
Pagi hari usai sholat shubuh, Medina beres - beres membersihkan rumah sebelum berangkat sekolah. Dia sibuk membersihkan dapur bekas masak sahur semalam.
" Assalamu'alaikum," ucap Rifky.
" Wa'alaikumsalam... kakak ngapain pagi - pagi kesini?" tanya Medina.
" Lagi puasa jangan ngambek terus, senyum dong sama calon suami."
" Kakak! Sudah berapa kali Dina minta kakak untuk tidak_..."
" Sssttt... nanti ayah mertua dengar." bisik Rifky.
Tak lama pak Hasan keluar dari kamar mandi dan melihat Rifky dan Medina yang sedang berdebat. Pak Hasan merasa heran dengan tingkah mereka berdua.
" Hemmm... pagi - pagi sudah ribut." kata pak Hasan.
" Eh, paman. Ini... Rifky mau antar Medina ke sekolah." ucap Rifky.
" Ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah." sahut pak Hasan.
" Kak Rifky mau minta sarapan, Yah."celetuk Medina.
" Sayang, kok gitu sih? Bukan minta sarapan, paman. Rifky mau minta ijin untuk melamar Dina." sahut Rifky sambil tertawa.
" Kakaakkk...!" teriak Medina kesal.
" Hhh... nggak baik pagi - pagi ribut." tegur pak Hasan.
" Maaf, paman. Rifky cuma bercanda, habisnya Rifky nggak ada kegiatan hari ini jadi gangguin Dina aja." ucap Rifky.
" Hmm... kalian ini ada - ada saja."
Pak Hasan masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian, sedangkan Medina langsung masuk ke dalam kamar mandi. Rifky duduk di depan tv menunggu Medina selesai bersiap - siap.
" Rifky, paman berangkat duluan. Tolong jaga Medina, akhir - akhir ini dia sering berkelahi dengan preman." kata pak Hasan.
" Insya Allah, paman. Walaupun Rifky yakin Dina bisa menjaga dirinya sendiri, tapi Rifky akan selalu menemani Dina meski tidak setiap hari."
" Ya sudah, kalian hati - hati di jalan. Paman berangkat dulu, assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam."
Tak lama Medina keluar dari kamar mandi dan mendapati Rifky duduk sendirian di depan tv sambil memainkan ponselnya.
" Kak, ayah udah berangkat?" tanya Medina.
" Barusan berangkat, sayang. Udah kamu ganti seragam terus berangkat sekolah." jawab Rifky.
" Tapi ini masih kepagian, kak. Ayah ngapain ya pergi sepagi ini, kan sekolahnya deket."
" Mungkin ada urusan lain sebelum ke sekolah,"
" Ayah tidak cerita apa - apa tadi."
" Ya udah, kakak tunggu di depan ya? Mau ambil laptop di mobil."
" Ok... silahkan Tuan Rifky Mahendra,"
Rifky hanya tersenyum lalu keluar dari dalam rumah. Untung saja sedang puasa, kalau tidak... sudah pasti Rifky akan mengejarnya sampai ke dalam kamar. Rifky duduk di teras sambil memeriksa pekerjaannya. Banyak email yang dikirimkan Nicko yang harus segera diperiksa oleh Rifky dan juga dia tanda tangani.
" Assalamu'alaikum, kak." sapa Adam.
" Wa'alaikumsalam, udah mau berangkat?" balas Rifky.
__ADS_1
" Sebentar lagi, kak. Bayu dan Medina juga belum keluar dari sarangnya."
" Kamu kira tikus, keluar dari sarang."
" Hehehee... mirip kayaknya."
" Oh iya, besok saya harus ke kota. Kamu jaga Medina disini dan juga keluarga Om Jamal. Saya akan mencari dalang dari penyerangan semalam."
" Kak Rifky sama Medina di serang semalam? Kenapa tidak hubungi aku atau Bayu? Aku saja kalau terdesak selalu minta bantuan Mey."
" Bukannya tidak mau, tapi kalian pasti sudah bersiap untuk berangkat sholat tarawih."
" Kak, jika urusannya dengan nyawa kami akan datang walaupun tengah malam sekalipun."
" Sudah, yang penting sekarang kau jaga Medina. Suruh bang Jefri untuk menjaga Om Jamal saat berada di perkebunan."
" Baik, kak. Nanti Adam hubungi bang Jefri."
Tak lama Medina keluar dari dalam rumah. Dia langsung duduk di samping Rifky.
" Kakak lagi sibuk ya? Dina berangkat sama Adam saja ya?"
" Tidak, biar hari ini kakak yang antar jemput. Besok boleh sama Adam, kakak akan pergi ke kota."
" Hhh... bukannya kakak sedang sibuk?!"
" Tidak, sayang. Buat kamu apapun kakak lakukan."
" Kalian pacaran ya?" tanya Adam tiba - tiba.
Medina dan Rifky saling berpandangan lalu tersenyum pada Adam.
