Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Bersama para sahabat


__ADS_3

Usai sholat maghrib, semua keluar dari kamar masing - masing untuk makan malam walaupun hanya sedikit karena nanti juga akan barbeque diluar.


Saat melewati ruang tamu, Medina mendengar ada suara orang di teras. Dia menghentikan langkahnya untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.


" Kenapa sayang?" tanya Rifky.


" Dina seperti mendengar suara orang diluar, Kak." jawab Medina.


" Yaudah, kita cek keluar saja. Shaka... Kamu sama Uncle Nicko dulu disana ya?"


" Ayah kemana?"


" Cuma temenin Bunda sebentar keluar."


Shaka berlari menghampiri Nicko yang sudah berjalan terlebih dahulu di depannya lalu memeluk kakinya hingga membuat pria dewasa itu kaget.


" Boy... Jangan ngagetin Uncle!" seru Nicko.


Nicko meraih tubuh Shaka ke dalam gendongannya. Gemas sekali melihat pipi cubby putra bossnya itu. Dia jadi membayang jika ia sendiri sudah memiliki anak sendiri semanis Shaka. Anak kecil yang paling dekat dengannya hanyalah Shaka. Alicia, Arata dan Siena...? Mereka jarang bertemu karena berbeda negara.


Sementara di diluar, Medina teriak histeris saat melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang. Rasa senang luar biasa ia tunjukkan dengan memeluk erat mereka.


" Alicia, Arata, Siena...!" seru Medina.


" Hai, Aunty...!" sapa mereka bertiga.


Usai memeluk ketiga bocah itu, Medina tersenyum lalu bergantian menatap tiga pria yang tersenyum padanya.


" Akhirnya kalian pulang juga,"


Medina memeluk mereka satu persatu melepas rasa rindu setelah satu tahun tak bertemu. Kebahagiaan semakin lengkap dalam hatu Medina.


" Adam, Johan, Bayu... Lama sekali kalian pulang? Orangtua kalian selalu bertanya saat aku pulang ke desa."


" Jangan menangis, jelek tahu nggak!" ledek Adam.


Orang - orang yang ada di dalam berlari keluar saat mendengar suara ribut - ribut disana. Nicko takut ada penjahat yang menyerang.


" Shaka, kamu duduk disini dulu. Bik, temani Shaka sebentar."


" Baik, Tuan."


Saat Ririn keluar dan melihat siapa yang datang, dia langsung berteriak tak kalah histeris seperti Medina. Ririn langsung memeluk ketiga sahabatnya dengan rasa bahagia. Bahkan tanpa malu ia bergelayut manja pada Johan.


" Kenapa tidak bilang dulu kalau mau pulang?" tanya Ririn.


" Bukan surprise kalau bilang dulu." sahut Bayu.


" Wait...! Ini kenapa anak - anak bersama kalian? Hans dan Jo dimana?" tanya Rifky penasaran.


" Kak Jo ada meeting di Singapore, jadi akan menyusul bersama kak Ayumi lusa." jawab Adam.


" Hans...?"


" Kak Hans singgah dulu ke Sidney untuk meeting juga. Dia juga bersama kak Sandra akan menyusul."ucap Bayu.


" Mereka meeting atau honeymoon?" gumam Nicko kesal.


Untung saja di Villa milik keluarga Rifky memiliki banyak kamar sehingga dapat menampung mereka semua.


" Bay, ajak anak - anak masuk. Diluar dingin sudah malam." ujar Rifky.


" Iya, Kak."


Sementara Bayu dan Adam membawa anak - anak masuk ke dalam Villa, Ririn masih asyik berduaan di teras sambil tertawa bahagia entah apa yang mereka bicarakan. Nicko yang melihatnya sudah pasti cemburu, ingin rasanya ia menarik gadis itu masuk ke dalam Villa.


" Tidak usah cemburu, mereka sudah berteman sejak kecil." ujar Rifky.

__ADS_1


" Tetap saja mereka itu bukan saudara." sungut Nicko.


" Rin, ayo masuk. Bantu bibik menyiapkan makanan." titah Rifky.


" Iya, Kak."


Ririn beranjak dari tempat duduknya namun hal yang lebih menjengkelkan adalah Nicko melihat gadis yang disukainya itu tetap menggandeng tangan Johan.


" Rin...!" panggil Nicko.


" Hm...?" sahut Ririn singkat.


" Ikut saya sebentar...!"


" Bentar ya, Jo?" bisik Ririn.


" Ya, aku mau lihat Arata dulu." sahut Johan.


Ririn berjalan dengan langkah gontai menghampiri Nicko yang berada di tangga menuju lantai atas. Tatapannya terlihat tidak bersahabat.


" Ada apa...?" tanya Ririn datar.


" Ikut Kakak keatas!" sahut Nicko seraya menarik lengan Ririn.


" Kak, lepasin!"


Nicko diam menahan emosi yang lebih mengarah pada cemburu. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, namun Nicko tidak rela Ririn dekat dengan pria lain.


Sampai di dalam kamar Nicko, pria itu langsung mengunci pintunya dan mendorong tubuh Ririn hingga terduduk di pinggir ranjang.


" Kak Nicko...!"


