
Jum'at sore, Medina dan teman - temannya berada di pasar karena ada pengajian rutin setiap hari jum'at menjelang buka puasa. Medina melamun di pojok parkiran memikrkan Rifky yang tak kunjung pulang.
" Wooiii... melamun aja kerjaannya?" pekik Bayu.
" Hahh... ngagetin aja, Bayam!" ketus Medina.
" Dari tadi dicariin malah bengong kayak ayam kurang makan."
" Hhh... lagi malas nih."
" Kenapa? Baru beberapa hari ditinggal kak Rifky, sudah kayak kerupuk kesiram air." ledek Bayu.
" Dia baru pulang nanti malam minggu, pasti nanti senin pagi sudah pergi lagi."
" Namanya juga kerja, Mey. Biasanya juga dari hari senin sampai jum'at atau sabtu. Kamu itu harus tahu jadwal kerja kak Rifky itu seperti apa,"
Medina menghela nafas perlahan seraya mengedarkan pandangannya ke jalanan. Dia sadar selama ini tidak pernah tahu pekerjaan seperti apa yang dilakukan Rifky di kota.
" Apa aku ini sangat egois? Dia pasti lelah harus sering pulang pergi dari desa ke kota. Seharusnya aku bisa mengerti dengan keadaan dia saat ini." ucap Medina.
" Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo masuk, sebentar lagi acara pengajiannya di mulai." ujar Bayu.
Jama'ah sudah berkumpul di tempat acara. Pak ustadz yang akan memberikan tausiyah juga sudah hadir. Acara segera dimulai agar tidak kemalaman nantinya.
¤ ¤ ¤
Setelah acara selesai dan semua jama'ah sudah pulang, Medina dan teman - temannya masih berkumpul disana untuk merapikan tempat itu lagi. Mereka juga sholat maghrib juga sekalian sholat isya' dan tarawih bersama di mushola pasar.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Medina dan yang lainnya beristirahat setelah memastikan tempat itu sudah bersih.
" Mey, tangan kamu masih sakit, ya?" tanya Adam.
" Udah mendingan, cuma sedikit nyeri kalau tersentuh." jawab Medina.
" Kau nekat sekali melindungi ibunya kak Rifky."
" Bukan hanya ibunya kak Rifky, siapa saja yang butuh pertolongan, pasti aku tolong."
" Pulang yuk? Udah malam, nanti dicariin ayahmu."
Bayu, Johan dan Ririn sudah menunggu mereka di gerbang pasar. Kelima remaja itu segera pulang karena malam semakin larut.
Sampai di depan rumah, Medina langsung turun dari motor Adam. Setelah mengucapkan terimakasih, dia segera masuk ke dalam rumah.
" Assalamu'alaikum," ucap Medina.
" Wa'alaikumsalam."
Bukan pak Hasan yang menjawab melainkan Rifky yang sedang menonton tv.
" Kak Rifky...! Kok ada disini?" pekik Medina.
" Sayang, kok jam segini baru pulang?" tanya Rifky.
" Hmm... Ayah mana?"
" Ada di kamar mandi, duduk dulu sini."
Rifky menarik lengan Medina untuk duduk di sampingnya. Rasa rindu di hatinya tak bisa tertahan lagi. Seandainya tak malu, Rifky pasti sudah memeluk gadis kesayangannya itu.
" Katanya pulang malam minggu?" tanya Medina.
" Iya sih, tapi kakak tidak bisa menahan rindu lebih lama lagi." jawab Rifky sambil tersenyum.
" Kenapa nggak jemput Dina di tempat pengajian?"
__ADS_1
" Maaf, sayang. Tadi sampai sini udah hampir maghrib, tante Mita nyuruh kakak berbuka puasa di rumah terus tarawih ke Mushola."
Tak lama pak Hasan keluar dari kamar mandi dan ikut bergabung dengan Rifky dan Medina.
" Kok baru pulang, Din?"
" Tadi membersihkan tempat acara dulu daripada besok berantakan."
" Memangnya lengan kamu udah sembuh?" tanya Rifky.
" Sudah, cuma luka sedikit aja kok." jawab Medina.
" Ya udah, mandi dulu sana terus istirahat." kata Rifky.
" Kakak mau kemana?"
" Pulang, sudah malam. Paman juga pasti pengen istirahat."
" Temenin Dina makan dulu," rengek Medina.
" Rifky itu lelah, Dina. Biarkan dia pulang sekarang." kata pak Hasan.
" Ya udah, pulang sana!" ketus Medina.
Medina langsung beranjak meninggalkan Rifky dan ayahnya dengan muka datar. Rifky dan pak Hasan sangat heran dengan perubahan sikap Medina yang sensitif dan manja.
" Dina, kok marah sih? Ya udah, kakak temani kamu makan baru pulang." bujuk Rifky.
