
Beberapa tahun kemudian,
Kehidupan Rifky dan Medina semakin hari semakin harmonis saja. Usia Arshaka kini sudah menginjak 13 tahun dan memiliki adik perempuan berusia 9 tahun yang bernama Arsyilla Putri Mahendra.
" Bunda, Ayah belum pulang kerja?" tanya Arsyilla.
" Belum, sayang. Dari tadi tanya Ayah terus memangnya ada apa?" sahut Medina.
" Ayah janji mau ajak kita liburan ke pantai."
" Masa' sih? Kok Ayah nggak bilang apa - apa sama Bunda?"
" Syilla...!" teriak Shaka dari arah dapur.
Shaka mengacak - acak rambut adiknya karena gemas. Setelah itu ia menarik tangan Syilla menjauhi ibunya.
" Apa sih, Kak! Sakit tahu di tarik - tarik." sungut Syilla.
" Kamu kenapa bilang sama Bunda kalau mau ke pantai? Ayah sudah bilang untuk merahasiakan ini dari Bunda." lirih Arshaka.
" Maaf, Syilla lupa." cicit Arsyilla pelan.
" Awas aja kalau sampai acaranya gagal, Ayah pasti tidak akan mau lagi diajak liburan."
" Iya, Syilla janji tidak akan buka mulut."
Melihat kedua anaknya yang sedang berbisik, Medina segera menghampiri mereka untuk bertanya daripada penasaran.
" Kalian sedang apa bisik - bisik begitu?" tanya Medina.
" Ini, Ma. Syilla mau main ke rumah Uncle Nicko, mau main sama Bara." jawab Arshaka cepat.
Bara adalah putra dari Nicko dan Ririn. Anak itu seumuran dengan Arsyilla, hanya selisih beberapa bulan saja.
.
.
Kini usia Medina sudah 31 tahun dengan dua anak yang sangat tampan dan cantik. Teman - temannya juga hampir semua telah memiliki pasangan hidup. Devan akhirnya menikah dengan Clarissa dan memiliki dua anak yang masih kecil - kecil. Nicko menikah dengan Ririn dan menghasilkan satu putra yang sangat tampan. Bayu menikahi wanita asli Korea yang masih merupakan kerabat dari Hans. Johan menikah dengan wanita yang juga berasal dari Indonesia namun hidup di Jepang cukup lama.
Bagaimana dengan kisah Adam? Pria yang kini sukses menjadi dokter itu masih betah melajang hingga kini. Entah apa yang ada dalam pikirannya itu, padahal banyak gadis yang menawarkan cinta padanya namun tidak pernah ditanggapi olehnya.
Adam sudah dua tahun ini kembali ke Indonesia untuk memimpin rumah sakit yang didirikan oleh Rifky. Pria itu tampak serius dalam bekerja sehingga melupakan urusan pribadinya.
" Adam...!" seru Medina.
" Mey...? Kau sendirian saja kesini?" tanya Adam.
Kini keduanya berada di ruang kerja Adam di sebuah rumah sakit swasta milik Rifky Mahendra, suami sahabatnya Adam.
" Iya, habis antar anak - anak sekolah." jawab Medina.
" Ada masalah? Tidak biasanya kamu memasang tampang jelek begitu."
__ADS_1
" Darman...! Dasar bujang tua...!" cibir Medina.
" Aku nggak butuh ocehanmu! Pergi saja kalau tidak ada yang penting." usir Adam.
Medina tersenyum lalu menarik lengan Adam untuk keluar dari ruangannya. Adam sendiri tak bisa menolak karena tak ingin sahabatnya itu berbuat ulah diluaran sana.
Disinilah mereka sekarang, di atap gedung rumah sakit. Kebiasaan dari Medina jika sedang marah atau ingin meluapkan segala lelah hatinya. Wanita dua anak itu pasti akan mengajak duel Adam sebagai pelampiasannya sebelum menceritakan masalahnya.
" Mey... Aku ada banyak pekerjaan. Bisakah langsung cerita saja tanpa harus duel?" pinta Adam.
" Apa kau sudah tidak mampu melawanku lagi karena umurmu yang semakin tua?" sinis Medina.
" Bukan begitu, Mey. Satu jam lagi ada rapat bulanan."
" Kita hanya butuh sepuluh menit bertarung."
" Ok, kuharap kau puas."
Adam melepas jas putihnya dan hanya menyisakan kemeja lengan panjang warna biru muda yang ia gulung sampai ke siku. Mereka siap bertarung untuk melepas semua amarah dan kekesalan dalam jiwa. Sebenarnya Adam juga sedang butuh pelampiasan untuk meluapkan perasaannya yang tak pernah ia ceritakan pada orang lain.
Adam dan Medina bertarung dengan sangat serius hingga keduanya tidak menyadari bahwa pukulan mereka mengakibatkan cidera pada keduanya.
" Sepertinya masalahmu lebih besar dariku, Dam? Tidak biasanya kau menyerangku dengan sangat brutal seperti ini." ungkap Medina sambil memijit pelan kakinya yang memar akibat tendangan keras Adam.
" Sorry, Mey. Aku tidak sengaja melakukannya, apa lukamu parah?" balas Adam seraya merebahkan tubuhnya dibawah sinar mentari yang semakin terik.