" Katakan kau tidak mencintaiku!" lirih Nicko seraya berlutut di depan Ririn.


Ririn cukup terkejut dengan perlakuan Nicko yang sangat serius menatapnya. Sorot matanya yang teduh menyiratkan rasa yang begitu dalam terhadapnya.


" Aku tahu, tidak apa - apa. Aku tidak akan memaksakan kamu untuk menerimaku. Aku sadar diri, kamu bisa memiliki pria yang lebih baik dariku."


" Kak Nicko_..."


" Jangan katakan apapun,"


Nicko keluar dari kamar dengan wajah sendu. Tak bisa tergambarkan betapa hancurnya dia saat ini. Nicko tidak ke meja makan melainkan langsung keluar dari Villa.


.


.


Pukul sembilan malam setelah anak - anak tidur semua, para orang dewasa berkumpul di halaman Villa untuk acara api unggun dan juga bakar - bakar seperti ikan, ayam, sodis dan masih banyak yang lainnya.


" Kak, dari tadi nggak lihat kak Nicko." bisik Medina pada suaminya.


" Mungkin masih di kamar, Yang." sahut Rifky seraya bersandar di bahu Medina.


" Tidak, Kak. Sejak di meja makan tadi tidak ada."


" Masa' sih? Perasaan tadi kakak lihat dia mengajak Ririn ke lantai atas."


" Itu dia, tadi itu Dina lihat kak Nicko menuruni tangga. Tak berselang lama, Ririn keluar dari kamar kak Nicko dengan wajah murung."


" Benarkah? Ya udah, kamu gabung dengan teman - temanmu. Kakak cari Nicko dulu."


" Iya, tapi cium dulu sebelum pergi." rengek Medina.


" Ish... Anak udah mau dua masih manja." goda Rifky namun tak ayal mendaratkan ciumannya di pipi sang istri.


Medina bergabung dengan Ririn dan Clarissa yang sedang membuat bumbu untuk bakar - bakar sementara para pria menyalakan api unggun.

__ADS_1


" Kamu teman Medina di kampus?" tanya Adam pada Devan.


" Iya, kami satu jurusan." jawab Devan.


" Apa dia sudah berubah?" tanya Johan.


" Berubah...? Maksudnya apa?" sahut Devan tak paham.


" Maksud Johan itu, apa Medina sudah berhenti berkelahi." ucap Bayu.


" Huft... Itu dia masalahnya, kak Rifky memintaku untuk menjaga Medina untuk mencegah hal itu. Suaminya itu khawatir saat di awal masuk kuliah, Medina menghajar beberapa preman yang mengganggu pedagang di depan kampus. Dia juga hampir menghajar dosen baru yang ingin melecehkannya. Untung saja aku tak sengaja melihatnya dan bisa mencegah perbuatannya." ujar Devan.


" Huhh... Dia memang sangat keras kepala." ucap Adam.


" Malam yang cerah, acara ini bisa sampai pagi." kata Bayu.


Entah apa yang mereka bicarakan, namun Devan sangat cepat beradaptasi dengan para sahabat Medina.


Semua terlihat bahagia penuh canda tawa malam ini. Malam yang cerah penuh bintang yang bertaburan di langit.


" Mey, ini udah ada yang mateng. Kasih mereka, gih!" ucap Clarissa.


" Ok, aku kesana dulu bawa ikannya." sahut Medina.


" Kak Ririn, tolong ambilkan ayamnya lagi." pinta Clarissa.


" Oh iya, sebentar aku ambilkan." ucap Ririn tampak tak fokus.


Medina berjalan menghampiri empat pria yang sedang mengitari api unggun. Dengan cekatan ia mengambil daging sedikit demi sedikit lalu disuapkan secara bergantian kepada para sahabatnya itu.


" Nanti suami kamu marah lagi, Mey." tolak Devan.


Devan ingat saat baru mengenal Medina ia memang belum tahu kalau wanita itu sudah bersuami. Devan yang awalnya sempat menyukainya kerap memberikan makanan ataupun perhatian yang lebih pada Medina hingga akhirnya dilabrak Rifky saat mengantarnya pulang.


" Itu dulu, Dev. Sekarang dia tidak cemburu lagi, soalnya aku bilang kalau kamu suka sama Clarissa." ucap Medina nyengir.


" Ish... Hoaks...!" sinis Devan.


" Kalau nggak mau buat aku aja," sahut Bayu menggoda.


" Jangan!" seru Devan dengan cepat membuat yang lain menertawakannya.


" Sudah, kalian cuci tangan terus makan. Nanti gantian kalian yang bakar." ujar Medina.


.


.


Lengkap sudah kebahagiaan malam ini bagi Medina bisa berkumpul dengan para sahabatnya. Sejenak ia terlupa dengan statusnya yang sudah menjadi seorang istri dan ibu.


Di sisi lain, Rifky masih duduk diam di samping Nicko yang menatap langit dengan sendu. Hampir setengah jam dengan posisi yang sama, akhirnya Rifky kesal juga.


" Nick...! Sampai kapan seperti ini? Apa yang terjadi denganmu?" cecar Rifky.


Bukannya menjawab, Nicko malah memeluk Rifky sambil menangis. Rifky yang tidak siap hampir saja terjungkal.


" Nick...!"


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2