
Pagi itu juga, Medina dan para wanita yang lainnya dibawa keluar kota menggunakan mobil box berisi barang - barang elektronik. Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan tanpa ada hambatan sama sekali. Ada beberapa kali pemeriksaan namun mobil itu selalu lolos.
Satu jam kemudian, mereka sampai di sebuah tempat yang cukup asing. Banyak pepohonan disana dan jalanannya hanya bisa diakses dengan jalan kaki. Medina bisa memastikan bahwa mereka masuk ke dalam perbukitan.
" Bagaimana ini? Pasti kak Rifky tidak akan bisa menemukanku di tempat seperti ini." batin Medina.
Medina menghafal setiap jalur yang ia lewati. Malam ini ia harus bisa kabur dari para penjahat itu. Medina butuh bantuan untuk bisa menyelamatkan teman - temannya.
" Pancing mereka untuk bicara, setidaknya kita tahu lokasi kita sekarang." bisik Medina pada salah satu temannya.
" Untuk apa? Kita tetap saja tidak akan bisa keluar dari sini."
" Pasti bisa, malam ini kita semua akan pergi dari tempat ini."
Medina bersama lima perempuan lainnya disekap dalam sebuah ruangan yang terbuat dari dinding kayu. Dari celah papan - papan itu, Medina bisa melihat keadaan diluar.
" Hei... Lihat itu! Apakah kalian mengenali menara itu?" bisik Medina.
" Menara apa?"
" Itu, yang ada di bawah bukit ini. Apakah itu bisa jadi petunjuk lokasi kita?"
" Sepertinya saya tahu tempat itu. Iya, kita berada di pinggiran kota Incheon. Menara itu adalah milik stasiun tv swasta di kota ini."
" Akhirnya kita tahu lokasi kita disekap."
.
.
Rifky mencari setiap mobil yang lewat malam itu yang terekam cctv. Setidaknya ada sepuluh mobil yang diperiksa namun baru sembilan yang berhasil ditemukan.
" Tuan, hanya satu yang belum ditemukan. Sebuah mobil box warna putih" kata Detektif Kang.
" Apa kita harus memeriksa semua mobil box di kota ini? Itu membutuhkan waktu yang lama."
" Tidak, pagi ini anak buah saya melihat mobil itu keluar dari kota ini menuju Incheon. Tapi kita harus berhati - hati, sepertinya ada orang dalam di kepolisian yang bekerja sama dengan mereka. Jangan pernah memberitahu siapapun dan jangan mudah percaya meskipun itu anggota kepolisian. Kita belum tahu siapa dibalik semua ini."
" Hans... Hubungi Bayu, suruh dia mencari mobil itu di Incheon. Kita pergi kesana sekarang juga."
" Baik, Boss. Bayu juga sedang bersama beberapa anggota kita disana."
Rifky masuk ke dalam mobil Detektif Kang bersama dengan Hans dan Jonathan. Para anggotanya mengikuti dengan beberapa mobil yang lain.
" Jika saya bisa menangkap mafia ini, sudah bisa dipastikan kota Seoul akan jadi sasaran media." kata Detektif Kang.
__ADS_1
" Dan tentunya Anda akan naik jabatan, Detektif Kang." sahut Hans.
" Hhh... Justru akan semakin banyak musuhku, Tuan Hans."
Saat dalam perjalanan, ponsel Hans berdering dan itu dari Bayu yang sekarang mencari keberadaan Medina.
Hans : " Ada apa, Bay...?"
Bayu : " Kak, aku menemukan mobil box seperti foto yang kau kirimkan."
Hans : " Dimana kau menemukannya?"
Bayu : " Di terowongan dalam kota. Mobilnya kosong dan ditinggal begitu saja disini. Sepertinya mereka sengaja menukar mobilnya di terowongan supaya tidak bisa dilacak."
Hans : " Baiklah, kalian tetap cari Medina. Aku sudah di tengah jalan menuju Incheon."
Bayu : " Apakah kita harus minta bantuan polisi setempat?"
Hans : " Jangan. Kita tidak bisa percaya pada siapapun saat ini. Tetap bergerak dengan anggota yang lain."
Bayu : " Siap!"
.
.
" Kemana arah jalan itu?" tanya Bayu.
