Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Berangkat ke Villa


__ADS_3

Medina mengambil ponsel yang ia simpan di meja rias lalu melakukan panggilan video dengan Clarissa dan Devan.


Medina : " Rissa, Devan...!" (Medina tersenyum riang)


Clarissa : " Seneng banget kayaknya, dapat durian runtuh?"


Devan : " Tumben ini emak - emak telfon jam segini?"


Medina : " Mmm... Aku cuma mau ajak kalian liburan, mau nggak?"


Rissa & Dev : " Kemana...?"


Medina : " Kak Rifky ngajakin ke Villa keluarga, boleh ajak teman. Kalian mau, kan ikut liburan?"


Clarissa : " Boleh, deh. Daripada gabut di rumah."


Devan : " Ya udah, bodyguard itu langkah kakinya nurut sama Boss."


Medina : " Tapi kalian ijin dulu sama orangtua, soalnya kita menginap."


Clarissa : " Perginya sama siapa aja, bestie?"


Medina : " Belum tahu, nanti aku tanya Ayahnya Shaka dulu."


Setelah cukup lama mengobrol dengan Clarissa dan Devan, Medina kembali turun ke taman menghampiri anak dan suaminya.


" Udah, sayang? Ajak siapa aja...?" tanya Rifky.


" Baru Clarissa sama Devan, kakak mau ajak temen juga?"


" Mungkin Nicko,"


" Kalau begitu, Dina boleh ajak Ririn, ya?"


" Kalau tanya Mama dulu, di butik banyak kerjaan nggak."


" Nanti malam aja deh tanya Mama."


Sampai saat ini Rifky masih tinggal bersama orangtuanya karena Mama Kamila tidak ingin Shaka diasuh oleh orang baru saat Medina sedang kuliah. Lebih baik cucu satu - satunya itu dia ajak ke butik atau bersama para pelayan yang sudah bekerja cukup lama di rumahnya.


.


.


Pagi - pagi sekali, semua sudah berkumpul di halaman rumah Rifky. Ada Nicko, Ririn, Devan dan Clarissa. Mereka terlihat bersemangat untuk refreshing, melepaskan penat setelah melakukan aktifitas padat sehari - hari.


" Ini yang punya rumah kemana sih? Jangan - jangan masih tidur." gerutu Ririn.


" Sabar, sayang. Sebentar lagi juga mereka keluar." sahut Nicko sambil tersenyum.


" Cih...! Sayang apaan!" sungut Ririn.


" Kak Ririn, kakak yang sering bareng Medina di kampus ya?" sapa Clarissa ramah.


" Iya, saya temannya Medina. Tapi masuk kampusnya beda dua tahun karena dia harus urus anaknya." balas Ririn.


" Kenalkan saya, Clarissa dan ini Devan."


" Salam kenal, Kak." sapa Devan dengan senyum manisnya.


" Ish... Imut banget, kamu yang jadi rebutan para gadis di kampus itu, ya? Kamu populer banget loh di kampus." sahut Ririn antusias.


Entah di sengaja atau tidak, namun sikap Ririn yang terlalu ramah dengan Devan membuat Nicko sangat kesal. Ingin rasanya ia menjauhkan Ririn dari pria yang baru dikenalnya itu sejauh mungkin.

__ADS_1


" Ririn...! Jangan macam - macam!" kesal Nicko.


" Apa, sih?" gerutu Ririn tak kalah kesal.


Tak lama Rifky keluar dengan menyeret koper dan juga menggendong putranya. Medina berjalan terlebih dahulu untuk sekadar menyapa teman - temannya.


" Sayang, kunci mobilnya udah dibawa?" teriak Rifky.


" Eh, iya. Sebentar, masih di kamar tadi." Medina berlari sambil nyengir.


" Jangan lari...!" seru Rifky.


Rifky baru menyadari betapa bahagianya sang istri hanya diajak liburan bersama teman - temannya. Selama ini Rifky berpikir Medina sudah bahagia dengan kehidupan barunya.


" Ngelihatin apa sih, Boss? Bengong aja dari tadi." tegur Nicko.


" Nggak ada, tolong masukkan koperku nanti ke mobil. Dina lama banget, aku ke dalam dulu."


" Siap, Boss."


Rifky kembali masuk ke dalam rumah mencari istrinya yang sedari tadi belum juga keluar padahal cuma ambil kunci di mobil.


" Sayang, kok lama banget sih? Yang lain udah nungguin di bawah."


" Aduh, Kak. Dina lupa tadi taruh kuncinya dimana."


Medina mengacak - acak seluruh isi kamar mencari kunci mobil hingga pakaian di lemari juga ikut berhamburan keluar.


