
Rifky meminjam motor milik sopir pribadi pak Jamal. Medina bersikeras pengen naik motor saat Rifky mengambil kunci mobil di atas meja.
" Kak, Dina pengen keliling - keliling dulu yang jauh." rengek Medina.
" Mau kemana, sayang? Ini udah malam, nanti kamu sakit." sahut Rifky.
" Kemana saja, Dina lagi bosan di rumah."
" Sayang, kakak tidak ijin sama ayah kamu tadi, lain kali saja ya?"
" Ya udah, kita pulang saja sekarang!"
Rifky menghentikan laju motornya. Pusing kepalanya memikirkan tingkah gadisnya yang semakin aneh saja. Permintaannya selalu berubah - ubah setiap saat.
" Sayang, kakak akan turuti semua keinginanmu. Yang penting kamu senang, kakak akan melakukannya."
" Maaf ya? Dina selalu membuat kakak repot."
" Sudah berapa kali harus kakak tegaskan sama kamu, tidak sedikitpun kakak merasa direpotkan sama kamu. Bicara sekali lagi seperti itu, kakak akan menikahimu besok."
Medina mengerucutkan bibirnya lalu mencubit pinggang Rifky dengan kuat. Dia semakin kesal saja dengan Rifky, selalu saja bicara soal pernikahan.
" Aakkhhh...! Sayang, kebiasaan tangan kamu nggak bisa diem." rintih Rifky.
" Biarin, kakak bikin mood Dina jelek aja."
" Baiklah... Asalkan kau bahagia, kakak akan penuhi semua permintaanmu." pasrah Rifky.
Akhirnya mereka berkeliling tak tentu arah. Berputar - putar keliling jalanan hingga sampai di pasar. Rifky sebenarnya sangat lelah, namun ia tak berani untuk protes pada gadisnya.
" Sayang, kita mau kemana lagi?" tanya Rifky.
" Makan yuk? Terus pulang, tidur..." jawab Medina santai.
Tak jauh dari tempat mereka berhenti ada warung mie ayam. Medina yang memang sedari tadi menginginkan makanan itu langsung mengajak Rifky masuk ke dalam warung itu.
¤ ¤ ¤
Sudah tiga hari Rifky selalu menemani Medina. Berangkat dan pulang sekolah selalu minta diantar jemput. Pekerjaannya di kota sudah menumpuk namun gadis itu belum mengijinkannya pergi.
" Sayang, nanti siang setelah jemput kamu dari sekolah kakak berangkat ke kota ya?" ucap Rifky saat dia mengantar Medina ke sekolah.
" Mmm... iya, deh. Pasti kakak banyak pekerjaan disana." sahut Medina.
" Iya, sayang. Semenjak pulang dari Korea, kakak belum masuk kerja lagi."
" Apa Dina masih boleh datang ke kota?"
" Tentu saja, sayangku. Nanti setelah lulus, kamu bisa kuliah di kota."
" Ayah gimana? Kuliah itu butuh biaya yang besar, Dina tidak mau membebani ayah."
" Kalau soal itu, biar kakak yang urus. Kamu hanya perlu fokus dengan pendidikanmu."
" Untuk kuliah, Dina butuh pekerjaan untuk meringankan tanggung jawab ayah."
" Baiklah, kau bisa bekerja denganku."
" Kerja apa?."
" Menjadi istriku, melayani semua kebutuhanku, kontrak seumur hidup."
" Tuh kan... bicara pernikahan lagi."
" Kakak butuh pertanggung jawaban kamu, sayang."
" Tanggung jawab apa?"
" Nih... udah kamu cium tapi cuma sebelah." Rifky menunjuk pipinya sendiri sambil tersenyum.
__ADS_1
" Ihh... kan Dina nggak sengaja waktu itu." sungut Medina.
Rifky hanya tersenyum lalu berpamitan untuk pulang setelah teman - teman Medina datang.
¤ ¤ ¤
Rifky sampai di kantornya sudah hampir maghrib. Semua karyawan sudah pulang, tinggal Nicko yang masih bekerja tanpa mengenal lelah.
" Assalamu'alaikum," sapa Rifky.
" Wa'alaikumsalam." jawab Nicko.
" Aku pikir udah pulang, Nick."
" Gimana mau pulang kalau pekerjaan menumpuk begini."
" Sorry, Medina jadi manja banget semenjak pulang dari rumah sakit. Ini saja harus mencari berbagai alasan agar diijinkan pergi." keluh Rifky.
" Kemarin dia nggak cidera kepala, kan?"
" Tidak, cuma tertembak lengannya saja."
" Aku pikir dia gegar otak."
" Sudah, istirahat dulu sebentar lagi maghrib. Aku udah beli makanan untuk berbuka puasa."
" Hmmm..."
Lima belas menit kemudian, waktu berbuka puasa telah tiba. Rifky dan Nicko segera membatalkan puasa kemudian sholat maghrib berjamaah.
