
Rifky dan Nicko sudah sampai di tempat yang telah disepakati yaitu rumah Rifky yang kini menjadi Markas untuk para anggotanya. Rumah itu terlihat sangat luas karena memang belum ada perabotan yang terpasang disana.
Sampai disana, mereka disambut oleh Jonathan dan juga beberapa intel dari Jepang dan Hongkong. Mereka masuk ke ruangan khusus yang tadinya akan digunakan Rifky untuk ruang kerja.
" Silahkan, Tuan. Kita harus bergerak cepat malam ini." kata Rifky.
" Baiklah, kami juga sudah mengumpulkan semua bukti kejahatan mereka. Ternyata target kalian itu juga sudah berulang kali terlibat dengan perdagangan senjata ilegal di Hongkong." ujar intel dari Hongkong.
" Tapi kita juga harus ada ijin dari pemerintah pusat negara ini." kata intel dari Jepang.
" Tenang saja, sebelum kita menangkap mereka kita akan ke rumah pribadi pimpinan tertinggi negara ini untuk meminta ijin. Kita tidak bisa melewati prosedur karena ada oknum disana yang bekerjasama dengan mafia ini."
Rifky sudah mengantongi bukti kejahatan Anna walaupun itu tak ada kaitannya dengan penyerangan terhadap pak Hasan dan pak Jamal. Paling tidak Anna bisa di penjara seumur hidup untuk kasus obat terlarang dan perdagangan senjata.
.
.
Tepat di depan Bar, Rifky dan seluruh anak buahnya sudah siap menyerbu. Ada pintu lain menuju ruang bawah tanah, jadi mereka tidak akan mengganggu pengunjung di Bar.
" Sebagian berjaga diluar, yang lain ikut saya masuk ke dalam." perintah Rifky.
Nicko dan Jonathan mengikuti langkah Rifky di barisan paling depan. Mereka mengintai pergerakan musuh yang sudah mulai bertransaksi. Tanpa diduga, Anna dan kakaknya yang seorang petinggi di kepolisian daerah itu ikut andil dalam transaksi itu.
Setelah merekam bukti transaksi itu, Rifky diikuti Nicko, Jonathan dan beberapa intel internasional langsung keluar dari persembunyian.
Prok prok prokkk!!!
Dengan gaya santainya, Rifky keluar dari persembunyiannya. Jonathan dan yang lain masih bersembunyi dan waspada melindungi Rifky.
" Bisnis yang sangat bagus, semuanya berkumpul disini malam ini." seringai Rifky.
" Siapa kau!" bentak Jason, kakaknya Anna.
" Kau tidak tahu siapa saya? Tanyakan pada adikmu, dia yang sudah mengundangku datang kesini." jawab Rifky santai.
" Saya tidak mengenal Anda, Tuan. Mana mungkin saya mengundang orang yang tidak kukenal." elak Anna.
" Oh, ya? Kau benar, Nyonya. Anda tidak mengenal saya, tapi bagaimana dengan pak Jamal dan pak Hasan?"
" Kau mengenal mereka?"
" Tentu saja, bahkan saya tahu kebusukan Anda di masa lalu."
" Anna... apa - apaan ini? Kenapa ada orang lain di bisnis kita." teriak pimpinan mafia itu.
" Tenanglah, dia hanya anak kecil, Boss." sahut Anna
__ADS_1
Anna berjalan mendekati Rifky dengan senyum sinis. Walau ia akui pria di hadapannya ini sangat tampan, namun Anna masih berharap bisa bertemu dengan Hasan.
" Kenapa kau ada di tempatku, anak muda sepertimu tidak pantas berkeliaran di tempat seperti ini."
" Benarkah? Kau pikir saya takut Nyonya? Jangan meremehkan pemuda sepertiku. Oh iya, saya hanya ingin menyampaikan salam dari pak Hasan. Anda masih mengingat nama itu?"
" Hasan...? Kau mengenal Hasan? Siapa kau sebenarnya?"
" Tidak penting saya siapa, tapi tujuan saya kesini adalah untuk membalas orang yang sudah berusaha membunuh pak Hasan."
" Siapa yang ingin membunuh Hasan? Cepat katakan padaku!" teriak Anna.
" Kau yang telah melukai pak Hasan Nyonya!" sentak Rifky.
" Tidak! Saya tidak pernah melukai Hasan, kau pasti hanya ingin menfitnahku!"
" Oh, ya? Lalu apa yang dilakukan anak buahmu di perkebunan?"
