Mengejar Cinta Gadis Brutal

Mengejar Cinta Gadis Brutal
Merindukan pelukanmu


__ADS_3

Rifky menghela nafas lega setelah meeting selesai. Dia segera kembali ke ruangannya untuk beristirahat sebentar sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya.


" Boss, udah baca pesan di group belum?" tanya Nicko.


" Belum, ada apa...?" sahut Rifky datar.


" Istrinya Hans sudah melahirkan satu jam yang lalu."


" Aku belum sempat buka ponselku. Huhh... padahal aku sudah janji pada Medina untuk menjenguk anaknya Hans jika sudah lahir."


" Tapi jadwal minggu ini sangat padat, Boss."


" Apa kau tidak kasihan jika Hans tetap bekerja saat anaknya baru lahir?"


" Terus gimana, Boss?"


" Kau harus belajar untuk mandiri seperti Kim dan Hans, Nick."


" Aku sudah terbiasa ikut denganmu, Boss."


" Kau urus pekerjaan disini selama dua minggu ke depan. Aku akan pergi gantikan pekerjaan Hans, dia harus menjaga istri dan anaknya sampai pulih kesehatannya pasca melahirkan."


" Ok, aku akan mengerjakan semuanya disini." Nicko pasrah dengan keputusan Bossnya.


" Ikhlas, nggak?"


" Ikhlas, Boss..."


" Good, kembali bekerja."


Usai berbincang dengan asistennya itu Rifky mengambil ponsel lalu mencari kontak istrinya. Dia akan mengabarkan tentang kelahiran anak pertama Hans.


Rifky : " Assalamu'alaikum, sayang."


Medina : " Wa'alaikumsalam, Kak. Ada apa, tumben jam segini telfon?"


Rifky : " Apalagi yang harus kukatakan, sayang. Hari ini pekerjaan sangat banyak dan aku merindukan pelukanmu."


Medina : " Baru juga tadi pagi ketemu, Kak."


Rifky : " Kau tahu sendiri aku tak bisa jauh darimu, istriku."


Medina : " Kakak sudah makan siang...?"


Rifky : " Belum, sayang. Ini baru selesai meetingnya, nanti aku suruh sekretarisku untuk pesan makanan."


Medina : " Jangan telat makan, nanti sakit gimana?"


Rifky : " Iya, sayang. Oh iya, istrinya Hans sudah melahirkan. Kamu mau datang ke Korea?"


Medina : " Memangnya kakak nggak sibuk?"


Rifky : " Sibuk, sayang. Tapi kakak harus menggantikan pekerjaan Hans sampai istrinya sehat."


Medina : " So, kita disana lama?"


Rifky : " Mungkin dua mingguan. Soalnya kamu juga harus masuk kuliah bulan depan."


Medina : " Kapan berangkat? Nggak sabar pengen lihat baby korea. Pasti imut banget, kak Hans juga imut dan tampan."


Rifky : " Sayang...!"


Medina : Hehehee... bercanda, Kak. Kak Rifky adalah pria paling tampan di dunia dan juga di hatiku."


Rifky : " Malam ini kakak nggak pulang, besok kakak jemput terus sore langsung berangkat ke Korea."


Medina : " Kita belum packing, Kak."

__ADS_1


Rifky : " Tidak usah, disana udah ada pakaian kita. Nanti bisa beli lagi kalau sudah sampai, tidak usah ribet packing."


Medina : " Malam ini gimana?"


Rifky : " Gimana apanya, sayang?"


Medina : " Kalau aku merindukan pelukanmu?"


Rifky : " Kakak juga begitu, sayang. Sabar, ya? Besok kakak jemput."


Medina : " Ya udah, kakak jangan lupa makan. Selamat bekerja, suami sayang."


Rifky : " I love you, my wife. Assalamu'alaikum."


Medina : " I love you too, my handsome husband. Wa'alaikum salam."


Rifky tersenyum lebar setelah panggilan telfonnya terputus. Baru juga beberapa jam berpisah, dia sudah merindukan pelukan hangat sang istri.


" Huhh... semoga rindu ini tidak akan pernah hilang walau kita sedang bersama sekalipun, sayang. Setiap hembusan nafas ini, hanya dirimu yang selalu ada di hati dan pikiranku. Kau adalah segalanya dalam kehidupanku." gumam Rifky pelan.


Rifky lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum ia tinggalkan ke Korea. Semua berkas yang harusnya ia kerjakan untuk minggu depan ia selesaikan malam ini juga. Hingga tak terasa Rifky bekerja hingga jam tiga pagi.


" Sayang, nanti bangunkan kakak saat shubuh. Takut kesiangan soalnya baru mau tidur sekarang." Rifky mengirimkan pesan pada istrinya.


Usai mengirim pesan, Rifky langsung masuk ke dalam kamar pribadinya untuk beristirahat. Tubuhnya benar - benar lelah dan harus segera diistirahatkan.


