
Rifky sudah berada di kantornya jam sepuluh pagi. Nanti sore ia akan terbang ke luar negeri untuk perjalanan bisnisnya sekalian menghindari Devi dan orangtuanya sampai menemukan cara untuk bisa menggagalkan perjodohan orangtuanya.
" Nick, sudah kau dapat apa yang aku perintahkan?" kata Rifky.
" Sudah, Boss. Tunggulah beberapa hari lagi sampai semua bukti terkumpul. Rasanya sudah tidak sabar untuk membungkus mereka lalu masukkan ke tong sampah." sahut Nicko.
" Baiklah, kau urus semuanya. Aku akan pergi selama tiga hari, pastikan mereka hancur tak tersisa."
" Siap, Boss. Ini persoalan yang mudah, semua anak buahku sudah bergerak dengan cepat."
" Aku hanya tidak ingin Medina terlibat dengan masalah ini, Nick."
" Memangnya gadis itu sudah menerima cintamu?"
" Tentu saja, tidak ada wanita yang bisa menolak seorang Rifky Mahendra."
" Cihh... sombong sekali kau!" cibir Nicko.
Rifky berkali - kali memutar kursi yang di dudukinya tanpa berniat untuk menyelesaikan berkas - berkas di mejanya. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada gadis kesayangannya yang mungkin sedang berada di sekolah. Dilihatnya foto - foto gadisnya saat bersamanya waktu itu.
" Boss, kenapa senyum - senyum sendiri? Kurang satu ons ya?" ledek Nicko.
" Terserah kau saja mau ngomong apa, hatiku sedang bahagia sekarang." sahut Rifky dengan tersenyum.
Baru kali ini Nicko melihat Rifky tampak sangat bahagia. Wajahnya berseri - seri khas orang yang sedang kasmaran. Dia ikut bahagia melihat sahabatnya bisa tersenyum lepas seakan tak memiliki beban.
" Nick, siapkan semua keperluanku yang akan dibawa keluar negeri. Taruh saja nanti di mobil, aku tidak mau wanita itu masuk kesini dan memperkeruh suasana."
" Tenang saja, Boss. Bukankah ada pakaian disini yang bisa dibawa keluar negeri, jadi tidak perlu pulang ke Apartemen."
" Ya sudah, siapkan saja berkasnya. Aku mau packing pakaian dulu biar nanti bisa langsung berangkat."
¤ ¤ ¤
Sudah tiga hari Rifky berada di luar negeri. Puluhan kali ibunya menghubunginya namun tak pernah dijawab oleh Rifky. Dia sudah tahu tujuan wanita yang telah melahirkannya itu gencar menghubunginya akhir - akhir ini.
" Kenapa Medina tidak menghubungiku ya? Apa dia lupa kalau sudah punya kekasih?" gerutu Rifky.
Rifky sebenarnya ingin sekali segera pulang ke Indonesia, namun pekerjaannya masih belum selesai juga. Mungkin besok atau lusa baru bisa pulang dan menemui gadis kesayangannya.
" Calis sayang, apa kau tidak merindukanku? Ponselmu kenapa tidak aktif? Seharusnya hukumanmu sudah selesai dari kemarin." keluh Rifky.
Kini Rifky sedang beristirahat di hotel karena hari sudah malam. Rasa rindu semakin dalam saat gadis kesayangannya tak juga bisa dihubungi. Saat sedang memandangi foto kekasihnya, tiba - tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Rifky heran kenapa ada orang yang tahu keberadaannya, sedangkan dia tidak pernah memberitahu siapapun. Dengan rasa penasarannya, Rifky membuka pintu kamarnya.
" Hai... Rifky." sapa seorang wanita dengan pakaian seksinya.
" Devi...? Mau apa kau kesini?" tanya Rifky kaget.
Rifky sungguh tidak menyangka bahwa wanita yang paling dia hindari bisa berada di hadapannya. Rifky bersikap dingin dan tak mau menatap wajah wanita itu sama sekali.
