Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Refreshing


__ADS_3

Siang hari setelah semua beristirahat, kini mereka makan siang bersama. Untung ada ART yang menjaga Villa bersama penjaga juga.


" Kak, biar Shaka sama aku aja." pinta Medina.


" Tidak usah, biar Ayah yang suapi Shaka." tolak Rifky.


" Ayah kenapa sih, dari tadi Bunda nggak boleh ajak Shaka?"


" Jangan marah, Ayah hanya mau kamu menikmati liburan ini bersama teman - temanmu."


" Setiap hari nggak pernah jauh dari Shaka, rasanya aneh saja, Yah."


" Ayah sama Shaka tidak akan jauh dari Bunda."


Usai makan siang, Devan mengajak yang lainnya untuk berkeliling perkebunan yang tak jauh dari Villa. Sepertinya Devan sering ke tempat - tempat seperti ini sebelumnya.


" Dev, jaga mereka. Jangan sampai mereka pulang dalam keadaan terluka." pesan Rifky.


" Siap, Boss!" sahut Devan.


" Boss, aku ikut mereka boleh?" rengek Nicko.


" Kau bukan bocah lagi! Nih urus Shaka, aku masih banyak kerjaan."


Setelah rombongan Medina pergi, Rifky meletakkan putranya di pangkuan Nicko lalu beranjak ke kamar mengambil laptopnya untuk bekerja.


" Boss, harusnya hari ini ada meeting kenapa malah liburan?" tanya Nicko serius.


" Semalam aku udah bilang sama Papa untuk menggantikan pekerjaanku hari ini. Beliau tidak ada kesibukan hari ini."


" Tapi, Boss... Masa' aku tidak boleh ikut liburan?"


" Kau pilih Shaka atau laptop?"


" Huhhh... Ayo, Shaka. Kita main di kamar saja. Ayahmu galak sekali hari ini."


.


.


" Devan, kita mau kemana sih? Jangan cepet - cepet jalannya." rengek Clarissa.


" Bawel... Ikut aja jangan ngomel." sahut Devan.


" Dev, jangan begitu! Clarissa jarang jalan jauh." tegur Medina.


" Kamu sama Ririn dari tadi tidak mengeluh, Rissa aja yang manja." ujar Devan.


Clarissa hampir menangis karena dimarahi Devan. Gadis itu memang sudah terbiasa hidup mewah dan tidak pernah panas - panasan jalan kaki seperti ini.


" Ayo, naik!" titah Devan sambil jongkok di depan Clarissa.


" Hah...?" pekik Clarissa.


" Mau ditinggal apa digendong?" seru Devan datar.


Mendapat anggukan dari Ririn dan Medina, Clarissa langsung naik ke punggung Devan. Walaupun terlihat datar dan cuek, namun sebenarnya Devan sangat perhatian.


" Terima kasih, Dev." lirih Clarissa.


" Hm..."

__ADS_1


" Devan perhat_..." baru juga Ririn mau memuji Devan, Medina langsung membekap mulutnya.


" Apa sih, Mey?" bisik Ririn kesal.


" Jangan membuat Devan berubah pikiran dengan pujianmu!" lirih Medina.


Medina teringat pada saat mereka dulu di kampus. Devan yang tadinya ingin mengantar Medina pulang berakhir marah karena Medina ngajakin mampir ke supermarket untuk berbelanja. Devan meninggalkan Medina begitu saja karena kelamaan di dalam supermarket. Alhasil, Medina minta jemput suaminya.


" Devan, tempatnya masih jauh?" tanya Medina.


" Sebentar lagi, mau minta gendong juga?" ledek Devan.


" Ish... Aku masih kuat, ya!"


Sampai di tepi sungai, Devan menurunkan Clarissa dari gendongannya. Namun begitu, ia tak melepaskan genggaman tangannya agar Clarissa tidak terjatuh saat melewati bebatuan yang licin.


" Hati - hati, jangan lepaskan tanganmu!" seru Devan.


Clarissa hanya bisa pasrah dengan omelan Devan yang sebenarnya sangat mengkhawatirkannya. Dalam hati Clarissa bersorak gembira mendapat perhatian dari sahabatnya.


Mereka berempat duduk diatas batu besar sambil memasukkan kakinya ke dalam air sambil bercerita entah masalah kuliah maupun pribadi.


" Rin, kamu pacaran ya sama kak Nicko?" tanya Medina.


" Tidak, dia tuh nyebelin banget. Tahu kalau dia ikut, mending tadi kerja aja." sahut Ririn datar.


" Padahal kalian itu cocok banget loh, kak Nicko itu baik dan perhatian."


