
Rifky dan Medina sampai di rumah jam sembilan malam diantar oleh Nicko. Untungnya tadi mereka sudah makan di Cafe dekat Bandara sembari menunggu Nicko datang menjemput.
" Kak, semuanya udah tidur, ya?" bisik Medina.
" Iya, sayang. Kita juga langsung istirahat saja setelah mandi." ujar Rifky.
" Hmm..."
" Mau digendong ke kamar?"
" Nggak usah, kakak juga pasti lelah. Besok juga sudah kembali bekerja, kan?"
" Iya, sayang. Kamu kapan ke rumah sakit lagi?"
" Lusa kayaknya, kak Nicko yang urus jadwalnya jadi Dina lupa."
Rifky merangkul pinggang istrinya sembari berjalan ke lantai atas menuju kamarnya. Tak ada percakapan sama sekali antar keduanya saat sudah sampai di dalam kamar. Rifky mandi terlebih dahulu baru kemudian Medina.
.
.
Pagi hari setelah shubuh, Rifky sengaja mengajak istrinya untuk tidur lagi supaya saat bangun nanti sudah tidak terlihat lelah.
Di lantai bawah, Mama Kamila yang sudah tahu kalau anak dan menantunya pulang sengaja memasak sendiri untuk sarapan. Dia ingin menyambut menantubarunya dengan kesan yang sangat baik.
" Bik, tolong bangunin Rifky sama Medina." titah Mama Kamila pada salah seorang pelayan.
" Baik, Nyonya."
Pelayan itu naik ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Rifky. Sudah beberapa kali di ketuk, tetap saja tak ada sahutan dari dalam. Pelayan kembali ke bawah dan meminta maaf kepada Nyonha karena tidak bisa membangunkan Tuan Muda.
" Anak itu... apa jam segini belum melepaskan istrinya? Dasar anak nakal...!" gerutu Mama Kamila.
" Ada apa, Ma...?" tanya papa Surya.
Papa Surya dan Pak Hasan sudah duduk di meja makan untuk sarapan bersama. Hanya tinggal menunggu anak dan menantu mereka.
" Rifky dibangunin susah banget." keluh Mama Kamila.
" Biarkan saja, Rifky pasti lelah semalam baru pulang dari Bali." ujar pak Hasan.
Tak lama Rifky dan Medina turun dengan wajah lelahnya. Tadi saat pelayan mengetuk pintu, Rifky terbangun namun menyahut panggilannya. Hanya dengan sedikit memaksa istrinya untuk bangun, mereka langsung cuci muka dan turun ke bawah sebelum Mama Kamila yang mendobrak kamarnya.
" Pagi... Pa, Ma, Ayah..." sapa Rifky diikuti Medina.
" Kalian belum mandi...?" tanya papa Surya.
" Hehehee... belum, Pa. Tapi tadi shubuh udah wudhu kok." jawab Medina nyengir.
" Huft... kalian ini jorok." cibir Mama Kamila.
Mereka sarapan bersama dengan tenang walaupun sesekali Rifky mengganggu istrinya. Tangan kirinya tak bisa diam menjamah pinggang istrinya lalu mengusap perutnya di balik piyama.
Usai sarapan, Rifky kembali ke kamar untuk mandi karena ia harus berangkat ke kantor. Medina menyiapkan pakaian suaminya sementara sang suami membersihkan diri.
" Sayang... sini sebentar dong." teriak Rifky dari dalam kamar mandi.
Medina yang mendengarnya hanya bisa pasrah karena sang suami pasti tidak akan melepaskannya.
" Kak... Ada apa...?" Medina mengetuk pintu kamar mandi.
" Masuk, sayang... tidak dikunci."
Medina segera masuk dan mendapati suaminya tengah berdiri di bawah shower yang menyala. Dia tersenyum saat mendapati istrinya berdiri diambang pintu.
__ADS_1
" Kenapa, Kak?"
" Bantuin mandi biar cepat, sayang."
" Huft... kayak anak kecil saja." gerutu Medina.
Saat Medina hendak melangkahkan kakinya masuk, tiba - tiba pintu kamarnya diketuk seseorang. Dengan senyum kecil, Medina memberi kode untuk membuka pintu terlebih dahulu.
" Cckkk...!!! Pengganggu...!" geram Rifky kesal.
Medina membuka pintu dan mendapati Ayahnya disana. Dengan senang hati Medina memeluk Ayahnya yang sudah ia tinggalkan sejak menikah dengan Rifky.
" Hei... Anak ayah kenapa...?" lirih Pak Hasan.
" Dina kangen sama Ayah."
" Rifky kemana...?"
" Mandi, Ayah mau ketemu kak Rifky?"
" Ayah cuma mau pamit pulang ke desa."
" Kapan...?"
