
Satu minggu setelah kepulangan pak Hasan, akhirnya Rifky sebentar lagi akan mempersunting kekasihnya. Gadis yang selama ini menjadi penyemangat dalam hidupnya.
Acara pernikahan akan diadakan di kediaman orangtua Rifky karena permintaan Medina sendiri. Lagi pula ia masih harus check up ke rumah sakit satu minggu lagi.
" Sayang, orang MUA udah datang. Kamu sudah mandi, kan?" tanya Mama Kamila.
" Sudah, Ma. Kak Rifky kapan datang?"
" Kamu udah nggak sabar ketemu calon suamimu?" ledek mama Kamila.
" Bukan begitu, Ma. Dina cuma_..."
" Udah, kamu siap - siap dulu. Sebentar lagi akad nikahnya dimulai."
Wajah Medina tampak merona ketahuan merindukan pria yang sudah beberapa hari ini tak menemuinya. Pria yang beberapa jam lagi akan menjadi imam dalam rumah tangganya.
Sementara di Apartemen, tempat dimana beberapa hari ini mengungsi setelah diusir mamanya agar tidak tinggal satu atap dengan Medina sebelum sah menjadi suami istri. Disana ia ditemani tiga sahabatnya Nicko, Jonathan dan Hans.
" Boss kita sangat tampan hari ini." goda Nicko.
" Kau benar, Nick. Boss terlihat sangat tampan dan menawan." sahut Hans.
" Kalian diamlah! Contoh itu Jonathan, dia tidak berisik seperti kalian berdua." ketus Rifky.
" Tapi mereka benar, Boss. Hari ini kau tampak berbeda. Aura kebahagiaan sangat terlihat di wajahmu." ujar Jonathan.
" Terima kasih, kalian bertiga selalu ada untukku. Nicko, kau bahkan menghabiskan seluruh waktumu untuk bersamaku. Hans, walaupun istrimu sudah hampir melahirkan namun kau tetap bersedia datang kesini. Dan Jo, meski putrimu sedang sakit kau juga tetap meluangkan waktu di hari bahagiaku ini. Entah seperti apa kehidupanku tanpa kalian bertiga." Rifky meneteskan airmata haru dan bahagia di hadapan ketiga sahabatnya.
" Hei... calon pengantin tidak boleh menangis! Ini adalah hari bahagia untukmu dan Medina. Jadilah keluarga yang harmonis, bahagia dan nantinya bisa memiliki anak yang lucu - lucu." ucap Nicko.
" Kalian begitu baik padaku, apa yang bisa kulakukan untuk membalas semua ini pada kalian?"
" Kita ini saudara, Boss. Jika salah satu dari kita sakit, maka semuanya juga akan merasakannya. Begitupun jika salah satu diantara kita bahagia, maka yang lain juga pasti bahagia." ujar Jonathan.
" Jangan melow begini, sebaiknya kita berangkat sekarang. Jangan sampai pernikahannya tertunda." kata Hans.
.
.
Acara akad nikah akan diadakan sebentar lagi. Banyak tamu undangan yang telah hadir untuk menyaksikan acara sakral tersebut. Walaupun Medina meminta mengadakan acara pernikahan sederhana, namun tetap saja banyak sekali tamu yang datang. Dari kerabat maupun para tetangga saja sudah mencapai ratusan orang. Belum lagi untuk acara resepsi yang akan diadakan malam nanti, menurut keluarga Rifky sangat sederhana karena hanya mengundang 1000 orang para kolega bisnis Rifky dan ayahnya.
" Mey, calon suamimu udah dateng." bisik Ririn.
__ADS_1
Saat ini hanya ada Ririn dan Medina di dalam kamar setelah calon mempelai wanita itu selesai dirias. Jantung Medina berdebar sangat kencang saat mendengar nama calon suaminya disebut.
" Rin, apakah aku hanya mimpi? Secepat inikah aku akan menikah?" tanya Medina seakan tak percaya.
" Hahahaa... kau ini lucu sekali, mana mungkin kau bermimpi. Lihat dirimu! Hari ini kau sangat cantik dan anggun. Sepertinya gelar gadis brutal itu akan segera hilang darimu, berubah menjadi Nyonya Muda Mahendra yang anggun dan lemah lembut."
" Ish... gelar macam apa itu!"
Tak berselang lama, Mama Kamila dan pak Hasan masuk ke dalam kamar di tempat Medina berada. Pak Hasan ingin melihat putri semata wayangnya untuk terakhir kali sebelum ia menyerahkan orang yang paling disayangi itu kepada calon suaminya.
" Ayah...!"
Medina bangkit dari tempat duduknya dan memeluk sang Ayah dengan isak tangis. Rasanya tidak rela jika ia harus jauh dari orangtua satu - satunya yang telah merawatnya dari kecil.
