
Rifky sedang berada di sebuah taman yang tak jauh dari kawasan pantai. Dia hanya tiduran di sebuah kursi panjang bawah pohon besar sambil main game di ponselnya.
Tadinya Rifky ke sebuah masjid untuk sholat dzuhur sekalian menunggu ashar disana. Namun hingga jam empat sore, Adam belum juga menghubunginya.
" Kira - kira gadisku sedang apa ya? Semoga mama tidak berbuat macam - macam sama dia." gumam Rifky.
Rifky gelisah memikirkan Medina, takut gadis itu salah paham lagi seperti kemarin. Seandainya tak ada pak Hasan disana, mungkin Rifky sudah nekat membawa Medina kabur dari pantai.
" Sudah jam lima, apa mereka masih bersenang - senang disana?" gerutu Rifky.
Rifky mengabaikan telfon dari orangtuanya karena pasti hanya akan membuatnya semakin membenci mereka. Dia mengucap istighfar beberapa kali untuk membuang rasa kecewa dan benci terhadap orangtuanya. Cukup lama Rifky melamun memikirkan kehidupannya hingga tiba - tiba ada pesan masuk.
ADAM
" Kak, calon istrimu sudah pergi. Kembalilah ke pantai."
" Sial...! Bisa - bisanya dia bilang calon istri. Cuma Medina yang boleh jadi calon istriku...!" umpat Rifky.
Tanpa membalas pesan Adam, Rifky bergegas kembali ke pantai. Tidak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan gadis kesayangannya.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit, Rifky sudah sampai di pantai dan langsung mencari keberadaan Medina. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah dan menemukan Adam beserta komplotannya.
" Dam, Medina dimana?" tanya Rifky.
" Tidak tahu, kak. Mungkin lagi sama ayahnya." jawab Adam.
" Tidak ada, tadi paman bersama Om Jamal di penginapan."
" Gawaattt...!" pekik Bayu.
" Apanya yang gawat?" sahut Ririn.
" Jangan - jangan Medina_..." ucap Bayu sambil menutup mulutnya.
" Bunuh diri maksudmu?" teriak Johan.
" Astaghfirullah..." ucap mereka serempak.
" Heh... jangan asal kalau ngomong! Medina tidak mungkin melakukan itu." bentak Rifky.
Semuanya terdiam memikirkan Medina. Tidak ada alasan bagi Medina harus bunuh diri. Sepertinya kebanyakan nonton film drama membuat pikiran mereka tak berpikir secara logika.
" Kak, kita cari Medina saja sekarang. Sebentar lagi maghrib soalnya." kata Adam.
" Ya udah, kita berpencar saja. Saya akan mencari di ujung pantai sebelah sana." sahut Rifky.
Rifky menyusuri pantai hingga ke ujung. Tempat itu terlihat sepi karena kebanyakan pengunjung sedang di ujung lain pantai menunggu matahari terbenam.
" Medina, kamu dimana...!" teriak Rifky dengan keras mengimbangi deru ombak yang semakin kencang.
" Kakak berisik...!" sahut seseorang di balik karang.
Mendengar ada sahutan, Rifky langsung menoleh ke arah sumber suara. Dia terkejut melihat gadis kecilnya sedang jongkok di bawah batu karang.
" Sayang, kamu ngapain disitu?" Rifky berlari menghampiri Medina.
" Aakkhhh... kakak, kenapa kesini sih?" sungut Medina.
" Sayang, kakak khawatir sama kamu? Kakak tahu kamu marah karena wanita itu datang lagi."
" Siapa bilang Dina marah karena dia?!"
__ADS_1
" Terus kamu ngapain disini sendirian? Teman - teman kamu berpikir kamu itu bunuh diri."
" Astaghfirullah... dasar mereka itu teman nggak ada akhlak! Awas saja nanti kalau ketemu...!" geram Medina.
Rifky menatap lekat wajah Medina yang terlihat marah. Dia harus bisa membujuk gadis itu kembali ke penginapan supaya yang lain tidak khawatir.
" Calis, kakak minta maaf ya? Bukannya kakak ingin menghindar dari masalah, tapi kakak tidak mau membuat kamu sedih lagi."
" Kak Rifky ngomong apa sih? Bikin Dina jadi bingung aja."
Medina terus menatap ke dalam air tanpa sedikitpun menoleh ke arah Rifky yang terlihat sendu menatapnya.
" Maksudnya apa, sayang? Kamu marah karena kedatangan Devi kesini, kan?" tanya Rifky.
" Tidak, Dina marah karena kakak sudah membuat ikan - ikan kecil itu kabur dengan suara keras kakak itu. Lihat...! Dina baru bisa tangkap lima nih." Medina memperlihatkan ikan - ikan kecil di dalam botol.
" Masya Allah, Calis sayang. Kakak pikir kamu cemburu terus pergi?"
" Cemburu? Hahahaa... kakak bisa aja bercandanya." Medina tertawa sangat kencang.