Hanya dalam hitungan menit saja, Rifky sudah terlelap memeluk guling. Sangat aneh rasanya karena biasanya memeluk tubuh sang istri yang membuatnya hangat.


.


.


Medina terbangun saat adzan shubuh. Dia meraih ponsel di samping bantalnya untuk mengecek apakah ada pesan yang masuk. ( kebiasaan orang jaman sekarang, hal yang pertama kali dilakukan saat bangun tidur ).


" Kak Rifky chat apa pagi - pagi?" gumam Medina.


Medina : " Assalamu'alaikum, suamiku."


Rifky : " Hmmm... Wa'alaikumsalam, cintaku."


Medina : " Bangun dulu, Kak. Sholat dulu baru nanti tidur lagi."


Rifky : " Iya, sayang. Nanti jemputnya agak siangan ya? Ngantuk banget ini susah untuk membuka mata."


Medina : " Iya, nanti diantar sopir saja kesini. Jangan menyetir sendiri."


Rifky : " Siap, Nyonya Mahendra!"


Medina bergegas mengambil wudhu setelah mematikan panggilan di ponselnya. Ayahnya sepertinya sudah berangkat ke Mushola saat ia masih tidur tadi.


Usai sholat, Medina membuat sarapan serta bersih - bersih rumah. Ayahnya menyapu halaman seperti biasanya. Mereka berdua kompak saling membantu saat mengerjakan pekerjaan rumah.


" Yah, nanti kak Rifky mau jemput Dina." saat ini ayah dan anak itu tengah duduk di meja makan bersiap untuk sarapan.


" Baiklah, tunggu Ayah pulang dari sekolah." jawab Pak Hasan.


" Dina perginya lama, Yah. Nanti sore mau berangkat ke Korea, istrinya kak Hans melahirkan jadi kak Rifky yang akan mengurus perusahaan untuk sementara waktu."


" Nanti Ayah titip sesuatu buat Hans."


" Iya, memangnya Ayah mau nitip apa?"


" Sudah Ayah siapkan, kamu tidak perlu tahu."


" Ihh... Ayah pelit!"


" Ayo sarapan, nanti Ayah terlambat ke sekolah."

__ADS_1


" Iya, Dina juga mau ke rumah Bayu. Mungkin mereka ada sesuatu untuk anaknya."


Selesai sarapan, Pak Hasan segera berangkat ke sekolah sedangkan Medina melanjutkan acara beres - beres rumah sebelum sang suami datang menjemputnya.


.


.


Pukul sebelas siang, Medina sedang memasak saat suaminya datang. Ayahnya akan pulang pukul dua belas siang. Rifky datang bersama Nicko karena asistennya itu memaksa pengen ikut sebelum besok harus bekerja sendirian.


" Assalamu'alaikum..." ucap Rifky.


" Wa'alaikumsalam." jawab Medina.


" Hai... kakak ipar," sapa Nicko yang tanpa permisi langsung masuk dan tiduran di depan tv.


" Kak Nicko mau minum apa?" sahut Medina.


" Apa saja yang penting dingin, lagi masak ya? Aku laper, Mey." ucap Nicko.


" Iya, sebentar lagi juga selesai. Istirahat dulu sambil tunggu Ayah pulang."


" Kakak bantu, sayang." ujar Rifky.


" Iya, ayo ke dapur."


" Kelakuanmu, Boss. Aku tidak yakin kau akan membantu, paling juga cuma mengganggu." cibir Nicko.


" Anak kecil jangan sok tahu!" balas Rifky sinis.


Rifky mengikuti istrinya ke dapur. Ternyata makanannya sudah hampir matang semua dan hanya tinggal menunggu beberapa menit saja. Tak ingin melewatkan kesempatan, Rifky langsung memeluk dan mencium istrinya sampai puas.


" Kak... nanti masakannya gosong!"


" Cuma sebentar, sayang. Aku merindukan pelukanmu yang hangat ini."


" Jangan disini, ada kak Nicko di depan."


" Ya udah, selesai masak langsung ke kamar."


" Tapi_..."


Rifky segera masuk ke dalam kamar dan menutupnya dengan rapat. Dia berbaring di tempat tidur sambil memeluk guling dengan sangat nyaman. Aroma tubuh sang istri menempel disana sehingga Rifky merasa begitu menikmatinya.


" Pasti capek, ya? Semalam lembur sampai jam tiga?" Medina entah sejak kapan duduk di tepi ranjang samping Rifky.


" Eh, sayang... kapan kamu duduk disitu?" Rifky langsung melepaskan guling yang dipeluknya.


" Baru aja kok, istirahatlah. Kapan kita berangkat?"


" Jam setengah dua. Nanti kita langsung ke Bandara, privat jet lepas landas jam lima."


" Ya udah, kakak istirahat dulu sambil nunggu Ayah pulang."


" Peluk dulu, sayang."


Medina tersenyum lalu memeluk suaminya dengan erat namun berakhir dengan kecupan hangat di bibir suaminya.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2