" Tidak usah! Dina mau tidur saja."
Medina masuk ke dalam kamar lalu menguncinya. Rasa laparnya sudah berganti dengan rasa kesal.
" Astaghfirullah, kamu yang sabar ya Rif untuk menghadapi tingkah Medina." ujar pak Hasan.
" Tidak apa - apa, paman. Medina hanya sedang lelah saja, besok juga pasti baik lagi." ucap Rifky.
¤ ¤ ¤
" Assalamu'alaikum, paman." ucap Rifky.
" Wa'alaikumsalam... dari mana, Rifky?" sahut pak Hasan.
" Dari rumah, paman. Medina kok tidak kelihatan?"
" Ada di kamarnya, mungkin lelah dengan kegiatan kemarin."
" Mungkin masih marah soal semalam, paman. Nanti biar Rifky yang membujuknya sekalian mau jalan - jalan ke perkebunan. Boleh Rifky menemui Medina, paman?"
" Masuklah, tidak baik pagi - pagi berdiam diri di kamar. Suruh dia keluar, tadi paman sudah bujuk tapi dia diam saja."
" Iya, paman."
Rifky masuk ke dalam rumah sambil membawa paperbag yang berisi oleh - oleh yang ia beli di Jepang. Semoga gadis kesayangannya itu bisa luluh dengan hadiah yang ia bawa.
" Sayang, ini kakak. Buka pintunya, ada sesuatu yang ingin kakak berikan padamu." ucap Rifky sembari mengetuk pintu kamar kekasihnya.
" Apa sih, kak? Dina pengen tidur lagi." sungut Medina sambil bersandar di pintu.
" Sayang, jalan - jalan yuk? Mumpung masih pagi, udara juga masih segar."
" Lain kali saja, aku mau tidur."
" Mau diajak secara baik - baik atau digendong?"
" Kakaaakkk...!"
__ADS_1
" Hmmm... ini ada sesuatu buat kamu dan teman - temanmu yang lain."
Rifky memberikan paperbag di tangannya kepada kekasihnya. Setelah itu, ia mengambil kotak kecil berwarna biru dari saku jaketnya.
" Yang ini khusus buat kekasihku, calon istri kesayanganku." ucap Rifky.
" Apa ini...?"
" Buka aja, sayangku."
Medina segera membuka kotak kecil itu secara perlahan. Saat kotak itu sudah terbuka, Medina kaget melihat isi di dalamnya. Dia terdiam sesaat seraya menatap lekat hadiah itu.
" Kak, ini buat Dina?"
" Iya, sayangku. Itu buat kamu, kakak harap kamu menyukainya."
Dina mengambil perhiasan berupa kalung itu dari dalam kotak kecil itu. Mengamatinya sekilas lalu kembali memasukkan benda itu pada tempatnya.
" Maaf, kak. Dina tidak bisa menerima ini." lirih Medina.
" Apaa...? Kau menolak hadiah dari kakak? Kamu hanya bercanda, kan?"
" Kak, hadiah ini pasti harganya sangat mahal. Dina tidak mau dianggap sebagai orang yang hanya memanfaatkan harta dan kekayaan yang kakak miliki."
" Tidak, sayang. Kakak ikhlas memberikan itu padamu."
" Tapi Dina tidak bisa menerimanya, kak. Maaf, ya?"
" Ya udah, kalau begitu buang saja." ucap Rifky kecewa.
Rifky berjalan menjauh dari kamar Medina kemudian keluar dari rumah itu. Medina masih bisa mendengar suara Rifky yang berpamitan pada ayahnya.
" Apa aku salah menolak hadiah darinya? Tapi perhiasan ini pasti sangat mahal, aku tidak mau dianggap matre jika menerimanya. Apa yang harus kulakukan sekarang? Tidak mungkin aku membuang perhiasan ini."
Medina bergegas menyusul Rifky yang mungkin sudah kembali ke rumahnya. Diluar masih ada ayahnya yang sedang menyapu halaman.
" Ayah, kak Rifky sudah pergi?" tanya Medina.
" Sudah, memangnya kenapa?" sahut pak Hasan.
" Tidak apa - apa, Dina cari kak Rifky dulu ya? Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam."
Medina berlari mencari Rifky di jalan. Dia bertanya pada sopir pak Jamal namun Rifky ternyata tidak pulang. Medina kembali berjalan pulang karena Rifky tidak ada.
" Ayaahhh... kak Rifky tidak ada di rumah." keluh Medina.
" Cari saja ke perkebunan." ujar pak Hasan.
" Memangnya kak Rifky ke perkebunan?"
" Tadi bilangnya mau ajak kamu ke perkebunan."
" Ya sudah, Dina susul kak Rifky dulu."
Medina bergegas berlari menyusul Rifky ke perkebunan. Tak lupa ia membawa hadiah yang tadi diberikan kekasihnya itu.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.