Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Berkumpul di malam takbir


__ADS_3

" Mereka...? Aku seperti mengenali salah satu dari mereka?" gumam Medina.


Medina segera keluar untuk membantu Rifky dan Nicko untuk melawan para penjahat itu. Apalagi suasana hatinya yang sedang buruk karena cemburu dan masih kesal dengan Rifky.


" Sayang... kenapa keluar dari mobil? Kami berdua bisa membereskan mereka." ujar Rifky.


" Dina udah lama nggak olahraga, kakak aja yang masuk ke dalam mobil." sahut Medina datar.


" Hhh... baiklah, kamu hati - hati." Rifky mengusap kepala Medina yang terbalut kerudung.


" Heh... nanti saja pacarannya, tidak dengar adzan maghrib." teriak Nicko.


Sambil terus bertarung, Nicko masih saja bercanda dengan Rifky dan Medina. Para penjahat itu bukanlah lawan yang sulit. Ilmu bela diri mereka masih jauh di bawah Rifky dan Nicko.


" Ganggu aja, ini moment buka puasa yang tak akan terlupakan seumur hidup." sahut Rifky.


" Kalian ini berisik...!" seru Medina.


Dilihat para musuh sudah tumbang semua, Medina langsung menarik salah satu penjahat itu untuk mendekat padanya.


" Bukankah kau anak buah rentenir yang ada di panti asuhan itu?" tanya Medina.


" Sayang, kamu kenal dia?" Rifky mendekati Medina lalu merangkul bahu gadis itu.


" Kakak ingat rentenir yang dulu menagih hutang ke panti? Dina yakin orang ini salah satunya."


" Benarkah? Coba kulihat dulu, sayang."


" Maaf, Tuan. Kami hanya orang suruhan. Juragan kami sedang di dalam penjara, dia menyuruh kami untuk balas dendam pada Anda." ucap penjahat itu.


" Apa hubungannya denganku? Saya tidak pernah mengusik kalian!"


" Dia bangkrut, katanya semua ini karena Anda."


" Oh, ya? Jadi kalian masih bekerja untuk orang yang sedang mendekam di jeruji besi? Dasar b*d*h...! Harusnya kalian itu tobat dan mencari pekerjaan halal,"


" Sudahlah, mereka sudah tidak berdaya lagi. Hubungi saja pihak berwajib agar mereka menikmati lebaran di penjara." kata Nicko.


" Jangan, Tuan. Tolong maafkan kami..."


" Orang seperti kalian tidak akan bisa berubah,"


" Kami janji tidak akan berbuat jahat lagi, Tuan. Ampunilah kami..." mereka mulai menghiba.


Medina merasa tidak tega melihat para penjahat itu menghiba dengan wajah babak belur walaupun beberapa diantara mereka akibat perbuatan Medina sendiri.


" Kak Nicko, lepaskan saja mereka. Kasihan kalau mereka tidak bisa berkumpul dengan keluarganya di hari raya." ucap Medina.


" Sayang, mereka itu bersalah. Mereka harus menanggung hasil perbuatan mereka." ujar Rifky.


" Kak... kali ini saja, tolong penuhi permintaan Dina."


Rifky dan Nicko saling tatap lalu mengangguk untuk menyanggupi permintaan Medina.


" Baiklah, demi kamu... cuma demi kamu." ucap Rifky sambil menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


Nicko menyuruh para penjahat itu untuk memindahkan kayu yang menghalangi jalan itu lalu memberi mereka sedikit uang untuk berobat.


¤ ¤ ¤


Sampai di rumah, Medina langsung turun diikuti Rifky dan Nicko. Namun mereka terkejut karena di dalam terdengar ramai seperti banyak orang.

__ADS_1


" Sayang, paman lagi ada tamu ya?" tanya Rifky.


" Sepertinya begitu, kak. Tumben sekali, siapa ya? Tidak mungkin teman - teman se-profesi ayah datang jam segini." sahut Medina.


" Ayo masuk, kita sudah telat untuk sholat maghrib." kata Nicko.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah lalu mengucap salam bersama - sama.


" Assalamu'alaikum,"


" Wa'alaikumsalam..."


" Eh... kalian sudah pulang? Ayo duduk dulu disini." ujar pak Hasan.


" Kami sholat maghrib dulu, Yah." ucap Medina.


" Ya sudah, selesai sholat nanti kita ke rumah pak Jamal."


Medina, Rifky dan Nicko bergantian menyalami punggung tangan para orangtua yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Ternyata ada kedua orangtua Rifky dan pak Jamal. Entah apa yang mereka lakukan sekarang sehingga bertamu disaat waktu maghrib.