" Sayang, kamu bikin kakak merinding aja deh. Buang aja tuh ikan, kita balik sekarang ke penginapan."
" Dina susah ini tangkapnya, kak!"
" Sayang, nanti kakak beliin ikan mas aja yang lebih bagus." bujuk Rifky.
" Mas apa?" sungut Medina.
" Mas Rifky... hahahaaaa..." gurau Rifky yang membuat Medina langsung tersenyum.
" Mas - mas tukang kerupuk...!" cibir Medina.
" Kemana, kak?"
" KUA...!"
" Ihh... kakaakkk...!"
Rifky tersenyum melihat tingkah imut gadis kecilnya itu. Dia sangat bersyukur Medina tidak terpengaruh dengan kehadiran orangtuanya dan Devi.
" Calis, kakak ingin bicara serius sama kamu."
" Dari tadi juga kakak sudah bicara, kan?"
" Dengarkan dulu, sayangku..."
" Ok, silahkan kakak tampanku..."
Rifky lagi - lagi tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat Medina masih memanggilnya dengan panggilan masa kecilnya.
" Sayang, bolehkah aku memelukmu?" rengek Rifky.
" Katanya mau bicara serius? Kok malah jadi modus sih!" sungut Medina.
" Habisnya kamu sangat cantik dan menggemaskan. Ingin rasanya kakak bungkus terus masukin celengan."
" Ish... kakak kira aku uang recehan!"
" Hah... kenapa kita jadi bercanda terus sih? Kakak itu mau ngomong serius."
" Iya - iya, dari tadi juga kakak yang ngajakin bercanda."
__ADS_1
Rifky menghirup nafas dalam - dalam lalu membuangnya perlahan. Kini dia menampakkan wajah seriusnya.
" Sayang, kamu sudah tahukan seperti apa kedua orangtuaku? Dari kecil mereka tidak pernah peduli padaku. Mereka pikir dengan kemewahan bisa membuat sebuah keluarga itu bahagia. Saat ini mereka berusaha untuk menjodohkan aku dengan Devi, gadis yang belum lama ini diperkenalkan denganku."
" Apa kakak tidak menyukainya?"
" Kau tahu sendiri jawabannya."
" Kak, Dina takut jadi masalah nantinya jika orangtua kakak marah karena penolakan itu."
" Itu urusan kakak, sayang. Kamu tidak perlu memikirkan itu, biar nanti kakak yang menyelesaikannya."
" Jangan sampai ayah tahu ya kak?"
" Iya, kamu pikirkan saja sekolah kamu. Serahkan urusan pasar kepada Jefri saja, jangan turun tangan sendiri."
" Tapi, kak_..."
" Dengarkan kakak! Kakak sayang sama kamu dan akan buktikan pada semua orang kalau kamu adalah satu - satunya gadis yang ada di hati kakak."
" Dina merasa tidak pantas jika dibandingkan dengan kak Devi,"
Rifky meraih kedua tangan Medina lalu di genggamnya dengan erat. Rifky tahu bahwa Medina belum yakin dengan perasaannya sendiri.
" Kakak tahu kamu masih ragu dengan perasaanmu sendiri. Yakinlah bahwa cinta kakak sangat tulus padamu. Kita harus berjuang bersama untuk mendapatkan restu orangtuaku."
" Dina akan berusaha, kak. Dina tidak mau kehilangan kakak lagi, bertahun - tahun kita berpisah membuat Dina merasa kesepian."
" Kakak janji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."
Rifky ingin sekali memeluk Medina namun dia takut gadis kecilnya marah. Kini dirinya yakin jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Yang harus ia lakukan sekarang adalah meyakinkan orangtuanya bahwa Devi bukanlah wanita yang baik seperti yang mereka pikirkan.
" Kak, sebenarnya Dina sayang sama kakak. Tapi melihat wanita itu mendapat dukungan penuh dari orangtua kakak, Dina merasa hubungan kita tidak akan pernah bisa sampai ke tujuannya." lirih Medina.
" Sayang, yakinlah dengan cintaku. Kita berdua harus berjuang bersama untuk mencapai tujuan itu. Berjanjilah akan tetap bersamaku walaupun akan banyak rintangan yang menghalangi cinta kita."
" Insya Allah, kak. Dina akan berusaha untuk memperjuangkan cinta kita."
" Jadi... sekarang kita pacaran?"
" Mmm... gimana ya?" Medina tersenyum kecil.
" Sayang, beri kakak kepastian biar hati ini merasa lega." rengek Rifky.
Lagi - lagi Medina hanya tersenyum lalu berlari kecil meninggalkan Rifky yang masih menunggu jawabannya.
" Sayang, I love you...!" teriak Rifky.
Medina berhenti lalu menoleh menatap Rifky sambil terus mengembangkan senyumnya.
" I love you, too... kakak tampan."
.
.
TBC
.
.
__ADS_1