" Rifky, kebetulan saya juga sedang ada urusan di negara ini dan menginap di hotel ini juga. Tadi siang tanpa sengaja saya melihat kamu keluar dari kamar ini." ucap Devi dengan suara manjanya.
" Oh begitu, sekarang kau mau apa kesini? Pergilah! Aku mau istirahat." usir Rifky.
Rifky sudah tahu jika Devi berbohong. Pasti dia menyuruh orang untuk memata - matai dirinya karena Rifky pergi dari hotel itu sejak pagi dan pulang malam, bagaimana mungkin Devi melihatnya keluar kamar di siang hari.
" Rifky, tunggu! Ada yang ingin saya bicarakan denganmu,"
" Lain kali saja, saya lelah butuh istirahat."
Rifky langsung menutup pintu kamarnya dengan keras tanpa berpikir jika wanita itu masih berdiri di depannya. Rifky semakin kesal karena ibunya sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadinya.
__ADS_1
" Aakkhhh...! Dasar j*l*ng, beraninya dia muncul di hadapanku!" geram Rifky.
Rifky segera menghubungi Nicko yang berada di Indonesia. Pasti asistennya itu tahu kenapa wanita itu bisa datang ke kamar hotel yang dia tempati.
( " Hallo, assalamu'alaikum Boss." )
" Wa'alaikumsalam, Nick."
( " Ada apa malam - malam begini telfon, Rif? Apa ada masalah disana? )
" Nick, kenapa Devi bisa ada disini? Apa kau memberitahu dia kalau aku disini?"
( " Masa' sih, Rif? Aku tidak pernah bilang pada siapapun termasuk orangtuamu." )
" Kau yakin tidak bohong padaku?"
( " Masya Allah, Rifky... sejak kapan aku berkhianat padamu!" )
" Bukannya aku meragukanmu, Nick. Tapi wanita itu ada di depan kamarku barusan."
( " Ya sudah, sepertinya dia mengikutimu dari sini. Berhati - hatilah dengannya, dia wanita licik yang bisa melakukan berbagai macam cara. Mulai sekarang waspadalah dengan makanan dari luar, aku yakin dia selalu ada di sekitarmu." )
" Baiklah, besok aku akan pulang setelah meeting."
( " Rif, semua bukti sudah terkumpul. Sebaiknya kau ajak Devi pulang bersamamu." )
" Kenapa harus bareng?"
( " Biar tidak curiga, berbaik hatilah sebentar sebelum kalian berpisah... hahahaa..." )
" Sial...! Kau mau mengerjaiku?"
( " Hehehee... cuma bercanda, Boss. Pokoknya kita akan mengungkap kebusukan keluarga Devi saat kau pulang nanti." )
( " Wa'alaikumsalam." )
Rifky menutup panggilan telfonnya lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Sepertinya sudah terlalu malam jika harus menghubungi gadis kesayangannya. Namun rasa rindu yang semakin menggebu membuatnya tak sabar ingin mendengar suara kekasihnya.
Rifky mencoba menghubungi ponsel Medina. Aktif, tapi tak ada jawaban. Rifky takut terjadi sesuatu dengan gadis kesayangan yang membuatnya tak pernah bisa tenang saat berjauhan.
" Sayang, kamu kemana sih?" kesal Rifky.
Saat Rifky mau melemparkan ponselnya ke lantai karena kesal, tiba - tiba benda pipih di tangannya itu berdering. Rifky langsung tersenyum saat melihat nama 'gadis kesayangan' yang tertera di layar ponselnya.
" Assalamu'alaikum, gadis kesayangan kakak. Kamu dari mana aja, calis sayang?"
( " Wa'alaikumsalam. Maaf ya, kak. Tadi siang Dina ada kegiatan sebentar di pasar." )
" Kegiatan apa, sayang? Jangan berbuat aneh - aneh lagi atau kakak akan menikahimu besok!"
( " Ya Allah, kak. Ngomong apaan sih? Siapa juga yang berbuat aneh - aneh." )
" Ya udah, memangnya gadis kesayangan kakak ini ada kegiatan apa di pasar?"
