
Sampai di dalam kamar, Medina langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang sangat nyaman. Tubuhnya seakan remuk karena terlalu lama berdiri seharian ini.
" Sayang, mandi yuk?" ajak Rifky.
" Kakak duluan aja, Dina capek." sahut Dina malas.
Rifky ikut berbaring di samping istrinya lalu memeluknya dengan erat. Rasa hangat dalam hati menyelimuti kedua insan yang tengah bahagia itu.
" Mandi dulu, ganti bajunya biar nggak gerah." ujar Rifky lembut.
" Memangnya ada baju gantinya, Kak?"
" Ada, sayang. Mama udah siapin semua perlengkapan kita selama menginap disini."
" Memangnya kita menginap lama disini?"
" Tiga hari mungkin, sampai teman - temanmu itu pergi dari Apartemen."
" Apa kita akan tinggal disana nanti?"
" Iya, untuk sementara waktu. Mungkin beberapa bulan ke depan, aku ingin menikmati hari - hari berdua denganmu sebelum ada malaikat kecil yang bersemayam disini." Rifky mengusap lembut perut Medina yang rata.
" Apa harus secepat itu?" lirih Medina.
Medina menatap lekat wajah suaminya dengan jarak yang sangat dekat. Bukannya Medina tidak ingin punya anak, hanya saja ia merasa belum siap menjadi seorang ibu di usia muda. Medina takut tidak akan bisa mendidik dan memberikan kasih sayang yang cukup.
" Kenapa...? Aku tahu apa yang kamu fikirkan. Kita sudah menikah, jadi... ikuti saja alur yang digariskan Sang Pencipta. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, jika Dia sudah berkehendak."
Medina tersenyum tipis lalu mendongakkan wajahnya sehingga bibirnya mengecup lembut pipi suaminya.
" Tolong bantuin lepas bajunya, Dina gerah." bisik Medina.
" Dengan senang hati, sayang."
Rifky melepas jas yang dipakainya lalu menarik istrinya untuk bangun dari tempat tidur. Setelah membantu melepas aksesoris yang melekat di rambut, Rifky segera melepas pengait gaun yang ada di punggung Medina.
" Mama cari gaun ribet banget sih, memangnya kalau sendirian bisa melepasnya." gerutu Rifky.
" Jangan mengomel begitu, bibirnya udak kayak bebek." tegur Medina.
" Benarkah? Memangnya pernah dicium bebek?"
Rifky merangkul tubuh istrinya hingga tak berjarak lagi. Pandangan matanya mengarah pada bibir ranum istrinya yang sangat menggoda. Dengan cukup pelan, pria yang sudah berstatus seorang suami itu mendaratkan ciuman di kening, turun ke hidung lalu berlabuh cukup lama di bibir sang istri.
" Hah... kelamaan! Dina nggak bisa nafas." sungut Medina kesal karena Rifky tak melepaskan ciumannya walau sang istri sudah meronta sejak tadi.
" Manis sekali... and... I like it." bisik Rifky.
Medina mendorong dada suaminya hingga pelukannya terlepas. Wajahnya yang merona membuat Rifky semakin gencar menggodanya.
__ADS_1
" Sayang, mandi bareng yuk biar cepat."
" Nggak...! Minggir sana!"
Rifky semakin tersenyum lebar dan membiarkan Medina masuk ke dalam kamar mandi. Dia segera membuka koper untuk menyiapkan pakaian istrinya dan dirinya sendiri.
.
.
Pagi hari setelah sholat shubuh, Rifky kembali menarik selimut dan tidur di sofa seperti semalam. Dia masih kesal dengan sang istri yang menggodanya semalaman. Rifky yang sudah sangat siap untuk melakukan ritual malam pertama malah gagal karena istrinya yang tidak memberitahu sejak awal jika sedang datang bulan. Akhirnya di sofa yang sempit itulah Rifky menghindari godaan Medina yang selalu mencuri ciuman di pipi dan lehernya saat akan tidur di ranjang.
" Kak... udah pagi, Dina lapar." rengek Medina.
" Pesan saja pada layanan hotel atau delivery diluar." sahut Rifky sembari memeluk erat gulingnya.
" Dina pengen sarapan diluar."
" Sayang... ini baru jam enam. Kakak masih mengantuk semalaman nggak bisa tidur!" tolak Rifky dengan suara yang sedikit meninggi.
