
" Rifky! Kenapa mereka ke arah sana!" teriak Nicko tiba - tiba.
Rifky yang hampir saja terpejam langsung menatap layar ponsel Nicko dengan tajam. Matanya terbelalak kaget saat melihat lokasi pengejaran itu.
" Nick, itukan arah ke perumahan Papa!" sentak Rifky.
" Sepertinya mereka sudah punya rencana soal penyerangan rumah, Boss. Apa Tuan Besar juga terlibat dengan kasus pak Hasan dulu?" tanya Jonathan.
" Iya, Papa yang mengurus penangkapan Anna waktu itu." jawab Rifky.
" Cepatlah Nick, penjaga disana tidak akan mampu menahan mereka masuk ke dalam rumah. Medina tidak akan bisa menjaga Mama dan Papa sendirian." kata Rifky.
Nicko segera menambah kecepatan untuk mengejar mobil Anna. Ternyata Anna dan Jason tidak hanya kabur berdua, mereka membawa semua anak buahnya yang berjaga di Bar untuk menyerang kediaman Mahendra.
.
.
Saat ini Medina sedang berada di kamar Rifky. Sedari tadi pikirannya tidak tenang sehingga tidak bisa tidur. Dia memikirkan Rifky diluar sana yang sedang melakukan penyerangan di Markas Anna.
" Ya Allah... berikanlah keselamatan untuk kak Rifky dan teman - temannya." gumam Medina sembari bersandar di pagar balkon.
Medina mengedarkan pandangannya ke gerbang rumah yang halamannya sangat luas itu. Tampak dua penjaga yang sedang berjaga di pos. Namun tak lama, ada beberapa mobil yang berhenti di depan gerbang.
" Siapa itu? Itu bukan mobil kak Rifky maupun kak Nicko, kenapa ada tiga mobil disana?" batin Medina.
Ada sekitar dua puluh orang yang keluar dari tiga mobil itu. Mereka menggebrak gerbang dengan sangat keras sehingga membuat Medina waspada. Gadis itu lantas meraih ponsel di sampingnya untuk menghubungi Rifky.
" Halo, Kak... sepertinya ada yang menyerang rumah ini."
( " Kamu tetap disana, sayang. Suruh papa dan mama bersembunyi di tempat yang aman. Kalian bertiga jangan keluar dari rumah. Kakak sedang dalam perjalanan pulang." )
" Para penjaga semakin terdesak, Kak. Mereka mungkin ada dua puluh orang, aku tidak bisa membiarkan para penjaga melawan mereka dengan lawan yang tidak seimbang."
( " Jangan b*d*h, Medina! Cepat kalian bersembunyi!" )
" Maaf, Kak... Dina nggak bisa berdiam diri saja." )
Medina memutuskan panggilan telfonnya secara sepihak lalu berlari ke kamar orangtua Rifky di kamar sebelahnya.
" Papa, Mama... kita harus bersembunyi di tempat yang aman. Diluar para penjaga sedang berkelahi melawan para penjahat yang menyerang rumah ini."
" Kita harus kemana, Nak?" tanya Mama Kamila panik.
" Sebaiknya kita ke atap saja, disana lebih aman." kata papa Surya.
Medina akhirnya mengantar kedua orangtua Rifky sampai ke atap. Dia menyuruh mereka untuk bersembunyi sampai Rifky datang menjemput.
" Papa sama Mama jangan turun sebelum Dina atau kak Rifky yang menjemput. Tetaplah bersembunyi di tempat yang gelap." pesan Medina.
__ADS_1
" Kamu mau kemana, Dina?" tanya papa Surya.
" Dina harus membantu para penjaga dibawah, Pa. Mereka tidak akan sanggup melawan musuh."
" Di bawah sangat berbahaya, sayang. Kita tunggu Rifky pulang saja." bujuk mama Kamila sambil menangis.
" Ma... percaya sama Dina. Mau tetap disini maupun turun, tetap saja Dina harus melawan mereka. Jaga diri baik - baik."
Medina segera turun dari atap lalu masuk ke kamar Rifky untuk mengambil senjata milik Rifky. Medina sebenarnya merasa tidak yakin karena ia tidak pernah memakainya.
" Bismillah... semoga Engkau meridloi jalanku saat ini Ya Allah, berikanlah kami semua keselamatan. Aamiin." batin Medina.
Medina menyimpan senjata di saku jaketnya lalu bergegas ke lantai bawah. Disana sudah ada beberapa penjahat yang berhasil masuk ke dalam rumah.
" Hah... akhirnya ada juga yang keluar dari persembunyian. Seret dia keluar!" perintah Anna.
