Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Harapan


__ADS_3

Hans datang di waktu yang salah. Sudah jadi kebiasaan, ia selalu masuk ke ruangan Rifky tanpa permisi.


" Ups...! Sorry, Boss... Saya akan datang lagi nanti." ucap Hans sambil nyengir.


" Hah...! Ada apa...?" sahut Rifky kesal.


" Mau minta tanda tangan sekalian kasih tahu jadwal meeting nanti siang."


" Jenny sudah memberitahu jadwalku hari ini."


" Woww... tumben dia berani menghadap langsung padamu?"


" Diam kau! Cepat keluar dari ruanganku!" hardik Rifky.


Medina hanya diam memperhatikan interaksi mereka berdua. Jadi teringat Nicko di Indonesia, tingkah mereka sama walaupun Nicko lebih cerewet daripada Hans.


" Kak Rifky... apa temanmu yang satunya tidak akan kesini?" tanya Medina.


" Siapa, sayang...?"


" Itu... Yang di Jepang, Jonathan."


" Dia juga banyak pekerjaan disana, sayang. Nanti kalau kakak kesana kamu boleh ikut."


" Beneran kak boleh ikut?"


" Iya, sekalian honeymoon."


" Ish... kok honeymoon sih!"


Rifky mengulas senyum tipis melihat wajah kesal kekasihnya. Hanya dengan pelukan hangatnya, gadis itu bisa luluh.


" Kamu kenapa sih pengen banget ketemu Jonathan?"


" Ya pengen aja, soalnya udah ketemu kak Nicko dan kak Hans, mereka semua sangat baik. Pasti kak Jo juga sama seperti mereka."


" Sok tahu...! Jonathan itu sikapnya sangat dingin sama orang yang belum ia kenal. Dia tidak mudah percaya dengan orang lain."


" Tapi kalau di telfon dia sangat asyik, bicaranya ringan dan sikapnya dewasa. Jadi tidak sabar ingin segera bertemu dengannya."


" Mau apa kalau sudah bertemu?"


" Pengen diajari cara menggunakan pedang samurai yang benar. Sudah lama pengen belajar ilmu bela diri ninja jepang." Medina tersenyum riang.


" Masya Allah... kamu mau jadi pimpinan gangster!" kesal Rifky.


Medina tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya walaupun hanya membayangkan bisa memegang pedang samurai yang mengkilat itu.


" Bukan jadi gangster, hanya pengen belajar untuk jaga diri saja."


" Kakak tidak ijinkan kamu untuk belajar samurai, mending belajar untuk ngurus anak."


" Kakak_..."

__ADS_1


" Sudah... Kamu bisa istirahat di dalam, ada kamar pribadiku yang bisa kamu pakai buat tidur."


" Ish... Dasar pelit!" sungut Medina.


.


.


Sore hari, Rifky mengajak Medina untuk pulang karena tak ingin gadis itu merasa bosan seharian menemani dirinya kerja. Sebelum pulang, mereka berkunjung ke rumah Hans karena Medina ingin berkenalan dengan istri Hans yang katanya sangat cantik itu.


Mereka berempat makan malam bersama dengan penuh kegembiraan. Hans sangat senang karena Rifky berkenan mengunjungi rumahnya. Biasanya Hans yang selalu datang ke rumah Rifky karena bossnya tersebut tak ingin mengganggu privasi bawahannya.


" Hans... kami pulang dulu, mau jalan - jalan dulu sebentar." pamit Rifky.


" Terimakasih Boss sudah berkunjung kesini, terimakasih Nona Medina..." sahut Hans.


" Sama - sama, kak Hans... Saya senang bisa berkenalan dengan istrimu. Semoga selalu sehat untuk istri dan calon anak kalian." ucap Medina tulus.


" Aamiin... terimakasih sekali lagi." kata Hans terharu dengan ucapan Medina.


Rifky dan Medina melanjutkan perjalanan ke sebuah taman yang lebih indah dari tadi pagi yang mereka kunjungi.


" Sayang, kita bersantai dulu disini. Kamu belum ngantuk, kan?" kata Rifky.


" Iya, Kak. Langitnya sedang cerah, taman ini juga sangat indah. Aku sangat bahagia bisa datang ke tempat ini bersama kakak." ucap Medina senang.


" Syukurlah jika kamu menyukai tempat ini. Jujur, kakak juga tidak terlalu hafal dengan kota ini walaupun sempat menetap selama bertahun - tahun disini."


" Kakak rela tersesat asalkan bersama kamu, sayang..."


" Ish... Mulai deh!"


Saat sedang menatap langit, Medina melihat ada bintang jatuh. Gadis itu berteriak kegirangan melihat pemandangan yang jarang sekali terjadi. Dia memiliki harapan yang ingin ia wujudkan.


