
" Seno... mau kemana kamu?" tanya Rifky.
" Biasa, kak... acara tahunan sama kak Mey juga." jawab Seno.
" Acara tahunan apa?"
Medina seakan tak bisa bergerak saat semua mata tertuju padanya. Dia merutuki Seno karena telah menyeret dirinya walaupun hanya dalam hati.
" Dina...?" seru mereka bersamaan.
Tak ingin bingung dengan berbagai pertanyaan dari mereka, Medina segera beranjak dengan cepat lalu menarik Seno keluar dari rumah. Gadis itu mengajak Seno berlari secepat mungkin menghindari omelan Rifky.
" Dinaaa...! Mau kemana kamu?" Rifky berusaha mengejar namun dicegah oleh pak Hasan.
" Rifky... biarkan saja mereka pergi. Mereka hanya bermain di tanah lapang dekat mushola." kata pak Hasan.
" Paman sudah tahu?"
" Iya, setiap tahun memang mereka berkumpul menyalakan kembang api disana. Sekarang pasti sudah ramai anak - anak di tempat itu."
" Kenapa Dina nggak bilang tadi?"
Pak Hasan tersenyum kecil melihat reaksi Rifky yang nampak marah. Sepertinya pria muda itu sangat menyayangi putri kecilnya.
" Tidak usah cemas, disana ramai. Adam dan yang lainnya juga pasti ada disana."
" Rifky susul Dina aja, paman. Takutnya nanti dia buat ulah lagi."
" Ya sudah, sekalian bilang sama Dina untuk pulang cepat. Biasanya dia itu sampai larut malam."
" Iya, paman."
Rifky mengambil jaket ke dalam kamar diikuti Nicko. Sebagai asisten, Nicko harus selalu mendampingi kemanapun bossnya pergi.
" Boss, aku ikut ya? Bosan di rumah sendiri." pinta Nicko.
" Iya, kau boleh ikut." sahut Rifky.
Mereka berdua segera keluar rumah setelah berpamitan. Rifky berjalan sedikit cepat karena ingin bertemu dengan kekasihnya yang brutal itu.
" Boss, pelan - pelan saja jalannya." keluh Nicko.
" Cepetan...! Lambat kayak siput." sahut Rifky.
Dari kejauhan saja sudah terdengar suara kembang api yang meledak di udara. Rifky semakin mempercepat jalannya hingga Nicko harus sedikit berlari untuk mengimbangi langkah bossnya.
Sampai di tempat tujuan, Rifky langsung mencari keberadaan Medina dan Seno. Dia sudah berputar - putar kesana - kemari namun tak menemukan dua sosok yang membuatnya kesal itu.
" Boss, mereka berdua tidak ada di sebelah sana." kata Nicko.
" Disini juga tidak ada, kemana mereka?" keluh Rifky.
Saat sedang berkeliling mencari Medina, Rifky dikejutkan oleh teriakan seseorang dari belakang.
" Kak Rifky...!"
Rifky menoleh kearah sumber suara dan melihat Bayu sedang bersama teman - temannya.
" Bay... Dina mana?" tanya Rifky.
__ADS_1
" Loh...? Bukannya Mey sama kakak?" ucap Bayu.
" Iya, kak. Tadi aku kirim pesan pada Mey katanya lagi di rumah Seno." kata Adam.
" Tapi dia udah kesini duluan sama Seno tadi, masa' sih belum sampai?"
" Oppa, jadi si Mey ilang?" tanya Ririn.
" Tidak, kita harus mencarinya lagi." ucap Rifky panik.
Saat mereka hendak berpencar, tiba - tiba Medina dan Seno datang menghampiri.
" Hai... udah lama nunggu, ya?" sapa Medina sambil nyengir.
" Mey... kamu kemana aja sih? Kami semua bingung nyariin kamu." kata Johan.
" Sorry, Jo... tadi ambil jaket dulu di rumah."
Rifky langsung menarik lengan Medina dengan kuat sehingga gadis itu menabrak tubuh tegap yang kini menatapnya tajam.
" Apa kau senang membuatku panik?" lirih Rifky namun penuh tekanan.
" Kak, aku_..." ucap Medina kaget.
" Aku dan Nicko mencarimu dari tadi tapi kamu malah menghilang!"
" Maaf, kak. Tadi Dina pulang dulu sebentar."
" Sayang... jangan seperti ini lagi."
" Iya, Dina pikir kakak tidak akan ikut."
" Kak Dina... ayo cepat nyalain." seru Seno.
" Korek api bawa, kan?" tanya Medina.