" Dina, kita sholat dimana?" tanya Nicko.


" Di depan tv aja, kak. Mandinya nanti aja setelah sholat, soalnya waktunya hampir habis."


Selesai sholat maghrib, mereka bergabung dengan para orangtua di ruang tamu. Karena tak ada lagi kursi yang kosong, mereka bertiga duduk di lantai tanpa alas apapun.


" Kalian ini sudah kayak pelayan jaman penjajahan saja, duduk di lantai." ledek pak Jamal.


" Disini lebih nyaman, Om. Dingin seperti di ruangan ber-AC." sahut Rifky.


" Kau ini, sejak kapan suka duduk di lantai?" kata mama Kamila.


" Ssttt... nggak boleh bicara begitu sama orangtua," bisik Medina.


" Hmm..." gumam Rifky.


Rifky senyandarkan punggungnya pada dinding lalu meluruskan kakinya agar lebih nyaman.


" Pak Hasan, ayo kita ke rumah sekarang. Nanti bisa kemalaman." kata pak Jamal.


" Iya, apa kita ke Mushola dulu saja? Sebentar lagi isya'." sahut pak Surya.


" Oh iya, sebaiknya ke Mushola dulu biar kita bisa tenang nanti ngobrolnya." ucap pak Hasan.


" Rifky tidak ikut ke Mushola, paman. Kami belum mandi dan ganti baju soalnya." kata Rifky.


" Ya udah, kalian berdua pulang sama mama dulu." ujar mama Kamila.


" Dina gimana, Ma?"


" Ya ikutlah, masa' gadis secantik ini mau ditinggal sendirian di rumah."


Medina ingin menolak tawaran ibunya Rifky, namun melihat tatapan lembutnya itu membuat Medina tidak tega untuk mengatakannya.


" Tapi Dina belum mandi, tante." ucap Medina.


" Mandi aja dulu, tante tungguin." kata mama Kamila dengan senyum ramahnya.


" Mama duluan aja sama Nicko, biar Dina sama Rifky nanti nyusul." ucap Rifky.


" Mana bisa begitu? Mama tidak mau berbuat macam - macam sama putri cantik ini."

__ADS_1


" Ma... Rifky mana mungkin macam - macam sama Dina?"


" Sudah, boss. Kenapa jadi ribut sih?" seru Nicko.


¤ ¤ ¤


Semua sudah berkumpul di rumah pak Jamal. Mereka makan malam bersama setelah itu mengobrol santai di ruang tamu.


" Sayang, ikut kakak ke atas sebentar yuk?" bisik Rifky.


" Mau kemana? Dina mau ketemu temen - temen diluar." sahut Medina pelan.


" Mau ngapain? Ini sudah malam loh?"


" Acara tahunan, kak."


" Maksudnya? Kok nggak bilang dulu sama kakak kalau malam ini ada acara?"


" Dina lupa,"


Tante Mita yang melihat Rifky dan Medina saling berbisik cuma tersenyum seraya melempar biskuit ke muka Rifky.


" Heh... kalian itu dari tadi bisik - bisik terus, nikahnya masih lama." celetuk tante Mita.


Semua orang tertawa kecuali Medina yang tampak sangat malu. Gadis itu belum terbiasa berada di tempat seperti ini, penuh canda tawa keluarga.


" Ish... tante. Siapa bilang lama, sebentar lagi kami menikah." sahut Rifky tanpa ragu di depan ayah Medina.


Medina mendekati ayahnya dan bicara sangat pelan sehingga tak terdengar oleh yang lain. Tampak ada perdebatan kecil diantara ayah dan anak itu.


" Yah, boleh ya?" bisik Medina.


" Jangan, Nak. Nggak enak sama keluarga om Jamal." sahut pak Hasan.


" Sekali ini saja, Yah." rengek Medina.


" Pak Hasan... ada apa?" tanya pak Surya.


" Mmm... tidak apa - apa, pak." jawab pak Hasan ragu.


" Katakan saja, kita inikan keluarga."


" Medina... ada apa? Apa kamu menginginkan sesuatu?" kali ini mama Kamila yang bertanya.


" Mmm... begini, tante... Dina_..." ucap Dina gugup.


Di saat bersamaan, Seno keluar dari kamarnya dengan membawa tas ransel di punggungnya.


" Kak Dina... ayo cepat, kita sudah terlambat." seru Seno.


Semua orang menatap Seno dengan heran. Mau pergi kemana anak itu dengan tas ransel yang berisi penuh? Kenapa dia mengajak Medina juga?


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2