
Rifky dan Jonathan sudah berada di dalam pesawat menuju Korea.Mereka duduk bersebelahan namun tak ada pembicaraan dari keduanya. Rifky sibuk memandangi kalung berlian yang sebentar lagi akan menggantung di leher kekasihnya.
" Boss, kemarin Hans diserang. Banyak anak buahnya yang terluka." kata Jo memulai pembicaraan.
" Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Hans tidak melapor padaku?"
" Mungkin Hans berpikir masih bisa mengatasinya sendiri dan juga Boss baru saja merintis perusahaan di Indonesia."
" Dia memang selalu begitu, bertindak sesuai kehendak hatinya."
" Tapi dia tak pernah mengecewakan, Boss. Kinerjanya sangat bagus dan memuaskan."
" Benar, Hans memang bisa diandalkan... sama seperti dirimu."
" Hahahaa... kau ini bisa saja. Tidak sia - sia punya teman sepertimu."
Jonathan dan Rifky memang bersahabat, begitupun dengan Hans dan Nicko. Mereka berempat memang bersahabat dan kuliah di tempat yang sama. Jonathan dan Hans sudah memiliki istri, tinggal Rifky dan Nicko yang sedang mengejar cinta.
¤ ¤ ¤
Rifky dan Jonathan sudah sampai di Bandara Korea. Mereka dijemput langsung oleh Hans. Rifky langsung menuju ke Apartemen miliknya untuk istirahat bersama Jonathan dan Hans.
" Hans... kau baik - baik saja?" tanya Rifky.
" Tentu saja, hanya saja tiga anak buahku kritis."
" Hhh... lain kali kau harus hati - hati. Nyawamu cuma satu, istrimu juga cantik. Kau mau istrimu jadi janda dan diperebutkan banyak pria diluar sana?"
" Ish... apa kau menyumpahiku mati? Aku menikah baru enam bulan." sungut Hans membuat Rifky dan Jonathan tertawa.
" Rasanya ada yang kurang tak ada Nicko." kata Hans.
" Dia sedang sibuk urus perusahaan." sahut Rifky.
" Lalu... apa yang kau lakukan?" tanya Jonathan.
" Aku bossnya, bebas mau melakukan apa saja." ucap Rifky sombong.
" Jangan takabur," sahut Hans.
" Hah... kau tahu kata takabur juga?" Rifky menatap Hans kaget.
" Jadi kau belum tahu? Hans itu mualaf sejak tiga bulan yang lalu." kata Jonathan.
" Beneran, Hans? Subhanallah... jadi sekarang puasa dong?"
" Insya Allah, masih tahap belajar. Semoga jalanku dimudahkan oleh Allah."
¤ ¤ ¤
Setelah cukup lama beristirahat, kini mereka mulai membahas masalah perusahaan. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan dan minuman kemasan ini cukup maju pesat dalam tiga tahun terakhir.
" Apa masalah yang terjadi disini?" tanya Rifky.
" Begini, Boss... Barang yang akan kita ekspor ke negara tetangga ternyata tidak sampai. Ada yang merampok barang kita." jawab Hans.
" Berapa yang hilang?"
" Dua kontainer, Boss. Klien sudah komplain dan ingin memutuskan kerjasama."
" Apa tidak ada GPS di kendaraan pengangkut barang?"
" Ada, tapi setiap melewati perbatasan alat itu tidak berfungsi lagi."
__ADS_1
" Hans, apa kau sudah selidiki di tempat kejadian?" tanya Jonathan.
" Sudah, barang itu hilang setelah melewati perbatasan dan sopir kita ikut menghilang. Sekarang tidak ada lagi sopir yang berani mengantarkan barang."
" Kapan pengiriman berikutnya?"
" Besok pagi."
Rifky mengambil ponsel diatas meja lalu mencari kontak Medina. Walaupun terlihat polos, namun gadis itu selalu punya ide untuk melakukan sebuah misi. Rifky mengirimkan pesan kepada gadis kesayangannya.
Rifky
[ " Assalamu'alaikum, sayang." ]
Beberapa menit menunggu, akhirnya ada balasan dari Medina.
Medina
[ Wa'alaikumsalam... Ada apa, kak? Dina baru pulang sholat tarawih." ]
Rifky
[ " Sayang, kakak sekarang di Korea. Ada masalah disini jadi kakak butuh saran dari kamu." ]
Medina
[ " Saran apa? Dina tidak soal pekerjaan kakak." ]
Rifky
[ " Bukan soal itu, sebenarnya aku butuh bantuan kamu untuk memberi ide untuk menangkap pencuri." ]
Medina
Rifky
[ " Ya Allah, sayang. Kakak lagi serius ini, barang yang kakak kirim ke negara tetangga ternyata di rampok setelah melewati perbatasan negara." ]
Medina
[ " Senyum dulu, pasti nanti ada solusinya." ]
Rifky berdecak kesal dengan sikap kekasihnya. Di saat serius seperti ini dia malah ngajak bercanda. Namun begitu, Rifky tetap tersenyum walaupun Medina tidak bisa melihatnya.