Setelah isya' mereka berdua baru kembali mengerjakan berkas - berkas yang menumpuk di meja Rifky. Tubuhnya yang lelah tak memudarkan semangatnya dalam bekerja. Senyum manis kekasihnya selalu membuat semangatnya semakin bertambah setiap harinya.
Tak terasa, mereka berdua bekerja hingga hampir tengah malam. Nicko berkali - kali menguap dan menggeliat meregangkan otot syarafnya.
" Tidurlah, Nick. Kau pasti lelah bekerja seharian." kata Rifky.
" Mau pulang atau tidur disini?"
" Disini saja, kelamaan kalau harus pulang."
Rifky masuk ke dalam kamar pribadinya diikuti Nicko. Dengan cepat mereka merebahkan tubuh ke tempat tidur dan langsung terlelap ke alam mimpi.
¤ ¤ ¤
Sudah beberapa hari ini Rifky sibuk dengan pekerjaannya sampai lupa tidak menghubungi Medina. Pasti gadis itu sangat marah saat bertemu nanti.
" Kenapa melamun, Boss?" tanya Nicko heran.
" Sudah tiga hari aku disini lupa ngabarin Medina. Dia juga sama sekali tak menghubungiku." jawab Rifky lesu.
" Mungkin dia juga sibuk,"
" Sibuk apa? Dia hanya sekolah dan kegiatan ramadhan di sore hari. Apa dia melupakanku setelah kemarin manjanya kelewatan."
" Ya udah, kamu aja dulu yang hubungi dia."
" Jam segini dia masih di sekolah, nanti malam saja."
" Kirim pesan saja biar nggak kepikiran. Siapa tahu dia langsung balas pesanmu." saran Nicko yang tidak tahan dengan tingkah Rifky yang seperti cacing kepanasan.
" Tidak usah, takut ganggu belajarnya." sahut Rifky.
" Berkas yang kemarin sudah di tandatangan? Sebentar lagi mau aku antar ke kantor klien."
" Minta pada Linda, tadi berkasnya kuberikan padanya."
" Hhh... kenapa harus berputar - putar, Linda ada meeting dengan klien untuk menggantikanmu hari ini."
" Astaga, kenapa aku sampai lupa? Cari saja di meja kerjanya, pasti dia menyimpannya disana."
__ADS_1
Setelah Nicko keluar dari ruangannya, Rifky merebahkan tubuhnya di sofa seraya menatap foto Medina di galery ponselnya.
" Sayang, kakak kangen sama kamu." lirih Rifky.
Rifky membuka aplikasi hijau ingin mengirim pesan kepada kekasihnya namun baru beberapa huruf dihapus lagi. Berkali - kali ketik hapus - ketik hapus, membuatnya pusing sendiri.
" Hahh... apa yang kulakukan!" kesal Rifky.
Saat matanya mulai terpejam, tiba - tiba ponselnya berdering. Rifky segera melihat siapa yang menghubunginya.
" Dina...?" gumam Rifky kaget. Dia segera mengangkat telfon dari kekasihnya itu.
" Assalamu'alaikum, sayang."
( " Wa'alaikumsalam, kakak sedang apa?" )
" Ini lagi di kantor, sayang. Banyak sekali pekerjaan yang harus kakak selesaikan."
( " Beneran kerja? Tapi dari tadi online? Lagi chat sama siapa?" )
" Tidak chat siapa - siapa, calis kesayanganku. Apa kamu sedang cemburu?"
( " Ish... siapa juga yang cemburu." )
" Yakin tidak cemburu? Video call ya, biar kakak tahu seperti apa wajah cantik kekasihku saat ini."
( " Nggak mau, disini banyak orang." )
" Tapi kakak kangen sama kamu,"
( " Pulanglah, sudah beberapa hari kakak pergi dan tak pernah menghubungiku." )
" Maaf, sayangku. Pekerjaan kakak sangat banyak, tiap hari lembur sampai tengah malam jadi tidak sempat untuk menghubungimu."
( " Hmm... terus kapan pulang?" )
" Sabtu ya? Mungkin malam minggu."
( " Sekalian aja tidak usah pulang!" )
" Sayangku, jangan marah dong? Kakak punya hadiah special buat kamu."
( " Hadiah apa...?" )
" Nanti aja kalau sudah ketemu juga kamu tahu."
( " Hmm... ya udah, kalau gitu Dina masuk kelas dulu." )
" Iya, sayang. Jangan berbuat ulah lagi ya? Luka kamu belum sembuh."
( " Iyaaaa...!" )
" Assalamu'alaikum, sayangku."
( " Wa'alaikumsalam." )
Rifky kembali tersenyum sumringah setelah mendengar suara kekasihnya. Semangatnya kembali berkobar seperti prajurit yang siap bertempur di medan perang.
" Asal kau bahagia, apapun akan aku lakukan untukmu." gumam Rifky.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1