
Dina, mau kemana?" teriak Rifky.
Dina terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun pada Rifky. Kakinya terus melangkah sesuai kehendak hatinya. Rifky yang merasa diabaikan langsung turun dari motornya dan mengejar Medina.
" Dina, apa yang kau lakukan?" Rifky menarik lengan Medina dengan kuat.
Rifky menatap lekat wajah Medina dari pantulan cahaya rembulan yang sedang purnama. Dia terkejut melihat gadis kecilnya sembab dengan isak tangis yang tertahan.
" Sayang, kenapa menangis? Ada apa, sayangku?" Rifky menggenggam erat jemari gadis kecilnya.
" Ibu..." gumam Medina lirih.
" Hei... jangan menangis lagi, kakak minta maaf soal tadi. Kakak tidak marah sama kamu, sayang." bujuk Rifky.
" Ibu... maafkan Medina," ucap Medina lagi.
" Sayang, ada apa? Jangan membuat kakak bingung seperti ini?"
Rifky memeluk tubuh Medina dengan erat. Entah apa yang dipikirkan gadis itu hingga tiba - tiba menangis tanpa alasan. Kenapa dia sampai menyebut nama ibunya? Apa Medina sangat tertekan?"
" Sayang, sudah ya? Jangan menangis lagi, katakan pada kakak apa yang kamu rasakan saat ini. Kakak janji akan selalu ada buat kamu." lirih Rifky.
" Dina ingin ikut ibu..." isak Medina.
" Kita pulang saja, ya? Nanti kita bicara lagi di rumah." bujuk Rifky.
" Dina mau bertemu ibu..."
" Iya, besok pagi kita kunjungi makam ibu. Sekarang kita pulang dulu ya?"
Rifky merangkul bahu Medina yang masih terisak menuju ke motornya. Dia masih berpikir keras penyebab gadisnya menangis secara tiba - tiba.
¤ ¤ ¤
Rifky sudah sampai di rumah Medina. Terlihat pak Hasan masih duduk di teras menunggunya.
" Assalamu'alaikum, paman." ucap Rifky sambil memapah Medina.
" Wa'alaikumsalam, Medina kenapa ini?" balas pak Hasan.
" Rifky juga tidak tahu, paman. Sepertinya Dina sedang kurang sehat."
" Ya sudah, ayo masuk ke dalam."
Medina duduk di ruang tengah karena dia enggan ke kamarnya. Tubuhnya bersandar pada sofa lalu kepalanya jatuh ke bahu Rifky.
" Dina, kamu kenapa?" tanya pak Hasan.
Melihat Medina hanya diam, Rifky merebahkan kepala Medina di pangkuannya. Gadis itu nampak memejamkan matanya dan sesekali airmatanya masih menetes.
" Paman, apa Medina sering seperti ini? Tadi dia sempat memanggil ibu." ucap Rifky.
" Astaghfirullah, kenapa aku sampai lupa akan hal ini. Kami biasa berkunjung ke makam ibunya setiap hari jum'at setelah ashar. Tapi karena paman ada urusan di sekolah, kami tidak berkunjung. Biasanya Medina pergi sendiri jika paman tidak bisa, tapi karena hukumannya belum selesai, dia tak pergi."
Rifky mengerti sekarang, selain karena tadi ia memarahinya Medina juga merindukan ibunya. Rifky menghela nafas panjang lalu mengusap pelan kepala Medina yang sudah tertidur. Rifky mengirim pesan kepada Adam jika dirinya tidak jadi pergi.
__ADS_1
" Besok bolehkah Rifky mengajak Medina pergi, paman?"
" Mau kemana?"
" Belum tahu, paman. Terserah nanti Medina mau kemana, yang penting dia tidak bersedih lagi."
" Kamu benar, Rifky. Semenjak ibunya Dina tiada, kami tidak pernah pergi kemanapun. Aktifitas kami berdua hanya seperti ini terus selama bertahun - tahun."
" Ya sudah, besok paman ikut ya? Rifky bawa mobil kok."
" Tidak usah, kalian saja yang pergi."
" Jangan begitu, paman. Moment seperti ini harus terjadi lagi di keluarga paman walaupun ibunya Medina sudah tidak ada. Rifky yakin kalian berdua bisa bahagia seperti dulu lagi."
" Apa itu mungkin? Dina sepertinya masih menjaga jarak dengan paman."
" Tenang saja, paman. Besok kita pergi ramai - ramai. Rifky akan mengajak Om Jamal dan tante juga. Teman - teman Dina juga semuanya ikut."
" Baiklah, tapi kalau belum ada tempat yang dituju... paman ingin ke pantai saja. Disana adalah tempat dimana kami bertiga sering menghabiskan akhir pekan bersama."
¤ ¤ ¤
Pagi ini sesuai rencana semalam, Rifky mengajak keluarga om Jamal dan juga pak Hasan serta teman - teman Medina ke pantai sesuai permintaan pak Hasan.