" Anak Ayah tidak boleh menangis. Tersenyumlah! Ayah ingin melihat senyumanmu yang terakhir sebelum kau menjadi tanggung jawab orang lain. Saat ini kamu masih tanggung jawab Ayah sampai ijab qobul dimulai. Jadi, tersenyumlah sebagai tanda bahwa Ayah telah berhasil mendidikmu menjadi gadis yang bahagia." pinta pak Hasan dengan nada lembut.
" Maafkan Dina belum bisa membahagiakan dan berbakti untuk Ayah. Dina hanya bisa menyusahkan dan membuat Ayah kecewa."
" Tidak, Nak. Kamu adalah penyemangat dalam hidup Ayah. Sedari dulu, sekarang dan di masa depan kelak. Jika kamu ingin melihat Ayah bahagia, maka bahagiakan dirimu sendiri. Hanya itu yang Ayah minta darimu, jadilah istri yang baik untuk suamimu. Didiklah anak - anakmu kelak dengan agama dan budi pekerti yang baik. Jangan biarkan anak keturunanmu terlena dengan surga dunia. Ayah yakin kamu sanggup melakukannya walaupun itu adalah tugas yang sangat berat bagi seorang ibu."
" Insya Allah, Dina akan selalu mengingat pesan Ayah. Terima kasih sudah mendidik Dina dengan baik selama ini, tidak pernah kekurangan kasih sayang walaupun Dina selalu menjadi anak nakal di hadapan Ayah."
Ririn dan Mama Kamila sampai menangis haru saat menjadi saksi betapa luar biasa kasih sayang yang terjalin antara Medina dan pak Hasan. Tanpa sadar mereka saling berpelukan karena terbawa suasana.
" Baiklah, ayo pergi." sahut pak Hasan.
Pak Hasan mencium kening putrinya cukup lama dan tersenyum setelahnya yang dibalas senyuman pula oleh Medina sesuai permintaan sang ayah tersebut.
.
.
Sampai di lantai bawah, Rifky sudah duduk berhadapan dengan penghulu yang siap untuk menikahkan mereka. Pak Hasan menghela nafas perlahan sama gugupnya seperti Rifky saat ini.
" Apakah sudah bisa dimulai akadnya?c tanya pak penghulu.
" Sudah, Pak. Silahkan dimulai sekarang." jawab Pak Hasan.
" Saudara Rifky Mahendra, Anda sudah siap...?" tanya pak penghulu lagi.
" Su... sudah, Pak." jawab Rifky gugup.
" Siap untuk apa...?" gurau pak penghulu.
__ADS_1
" Hah...?" Rifky bingung mau jawab apa sehingga membuat para tamu undangan tertawa.
" Ciee... Cieee... ada yang grogi nih." seloroh Bayu membuat semua orang kembali tertawa.
" Husss...! Diam kau!"
Lima orang yang berdiri di samping kanan kiri Bayu spontan menjitak kepala pemuda itu secara bersamaan dengan tatapan tajam. Bagaimana bisa di acara sakral seperti ini, dia malah membuat nyali pengantin pria semakin down.
" Ish... kompak sekali kalian!" Bayu mengusap pelan kepalanya yang terasa sakit.
" Kalian ini malah bikin keributan saja!" tegur pak Jamal.
" Maaf, Om. Pecat saja bapaknya kalau dia masih berulah." seloroh Johan.
" Jangan dong! Makan apa mommy nanti di rumah." sungut Bayu.
" Makanya diam semuanya!"
Setelah keadaan mulai tenang, pak penghulu melanjutkan acaranya dan mulai serius. Semua tamu undangan juga sudah tidak sabar untuk menyaksikan acara sakral sang konglomerat. Sebenarnya sangat disayangkan oleh banyak pihak karena Rifky melarang pihak media untuk meliput jalannya akad nikah hari ini. Mereka hanya diijinkan meliput berita saat resepsi nanti malam di hotel milik keluarga Mahendra.
" Nak Rifky, ucapkan bismillah... kita mulai sekarang." ucap pak penghulu.
" Silahkan pak Hasan selaku wali nikah."
Pak Hasan dan Rifky saling berjabat tangan dengan mengucap bismillah dalam hati. Tangan
Rifky terasa dingin sehingga membuat pak Hasan sedikit tersenyum.
Acara ijab qobul diucapkan dengan lancar oleh wali dan juga mempelai laki - laki. Acara menjadi riuh saat saksi dan para tamu undangan mengucah kata 'SAH' secara kompak bersamaan.
" Alhamdulillah, selamat atas pernikahan Anda saudara Rifky. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Sekarang jemput istrimu, dia sudah halal menjadi milikmu." ucap pak Penghulu.
" Terima kasih, Pak."
Rifky sedikit berlari menuju lantai atas untuk menjemput gadis kecil yang sekarang sudah halal menjadi miliknya. Dia mengabaikan para sahabatnya yang meledeknya habis - habisan sehingga suasana menjadi semakin ramai.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.