" Tidak apa - apa, hanya luka kecil. Untung saja kau tidak memukulku di bagian wajah, kau bisa dibunuh sama Ayahnya Shaka."
" Kaulah yang harus bercerita, Dam. Kurasa masalahmu lebih besar daripada masalahku."
Adam menghembuskan nafasnya dengan kasar. Pria itu duduk mensejajarkan tubuhnya dengan Medina. Dia tidak mungkin menceritakan masalahnya kali ini pada sahabatnya itu.
" Ayo turun! Aku harus bersiap untuk rapat sebentar lagi." ujar Adam.
" Kau menghindar dariku?" cecar Medina.
" Tidak sekarang, Mey. Aku mau fokus dengan pekerjaanku,"
" Apa ini soal perempuan?"
.
.
Hari ini semua libur, baik anak - anak maupun orangtua karena weekend. Sesuai rencana Rifky, mereka mengajak anak - anak untuk liburan ke pantai. Medina yang diberitahu saat akan berangkat tentu saja uring - uringan di sepanjang perjalanan.
" Kalian berdua juga ikut menutupi semuanya dari Bunda!" tunjuk Medina pada kedua anaknya yang duduk di jok belakang.
" Sudahlah, Bunda. Jangan marahi anak - anak, Ayah yang minta pada mereka untuk tidak memberitahu Bunda." rayu Rifky dengan tutur lembutnya.
" Apa Bunda sedang hamil? Kok dari kemarin marah - marah terus?" seloroh Arshaka dengan tampang polosnya.
" Apaaa? Kita mau punya adik, Kak!" seru Arsyilla senang.
__ADS_1
Rifky mencoba menahan tawanya karena tak ingin sang istri semakin mengamuk jika ia ikut berkomentar.
" Anak kecil tahu apa soal hamil? Jangan ngaco kamu, Shaka." kesal Medina.
" Shaka itu sudah bukan anak kecil lagi, Bunda. Di sekolah ada pelajaran seperti itu dalam ilmu biologi." ungkap Shaka dengan bijak.
" Memangnya ada, Kak?" tanya Syilla dengan tatapan polosnya.
" Ada, Dek. Nanti kalau kamu sudah masuk SMP ada pelajaran seperti itu karena kamu sudah memasuki usia remaja, bukan anak - anak lagi. Tapi kamu tidak perlu memikirkannya sekarang, karena cuma Ayah dan Bunda yang tahu detailnya." ucap Arshaka sambil menatap Ayahnya dengan senyum jahil.
" Shaka...! Semakin ngaco kamu ya!" teriak Medina.
" Udah, sayang. Shaka cuma mengungkapkan pelajaran yang ia tangkap di sekolah. Lagian itu juga edukasi dini supaya para remaja tidak salah dalam bertindak." ujar Rifky bijak.
" Bunda jangan marah karena Shaka tahu semua ini. Justru ilmu seperti ini harus diajarkan orangtua pada anak - anaknya yang sudah beranjak remaja. Apa Bunda tahu, di sekolah Shaka ada masalah seperti ini?" ungkap Shaka dengan tenang.
" Masalah apa?"
Medina menoleh ke belakang melihat raut wajah putranya yang tampak serius. Aura dari tatapan putranya itu memperlihatkan bahwa ia memiliki IQ yang berada diatas rata - rata.
" Kemarin kakak kelas Shaka, dia adalah korban broken home. Orangtuanya bercerai, dia menjadi kesepian karena kedua orangtuanya memilih mencari kesenangan diluar. Ibunya jadi sering membawa pria yang berbeda ke rumahnya. Karena penasaran dengan apa yang dilakukan ibunya setiap hari, akhirnya gadis itu melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan tanpa tahu akibatnya dengan salah satu teman ibunya. Kini gadis itu hamil dan dikeluarkan dari sekolah." ungkap Arshaka.
" Ya Allah, Shaka." lirih Medina.
Tak berbeda dari Medina yang terkejut, Rifky juga ikut bereaksi hal yang sama dengan sang istri. Dia tak menyangka putranya ternyata sudah bisa berfikir dengan dewasa.
" Ternyata putraku sudah beranjak dewasa sekarang. Maafkan Bunda karena selalu menganggapmu masih anak - anak." ungkap Medina sambil tersenyum namun meneteskan airmatanya.
" Kau benar Shaka, edukasi dini untuk masalah seperti ini memang sangat penting. Sebagai laki - laki, kau harus harus melindungi dan menghormati perempuan seperti Ayah yang selalu melindungi dan menjaga Bunda." ujar Rifky.
" Apa kakak juga akan menjaga Syilla." celoteh Arsyilla yang sedari tadi diam.
" Tentu saja, kau adikku perempuanku yang sangat cantik. Kakak akan selalu menjagamu dan melindungimu walau harus bertaruh nyawa." ucap Shaka dengan senyum manisnya.
Medina dan Rifky merasa sangat senang karena kedua anaknya sangat akur dan saling menyayangi. Keduanya bersyukur mendapatkan amanah untuk menjaga buah hati yang sangat pintar dan baik hati.
.
.
TBC
.
.
...****************...
Terima kasih untuk dukungan dari para readers. Karya ini akan tamat sebentar lagi, tetap dukung karya Author. Baca juga novel saya yang lain🙏
.
.
__ADS_1