" Sayang, paman udah siap?" tanya Rifky pada Medina yang sedang duduk di teras rumah.
" Sebentar lagi, kak. Masih di kamar kayaknya." sahut Medina.
" Nanti paman ikut mobil Om Jamal ya? Kasihan kalau harus berdesakan dengan kalian yang kayak pasar itu."
" Tidak, Calis sayang. Kau harus selalu bersama kakak."
" Tapi Dina pengen sama ayah,"
" Nanti kalau sudah sampai disana, kamu boleh menghabiskan waktu dengan ayahmu."
Medina memanyunkan bibirnya sambil menghindar dari tatapan Rifky. Melihat tingkah gadis kecilnya itu, Rifky hanya tersenyum saja. Bila ditanggapi, gadis itu semakin berulah nantinya.
" Rifky, apa semuanya sudah siap?" tanya pak Hasan.
" Sudah, paman. Semua sudah berkumpul di rumah Om Jamal." jawab Rifky.
" Ayah, Dina_..." ucap Dina pelan.
" Dina ikut di mobil Rifky, paman. Kalau paman di mobil Om Jamal yang lebih leluasa tempatnya." kata Rifky dengan cepat.
" Terserah kalian saja, tolong jaga Dina di perjalanan." ujar pak Hasan.
" Siap, paman."
Setelah semuanya masuk ke dalam mobil, mobil segera melaju meninggalkan kediaman pak Jamal. Rifky memaksa Medina untuk duduk di sampingnya.
" Mey, Dani masih terus ngejar kamu ya?" tanya Ririn tiba - tiba.
" Memangnya kenapa? Kamu suka sama dia?" jawab Medina asal.
__ADS_1
" Ihh... lihat mukanya aja udah males." sahut Ririn.
" Dia gangguin kamu, Din?" tanya Rifky.
" Tidak, kak. Dia hanya ingin bertemu dengan gadis itu. Dani bilang, gadis itu sedang dalam bahaya sekarang."
" Tenang saja, gadis itu sudah aman dan mereka tidak akan bisa menemukannya." ujar Rifky.
Tanpa terasa, perjalanan yang cukup panjang telah mereka lalui. Kini mereka sudah berdiri di tepi pantai menikmati air laut yang membasahi kaki mereka.
Medina dan pak Hasan pergi ke sebuah karang yang biasa mereka kunjungi sewaktu ibunya Medina masih ada. Saat menginjakkan kakinya diatas batu itu, Medina seperti melihat sosok ibu yang tersenyum sambil menyuapinya makan. Senyum dan tawa yang terukir di wajah mereka bertiga saat itu, tak mampu tergambar dengan kiasan.
" Ayah, seandainya ibu masih ada_..."
" Ssttt... semua ini sudah takdir, anakku. Kita harus bisa menerima kenyataan ini dan teruslah hidup bahagia. Senyum ibumu selalu menyertai langkah kita disini."
" Semoga ibu bahagia diatas sana, Yah. Dina sangat rindu dengan ibu." lirih Medina.
" Kita do'akan yang terbaik untuk ibumu. Walaupun kita sangat menyayanginya, namun Allah lebih sayang padanya."
Medina bersandar di bahu ayahnya dengan menatap lautan yang berkilau karena sinar mentari yang semakin terik. Mereka sedang melakukan hal yang sama, yaitu mengenang sosok wanita yang tak bisa tergantikan oleh oleh siapapun.
" Ayah, kenapa tadi nggak bawa makanan ya? Dulu ibu selalu membawakan bekal untuk kita." ucap Medina.
" Dulu kita perginya cuma bertiga, anakku yang cantik. Sekarang kita ramai - ramai, nggak enak kalau cuma bawa bekal sedikit. Apalagi kita tak punya persiapan apapun." kata pak Hasan.
" Dina jadi rindu masakan ibu."
" Masakanmu juga tak kalah enak dari ibumu."
" Kenapa ya ibu pergi secepat ini, Yah? Coba saja Dina punya adik, lima tidak apa - apa biar rame di rumah."
" Ngelantur kamu, gimana kalau kamu saja yang menikah setelah lulus sekolah? Nanti ayah bisa punya cucu yang banyak." goda pak Hasan.
" Ayaahhh... Dina kan nggak punya pacar, mau nikah sama siapa?" sungut Medina.
" Cari dong, masa' gadis cantik ayah ini tidak ada yang mau?"
" Kenapa tidak ayah saja yang menikah lagi?"
" Ayah ini sudah tua, mana ada yang mau."
" Siapa bilang, umur ayah masih 43 tahun. Pasti masih banyak gadis yang mau sama duda tampan seperti ayah."
" Jangan ngawur kamu!"
Ayah dan anak itu tertawa bahagia bersama. Seolah - olah beban hidup mereka menghilang begitu saat ini.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.