Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Pengacau


__ADS_3

" Kak Rifky, ada apa?" tanya Medina heran.


" Mmm... tidak apa - apa, sayang. Kamu masuk duluan aja ya? Kakak ada pekerjaan sebentar diluar." ujar Rifky.


" Tapi, kak... makan dulu bareng yang lain." cegah Medina.


" Sayang, kamu makan duluan saja. Jika ada yang bertanya, bilang saja kakak harus pergi karena ada pekerjaan mendadak. Nanti jangan pulang sebelum kakak jemput ya?"


" Katanya cuma sebentar?"


" Iya, kakak juga belum tahu kapan selesainya. Nanti kakak hubungi kamu lewat ponsel Adam."


" Kak_..."


" Masuklah, kakak harus pergi sekarang juga." ujar Rifky kemudian meninggalkan Medina dengan cepat.


Medina melihat kepergian Rifky dengan heran. Sepertinya ada yang disembunyikan pria itu darinya. Medina segera masuk ke dalam penginapan dan terkejut melihat gadis yang dulu bersama Rifky di perkebunan.


" Assalamu'alaikum," ucap Medina.


" Wa'alaikumsalam." jawab semua orang di dalam.


" Kamu siapa?" tanya seorang wanita yang mungkin seumuran dengan tante Mita.


" Saya Medina, tante. Anaknya pak Hasan." jawab Medina.


Pria disampingnya tampak mirip dengan pak Jamal, Medina hanya meliriknya sekilas lalu menatap gadis yang sedari tadi memainkan ponselnya.


" Dina, ini Mas Surya dan mbak Kamila... orangtua Rifky." kata tante Mita.


" Oh... jadi kamu anaknya Hasan, sudah besar dan cantik sekarang." sahut pak Surya sambil tersenyum.


Berbeda dengan pak Surya yang ramah, istrinya justru memandangnya dengan sinis.


" Dina, dimana Rifky? Katanya tadi pergi denganmu?" ketus tante Kamila.


" Iya, tante. Tadi memang kak Rifky bersama saya. Tapi... kak Rifky mendadak ada pekerjaan penting, jadi dia langsung pergi." ucap Medina.


" Tante, kok Rifky malah pergi sih?" rengek Devi manja.


Devi terlihat sangat kesal dengan sikap Rifky yang keterlaluan. Pasti Rifky sudah tahu kedatangannya, makanya langsung pergi begitu saja.


" Tenang saja, sayang. Rifky pasti segera kembali kesini." hibur tante Kamila.


" Pasti Rifky sengaja pergi, tante."


Medina mengerti sekarang mengapa Rifky tiba - tiba pergi padahal tadi semangat banget untuk makan bersama. Apa Rifky menghindari orangtuanya dan gadis itu? Pikir Medina.


Medina segera masuk ke dalam kamar diikuti oleh Ririn. Dia ingin membersihkan diri karena tubuhnya lengket kena air laut.


" Mey, kamu tidak apa - apa?" tanya Ririn.


" Memangnya kenapa, Rin. Aku baik - baik saja." sahut Medina.


" Soal gadis itu, apa dia pacarnya Oppa?"


" Mana kutahu, tanya sendiri sama orangnya. Aku mau mandi dulu."


" Huft... kamu tuh kalau diajak ghibah susah...!" gerutu Ririn.


Tak lama Medina keluar dari kamar mandi dan segera mengambil mukena di dalam tasnya untuk sholat dzuhur. Ririn merebahkan tubuhnya di tempat tidur sembari menunggu Medina.

__ADS_1


" Dina, Ririn... ayo makan dulu sebelum istirahat." ajak tante Mita yang baru saja masuk ke kamar Medina.


" Eh, tante. Duduk sini dulu, ada yang mau Ririn tanyakan." pinta Ririn sambil menuntun tante Mita menuju tempat tidur.


" Ada apa sih, Rin?" tanya Medina heran.


" Ada apa? Yang lain sudah nungguin buat makan." kata tante Mita.


" Tante, wanita yang sama orangtuanya kak Rifky siapa?" tanya Ririn.


Tante Mita melihat Medina sekilas lalu menghembuskan nafasnya pelan. Ada keraguan dalam hatinya untuk menjawab pertanyaan Ririn di depan Medina.


" Dia gadis yang sama dengan yang di perkebunan itukan, tante?" kata Medina.


" Huft... jadi kamu pernah bertemu dengan dia?" ucap tante Mita pelan.


" Dina hanya melihatnya sekilas saja, tante."


" Dina, sebenarnya gadis itu yang ingin dijodohkan dengan Rifky."


" Berarti kak Rifky beruntung dong dijodohkan dengan wanita cantik dan berkelas seperti dia?" Medina tersenyum samar.


" Jangan berprasangka dulu, Rifky tidak pernah suka dengan gadis itu dan juga perjodohannya." ujar tante Mita.


" Dia cantik, kenapa kak Rifky menolaknya?"


" Karena dia sudah memiliki pilihannya sendiri. Rifky bukan orang yang mudah tergoda dengan sembarang wanita, karena hanya ada satu yang bisa meruntuhkan benteng pertahanannya."