" Waduuhhh... Seno lupa beli tadi, kak Nicko biasanya bawa." sahut Seno.
Nicko yang memang suka merokok sudah pasti kemana - mana bawa korek api. Walaupun hanya di saat - saat tertentu saja Nicko melakukannya, tapi selalu tersedia di kantong bajunya.
" Nih... jangan sampai hilang." Nicko melempar korek api ke arah Seno.
Medina ingin segera mengambil kembang api di samping Seno, namun pinggangnya di peluk dengan erat oleh Rifky. Pria itu rupanya masih belum mau melepaskan gadisnya.
" Kak... Lepasin aku," rengek Medina.
" Setelah membuatku panik sekarang mau pergi lagi?" ketus Rifky.
" Kakak tampanku tersayang... Dina cuma pengen main kembang api bukannya pergi."
" Hhh... baiklah, aku harap kamu tidak melupakanku."
" Kok gitu sih ngomongnya? Ya udah kalau nggak boleh ikutan main, Dina diem aja disini." sungut Medina.
" Hei... bukannya nggak boleh. Kamu cuma nggak boleh jauh - jauh dari kakak." ujar Rifky.
Medina mengalihkan pandangannya ke tempat yang jauh ketika Rifky melepaskan pelukannya. Wajahnya nampak ditekuk sambil memanyunkan bibirnya.
" Jangan marah, kakak minta maaf. Ya udah, kita main bareng ya?" bujuk Rifky.
__ADS_1
Medina berjalan ke pinggir lapangan lalu duduk di atas rerumputan. Sepertinya suasana hatinya kembali buruk dengan tingkah posesif Rifky.
" Sayang... kok jadi marah, sih? Jangan seperti ini, kakak merasa sangat bersalah kalau kamu marah."
" Dina mau pulang saja, jangan mengikutiku...!"
" Ya Allah, kenapa kekasihku sangat labil begini?" batin Rifky.
Rifky merangkul bahu Medina dengan erat karena gadis itu berusaha memberontak.
" Maaf, Calis sayang... jangan ngambek lagi ya? Kita main kembang api bareng yuk?" bujuk Rifky.
" Aku maunya sama temen - temenku, bukan kakak!" ketus Medina.
" Oke... silahkan saja, malam ini akan aku kabulkan semua permintaanmu."
" Janji...?"
" Iya, sayang... pergilah, kakak akan menunggu disini. Selamat bersenang - senang calon istriku yang cantik."
Medina segera beranjak dan menghampiri Seno yang sedang menyalakan kembang api bersama Nicko. Medina meminta kembang api untuk dinyalakan. Karena Seno memiliki kembang api sangat banyak, ia membagikannya kepada teman - temannya yang lain.
Malam ini suasana kampung terlihat sangat ramai dan meriah. Mereka penuh suka cita menyambut hari lebaran. Anak - anak berkumpul di mushola, ada juga yang bermain kembang api seperti Medina dan teman - temannya.
" Kakak... pegangin kembang apinya," rengek Medina pada Rifky.
" Hmm... sayang, udah malam kita pulang ya?" sahut Rifky lembut tak ingin kekasihnya marah lagi.
" Kok pulang sih?"
" Sayang... tadi paman berpesan supaya kamu tidak pulang terlalu malam."
" Sebentar lagi ya? Please...?"
" Hhh... ya sudah, tapi sebentar saja."
" Iya... ayo main lagi."
Rifky menuruti permintaan Medina yang sebenarnya sangat asing bagi dirinya. Rifky tidak pernah bermain - main seperti ini bahkan dari kecil dulu. Dia menatap ke sekeliling dan melihat banyak anak - anak yang bercanda dan tertawa lepas tanpa beban sedikitpun.
Dari tempatnya berdiri, Rifky melihat Nicko yang tengah bermain dengan anak - anak kecil. Senyumnya kembali terkembang melihat sahabatnya begitu bahagia malam ini. Tidak seperti tahun - tahun sebelumnya, Rifky dan Nicko hanya menghabiskan waktu tiduran di Apartemen.
" Kakak... kenapa melamun sih?" tanya Medina membuyarkan pikiran Rifky.
" Eh... tidak, sayang. Sudah puas belum mainnya? Udah malam nih, nanti paman nyariin." ucap Rifky.
" Hmm... ya udah kita pulang. Tapi kak Nicko masih main sama Seno?"
" Tidak apa - apa, kita pulang duluan."
Setelah berpamitan pada yang lain, Rifky langsung mengantar Medina pulang ke rumahnya.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.