atau di taman, maaf ya merepotkan." ucap Medina.
Nicko yang paham langsung menggendong Shaka sambil membawa piring. Namun ia kesulitan saat ingin meraih gelas minumnya.
" Nanti biar dibawakan Ririn gelasnya." ujar Rifky membuat Ririn kaget.
" Saya, Kak?"
" Apa harus Alicia?"
" Ti... Tidak, Kak."
Ririn bergegas mengambil gelasnya dan mengikuti langkah Nicko yang berjalan ke taman di halaman Villa.
" Minumnya taruh mana, Kak?" tanya Ririn.
" Taruh di kursi itu saja." jawab Nicko.
Nicko menghela nafas pelan karena ternyata sangat susah menyuapi Shaka. Anak itu terus berlari mengelilinginya. Padahal anak itu biasanya selalu tenang saat sedang makan.
" Shaka... Jangan lari...! Uncle lelah ngejar kamu." seru Nicko.
__ADS_1
" Biar Ririn aja yang suapi Shaka, Kak." ucap Ririn.
" Tidak usah, nanti kamu capek." sahut Nicko seraya duduk di samping Ririn.
" Kak Nicko yang kelihatan capek, kurang tidur?"
" Tidak apa - apa, biasa banyak kerjaan."
Ririn meraih tubuh Shaka yang kebetulan berlari di depannya. Setelah dipaksa duduk di pangkuannya, Ririn menyuruh Nicko untuk menyuapinya.
" Udah kenyang, Uncle." rengek Shaka.
" Sedikit lagi, Shaka." bujuk Ririn.
" Tante aja yang makan disuapi Uncle Nicko."
" Hah? Jangan aneh - aneh, Bocil...!" seru Nicko.
" Jangan berteriak di depan anak." tegur Ririn.
Shaka kembali bermain sendiri, sedangkan Nicko menatap Ririn tak berkedip. Hampir saja piring di tangannya terlepas jika Ririn tak memegangnya.
" Hati - hati, nanti pecah." ujar Ririn.
" Maaf," lirih Nicko.
" Hah? Sudah berapa kali kakak minta maaf? Memangnya kakak salah apa sama aku?"
" Mmm_..."
" Apa Kak Nicko ingin mengatakan sesuatu?"
" Iy...iya. Kakak serius cinta sama kamu. Maukah kamu menjadi istriku?" Nicko menggenggam erat tangan Ririn.
" Mmm... Ririn tidak tahu harus jawab apa, ini terlalu mendadak."
" Kakak janji tidak akan mengecewakanmu." Nicko berlutut di hadapan Ririn.
" Kenapa tidak dari semalam kakak mengatakan itu?"
" Maaf, Kakak terlalu takut kamu tolak. Sekarang Kakak pasrah apapun keputusan kamu."
" Ririn pikir kak Nicko cuma nge-prank aja semalam."
Nicko semakin merasa bersalah atas kejadian semalam. Pantas saja Rifky menyebutnya bodoh, ternyata memang ia benar - benar bodoh.
" Kakak serius, Rin. Kamu maukan menerima cintaku?"
" Iya, Ririn juga cinta sama kak Nicko." ucap Ririn sangat pelan namun masih terdengar oleh Nicko.
" Benarkah? Kamu terima cinta aku!" pekik Nicko girang.
Pancar kebahagiaan jelas terlihat di wajah Nicko. Tanpa ragu, ia memeluk gadis itu sangat erat lalu mendaratkan ciuman di keningnya.
" Woiii... Belum halal...!" teriak Bayu.
Nicko dan Ririn terperanjat kaget saat melihat semua orang menyaksikan semua kejadian sejak tadi. Nicko juga tidak menyadari kalau Shaka berada dalam gendongan Rifky.
" Ish... Kak Nicko sih!" sungut Ririn malu.
" Udahlah, semuanya juga udah terjadi." sahut Nicko santai walau sebenarnya ia malu juga.
" Selamat, ya? Pokoknya nanti harus PJ di kafe biasa." ucap Medina.
" PJ apaan? Nggak ada pajak jadian." sewot Ririn.
Semua orang terlihat bahagia melihat Nicko mendapatkan tambatan hatinya. Semua ini memang sudah diatur oleh Rifky supaya Nicko kembali mengungkapkan perasaannya pada Ririn. Untung saja si bocil Shaka bisa diajak kerjasama tadi walau harus dengan iming - iming ice cream coklat kesukaannya.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.