" Astaghfirullah, ya udah tidak usah dicari. Kita naik ke mobilnya Devan atau Nicko saja."


" Maaf_..." lirih Medina.


" Tidak apa - apa, nanti biar dibereskan Bibik sekalian cari kuncinya." sahut Rifky tak tega melihat wajah sendu istrinya.


" Kak, Dina ikut di mobil Devan ya sama Ririn." pinta Medina.


" Jangan, Mey! Aku sama siapa...?" sungut Nicko.


" Biasa sama your best friend..."


" Mey_..." rengek Nicko.


" Ya udah, cepat masuk mobil Devan. Kau juga, Rin... Biar Shaka disini bersamaku."


" Thank you, my husband." tanpa malu Medina mencium pipi suaminya.


Medina meletakkan semua perlengkapan Shaka di mobil Nicko lalu mengajak Ririn masuk ke mobil Devan.


" Boss, kok mereka disuruh ikut mobil bocah tengil itu, sih?" sungut Nicko.


" Biarkan saja, cepat jalan!" titah Rifky.


" Uncle marah, Yah?" tanya Shaka takut.


" Tidak, sayang. Uncle Nicko tidak marah, cuma laper belum sarapan. Iya kan, Uncle...?" Rifky menepuk pundak Nicko dengan keras.


" Shittt...! Sialan kau...!" umpat Nicko.


" Heh... Jaga bicaramu di depan anak kecil!"seru Rifky.


" Huhh...! Uncle tidak marah, Shaka. Ini sekarang tersenyum sama Shaka." Nicko memaksakan senyumnya walau hatinya dongkol.


" Kalau laper minum aja susu punya Shaka. Nanti Shaka minta lagi sama Bunda." celoteh Shaka membuat Rifky hampir tertawa melihat Nicko yang kaget.

__ADS_1


" Susu...? Tapi ini beneran susu dari Bunda langsung?" senyum jahil Nicko merekah menatap Rifky.


" Nicko...!"


Plaakkk!!!


Rifky memukul kepala Nicko dengan keras hingga pria yang sedang di depan kemudi itu meringis menahan sakit.


" Apa sih, Ky! Jangan main fisik di depan anak kecil." gerutu Nicko.


" Mulutmu yang tidak bisa disaring!"


" Apalagi? Aku cuma tanya itu susu yang kasih Bunda langsung atau pengasuhnya. Kau yang pikirannya perlu di cuci biar nggak ngeres."


.


.


Sementara di mobil Nicko terjadi keributan, di mobil Devan justru ramai dengan canda tawa tiga wanita yang membuat Devan pusing mendengar suara teriakan mereka.


" Bisakah kalian diam sebentar saja, kepalaku pusing mendengarnya." teriak Devan kesal.


" Sopir diam saja!" sahut Clarissa acuh.


" Tahu begini mending tidur di rumah." gerutu Devan.


Mereka bertiga tetap acuh dengan Devan yang ngambek. Walaupun diluar terlihat dingin pada wanita, sesungguhnya Devan adalah sosok pria yang sangat menghormati kaum hawa.


Sampai di Villa, Devan masih harus menurunkan barang - barang para wanita yang hanya bisa membuatnya tambah kesal.


" Sayang, gimana perjalanannya tadi? Senang...?" tanya Rifky.


" Iya, Dina seneng banget bisa jalan sama teman - teman. Tapi rasanya beda aja kalau nggak sama Ayah dan Shaka."


" Nikmati saja liburannya, Ayah dan Shaka tetap berada di sisi Bunda. Bersenang - senanglah dengan teman - temanmu, Ayah janji tidak akan mengganggu kalian. Ayah juga pengen quality time dengan Shaka."


" Ihh... Ayah jahat, Bunda nggak diajak!"


" Kalau sama Bunda nanti quality time di atas ranjang saja sampai pagi." bisik Rifky.


" Ish... Mesum!"


Rifky menyelimuti tubuh putranya yang tidur sejak di mobil hingga sampai ke Villa. Dia ikut merebahkan tubuhnya di samping Shaka sambil melihat sang istri yang sedang merapikan pakaiannya di lemari.


" Istirahatlah! Itu bisa dikerjakan nanti." ujar Rifky.


" Tidak apa - apa, Dina nggak capek kok."


Rifky bangkit dari tempat tidur lalu menghampiri Medina yang sedang sibuk membongkar koper. Ditariknya tubuh ramping istrinya lalu mendekapnya dengan erat.


" Mau apa?" tanya Medina acuh.


" Cuma peluk, sayang."


Pelukan hangat sang suami selalu mampu membuat Medina luluh walaupun dalam keadaan lelah maupun marah.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2