
Usai makan malam dengan sangat romantis, Rifky mengajak Medina untuk menikmati pemandangan kota dari atas ketinggian itu. Mereka berdiri di sisi depan gedung seraya melihat jalanan di bawahnya.
" Kak, disini indah sekali pemandangannya. Di Apartemen kakak tidak seindah ini." ucap Medina.
" Tapi kamu senang nggak menginap disana?" tanya Rifky.
" Nggak tahu, waktu itu mana sempat mikirin kayak gituan. Dina lebih mengkhawatirkan mama Kamila sama Seno."
" Terimakasih ya, kamu sudah menolong mama waktu itu. Seharusnya kakak yang menyelamatkan mama."
" Udah ah, jangan ngomongin itu lagi. Dina tidak mau memikirkan itu lagi."
" Iya, calon istriku yang cantik."
Rifky menarik tubuh Medina ke dalam pelukannya. Ingin rasanya ia menghentikan waktu agar bisa terus memeluk kekasihnya semakin erat.
" Kak..."
" Hmmm..."
" Ih... kok jawabnya gitu sih!"
" Apa sayangku...?"
" Memangnya kita akan menikah dalam waktu dekat ini?"
" Kenapa bertanya seperti itu? Bukankah lebih cepat lebih baik? Apa masih ada yang mengganjal di hatimu untuk menjalani biduk rumah tangga denganku?"
Medina mengurai pelukannya dan menatap lekat kedua mata kekasihnya. Ada keraguan dalam hatinya untuk mengungkapkan segala kegundahan dalam hatinya.
" Katakanlah... mulai malam ini tidak boleh ada rahasia apapun di antara kita." kata Rifky lembut.
" Mmm... Dina hanya ragu apakah ayah merestui kita. Soalnya ayah ingin aku bisa berpendidikan tinggi. Ayah pasti tidak akan mengijinkan kita menikah sebelum aku lulus kuliah nanti."
Rifky kembali mengeluarkan cincin dari dalam saku jasnya kemudian menyematkannya di jari manis Medina kemudian mengecup tangan itu dengan lembut.
" Ayah sudah merestui hubungan kita, sayang."
" Maksud, kakak?"
Rifky kembali memeluk Medina dari belakang lalu menyandarkan dagunya di pundak kekasihnya itu.
" Kakak tidak mungkin berani menyematkan cincin di jarimu jika belum ada restu dari ayahmu."
" Iya, tapi yang Dina mau bukan seperti itu."
" Kamu mau mengadakan pesta pertunangan yang mewah?"
" Tidak, Dina hanya ingin kakak datang bersama orangtua kakak untuk melamar secara resmi."
" Oh itu... kan udah sayang?"
" Sudah...? Kapan?"
" Waktu malam takbir, kamu ingat keluargaku berkumpul di rumahmu?"
" Iya, tapi mereka cuma silaturahmi aja, kan?"
" Mmm... sebenarnya waktu itu papa melamar kamu untukku sayang, tapi karena tidak ingin memecah konsentrasimu yang sebentar lagi ujian, makanya tidak ada yang memberitahu soal lamaran itu pada kita."
" What...? Jadi... ternyata sudah resmi dilamar?" pekik Medina kaget.
__ADS_1
" Iya, Calisku yang cantik."
" Kakak sudah tahu semua ini dan tidak memberi tahu padaku?" sungut Medina.
Rifky mengecup kedua pipi Medina dengan lembut. Kekasihnya itu sangat menggemaskan jika sedang merajuk.
" Kakak juga baru tahu kemarin, sayang."
" Bohong...! Pasti kakak sudah tahu dari dulu."
" Hhh... Kakak harus gimana biar kamu percaya?"
Medina mengurai pelukan Rifky lalu berjalan sedikit menjauh untuk menetralkan jantungnya karena masih shock dengan kenyataan bahwa dirinya ternyata sudah resmi dilamar.
" Sayang... jangan marah dong? Please... kakak juga tidak tahu soal lamaran ini." bujuk Rifky.
" Sudahlah... semua juga udah terjadi, orangtua kita sudah merestui." ucap Medina pasrah.
Walaupun Medina sangat mencintai Rifky, namun jika harus menikah secepat itu rasanya ia belum siap. Bagaimanapun juga, dirinya masih sangat muda dan masih ingin menggapai cita - citanya yang belum tercapai. Jika harus menikah sekarang, itu artinya ia harus mengubur cita - citanya yang ia mimpikan dari kecil.
" Jika kamu keberatan dengan pernikahan ini, kakak tidak akan memaksa. Kamu berhak bahagia dengan pilihan hidupmu sendiri." ucap Rifky lirih.
" Maaf... Dina hanya kaget saja dengan keputusan yang dibuat ayah tanpa bicara dulu denganku. Besok Dina akan pulang dan bicara langsung dengan ayah."
