Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Aturan baru


__ADS_3

Medina hanya bisa pasrah saat Rifky mendekapnya dengan erat. Gadis itu tak berniat memberontak karena takut keempat temannya malah masuk melihat adegan peluk - pelukan itu.


" Kak Rifky, lepasin Dina...!"


" Kakak sudah tahu semuanya, jangan melakukan suatu hal yang melewati batasanmu." kata Rifky.


" Batasan apa maksud, kakak?"


" Kamu itu sebentar lagi lulus sekolah, kenapa harus ngurusin para preman itu?"


" Sebenarnya sudah lama Dina ingin melakukan ini, kak. Tapi baru sekarang kesempatan itu ada."


Medina duduk di ruang makan diikuti Rifky yang ingin mendengar penjelasan gadis kecilnya soal kekuasaan di pasar.


" Dina, kenapa kamu harus melakukan itu? Apa sebenarnya yang kau cari?"


" Hmmm... apa kakak mau membantuku?" pinta Medina.


" Bantuan apa?"


" Sebenarnya Dina hanya ingin pasar itu lebih aman saja dari pencurian, pemalakan dan gangguan para preman yang sering berbuat ulah."


" Jadi, kamu ingin membuat manajemen untuk mengatur pasar?"


" Iya, aku hanya ingin para preman itu tetap mendapatkan uang namun dengan cara yang halal."


" Bagaimana kamu bisa mengatur mereka semua?"


" Maka dari itu Dina minta bantuan kakak."


" Ya udah, kita bicara diluar saja dengan yang lain. Takut digerebek warga lalu disuruh nikah walaupun kakak malah senang dengan itu."


" Ish... lagian siapa yang nyuruh kakak masuk ke dalam rumah, Dina mau ke kamar mandi dulu."


" Hehehee... jangan lama - lama, kakak tunggu diluar."


Usai dari kamar mandi, Medina mengambil buku catatannya di dalam kamar lalu keluar bergabung dengan yang lain. Medina duduk di samping Rifky karena hanya tempat itulah yang kosong.


" Udah hampir jam delapan, kita harus cepat - cepat ke pasar." kata Medina.


" Mey, memangnya kamu punya rencana apa?" tanya Ririn.


" Hanya ingin membuat pasar dan jalanan lebih aman." jawab Medina.


Medina memberikan catatannya pada Rifky untuk diperiksa terlebih dahulu. Walaupun Medina belum begitu mengenal Rifky, namun soal pekerjaan dia yakin pada pria itu karena setahu Medina, keluarga Rifky adalah seorang pengusaha.


Rifky membuka catatan Medina dan memeriksanya sebentar. Sepertinya dia sangat serius untuk menangani masalah pasar.


" Jadi kamu mau mengumpulkan para preman di daerah ini?" tanya Rifky.


" Iya, kak. Biar mereka juga lebih tertata hidupnya. Anak - anak mereka tidak akan malu jika ada yang menanyakan pekerjaan orangtuanya walaupun hanya sekedar tukang parkir, daripada harus jadi tukang palak."


" Ya sudah, kalau begitu kita ke pasar untuk mendata berapa jumlah preman yang akan bekerja padamu."


" Sebenarnya aku tidak mau terlibat dengan mereka, pimpinan tetap dari mereka yang pegang, hanya saja sesuai dengan aturan yang kubuat."


" Kau yakin mereka bisa dipercaya, Mey?" tanya Adam.


" Kita lihat saja nanti, ayo berangkat?"


" Kamu sama kakak aja, jangan bawa motor sendiri." ujar Rifky pada Medina.


" Tidak bisa, kak. Nanti Dina sekalian jemput ayah."


" Harus sama kakak atau tidak usah pergi!"


" Ish... sukanya maksa."


" Makanya nurut sama calon suami." bisik Rifky seraya tersenyum.

__ADS_1


Medina tak bisa membantah karena Rifky sudah menggenggam erat tangannya dan menuntunnya ke arah motor sport milik pria tampan itu.


" Sejak kapan kakak beli motor ini?" tanya Syifa.


" Bukan beli, ini punya kakak di kota. Daripada disini pinjem motor kamu terus, nanti nggak mampu bayar sewanya." jawab Rifky asal.


¤ ¤ ¤


Kini mereka berenam sudah sampai di pasar. Terlihat ada sekumpulan preman berada di pojok pasar yang berjumlah sekitar lima belas orang. Medina langsung menghampiri mereka di tempat itu untuk mencari pemimpinnya.


" Selamat pagi, Boss." sapa seluruh preman saat Medina menatap mereka.


" Hmm... jadi kalian sudah berkumpul semua tak ada yang tertinggal?' tanya Medina.


" Benar, Boss. Kami semua ada lima belas orang."


" Siapa yang biasanya menjadi pemimpin?"


" Saya, Boss. Nama saya Jefri,"


" Baiklah, kau ikut saya dan yang lainnya jaga tempat parkir dan keamanan di dalam pasar. Untuk hari ini jangan ada yang yang meminta uang keamanan kepada para penjual!"


