Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Tidak ingin berpisah


__ADS_3

" Dinaaa...!" teriak Rifky.


Medina yang melihat anak buah Devi mengangkat senjata ke arah tante Kamila langsung berlari mendorong tubuhnya hingga mundur beberapa langkah. Namun naas bagi Medina karena ia tak sempat menghindar sehingga lengannya jadi sasaran.


Nicko yang baru datang langsung menembak penjahat itu dengan beberapa tembakan di tubuhnya hingga tewas seketika.


" Sayang, kamu tidak apa - apa?" ucap Rifky cemas.


Darah mengalir hingga pergelangan tangan Medina. Seno semakin terisak melihat banyaknya darah yang keluar dari lengan Medina.


" Dina, kenapa kamu mengorbankan nyawamu untuk tante?" lirih tante Kamila. Airmatanya sudah menetes tanpa ia sadari.


" Tante tidak usah khawatir, Dina baik - baik saja. Tujuan Dina kesini memang ingin menyelamatkan tante dan Seno." ucap Medina sambil tersenyum.


" Nicko, kau urus mereka semua. Pastikan mereka mendekam dipenjara selamanya!" perintah Rifky.


" Baik, boss."


" Rifky, cepat bawa Medina ke rumah sakit! Mama tidak tega melihat darahnya keluar terus." kata tante Kamila.


" Iya, Ma."


Rifky ingin menggendong Medina namun gadis itu menolak karena malu dilihat banyak orang.


" Sayang, kakak gendong saja biat cepat sampai ke mobil." bujuk Rifky.


" Nggak mau, kakak gendong Seno saja sana!" ketus Medina.


" Aku yang gendong aja, Mey. Keburu darahmu habis nanti di ganti darah ayam." celetuk Bayu.


" Nggak usah malu, Mey. Anggap saja tidak ada orang lain disini." ledek Adam.


Tante Kamila tersenyum kecil namun hatinya merasa sedih mengingat masa lalu. Dirinya melewatkan moment dimana putranya tumbuh remaja hingga kini telah beranjak dewasa. Kesempatan yang tidak akan pernah bisa ia saksikan kembali.


" Sudah, kalian jangan berdebat lagi! Nicko... kamu yang gendong Medina kalau dia tidak mau sama Rifky." titah tante Kamila.


" Saya... tante?" ucap Nicko menunjuk dirinya sendiri.


" Memangnya ada Nicko selain kamu?"


" Ma, Dina sama Rifky aja!"


Tanpa meminta persetujuan, Rifky langsung membopong tubuh Medina menuju tangga untuk turun ke bawah. Ia tidak akan rela gadisnya disentuh orang lain.


¤ ¤ ¤


Sampai di mobil, Rifky langsung meletakkan tubuh Medina di jok belakang dengan ibunya. Seno disuruh di samping kemudi. Adam dan Bayu ikut Nicko ke kantor polisi untuk membuat laporan.


" Ma, kainnya ganti aja itu, darahnya banyak banget." kata Rifky sambil mengemudi.


" Mau ganti pakai apa lagi? Sudah tak ada kain apapun lagi, Ky."


" Pakai baju Seno aja, tante."


Seno melepas kaos yang dipakainya hanya menyisakan kaos ********** saja.


" Tidak usah, nanti kamu kedinginan." tolak Medina.


" Tidak apa - apa, kak. Nanti Seno bisa minta selimut di rumah sakit." sahut Seno.


Sampai di rumah sakit, Medina langsung dibawa ke ruang IGD. Peluru yang masih bersarang di lengan Medina harus segera dikeluarkan secepatnya.

__ADS_1


" Ma, kalau Medina kenapa - napa gimana? Paman Hasan pasti marah, Rifky tidak bisa menjaga putrinya."


" Sudah, do'akan saja Medina baik - baik saja." hibur mama Kamila.


" Rifky tidak ingin berpisah dengan Medina. Bagaimana jika setelah ini paman tidak mengijinkan Rifky bertemu lagi dengannya."


" Sebaiknya kamu kasih tahu ayahnya Medina, beliau harus tahu keadaan putrinya. Semua ini salah mama hingga Medina jadi korbannya."


" Tidak, Ma. Jangan menyalahkan diri mama sendiri, Medina tidak akan pernah menyesal menolong mama."


Tak lama dokter yang menangani Medina keluar dari ruang IGD. Dia mencari keluarga Medina.


" Dokter, bagaimana keadaan Medina?" tanya Rifky cemas.


" Pasien baik - baik saja, hanya saja harus dilakukan operasi kecil untuk mengeluarkan peluru dari lengannya." kata Dokter.