" Besok...? Secepat itu kamu mau pulang?"
" Besok hari libur, Kak. Kalau senin pasti kakak sibuk kerja dan tidak bisa mengantar Medina."
" Mau meninggalkan kakak, ya?"
" Kak... bukan begitu, Dina hanya ingin bertemu dengan ayah."
" Kamu benar - benar tidak mau menikah dengan kakak?"
Rifky membelai lembut pipi Medina yang sempat basah karena airmatanya. Setelah itu, ia merengkuh gadis itu ke dalam dekapannya.
" Harus menunggu sampai kapan hingga kamu siap hidup bersamaku?"
" Memangnya kapan rencana kita akan menikah, kak?" Medina mendongakkan wajahnya menatap Rifky.
" Jangan menatapku seperti itu!" lirih Rifky.
" Kenapa...?" tanya Medina heran.
" Aku bisa saja khilaf dan mencium bibir mungilmu ini." ucap Rifky sendu.
" Ish... kakak mesum!"
Medina mendorong tubuh Rifky hingga mundur beberapa langkah. Raut wajahnya terlihat kesal dengan senyum jahil kekasihnya itu.
" Hahahaaa... kakak cuma bercanda, sayang. Sini, jangan jauh - jauh dari kakak."
Rifky kembali memeluk kekasihnya. Sudah belasan tahun berpisah, hari ini dirinya ingin menghabiskan waktu bersama hanya berdua saja.
" Orangtua kita sudah menentukan hari pernikahan kita, sayang." ucap Rifky seraya mengusap lembut puncak kepala Medina.
" Kapan, kak?"
" Nanti setelah kamu wisuda kelulusan, sayang."
" Tapi... setelah menikah nanti Dina masih boleh kuliah, kan?"
__ADS_1
" Tentu saja, sayangku... apapun keinginanmu pasti ku kabulkan."
" Tapi aku belum bilang sama teman - temanku soal pernikahan kita."
" Nanti saat pulang dari sini, kita bicarakan pada mereka."
" Tapi Dina malu, kak."
" Malu kenapa...? Apa wajahku ini jelek sampai kamu malu punya calon suami sepertiku?"
Medina tersenyum melihat raut wajah kesal Rifky yang terlihat sangat menggemaskan jika dilihat. Bohong jika Medina mengatakan Rifky jelek. Pria itu sangatlah tampan dan bisa membuat kaum hawa terpikat hanya dengan senyumannya saja.
" Siapa yang bilang calon suamiku jelek, akan kubunuh mereka yang berani mengatakan calon suamiku jelek!"
Medina mempererat pelukan mereka apalagi malam semakin larut membuat tubuh mereka kedinginan. Medina yang hanya memakai dress lengan pendek itu merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang.
" Dingin ya, sayang?" tanya Rifky.
" Iya, Kak. Dingin banget disini, pulang yuk?"
" Tidak menginap disini saja, sayang?"
" Disini? Diatap gedung ini?"
" Enggaklah, cintaku. Di ruang kerjaku itu ada kamar pribadi. Jadi kita bisa tidur disana berdua."
" Ish... siapa juga yang mau tidur berdua dengan kakak!"
" Kenapa sih? Udah lama loh kita nggak ketemu, memangnya nggak kangen pelukan hangat seperti ini?" goda Rifky.
" Jangan ngaco! Ayo pulang, ini udah sangat larut." sungut Medina.
" Buat apa pulang? Malam ini kita akan menginap disini, besok ada tempat yang harus kita kunjungi dekat sini."
" Kakaakkk... nanti kalau papa dan mama nyariin gimana?"
" Huft... kita ini bukan anak kecil lagi, sayangku. Nanti kakak akan minta ijin sama mama untuk menginap disini."
" Tapi, Kak... kita beneran cuma berdua disini?"
" Tidak, sayang. Ada Nicko juga dibawah, dia juga akan menginap disini."
Puas menikmati malam bersama di atap gedung, Rifky mengajak Medina turun ke ruangannya. Disana sudah ada Nicko yang sedang serius berkutat dengan laptopnya.
Rifky mengantar Medina ke kamar pribadinya untuk beristirahat. Bukan tanpa alasan Rifky mengajak Medina untuk menginap. Pekerjaannya yang sangat menumpuk mengharuskannya untuk lembur malam ini. Jika harus pulang terlebih dahulu, waktunya hanya akan habis di perjalanan dan tenaganya juga pasti akan terkuras habis.
" Istirahat ya, sayang... kakak akan tidur diluar." ucap Rifky seraya mencium kening Medina dengan lembut.
" Hmm... tapi kakak tidak akan meninggalkan aku, kan?"
" Tidak, sayang. Jangan berpikir yang tidak - tidak, cepat tidur biar besok bisa bangun pagi."
" Kakak tidak tidur disini...?"
" Apaaa...?"
.
.
TBC
__ADS_1
.
.