Ririn yang sedari tadi menyimak pembicaraan Medina dan tante Mita, tiba - tiba mempunyai ide jahil untuk mengerjai wanita pengacau liburannya itu.


¤ ¤ ¤


Ririn menyusun rencana untuk mengerjai si 'pengacau' yang membuat liburan kali ini berantakan. Rifky yang seharusnya bermain dengan mereka harus pergi karena kehadiran wanita tidak tahu malu itu.


" Dam, kau yang pertama beraksi." kata Ririn.


" Bayu saja, dia lebih jago ngerayu cewek." sahut Adam.


" Ogah, aku lebih suka ngerayu gadis bukan tante - tante." sungut Bayu.


" Ish... cepatlah! Kita tidak punya banyak waktu." seru Ririn.


" Biar aku saja yang bertindak, kalian berdua pengecut." cibir Johan.


Johan berlalu meninggalkan tiga temannya menuju ke tempat Devi yang sedang duduk bersama orangtua Rifky.


" Permisi, Om... tante... saya Johan temennya kak Rifky." sapa Johan dengan sopan.


" Ada apa?" tanya tante Kamila angkuh.


" Apa boleh saya ajak keponakan tante untuk berkeliling sekitar sini?"


" Keponakan?"


" Iya, kakak yang cantik itu bukankah saudarinya kak Rifky?"


" Bukan, dia ini calon istrinya Rifky."


Johan berusaha tenang agar tak terpancing dengan ucapan tante Kamila. Dia mengembangkan senyumnya untuk menarik perhatian Devi.


" Oh, calon istri? Berarti saya calon adik ipar dong, soalnya kak Rifky itu sudah seperti saudara."

__ADS_1


" Dev, sambil menunggu Rifky kamu main dulu saja sama anak - anak ini. Sepertinya mereka sangat baik dan sopan."


" Tapi, tante... Devi tidak suka panas - panasan." Devi terdengar sangat manja.


" Ini sudah sore, kak. Tidak akan kepanasan, saya jamin deh." bujuk Johan.


Setelah mempertimbangkan ajakan Johan, Devi akhirnya menerima ajakan pemuda itu walau sedikit terpaksa. Sementara Ririn, Bayu dan Adam sudah menanti mereka di pantai sambil bermain air.


" Kak Devi..." sapa Ririn dengan ramah.


" Hmm..." sahut Devi malas.


" Ayo, kak. Kita main air... pasti kakak tidak akan pernah melupakan hari ini." ucap Bayu.


Dengan senyum jahilnya, Bayu menarik lengan Devi dengan kuat hingga wanita itu tersungkur ke dalam air. Seluruh tubuhnya basah kuyup dan terlihat jelas lekukan tubuhnya karena hanya memakai dress tipis tanpa lengan.


" Auwww...! Kau sengaja ya!" pekik Devi marah.


" Sorry, kak. Saya tidak sengaja, soalnya kaki saya masuk terlalu dalam ke air jadi reflek." ucap Bayu pura - pura merasa bersalah.


" Kamu gimana sih, Bay? Kak Devi jadi basah semua, kan?" bentak Ririn.


" Kak, pakai jaket saya aja. Baju kakak basah semua, malu dilihat banyak orang." kata Adam.


" Terimakasih," sahut Devi datar.


" Apa tidak sebaiknya kakak pulang saja, nanti sakit loh basah kuyup begini. Malu kalau nanti kak Rifky datang dan melihat kak Devi berantakan begini." kata Johan.


" Tapi saya belum bertemu dengan Rifky?"


" Tenang saja, kak. Lain kali masih ada banyak waktu untuk bertemu kak Rifky. Mending sekarang kakak perawatan ke salon biar kulitnya tidak kusam kena air laut." saran Ririn.


Devi tampak berpikir sejenak seraya mengamati penampilannya saat ini. Wanita itu mengusap wajahnya dengan kasar lalu pergi menuju ke tempat orangtua Rifky dengan basah kuyup dan rambut berantakan.


" Om, tante... ayo pulang...!" rengek Devi.


" Devi... kamu kenapa? Kok jadi basah semua?" tanya pak Surya.


" Tadi Devi jatuh ke dalam air, Om."


" Ya sudah, kita pulang dulu. Lain kali kita cari Rifky lagi, sayang." ucap tante Kamila.


Devi dan orangtuanya Rifky segera meninggalkan tempat itu dengan wajah Devi yang kesal. Ririn dan ketiga temannya tertawa kencang karena bisa mengusir pengacau pengganggu liburannya.


" Alhamdulillah, akhirnya pengacau itu pergi juga." kata Ririn.


" Hhh... jaketku jadi korbannya...!" sungut Adam.


" Sudah, biarin aja. Di pasar masih banyak yang jual." sahut Johan.


" Lucu juga wajah wanita itu kalau lagi berantakan, semoga saja kak Rifky tidak tergoda dengan orang semacam itu." kata Bayu.


" Ternyata mengusir pengacau itu sangat mudah." seru Ririn.


Setelah memastikan Devi pergi dari kawasan pantai itu, Adam segera menghubungi Rifky agar cepat kembali karena hari juga sudah semakin sore.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2