" Lakukan saja yang terbaik, Dokter. Yang penting Medina segera sembuh."


Malam itu juga, Medina melakukan operasi. Rifky menyuruh ibunya untuk menginap di hotel bersama Seno agar bisa beristirahat. Papanya juga sudah dalam perjalanan bersama om Jamal.


¤ ¤ ¤


Pagi hari, Rifky terbangun saat waktu sahur hampir habis. Untung semalam ia membawa air minum dan roti yang ia beli di supermarket depan rumah sakit.


Setelah sholat shubuh, Rifky duduk di samping Medina yang sedang bermain game di ponselnya. Dia hanya diam saja tak ingin mengganggu kekasihnya yang sedang asyik sendiri.


" Kak, pulang yuk?" rengek Medina setelah bosan nge-game.


" Sayang, lukamu saja belum kering. Jangan aneh - aneh permintaannya." kata Rifky.


" Dina nggak mau disini,"


" Pokoknya Dina mau pulang! Terserah kalau kakak mau tinggal disini."


" Hhh... baiklah, nanti kakak tanyakan pada dokternya dulu." pasrah Rifky.


" Kakak marah?"


" Tidak."


Tak lama Nicko datang setelah mengantar Adam dan Bayu pulang ke desanya. Dia membawa makanan untuk Medina karena tadi Rifky yang menyuruhnya. Gadis itu pasti tidak akan mau makan makanan rumah sakit.


" Assalamu'alaikum," ucap Nicko.


" Wa'alaikumsalam." jawab Rifky.


" Nih pesanannya, Boss."


" Terimakasih, istirahatlah pasti lelah hari ini."


" Iya, boss. Aku tidur sebentar ya, nanti mau balik lagi ke kota."


" Om Jamal belum kembali ke desa?"


" Belum, Seno masih shock dan belum ingin bepergian. Mungkin nanti siang."


Nicko merebahkan tubuhnya di sofa dan langsung tidur dengan pulas. Rifky duduk di samping Medina sambil membawa makanan untuk gadis itu.


" Sayang, makan dulu ya? Makanan dari rumah sakit tidak kamu makan."


" Dina tidak lapar, kak. Dina cuma pengen pulang."

__ADS_1


" Kau kamu pulang, kita tidak bisa berduaan lagi dong? Kakak tidak ingin berpisah denganmu."


" Ish... kumat, hahahaa..."


" Hhh... kok kumat sih? Kakak masih rindu ingin bersama kamu, Calis sayangku."


Medina menatap Rifky dengan senyum manisnya. Dia juga sangat merindukan kekasihnya itu namun malu untuk mengungkapkannya.


" Kakak kenapa tidak menemani tante Kamila? Beliau pasti masih terguncang dengan kejadian semalam."


" Sudah ada papa yang menemani, justru kamu yang butuh teman saat ini."


" Tapi tante lebih membutuhkan kakak, pergilah. Dina tidak apa - apa sendiri."


" Sayang, kau mengusirku?"


" Tidak, tapi prioritaskan keluargamu dulu."


" Tapi kakak tidak bisa meninggalkanmu sendirian, kakak tak ingin berpisah."


" Kak, jangan membuat aku semakin tidak pantas masuk ke dalam keluargamu."


" Maksud kamu apa sayang?"


" Apakah masih ada cinta untukku?"


Rifky menggenggam erat tangan Medina. Gadis itu bicara aneh hari ini. Tidak seperti biasanya yang selalu ceria walaupun kadang marah - marah.


" Kenapa bertanya seperti itu? Cintaku tidak akan pernah pudar sedikitpun walau ada badai besar yang menghantam. Aku sangat mencintaimu, sayang."


" Kalau begitu pergilah! Buat orangtuamu yakin bahwa aku pantas untukmu. Kita tidak akan bisa melangkah tanpa restu orangtua."


" Tidak sekarang, sayang. Kamu terluka seperti ini karena menolong mama. Mama pasti mengerti kalau kamu lebih butuh aku sekarang."


" Dasar keras kepala!" sungut Medina.


" Jangan menggoda orang berpuasa," ucap Rifky gusar.


" Siapa yang menggoda?"


Medina menggelitik pinggang Rifky hingga pria itu tertawa geli membuat Nicko terganggu.


" Kalian berisik banget sih!" gerutu Nicko.


" Maaf, kak Nicko. Kak Rifky ganggu terus nih." sahut Medina.


" Sayang, kok jadi kakak yang salah?" kata Rifky.


" Terserah kalian saja, jangan berisik!" seru Nicko.


Rifky menyuapi Medina walaupun gadis itu awalnya menolak namun bujuk rayu Rifky mampu meluluhkan kerasnya hati gadis itu.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2