" Please, Mey! Jangan punya pikiran untuk menjodohkan aku sama dia."


" Aku nggak akan melakukan itu, Rin. Semua keputusan ada di tanganmu, kamu harus bahagia dengan pilihan hatimu sendiri."


Sementara Medina dan Ririn sedang membicarakan masalah hati, Clarissa dan Devan duduk di sisi lain dengan Clarissa yang harus memijit punggung Devan.


" Hmm..." Devan merubah posisi duduknya jadi telungkup.


" Masya Allah, kalian itu udah kayak di pantai." ledek Medina.


" Tahu nih, bukannya liburan malah jadi tukang pijat." gerutu Clarissa.


" Jangan ngedumel, terusin pijatnya." perintah Devan.


Mereka berempat berbaring terlentang sambil bercerita. Ada keceriaan di wajah mereka menikmati pemandangan alam yang masih asri. Walaupun matahari sangat terik, namun mereka merasakan sejuk dari banyaknya pepohonan.


.


.


" Boss, si bocil udah tidur. Nyusul Medina, yuk?" ajak Nicko sedikit menghiba.


" Males, pergi sendiri saja sana." sahut Rifky.


" Kamu tidak khawatir istrimu jalan dengan cowok lain?"


" Hahahaa... Nggak usah memutar balikkan fakta. Kau cemburu lihat Ririn akrab sama Devan?" ledek Rifky.


" Apa dia benar - benar tidak menyukaiku, Ky?" ucap Nicko sendu.


Rifky menatap wajah Nicko yang tampak kusut. Sepertinya sahabatnya itu benar - benar telah jatuh cinta dengan sahabat istrinya.


" Berusahalah, jangan patah semangat sebelum mencoba. Luluhkan hatinya, sekarang bukan saatnya kamu mencari pacar, tapi pendamping hidup yang akan menemanimu untuk selamanya."

__ADS_1


Rifky menutup laptop dan merapikan semua berkasnya lalu masuk ke dalam kamar. Nicko masih memikirkan ungkapan bijak Bossnya sambil melamun.


" Ayo...!" seru Rifky.


" Ke... Kemana, Boss?" ucap Nicko kaget.


" Katanya mau cari calon istri,"


" Hehehee... Sorry, Boss. Tapi si bocil gimana?"


" Ada pelayan yang menjaganya, ayo cepat pergi."


Rifky bertanya pada warga sekitar mungkin ada yang tahu keberadaan istri dan teman - temannya. Untungnya ada salah satu warga yang melihat mereka ke arah sungai.


" Boss, itu mereka!" seru Nicko.


" Apa yang mereka lakukan disana?" sahut Rifky.


Rifky dan Nicko mendekati keempat orang yang berbaring diatas batu itu. Tanpa mereka duga, ternyata bocah - bocah itu tidur dengan nyaman seperti tak punya beban sama sekali.


" Bangun - bangun!" teriak Nicko.


Mendengar teriakan Nicko, keempat orang itu terbangun dengan jantung yang berdebar kencang karena kaget.


" Kakak...!" seru Medina.


Rifky membantu Medina turun dari batu lalu mengusap wajahnya dengan air. Bagaimana mereka bisa sampai tidur di tempat seperti itu?


" Kalau ngantuk itu pulang, bukan tidur disini! Kalau tiba - tiba banjir gimana?" omel Rifky.


" Capek habis main air," sahut Medina.


" Pantas saja pakaian kamu basah, ini malah hampir kering lagi. Nanti kalau sakit gimana, Yang?"


" Tinggal dipeluk langsung sembuh." bisik Medina.


" Nakal kamu!" Rifky memeluk dengan mesra sang istri hingga membuat yang lain baper.


" Ayo pulang! Katanya nanti malam mau api unggun?"


" Eh iya, sampai lupa."


Medina yang lelah merengek minta gendong pada suaminya. Begitupun dengan Clarissa yang sudah berada di punggung Devan. Nicko melirik ke arah Ririn yang sedari tadi hanya diam tak menatapnya sama sekali.


" Mau digendong juga?" tawar Nicko.


" Tidak perlu, saya masih punya kaki untuk jalan, Tuan." sahut Ririn cuek.


" Ya Allah, sabarkanlah hatiku menghadapi calon istri." gumam Nicko.


" Kak Nicko ngomong apa?" tanya Ririn.


" Tidak, ayo jalan. Ayo kakak bantu naik."


Ririn menerima uluran tangan Nicko saat naik dari sungai. Tak ada pembicaraan setelahnya hingga sampai ke Villa dan mereka masuk ke kamar masing - masing untuk membersihkan diri.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2