Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Liburan


__ADS_3

" Katanya sama Medina, Rif? Dimana dia?" tanya pak Jamal.


" Ada diatas, Om. Biarkan saja dulu disana, sepertinya sedang asyik main sendiri." jawab Rifky.


" Seperti itulah Medina, semenjak ibunya wafat sifatnya jadi berubah terutama di depan ayahnya." kata pak Jamal.


" Apa karena paman Hasan ingin menikah lagi, Om?"


" Mungkin saja. Mungkin dia sangat kecewa karena ayahnya begitu cepat mencari pengganti ibunya. Medina pernah bilang padaku jika ia tidak mau memiliki ibu sambung."


" Kadang Rifky kasihan pada Medina, Om. Tapi saat ia berkata keras pada ayahnya, Rifky merasa sangat marah padanya. Paman Hasan adalah orang yang sangat baik, tidak pantas Dina memperlakukan ayahnya seperti itu."


" Kita tidak tahu alasan Medina melakukan itu, gadis belia seumuran dia masih labil belum bisa berpikir dengan bijak."


" Jujur, Om. Rifky sangat menyayangi Medina. Rifky akan mengembalikan hatinya yang lembut seperti waktu kecil dulu."


" Ya sudah, kita pikirkan itu nanti. Sekarang kamu bantu Om untuk cek keuangan perkebunan."


" Kenapa tidak di rumah saja, Om? Rifky akan memeriksanya nanti malam."


" Berkasnya masih ada di kantor, nanti kita ambil sebelum pulang."


Rifky sesekali melihat Medina yang duduk di pondok kecil sambil main game di ponselnya. Rifky hanya takut gadis itu marah karena ditinggal terlalu lama.


" Apa ada kejanggalan soal data keuangan perkebunan, Om?"


" Sudah dua bulan ini sepertinya ada kecurangan, Rif. Om yakin kamu bisa menyelesaikan masalah ini."


" Insya Allah, Rifky pasti akan bantu menyelesaikan masalah perkebunan."


" Terimakasih, Om tahu kamu sebenarnya sangat sibuk di kota. Tapi Om tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa."


" Rifky senang bisa bantu Om Jamal."


" Ya sudah, kamu boleh pergi. Nanti Om bawa berkasnya ke rumah."


" Iya, Om."


Setelah berpamitan, Rifky bergegas menghampiri Medina yang sekarang di dalam pondok. Tak terlihat ada pergerakan dari gadis itu membuat Rifky sedikit khawatir.


" Dina...! Kamu sedang apa?" teriak Rifky dari luar pondok.


Rifky heran kenapa gadis kecilnya itu tak menyahut panggilannya. Bergegas Rifky masuk pondok dengan perasaan cemas.


" Me_..." Rifky kaget saat melihat Medina tak bergerak.


" Astaghfirullah, sayang. Kenapa tidur disini sih?" gumam Rifky.


Rifky menatap lekat wajah cantik Medina dengan tersenyum. Wajah polos yang putih bersih tanpa polesan make up itu membuat Rifky semakin jatuh hati padanya.


" Kamu sangat cantik dan manis seperti dulu, " gumam Rifky.


Rifky duduk di samping Medina tanpa berniat membangunkan gadis itu. Jika sedang diam begini, gadis cantik itu nampak anggun dan lembut.


" Aku pasti bisa mendapatkan hatimu, calon istri cantikku." batin Rifky seraya mengembangkan senyumnya.


Waktu sudah hampir dhuhur dan Medina masih tertidur pulas. Sudah lebih dari satu jam gadis itu belum bangun juga. Rifky terpaksa membangunkannya karena paman Hasan pasti mencarinya.


" Calis sayang, bangun dong. Udah siang nih, pulang yuk?" bisik Rifky.


Medina membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Rifky namun dengan mata yang masih terpejam. Tanpa disadari, gadis itu memeluk tangan Rifky dengan erat.

__ADS_1


" Ya Allah, Medina. Bagaimana bisa kamu tidur senyaman ini ditengah perkebunan." batin Rifky.


" Calis, bangun sayang. Sebentar lagi adzan dhuhur, pulang yuk?"


" Astaghfirullah...!" pekik Medina seraya melepas pelukannya.


Rifky hanya tersenyum melihat wajah Medina yang terlihat bingung dan malu. Gadis itu segera duduk membelakangi Rifky yang tak melepas pandangan ke wajahnya.


" Kakaakkk...! Kok nggak bangunin Dina dari tadi sih?"


" Kakak nggak tega bangunin kamu yang sangat pulas tidurnya, gadis kecilku yang cantik."