" Jalan itu menuju perbukitan pinggiran kota. Jarang sekali ada yang melewati jalan itu selain penduduk setempat."
" Kita cari ke arah sana, instingku mengatakan Medina ada di sekitar sana."
" Tapi tidak mungkin, kau tidak tahu apapun tentang kota ini."
" Benar, saya tidak tahu apapun tentang kota ini. Tapi saya punya insting yang kuat tentang Medina. Kami bersama - sama setiap hari sejak kecil."
" Baiklah, terserah kau saja."
Butuh waktu lima belas menit untuk sampai di desa bawah perbukitan itu. Bayu meminta mereka untuk menyewa rumah untuk beristirahat dan memantau keadaan.
" Kita berjaga disini sambil menunggu Boss datang. Saya yakin Medina ada di atas bukit sana."
" Bagaimana kau bisa seyakin itu?"
" Apa kalian tidak melihat mobil yang terparkir di jalan menuju atas bukit itu? Tidak mungkin penduduk desa memiliki mobil seperti itu. Makan saja mereka harus berhemat, apalagi harus membeli mobil - mobil seperti itu."
__ADS_1
" Baiklah, kita berpencar untuk mencari jalan lain arah bukit. Kita bergerak saat malam tiba sambil menunggu Boss tiba."
Satu jam kemudian, Rifky datang bersama yang lainnya. Hanya beberapa orang saja yang masuk ke desa supaya tidak terlihat mencurigakan. Anggota yang lain akan menyebar di sekitar desa sampai ada perintah dari Hans.
" Kak Rifky, sepertinya ada Markas diatas bukit. Aku yakin Medina juga ada disana." ucap Bayu.
Rifky mengedarkan pandangannya ke atas bukit. Seperti halnya Bayu, Rifky juga memiliki insting yang kuat bahwa istrinya di perbukitan. Dia merasakan kedekatan lewat batin dengan Medina.
" Kita naik saat matahari terbenam. Kempeskan semua ban mobilnya biar mereka tidak bisa kabur."
Rifky dan Bayu mengatur siasat untuk penyelamatan Medina. Mereka akan berpencar dan mengepung dari segala arah. Mereka tidak boleh lolos satupun dari penyergapan.
.
.
Malam menjelang, Medina dengan bersusah payah akhirnya bisa membuka salah satu papan kayu di ruangan itu. Dia akan pergi terlebih dahulu untuk mencari bantuan. Medina tidak mungkin membawa mereka semua pergi sekarang karena belum tahu jalan. Jika tertangkap lagi, semuanya bisa saja dibunuh.
" Saya pergi dulu ke bawah, kalian jangan ada yang membuat keributan atau memberontak sampai saya datang kembali." kata Medina.
" Cepatlah kembali sebelum mereka menyadari kau kabur, Mey."
" Iya, kalian tenang saja. Saya akan segera kembali."
Medina segera keluar dari ruangan itu menuju belakang rumah besar yang ternyata jurang. Dia harus melewati jurang itu walaupun malam semakin gelap dan jalanan yang terjal. Salah sedikit saja, ia bisa jatuh ke jurang yang sangat dalam.
" Baru kali ini aku nekat berkeliaran di hutan gelap seperti ini. Aku harus berani demi teman - temanku di dalam sana." batin Medina.
Medina mulai menapaki jalan berbatu yang tertutup pepohonan yang besar - besar sehingga terlihat sangat gelap. Medina terus menuruni bukit dimana ada cahaya lampu di kejauhan yang mungkin saja pemukiman penduduk.
" Aku harus bisa, Kak Rifky pasti sangat mencemaskanku saat ini. Maafkan aku, Kak... Seharusnya aku tidak pulang duluan kemarin. Aku sungguh sangat menyesal." gumam Medina.
Saat Medina beristirahat di bawah pohon, tiba - tiba ia mendengar suara langkah kaki yang sangat keras karena menginjak dedaunan dan ranting kering. Jika dari suaranya, sepertinya lebih dari dua orang.
" Apa mereka penjahat yang mengejarku? Tapi suaranya seperti dari bawah." batin Medina.
Saat Medina hendak bangkit dari persembunyiannya, tiba - tiba ia terpeleset dan terperosok sedikit ke bawah yang menimbulkan bunyi yang cukup keras.
" Sial...!"
.
.
TBC
__ADS_1
.
.