Mendapat tolakan dari suaminya, Medina langsung berjalan menjauh. Dia berinisiatif untuk keluar sendirian karena tak ingin menjadi pengganggu istirahat sang suami. Hanya berbekal uang seratus ribu tanpa membawa ponselnya, Medina berjalan meninggalkan hotel sambil menahan airmatanya. Entah mengapa ia merasa sakit hati dengan bentakan kecil suaminya.
Medina terus berjalan di sepanjang jalan tak tentu arah. Dia hanya menuruti kemana kakinya melangkah. Hari semakin terik entah jam berapa sekarang. Medina cukup lama berjalan hingga kakinya terasa pegal.
" Aku dimana ini? Apa aku sudah berjalan terlalu jauh?" gumam Medina.
" Kak Rifky udah makan belum ya...?" gumam Medina.
Saat Dina melihat ada orang yang lewat di depannya ia bertanya soal jam saat ini. Saat orang itu menjawab jam sembilan, Medina sangat terkejut.
" Astaghfirullah... sudah tiga jam aku meninggalkan hotel." gumam Medina.
Sementara di dalam kamar hotel, Rifky yang baru bangun setengah jam yang lalu sudah mandi dan berpakaian rapi. Dia baru menyadari kalau tak ada Medina di dalam kamarnya.
" Sayang... kamu dimana?" teriak Rifky.
Tak ada sahutan, Rifky membuka pintu balkon namun istrinya tak ada juga. Rifky mencoba menghubunginya lewat ponsel, namun ponsel Medina berdering di atas nakas.
" Ya Allah... kamu pergi kemana lagi?" ucap Rifky frustasi.
Rifky keluar dari kamar dan mencari di seluruh lorong hotel. Saat berpapasan dengan beberapa pegawai, Rifky bertanya pada mereka.
" Tuan, sebaiknya Anda ke ruang keamanan saja. Disana pasti ada rekaman cctv saat istri Anda keluar dari kamar karena setiap lorong ada beberapa cctv yang terpasang."
" Kau benar, kenapa aku bisa lupa."
Rifky segera pergi ke ruang keamanan yang berada di lantai dasar. Ditemani beberapa security, Rifky memeriksa semua rekaman cctv.
" Tuan... kira - kira jam berapa istri Anda keluar dari kamar?"
__ADS_1
" Mana kutahu! Cepat cari lagi."
" Rekaman dari jam tujuh pagi sampai sekarang tidak ada tanda - tanda Nyonya keluar dari kamar, Tuan."
Setelah seperempat jam memeriksa, ternyata tak ada rekaman yang mdnampilkan wajah istri pewaris hotel tersebut.
" Coba kau cari mulai dari jam lima sampai jam tujuh! Dalam sepuluh menit kau harus mendapatkannya." perintah Rifky.
Rifky duduk di sofa sudut ruangan sambil mencari kontak seseorang yang mungkin bisa membantunya. Yang saat ini terbersit dalam pikirannya hanyalah Nicko.
Rifky : " Nick, kau dimana...?"
Nicko : " Di Apartemenku, Boss. Ada apa menelfon sepagi ini?"
Rifky : " Medina tidak ada di kamar, Nick. Aku sudah mencarinya di seluruh hotel tapi nggak ada."
Nicko : " Kok bisa? Pasti semalam kau main kasar sampai istrimu kabur."
Rifky : " Sialan kau! Cepat kau kesini, aku tunggu di ruang keamanan hotel."
Nicko : " Hans sama Jo diajak kesana juga?"
Rifky : " Mereka belum pergi?"
Nicko : " Belum, besok pagi baru pergi."
Rifky : " Baiklah, kalian cepat kesini!"
Setelah menutup panggilannya, Rifky melihat rekaman cctv yang ditemukan. Disana ada rekaman Medina keluar dari kamar pada pukul enam pagi.
" Cek cctv lobby dan pos jaga. Pasti istriku lewat sana."
" Ini, Tuan. Nyonya sepertinya keluar dari hotel dengan berjalan kaki."
" Kalian cari di sekitar hotel dan tempat - tempat yang terdekat dari sini."
" Baik, Tuan."
Rifky tidak menyangka istrinya bisa pergi tanpa pamit. Dia masih belum menyadari apa yang membuat istrinya itu keluar dari hotel.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1