" Ayo pulang, ayah pasti sudah di rumah."


" Hmm... kamu takut dimarahi paman?"


" Tidak, ayah tidak pernah marah padaku."


" Itu artinya ayah sangat menyayangimu seperti kamu yang menyayangi beliau."


Medina mengabaikan ucapan Rifky dan berjalan lebih dulu menuju ke bawah bukit.


¤ ¤ ¤


Keesokan harinya, sesuai janji Rifky kemarin pada Medina, mereka akan pergi ke pantai. Semua teman Medina diajak karena gadis itu tidak akan mau jika hanya jalan berdua saja.


" Oppa, nanti kita main pasir yuk?" celoteh Ririn seperti biasanya.


" Terserah mau main apa saja, yang penting jangan ke dasar lautan susah nyarinya." sahut Rifky.


" Ihh... Oppa gitu deh! Nggak asyik ah!" sungut Ririn.


" Lagian kamu kayak anak kecil deh, Rin. Main pasir segala, mau bikin istana peri." sahut Medina sambil tertawa.


" Bay, nanti kita cari duyung. Siapa tahu ada yang cantik." sahut Johan.


" Bukan duyung, tapi paus!" ledek Adam.


Suasana di dalam mobil sangat ramai seperti pasar. Suara riuh kelima remaja itu mampu mengalahkan demo orang sekampung. Rifky hanya diam saja membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka suka.


Hampir dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di pantai. Baru saja mobil terparkir, lima remaja brutal itu langsung berlari menuju pantai.


" Ya Allah, kenapa aku jadi pengasuh para berandalan itu." gerutu Rifky.


Rifky mengikuti langkah para remaja itu hingga ke bibir pantai. Dia langsung duduk diatas karang seraya melihat lima remaja yang sedang bermain air.


" Oppa, turun sini...!" teriak Ririn.


Rifky hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pertanda ia menolak ajakan Ririn.


" Mey, ajak Oppa kesini. Masa' dia malah sendirian disana?" ucap Ririn.


" Kalau dia tidak mau gimana? Biarin saja, nanti kalau bosan disana juga datang sendiri kesini." sahut Medina.


" Heh... Meong! Kasihan tahu, kak Rifky sendirian disana." ujar Adam.


" Iya, Mey. Kasihan kak Rifky nggak ada temennya." kata Johan.


" Tahu tuh, Meong! Biasanya juga berduaan terus." timpal Bayu.


" Cepat sana, Mey. Kita jadi nggak enak nih kalau kayak gini, kak Rifky malah sendirian melamun disana." ucap Ririn sendu.

__ADS_1


" Iya - iya, aku samperin kak Rifky."


Medina memanyunkan bibirnya sambil berjalan menuju karang tempat Rifky sedang duduk melamun.


" Kak Rifky, bantuin Dina naik...!" teriak Medina.


" Apa, sayang? Kamu mau apa kesini?" sahut Rifky.


" Cepetan bantuin Dina, kak!"


" Hmm... iya, kakak bantuin."


Rifky segera turun menghampiri Medina yang bersandar di batu menunggunya dengan senyum manisnya.


" Ada apa, Calis? Mau naik ke atas karang?"


" Iya, bantuin Dina."


Rifky membantu Medina naik ke atas karang yang sedikit licin. Namun baru juga naik beberapa langkah, Medina tergelincir dan menimpa Rifky. Karena kurang menjaga keseimbangan, akhirnya mereka berdua jatuh ke dalam air dengan posisi Medina di atas tubuh Rifky.


Byuurrr!!!


" Sayang, apa kamu sengaja membuatku basah?" tanya Rifky dengan tatapan menggoda.


" Ma... maaf, Dina tidak sengaja." lirih Medina.


" Tidak apa - apa, yang penting kamu tidak terluka."


Medina hendak beranjak dari atas tubuh Rifky, namun tubuhnya dipeluk erat oleh pria dibawahnya.


" Kak, lepasin! Malu dilihat banyak orang." rengek Medina.


" Biarin aja, kapan lagi ada moment romantis seperti ini dengan calon istri cantikku."


" Kakak ihh... malu tahu nggak!"


" Janji dulu kalau kamu mau menikah dengan kakak,"


" Ish... jangan aneh - aneh!"


" Jujur saja, apa kau suka padaku?" goda Rifky.


" Kakaakkk...!"


" Apa, sayang?"


" Lepaasss...!"


" Panggil namaku seperti waktu kecil dulu,"


" Tidak!"


Medina sangat kesal dengan Rifky yang tidak mau melepaskannya walaupun ia sudah memohon.


" Jadi lebih suka dipeluk seperti ini?"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2