
Keesokan harinya, Hans dan istrinya datang ke kediaman Rifky. Mereka sudah disambut oleh Siena yang menangis karena ditinggal Bayu pulang kampung.
" Hei, sayang... Kenapa menangis? Itu ada kak Alicia, kak Arata dan Shaka." Hans meraih Siena ke dalam gendongannya.
" Uncle Bayu pergi, Daddy..." rengek Siena.
" Pergi...?"
" Bayu mengunjungi orangtuanya di desa." ujar Rifky yang baru bergabung di ruang tamu.
" Sorry, Boss... Jadi merepotkan, anak - anak semua disini." ucap Hans.
" Mereka bertiga tidak merepotkanmu, Kak Rifky? Aku merasa tidak enak saja menyusahkanmu dan Medina." imbuh Sandra.
" No problem, putraku senang ada teman bermain. Kalian tidak usah sungkan, rumah ini jadi ramai dengan kehadiran kalian." sahut Rifky.
" Terima kasih,"
Medina ikut bergabung dengan mereka di ruang tamu setelah tadi ikut ibu mertuanya memasak di dapur untuk makan siang.
" Kak Sandra, Kak Hans...!" pekik Medina senang.
" Medina, senang bertemu lagi denganmu." sahut Sandra tak kalah heboh.
Medina dan Sandra saling berpelukan dengan hangat. Mereka tak menghiraukan tatapan para lelaki di hadapannya. Lama tak berjumpa membuat mereka melepas rindu dengan kehebohan ciri khas para wanita.
" Yang, berisik tahu nggak!" tegur Rifky.
" Nggak usah iri, pelukan sana sama kak Hans." cibir Medina.
Rifky sudah pasrah kalau keadaannya sudah seperti ini. Daripada sang istri marah - marah nantinya, lebih baik ia mengalah dan diam.
" Makan dulu baru kalian istirahat." ujar Rifky.
Rifky beranjak menuju dapur dengan menarik tubuh istrinya agar berjalan di depannya. Tentu saja ia selalu jahil dengan merangkul dari belakang hingga Medina kesusahan untuk berjalan.
" Ayah, lepas!" kesal Medina.
" Apa sih, Yang?" sahut Rifky santai.
" Rifky...!" tegur papa Surya.
" Kalau Papa pengen, peluk saja Mama." cibir Rifky.
" Ya Allah... Kalian ini bukan anak kecil lagi!" sentak Mama Kamila.
" Maaf ya, Hans... Sandra. Mama jadi malu kalau melihat tingkah mereka berdua." ucap Mama Kamila dengan lembut.
" It's oke, Ma. Hans tahu mereka saling menyayangi." entah sejak kapan Hans mulai terbiasa memanggil ibu dari bossnya itu 'Mama'.
Memang sejak kehadiran Arshaka dalam keluarga Mahendra, semua sahabat Medina maupun Rifky memanggil Mama Kamila dengan sebutan 'Mama'.
" Kak, panggil anak - anak dulu sana!" pinta Medina.
__ADS_1
" Ok, sayang." saat beranjak dari duduknya, Rifky masih sempat mencuri ciuman di pipi istrinya.
Tak berselang lama, Rifky kembali ke meja makan dengan menggendong Shaka. Arata dan Alicia berjalan di sampingnya dengan senyum bahagia.
" Alicia, ayo duduk. Arata biar sama Aunty, ya?" Medina dengan pelan meraih tubuh kecil Arata untuk duduk di pangkuannya.
" Aunty, Daddy sama Mommy kemana?" tanya Alicia.
" Maaf ya, sayang. Orangtuamu tidak jadi datang, kalian berdua disini dulu sambil nungguin Uncle Adam dan Uncle Johan kembali." ucap Medina pelan.
Tampak raut wajah kecewa dari dua anak Jonathan itu. Apalagi tidak ada Adam yang menemaninya. Tadinya Adam pengen ajak mereka, namun melihat dua anak itu tidak pernah hidup di desa, Adam takut mereka tidak betah.
" Alicia tidak boleh sedih, nanti kita jalan - jalan ya?" bujuk Rifky.
" Iya, Uncle..." lirih Alicia.
" Anak pintar."
.
.
Setelah beberapa hari, Adam dan yang lainnya sudah kembali ke kota. Mereka tidak tega jika harus meninggalkan anak - anak lebih lama lagi.
" Uncle Adam...!" seru Alicia.
" Hai... Sayang, kalian berdua senang bermain deng Arshaka?" sahut Adam seraya meraih tubuh Arata ke dalam gendongannya dan juga menggandeng tangan mungil Alicia.