" Ssttt... Jangan keras - keras, sayang." Rifky membekap mulut Medina dengan tangannya.


" Hehehee... Dina pengen meminta satu permintaan, kakak juga." sahut Medina.


" Baiklah..."


Medina memejamkan matanya sembari mengungkapkan isi hatinya walaupun hanya dalam batinnya.


' Ya Allah, jika memang kak Rifky adalah jodohku maka satukanlah kami dalam ikatan yang suci. Aku yakin pada takdir'Mu yang pasti terbaik untuk kami.'


Rifky menatap lekat wajah cantik kekasihnya yang kini memejamkan matanya. Senyum tipis menghiasi bibirnya berharap permintaan sang kekasih terkabul.


' Ya Allah, kabulkanlah permintaan Medina saat ini. Bagiku, gadis ini adalah titipanMu yang harus kujaga jiwa dan raganya. Jika Engkau menjodohkan kami sebagai kekasih halal, maka aku berjanji akan membuatnya bahagia hingga akhir hayatku.'


" Kakak... kapan kita kembali ke Indonesia?" tanya Medina.


" Setelah pekerjaan kakak selesai, sayang. Disini masih ada beberapa klien yang harus aku temui sebelum kita kembali ke Indonesia." jawab Rifky.


" Apa kakak punya harapan untuk masa depan?"

__ADS_1


" Tentu saja, kakak berharap bisa selalu bersamamu seumur hidupku. Walaupun saat ini cintaku padamu tidak sedalam lautan maupun seluas samudra, tapi kamu tetaplah satu - satunya harapanku untuk membina rumah tangga yang bahagia. Cinta abadi hanya untuk Allah, jadi aku akan mencintaimu karena Allah. Jika Allah meridloi, aku ingin menjadi kekasih halalmu hingga akhir hidupku." ucap Rifky tulus dari dalam hati.


" Aku juga berharap begitu, Kak. Semoga Allah meridloi niat kita untuk menjadi kekasih halal, membina rumah tangga di jalanNya, kelak menjadi umat yang berada di barisanNya."


" Mmm... calon istriku memang sangat pintar. Ya sudah, lusa kita pulang untuk mengurus pernikahan kita. Semoga niat baik kita berjalan dengan lancar."


" Aamiin... Semoga kakak tidak menyesal menikah denganku."


" Insya Allah tidak, sayang. Kamu adalah gadis pilihanku yang selalu kusebut dalam setiap do'aku. Aku yakin bisa menjalani kehidupan ini denganmu."


Malam semakin larut, Medina dan Rifky memutuskan untuk pulang. Hari ini cukup melelahkan namun juga penuh kebahagiaan. Medina cukup bahagia bisa berkunjung ke negara ini walaupun mereka tidak bisa berkeliling ke tempat wisata karena tujuan mereka memang untuk bekerja.


Sampai di rumah, Medina langsung masuk ke dalam kamarnya begitupun dengan Rifky. Mereka harus beristirahat dengan cukup karena besok Rifky harus menyelesaikan pekerjaannya dalam satu hari sebelum pulang ke Indonesia.


.


.


Keesokan harinya,


" Hans, suruh Jenny mengatur ulang semua jadwalku hari ini. Buat semuanya lebih ringkas dan cepat. Besok pagi aku harus kembali ke Indonesia, jadi semua pekerjaan aku serahkan padamu."


" Boss, kok mendadak perginya? Bukannya lusa baru balik ke Indonesia?"


" Ada banyak pekerjaan yang harus kuurus disana, kau tahu itu perusahaan masih baru. Jadi harus lebih banyak perhatian."


" Iya, Boss... tapi ini belum ada satu minggu kau dan Medina disini. Apa kau bisa menyelesaikan semuanya hari ini?"


" Berikan kerjaan yang paling penting saja, yang lainnya kau urus sendiri. Aku akan datang lagi saat istrimu melahirkan nanti. Kau bisa cuti sebentar untuk mengurus keluargamu."


" Terimakasih, Boss. Aku pastikan semuanya beres, kau tahukan aku takkan mengecewakanmu."


" Tentu saja, kau satu - satunya harapanku disini."


" Medina ikut kesini, Boss...?"


" Iya, biasalah di kamar lagi main game. Pasti sebentar lagi gangguin Jonathan."


" Hahahaa... calon istrimu itu obsesibanget sama Jo."


" Hah... biarkan saja, dia tidak tahu saja sifat asli Jo yang datar dan menyeramkan itu."


Rifky menyuruh Hans untuk membeli ponsel baru buat calon istrinya agar tidak menyita ponsel kerjanya. Gadis itu pasti betah seharian di dalam kamar kalau sudah bermain game.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2