Medina memang sudah mempelajari dan mengawasi semua kegiatan di pasar. Jadi dia sudah tahu apa yang dilakukan preman itu sebelumnya.


" Baik, Boss."


Jefri mengikuti langkah Medina menuju depan Mushola yang terlihat sangat kotor. Sepertinya tempat itu memang jarang dibersihkan.


" Apa yang kau lakukan disini setiap hari? Bukannya ini tempat ibadah? Kenapa tidak ada yang membersihkannya?"


" Mmm... petugas kebersihan hanya membersihkan di dalam pasar saja, Boss."


" Sekarang kau bersihkan tempat ini dan juga di dalam Mushola. Tempat ini harus bersih setiap saat." perintah Medina.


" Baik, Boss."


Jefri segera membersihkan halaman Mushola sedangkan Medina segera memasuki Mushola dan segera membersihkan semuanya dibantu oleh teman - temannya.


" Ini sudah tidak sakit, kak. Nggak usah sok perhatian!"


" Huhh... gadis kecilku sangat keras kepala." keluh Rifky.


Setelah selesai membersihkan bagian dalam Mushola, mereka berencana akan pulang dan kembali esok hari mumpung masih libur sekolah.


" Calis, nanti ikut kakak ke suatu tempat yuk?" pinta Rifky.


" Kemana?" tanya Medina.


" Mau cek perkebunan Om Jamal sebentar."


" Dina harus jemput ayah di sekolah, kak."


" Nanti biar Adam atau Bayu yang jemput."


" Tapi, kak."


" Lusa kita jalan - jalan, gimana? Kita ke pantai, sama teman - temanmu juga."


" Beneran ke pantai, kak?" Medina tampak bersemangat.


" Iya, asal tugas sekolah kalian sudah selesai. Senin kalian sudah mulai masuk sekolah lagi."


" Janji ya?"


" Kamu seneng banget mau ke pantai?"


" Terimakasih, kakak tampan." bisik Medina sambil nyengir.


" Tersenyumlah seperti ini selalu, buatlah dirimu bahagia dengan keadaan yang saat ini kamu jalani."

__ADS_1


Medina menggenggam erat tangan Rifky karena sangat senang akan diajak ke pantai. Mereka berdua tidak sadar jika keempat temannya memperhatikan sedari tadi.


" Wooiii... masih pagi pacaran mulu!" teriak Bayu.


" Jangan berisik, ayo pulang!" sahut Medina datar.


" Oppa, cinta Ririn gimana kalau Mey nempel terus kayak gitu?" rengek Ririn.


" Kamu sama Johan tuh, nganggur." sahut Rifky sambil tersenyum.


" Oppa, tega sekali dirimu."


" Ish... lebay! Ikut pulang atau aku tinggal...!" pekik Johan membuat yang lainnya tertawa.


" Sudah, kalian pulang duluan saja. Dan Bayu, tolong nanti jemput paman Hasan di sekolah. Saya dan Medina akan pergi sebentar." ucap Rifky.


" Siap, Boss!" sahut Bayu.


¤ ¤ ¤


" Kak, kita ngapain sih kesini?" tanya Medina saat mereka tiba di perkebunan sayuran milik pak Jamal.


" Pengen berduaan sama kamu." sahut Rifky asal.


" Kakak, Dina serius nih!"


" Apa kakak tidak terlihat serius?"


" Sebenarnya tujuan kakak apa di desa ini selain mengunjungi pak Jamal?"


" Kenapa bertanya begitu?"


Medina menatap wajah lelaki di sampingnya yang menatap hamparan perkebunan yang luas.


" Kak, boleh Dina bertanya sesuatu?"


" Mau tanya apa, Calis?"


" Mmm... tidak jadi."


" Medina sayang, jangan sembunyikan apapun dariku. Kakak tidak mau terjadi salah paham diantara kita. Sekarang katakan pada kakak apa yang ingin kamu tanyakan."


" Mmm... sebenarnya kita kesini untuk apa?"


" Yakin cuma itu? Jangan bohong sama kakak."


" Ya udah kalau nggak percaya! Dina pulang aja!"


" Ish... begitu aja marah, ayo ikut kakak keatas."


Rifky menggandeng lengan Medina menuju ke atas bukit yang terdapat sebuah saung tempat istirahat.


" Calis, kamu disini dulu sebentar. Kakak mau ke bawah sana menemui Om Jamal."


" Dina ditinggal disini sendirian?"


" Cuma sebentar, nanti kamu lelah kalau naik turun bukit."


" Janji jangan lama - lama, nanti Dina dikira anak hilang."


" Iya, sayangku."


Rifky mengacak pelan rambut gadis kecilnya lalu pergi ke bawah bukit mencari pak Jamal. Sekilas ia tersenyum melihat gadis kecilnya tersenyum sendiri bermain - main di rerumputan.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2