( " Mmm... sebentar lagi kan bulan ramadhan, jadi Dina dan teman - teman yang lain mau mengadakan kegiatan di Mushola pasar. Mungkin seperti belajar baca Al- Qur'an atau pengajian biar mereka yang ada disana bisa menjalani hidup yang lebih bermanfaat. Dina sudah koordinasi dengan ustadz di desa ini dan beliau bersedia untuk mengisi tausiyahnya nanti." )
" Baguslah kalau begitu, mudah - mudahan acaranya berjalan dengan lancar dan banyak jamaah yang hadir. Nanti acaranya habis ashar aja, sayang biar sekalian buka bersama disana."
( " Buka bersama? Makanannya dari mana, kak? Kita nggak cari donatur soalnya." )
" Tenang saja, nanti kakak donaturnya. Biar besok diurus sama tante Mita saja, terus pesan di catering ibunya Adam."
__ADS_1
( " Beneran nih, kakak mau donasi buat buka bersama?" )
" Iya, sayang. Hasil kerja kakak ini tidak akan habis kalau hanya untuk acara buka bersama dan nafkahin kamu."
( " Hmm... terserah kakak aja deh mau ngomong apa. Eh, kakak kapan pulang?" )
" Hmm... kenapa? Kamu kangen ya sama kakak?"
( " Tidak, Dina cuma nanya aja kok." )
" Kangen juga tidak apa - apa kok. Justru kakak sangat senang karena merasa dirindukan sama orang yang kakak sayang. Kakak juga kangen sama kamu, sayang. Kakak akan pulang setelah urusan dengan Devi selesai."
( " Kakak hati - hati disana, tetap waspada ya? Kadang orang yang sangat dekat dengan kita bisa saja berkhianat. Yang bisa menolong kita adalah diri kita sendiri, jangan gegabah dalam mengambil keputusan." )
" Iya, sayang. Terimakasih sudah mengingatkan kakak, do'akan agar semua urusan ini cepat selesai dan kita bisa segera bertemu lagi."
( " Ya sudah, Dina tidur dulu ya? Sudah malam, besok harus sekolah." )
" Iya, Calis sayang. Selamat tidur gadis kesayangan kakak, I love you..."
( " I love you too, kakak tampan... Assalamu'alaikum," )
" Wa'alaikumsalam."
Rifky kembali tersenyum setelah bicara dengan kekasihnya. Hati yang tadinya sempat menyimpan amarah karena kedatangan Devi, kini seakan menguar begitu saja setelah mendengar suara gadis kesayangannya.
¤ ¤ ¤
Medina sedang berada di Mushola pasar setelah pulang sekolah. Dia sudah meminta ijin kepada ayahnya untuk mengadakan kegiatan ramadhan di pasar.
" Mey, acaranya akan dimulai jam berapa besok?" tanya Ririn.
" Setelah ashar saja, nanti sekalian buka bersama disini." jawab Medina.
" Memangnya ada donatur yang memberikan makanan, Mey?" tanya Adam.
" Ada, mungkin itu rejeki bagi mereka lewat kegiatan yang kita adakan." jawab Medina dengan tersenyum.
" Boleh juga tuh, pasti mereka lebih bersemangat untuk mengaji." sahut Bayu.
" Bukan mereka, tapi kamu yang paling bersemangat jika ada makanan." ledek Johan.
" Pastilah, rejeki itu tidak boleh ditolak." sahut Bayu.
Hingga menjelang Ashar mereka baru selesai membahas kegiatan ramadhan yang akan di mulai besok sore. Adam akan membuat selebaran yang akan dibagikan kepada para pedagang di pasar. Medina menyuruh Jefri untuk mengamankan jalannya acara nanti.
" Mey, ini tausiyahnya setiap hari atau gimana?" tanya Ririn.
" Tidak, setiap hari jum'at saja. Tapi kalau untuk anak - anak belajar mengaji itu setiap hari selain hari jum'at." jawab Medina.
" Ok, good idea...! Semoga kegiatan kita ini bisa terlaksana dengan lancar. Berkah untuk kita semua dan bermanfaat dunia akhirat..."
" Aamiin...!"
.
.
TBC
.
__ADS_1
.