Rifky
[ " Sayang, kakak udah lakukan apa yang kau mau. Sekarang beri aku solusi yang paling tepat." ]
Medina
[ " Telfon saja, kak. Biar Dina bisa lebih jelas tentang inti permasalahannya." ]
Rifky
[ " Ok, sayangku." ]
Rifky melakukan panggilan video sekalian ingin melihat wajah kekasih yang sangat ia rindukan. Melihat senyuman Medina, Rifky bisa semangat melakukan apapun.
" Assalamu'alaikum, sayang."
( " Wa'alaikumsalam, kak. Kakak masih lama disana?" )
" Iya, sayang. Harusnya kakak sudah kembali ke Indonesia, tapi di Korea malah ada masalah." )
__ADS_1
" Hey, girl... you are beautifull." seru Jonathan dan Hans yang tiba - tiba ikut memenuhi layar ponsel.
( " Hah... kalian siapa?" )
" Udah, sayang. Jangan dengarkan mereka, cuma pengacau yang meminta sesuap nasi."
" Hey... kamu pasti Medina ya? Nicko sudah cerita soal kamu. Kenalkan, saya Jonathan dan ini Hans. Kami saudara Rifky disini." kata Jonathan.
( " Saya pikir kalian selingkuhan calon suamiku?" )
" Kok jadi pada bicara nglantur sih? Udah, sayang... kita bicara hal yang serius sekarang."
Rifky menceritakan semua kejadian di perusahaannya walaupun sesekali Jo dan Hans suka menggoda Medina. Satu jam lebih video call, akhirnya Rifky mengakhiri panggilannya. Medina juga sudah memberikan strategi untuk menangkap para penjahst yang telah merampok barang mereka.
" Boss yakin cara ini berhasil?" tanya Hans.
" Kita tidak tahu sebelum mencobanya. Kekasihku memiliki perhitungan yang tepat walaupun dia suka gegabah dalam menjalankan aksinya." jawab Rifky.
" Apa Medina itu seorang detektif, Boss?" tanya Jo.
" Bukan, dia hanya gadis biasa dari desa kecil di pinggiran kota." jawab Rifky.
" Ya sudah, aku cari senjata untuk melawan mereka." kata Hans.
Mereka bertiga mempersiapkan semua barang yang mereka butuhkan untuk misi esok hari. Rifky ingin semuanya cepat selesai dan segera kembali ke Indonesia.
¤ ¤ ¤
Pagi hari, Rifky dan Jonathan sudah bersiap dengan menyamar sebagai sopir baru untuk mengirim barang. Atas rekomendasi langsung dari Hans, mereka dengan mudah dapat masuk ke perusahaan. Beruntung Rifky dan Jonathan sudah mengubah tampilan wajah mereka sehingga tidak ada karyawan yang mengenalinya.
" Ini surat jalannya, pastikan kalian sampai tujuan dengan selamat." kata Hans.
" Baik, Tuan." jawab Jonathan.
Kepala gudang yang biasanya mengecek keluar masuknya barang hanya berdiri di belakang Hans tanpa berani berkata apapun.
Setelah truk kontainer meninggalkan gudang, Hans segera masuk untuk kembali ke ruangannya. Kepala gudang itu mengikuti Hans sampai di depan lift.
" Tuan, kenapa menyuruh sopir baru untuk mengantar barang?" tanya kepala gudang.
" Apa ada yang salah? Saya atau Anda yang berkuasa disini?" jawab Hans datar.
" Maaf, Tuan. Saya hanya tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi."
" Kalau sampai itu terjadi lagi, kau yang kutendang dari sini!"
Hans jadi curiga kepada pria paruh baya di hadapannya itu. Mungkin saja bawahannya itu terlibat dengan masalah hilangnya dua truk kontainer beserta sopirnya.
Hans masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan. Dia harus segera menghubungi Rifky dan Jonathan agar waspada. Hans juga sudah memasang GPS di tubuh Rifky dan Jonathan juga truk yang mereka bawa.
Sampai di ruangannya, Hans segera mengunci pintu dan segera membuka laptop untuk melacak posisi Rifky. Puluhan anak buahnya juga sudah disiagakan di berbagai tempat untuk mengiringi truk itu secara diam - diam.
" Mudah - mudahan Rifky dan Jonathan berhasil." gumam Hans.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1