" Kepo...!" jawab keduanya serentak.
" Ihh... kalian memang menyebalkan!" ketus Adam.
¤ ¤ ¤
" Kak, Dina masuk dulu ya? Terimakasih sudah mengantarku." ucap Medina.
" Seandainya bisa, kakak ingin melakukan ini setiap hari. Kakak harus menjaga calon istri yang cantik ini supaya tidak terluka." balas Rifky.
" Ish... ngomong doang!" cibir Medina.
" Apa perlu kakak lamar sekarang sebagai bukti keseriusan padamu?"
" Udah ah, Dina mau masuk dulu."
" Kenapa menghindar kalau kakak lagi serius bahas hubungan kita? Apa kamu belum bisa menerima cinta kakak?"
" Bukan begitu, kak. Dina_..."
" Sudahlah, masuk sana nanti terlambat." ucap Rifky datar.
" Kak, maafin Dina. Bukannya Dina tidak cinta sama kakak. Dina hanya belum siap kalau menikah muda."
Rifky tersenyum lalu mengacak pelan rambut Medina. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan dan membuat Rifky tak bisa melepas pandangannya dari wajah cantik itu.
" Kakak sayang sama kamu. Kakak hanya ingin menjaga kamu, memberikan seluruh cinta dan kasih sayang yang hanya bisa kakak berikan padamu. Jangan pikirkan soal pernikahan, kakak akan sabar menunggu sampai kamu siap."
" Kakak tidak akan meninggalkan Dina seperti dulu lagi, kan?"
" Tidak, Calisku yang cantik. Kakak selalu di hati kamu selamanya."
__ADS_1
" Terimakasih, kak. Jangan pernah menyerah untuk terus menjaga calon istrimu ini."
" Sayangku, kau adalah nyawa kakak. Bagaimana mungkin kakak menyerah. Kau sangat berharga untuk hidupku, tetaplah berada di sisiku selamanya walaupun akan banyak rintangan yang kita hadapi."
" I love you, kakak tampan." lirih Medina.
" I love you, too gadis kecilku..." balas Rifky.
¤ ¤ ¤
Medina duduk sambil merebahkan kepalanya di atas meja. Hari ini dia kelihatan sangat malas untuk bergerak. Adam dan yang lainnya berada di taman samping kelas karena sedang jam istirahat.
" Mey, tumben nggak bareng temen - temen kamu?" Dani duduk di depan Medina.
" Bukannya kamu juga temenku?" balas Medina datar.
" Hehehee... bener juga."
" Kenapa kamu nggak keluar? Ganggu orang tidur saja." gerutu Medina.
" Kau ini Mey... jadi perempuan itu harus jaga image dikit. Urakan begitu kayak preman pasar."
" Memangnya kenapa kalau preman pasar?"
" Mana ada cowok yang mau deketin kalau sikap kamu jutek begitu."
" Biarin aja, aku nggak peduli. Cinta itu tidak memandang fisik, tapi hatinya."
" Jujur, Mey... awalnya aku pindah kesini karena pengen balas dendam karena kamu sudah mukulin aku waktu itu. Tapi saat orangtuaku mencari gadis itu agar tutup mulut dan tidak melapor ke polisi, aku sadar bahwa akulah yang salah. Hanya karena taruhan dengan teman - temanku, aku melakukan hal bodoh itu. Kini aku bersyukur karena waktu itu kau datang di waktu yang tepat. Aku sudah menghancurkan gadis itu, Mey."
" Kuharap kau benar - benar menyesali perbuatanmu itu, Dan. Apa yang akan kau lakukan jika bertemu gadis itu?"
" Aku akan bertanggung jawab untuk seluruh hidupnya."
" Maksudnya?"
" Aku akan menikahinya suatu saat nanti, menjamin seluruh kebutuhannya. Ijinkan aku bertemu dengannya, Mey?"
" Sebenarnya aku juga tidak tahu sekarang gadis itu dimana, Dan. Sudah ada yang menanggung hidupnya dan juga keluarganya. Dia berada di tempat yang aman untuk menyembuhkan depresinya."
" Tapi kamu kenal dengan orang yang membawa gadis itu? Katakan padanya aku ingin bertemu walau cuma sekali."
" Tidak sekarang, Dan... maafkan aku."
" Tidak apa - apa, tapi bolehkah aku menitipkan sesuatu untuknya?"
" Apa...?"
Dani mengambil amplop dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Medina.
" Ini mungkin tidak seberapa, tapi ini adalah wujud tanggung jawabku. Anggap saja ini nafkah dariku untuknya, tolong jangan ditolak. Setelah lulus sekolah nanti, aku akan bekerja dan memberikan nafkah untuknya dari kerja kerasku sendiri."
" Baiklah, aku akan memberikannya nanti."
" Terimakasih, Mey."
Dani banyak bercerita tentang kehidupannya di masa lalu dan juga tentang keluarganya.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.