" Siang ini. Ayah harus kembali bekerja, sudah terlalu lama Ayah cuti."
" Dina ikut, ya?"
Pak Hasan mengusap pelan puncak kepala putrinya dengan tersenyum lebar. Walaupun dalam hatinya merasa sedih karena harus jauh dari putri semata wayangnya.
" Kau mau meninggalkan suamimu?"
" Tapi Dina tidak mau jauh dari Ayah."
" Nak, sekarang kamu itu sudah bersuami. Tidak baik jika kamu meninggalkannya. Kau boleh ikut jika suamimu mengijinkan."
" Bahagialah kamu bersama suamimu dan keluarga barumu disini. Ayah akan sangat bahagia jika kamu juga bahagia."
" Kalau Dina rindu Ayah, gimana?"
" Bisa telfon, Video call atau kamu berkunjung ke desa saat suamimu libur kerja."
" Ayah pulang sama siapa?"
" Diantar sopir pak Surya."
" Dina ikut antar Ayah, ya?"
Saat Medina sedang merengek, Rifky menghampirinya sambil tersenyum. Entah apa yang dibicarakan anak dan ayah itu, Rifky tak sempat mendengarnya.
" Ada apa, Yah? Masuk saja, kenapa berdiri saja di depan pintu? Kamu juga, Dek... Kenapa ayah tidak disuruh masuk?" tegur Rifky pada istrinya.
" Tidak apa - apa, Rif. Ayah hanya sebentar saja mau pamit pulang ke desa."
" Kok buru - buru, Yah? Besok saja Rifky antar sama Dina."
" Tidak usah, nanti diantar sopir saja."
" Kak, Dina boleh ikut antar Ayah?"
" Boleh, tapi nanti pulangnya kakak jemput."
" Beneran...?"
" Iya, tapi jemputnya nggak bisa malam ini. Kamu menginap disana tidak apa - apa, kan?"
__ADS_1
" Kakak mau kemana?"
" Ada meeting dengan klien malam ini, sayang. Besok sore kakak jemput kamu."
Medina menatap suami dan ayahnya secara bergantian. Dia bingung antara memilih tetap bersama sang suami atau mengantar ayahnya ke desa.
" Tidak usah memikirkannya sampai serius begitu, Kakak usahakan malam ini bisa menyusul ke desa." ujar Rifky.
" Nanti kamu kelelahan, Rif. Tidak usah dituruti permintaan Dina yang aneh - aneh." kata pak Hasan.
" Ayaahhh...!" sungut Medina.
" Mandi dulu sana, Dek!" tegur Rifky.
" Kakak jangan pergi dulu sebelum Dina selesai mandi."
" Iya, cepetan keburu Nicko datang."
Medina bergegas masuk ke dalam kamar mandi karena tak ingin suaminya menunggu terlalu lama.
.
.
Selepas zuhur, Medina ikut ayahnya pulang ke desa. Dia terlihat sangat senang bisa menghirup udara kampung halamannya. Kenangan masa kecilnya bersama sang ibu membuatnya meneteskan airmata.
" Ibu, aku merindukanmu. Kami semua bahagia saat ini, Dina menikah dengan pria yang sudah ibu anggap sebagai putra ibu sendiri." batin Medina.
" Dina, kau kenapa?" tanya pak Hasan khawatir.
" Dina rindu ibu, Yah. Nanti sore ke makam ibu, ya?"
" Iya, sudah lama kita tidak mengunjungi ibumu. Ayah juga sangat merindukannya."
" Maafkan Dina, Yah... Dulu Dina sempat meragukan cinta ayah pada ibu."
" Lupakan saja, semuanya sudah berakhir. Kau dan aku sekarang sudah bahagia, teruslah seperti ini."
Medina merebahkan kepalanya di pangkuan sang ayah. Moment seperti ini pasti sangat jarang mereka lakukan lagi. Medina sudah bersuami dan tinggal di kota, sedangkan sang ayah menetap di desa tempat ia hidup dari kecil.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah setelah menempuh perjalan hampir 4 jam lamanya karena mobil berjalan denfan kecepatan sedang.
" Assalamu'alaikum." lirih Medina saat membuka pintu.
" Wa'alaikumsalam.. " sahut pak Hasan dibelakangnya.
" Akhirnya sampai rumah juga, Yah."
" Alhamdulillah, kita diberi keselamatan sehingga sampai rumah dalam keadaan sehat wal 'afiat."
" Rumahnya kotor, Yah. Dina bersihin dulu ya?"
" Sholat dulu saja terus istirahat."
" Tapi, Yah_..."
" Besok pagi saja, cukup bersihkan kamar kamu buat tidur."
Medina langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tempat tidur dan menyapu lantainya agar nanti bisa istirahat dengan nyaman.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.