" Kami senang disini, Uncle." jawab Arata.
Entah mengapa gadis kecil itu tidak rela jika Adam lebih perhatian pada adiknya. Sejak mengenal Adam, Alicia tidak pernah mau berpisah lagi dengannya. Bahkan kerap kali gadis kecil itu bersikeras untuk menginap di Apartemen Adam. Dia juga tidak suka jika ada wanita yang mendekati Uncle kesayangannya itu.
" Alicia tidak boleh begitu, Uncle Johan lelah habis mengemudi perjalanan jauh." sahut Adam.
" Alicia sama Uncle Bayu, ya?" bujuk Bayu.
" No...! Uncle Bayu sama Siena aja." tolak Alicia.
Adam mengalah dan memberikan Arata pada Bayu. Semakin hari gadis kecilnya itu semakin manja padanya. Terkadang Adam heran dengan sikap posesif gadis kecil itu yang tidak membiarkan satu wanitapun yang mencoba dekat dengannya.
" Kak Alicia kenapa?" kini Adam mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu.
" Uncle Adam kenapa pergi sendiri tanpa Alicia?"
" Cia sayang... Uncle cuma pergi beberapa hari untuk bertemu dengan orangtua Uncle. Maaf ya, pasti Cia tidak nyaman disini."
" Cia merindukan Uncle Adam."
" Ya udah, kita jalan - jalan ke Mall, mau?" rayu Adam.
" Hanya berdua saja? Cia nggak mau ada yang ikut, Uncle Adam cuma milik Cia!" pinta Alicia dengan tegas.
" Iya, Uncle Adam hanya milik Cia." ungkap Adam tak ingin gadis kecil itu merajuk.
__ADS_1
" Yeyyy...! Uncle Adam tidak boleh ingkar janji."
Adam hanya tersenyum lalu menggendong Alicia yang juga tersenyum lebar. Mata sipit gadis itu membuatnya terlihat sangat cantik dan menggemaskan. Setelah berpamitan pada Bayu, Adam mengajak Alicia untuk masuk ke dalam mobil yang tadi mereka pakai untuk pulang kampung.
" Uncle, jangan tinggalkan Cia lagi, ya?" pinta Alicia dengan wajah sendu.
" Kenapa Cia ngomong begitu? Uncle tidak akan pergi meninggalkan Cia."
" Kata Mommy, Uncle akan kembali ke Indonesia setelah jadi dokter."
" Uncle juga belum tahu, sayang. Saat ini juga Uncle masih bekerja di perusahaan Daddy kamu. Uncle juga masih melanjutkan pendidikan kedokteran."
Sampai di pusat perbelanjaan, Adam mengajak Alicia bermain di timezone. Sejenak gadis kecil itu melupakan obrolannya dengan Adam saat di mobil tadi. Sama seperti anak seusianya, Alicia juga sangat gemar bermain.
" Cia... Udah satu jam mainnya, makan yuk?" ajak Adam.
" Uncle laper, ya?" tanya Alicia.
" Iya, kita makan terus pulang. Kasihan Arata di tinggal, sayang."
" Nanti beli oleh - oleh buat Mommy dan Daddy ya, Uncle?"
" Iya, nanti setelah makan kita beli oleh - oleh."
Adam sudah menganggap Alicia seperti putrinya sendiri walaupun umur mereka terpaut 15 tahun. Gadis kecil itu juga sangat manja saat bersamanya. Entah mengapa Adam juga sangat menyayangi gadis kecil itu melebihi kasih sayangnya pada Arata sang adik. Arata yang ceria dan mudah bergaul, membuat anak itu merasa nyaman bersama siapa saja walaupun terkadang wajahnya memiliki aura dingin seperti ayahnya, Jonathan Kim.
Selesai makan, Adam menggendong Alicia berkeliling Mall mencari barang yang cocok untuk orangtua gadis kecil itu.
" Uncle, Mommy sukanya apa ya?"
" Cia yang lebih tahu apa kesukaan Mommy Ayumi."
" Baju itu aja, Uncle."
Alicia berlari ke arah deretan baju batik yang menurutnya sangat unik dari motif dan warnanya. Gadis itu memilih beberapa dress selutut yang terlihat sangat cantik.
" Uncle, apakah ini bagus?" tanya Alicia.
" Cari yang couple aja buat kalian berempat." ujar Adam.
" Cia mau couple sama Uncle Adam."
" Iya, nanti kita cari di sebelah sana."
Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, Adam segera mengajsk Alicia untuk pulang karena hari semakin senja.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.