" Tidak semudah itu, Nyonya. Coba saja jika kau bisa." seringai Medina.
" Dasar bocah sialan! Kau hanya pelayan rendahan yang tidak berguna. Cepat kau suruh keluar Surya Mahendra!"
" Kau bisa bertemu dengan beliau setelah melangkahi mayatku."
" Shittt...! Tangkap bocah kecil itu!" teriak Anna.
Anak buah Anna berkelahi dengan Medina. Walaupun tubuhnya kecil, namun gadis itu tidak gentar sedikitpun melawan mereka yang bertubuh kekar. Kalau hanya melawan lima orang saja tidak akan masalah bagi Medina. Dari kecil dia memang sudah terlatih jadi tubuhnya seakan sudah siap menghalau serangan dari segala penjuru.
" Nona, jumlah mereka terlalu banyak. Sampai kapan kita bisa bertahan disini." bisik salah seorang pengawal yang berhasil masuk ke dalam rumah.
" Sebentar lagi bantuan datang, kita harus bisa mengulur waktu. Jangan sampai mereka menemukan papa Surya."
" Siap, Nona."
Mereka kembali berkelahi walaupun nafas sudah tersengal karena tenaga sudah terkuras habis. Medina masih mencoba terus bertahan bersama pengawalnya agar Anna dan Jason tidak naik ke lantai atas.
" Menyerahlah bocah! Nyawamu akan melayang sia - sia jika terus melawan." sentak Jason.
" Tidak semudah itu membuatku menyerah, Tuan! Saya yang akan memastikan jika Anda yang akan bertekuk lutut disini." seringai Medina.
" Sial...! Kau mau mengancamku, hah...!"
Jason mengeluarkan pistolnya dari dalam saku jasnya dan mengarahkannya tepat pada Medina. Sepertinya ia sudah siap menarik pelatuknya.
Doorrr... Doorrr... Doorrr!!!
" Nonaaa...!"
" Akkhhh...!"
Di saat yang bersamaan, pengawal yang melihat pistol milik Jason mengarah ke Medina langsung berlari untuk menyelamatkannya.
__ADS_1
" Kenapa kau lakukan itu!" sentak Medina.
" Tugas saya melindungi, Nona. Sebaiknya Anda pergi dari sini, hanya lengan saya yang tertembak."
Dengan cepat Medina juga mengeluarkan pistol dari saku jaketnya dan membalas tembakan Jason yang tepat mengenai pahanya. Medina dengan sigap menarik tubuh pengawalnya untuk bersembunyi.
Baku tembak terus terjadi hingga terdengarnya suara sirine yang pastinya berasal dari mobil pihak berwajib. Terdengar juga suara tembakan dari arah luar. Jason, Anna dan anak buahnya juga ikut mencari persembunyian untuk menghindari polisi. Semua lampu memang sengaja dimatikan sebelum para penjahat tadi datang sebagai langkah antisipasi.
Rifky dan yang lainnya bergegas masuk ke dalam rumah saat mendengar suara tembakan. Hanya satu yang ada dalam pikiran Rifky, kekasihnya pasti ikut andil dalam perkelahian di dalam.
" Hati - hati, Boss. Sepertinya Jason dan Anna ada di dalam rumah." bisik Nicko.
" Nyalakan lampu ruang utama! Mereka pasti sedang bersembunyi di sekitar sini." perintah Rifky.
" Siap, Boss."
Dengan mengendap - endap, Nicko mencari saklar lampu ruang utama. Begitu dapat, ia langsung menekan saklar dan ruangan itu jadi terlihat terang benderang.
Beberapa anak buah Anna ada yang tak sempat bersembunyi karena terluka parah akibat aksi brutal Medina yang menghajar mereka secara membabi buta.
" Tangkap mereka! Bawa keluar dari sini, yang lain cari sisanya!" perintah Rifky.
Melihat ada Rifky disana, Medina langsung keluar dari persembunyian. Pengawal yang sedari tadi bersamanya berjalan tertatih di belakangnya.
" Kakak_...!" panggil Medina.
" Sayang... kamu tidak apa - apa, kan?" Rifky langsung meraih Medina ke dalam dekapannya.
" Tidak, Kak. Dina bisa mengatasi mereka, tapi_..."
" Tapi apa, sayang?"
Medina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan tak mendapati Anna dan Jason disana.
" Nona, sepertinya mereka naik ke lantai atas." ucap pengawal.
" Apaa...? Ayo cepat temukan mereka, Kak! Papa dan Mama ada diatap, jangan sampai Anna dan kakaknya itu menemukan Papa dan Mama." seru Medina.
" Semuanya cepat ke atas!" teriak Rifky.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1