Anna menatap tajam Rifky. Bagaimana pemuda itu tahu jika dirinya menyuruh anak buahnya menyerang perkebunan? Setahu Anna, pemilik perkebunan itu adalah Jamal, teman Hasan waktu kuliah dulu. Orang yang telah membuatnya mendekam di penjara hingga akhirnya janin dalam perutnya keguguran.
" Kau jangan asal menuduh bocah!"
" Menuduh...? Anda terlalu bodoh untuk berbohong Nyonya."
" Diam kau! Pergi dari sini atau nyawamu akan melayang."
" Anda jangan terlalu yakin, apa karena ada Jendral pertahanan negara di belakangmu?" seringai Rifky.
" Dan juga para mafia ini, mereka hanyalah semut - semut kecil yang mudah dibasmi." ucap Rifky lagi.
Dengan geram mereka semua mengarahkan pasti tubuh Rifky akan roboh bersimbah darah. Namun seringai di bibir pemuda itu tak luntur sedikitpun walau nyawanya di ujung tanduk.
" Sebelum kau mati, katakan siapa kau sebenarnya!" teriak pria paruh baya yang merupakan abdi negara itu.
" Kau pasti mengenal keluarga Mahendra, terutama kau nyonya Anna."
" Kau putra dari Surya Mahendra?"
" Ya... Dan kau tahu, Nyonya? Pak Hasan sekarang kritis karena perbuatanmu!"
" Tidak mungkin! Saya tidak pernah melukai Hasan."
" Kau benar, tapi saat itu pak Hasan sedang bersama Om Jamal."
" Hasan... tidak mungkin." lirih Anna.
" Kau sudah mengusik keluargaku, takkan kubiarkan kalian berkeliaran dengan bebas." seringai Rifky.
__ADS_1
Saat mereka hendak menembak, lampu yang tadinya hanya menyala di beberapa sudut, tiba - tiba menyala seluruhnya. Mereka sudah dikepung pasukan bersenjata lengkap.
" Apa - apaan ini...!" geram Anna.
Hanya dalam hitungan detik saja, adu senjata tak terelakkan. Ribuan peluru berhamburan di ruang bawah tanah, bahkan banyak pula yang bersarang di tubuh manusia - manusia yang entah dipihak siapa.
Rifky mengejar Anna dan oknum abdi negara yang berusaha kabur dari arah yang lain. Dia yakin mereka akan kabur lewat bar dilantai atas.
" Nicko, Jo... come here!" teriak Rifky seraya berlari semakin ke dalam lorong.
Nicko dan Jonathan segera berlari mengikuti Rifky di tengah hujan peluru di sekitarnya. Lorong yang gelap membuat mereka semakin susah untuk mencari jalan dan persembunyian Anna dan kakaknya yang seorang abdi negara.
" Boss... apa tidak sebaiknya kita berpencar saja?" usul Nicko.
" Tidak, itu terlalu berbahaya. Sebaiknya kita saling melindungi demi keselamatan kita." kata Rifky.
" Benar kata Boss, kita harus selalu bersama. Musuh bisa datang kapan saja."
Saat mereka hampir mencapai tangga menuju lantai atas, salah seorang anak buah yang ada diluar menghubungi Nicko.
" Sial...!" teriak Nicko kencang.
" Ada apa, Nick?" tanya Rifky.
" Mereka berdua berhasil keluar dari Bar. Anak buah kita sedang mengejarnya di jalanan." kata Nicko kesal.
" Go...! Kita kejar mereka secepatnya. Mereka harus ditangkap malam ini juga." teriak Jonathan.
Mereka bertiga segera keluar dari ruang bawah tanah melewati puluhan mayat yang tergeletak di sembarang tempat. Nicko segera masuk ke dalam mobil diikuti Rifky dan Jonathan.
" Boss, kau baca lokasi anak buah kita. Sepertinya mereka belum terlalu jauh dari sini." ucap Nicko.
" Ok, kau terus saja jalan. Ini jalan satu arah, lebih cepat lagi. Kita tertinggal sepuluh menit dari mereka." kata Rifky.
" Apa tidak ada jalan lain, Boss?" tanya Jonathan.
" No, kita hanya bisa mengikuti share location dari para anak buah kita." jawab Rifky pasrah.
Rifky meletakkan ponsel Nicko di depannya. Tubuhnya sangat lelah karena masalah ini dan juga banyak sekali pekerjaan yang menumpuk di kantor.
" Rifky! Kenapa mereka kearah sana!" teriak Nicko tiba - tiba.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.