
Usai sarapan, Rifky langsung pulang ke rumah pak Jamal untuk mengambil barang - barang dan motornya. Waktu masih menunjukkan jam enam pagi, masih terlalu pagi untuk mengantar Medina ke sekolah. Namun bagi Rifky, ia harus mengejar waktu untuk bisa sampai di kota secepatnya. Dia memilih menggunakan motor agar tidak terjebak macet nantinya.
" Calis, maaf ya berangkatnya kepagian. Kakak harus sampai di tempat kerja sebelum jam sepuluh." ucap Rifky.
" Apa Dina berangkat sama Adam saja, kak?"
" Jangan, kakak udah janji mau antar kamu ke sekolah."
" Ya udah, tapi Dina bilang dulu sama Adam biar dia nggak nungguin."
" Jangan lama - lama, sayang."
Medina sudah tidak mempermasalahkan lagi panggilan calis dan sayang dari Rifky karena percuma saja ia protes takkan dihiraukan oleh pria tampan itu.
Setelah berpamitan dengan ayahnya, Medina ke rumah Adam sebentar lalu naik ke motor Rifky.
" Kak, nanti Dina sendirian di sekolah."
" Kamu takut? Masa' boss preman takut sendirian di sekolah." ledek Rifky.
" Bukannya takut, tapi bosan kalau sendirian." rengek Medina.
Rifky memperlambat laju motornya agar tidak cepat sampai sekolah. Kasihan juga jika Medina sendirian di sekolah. Rifky hanya berharap tidak macet saat perjalanan ke kantornya.
" Sayang, udah sampai sekolah. Mau masuk ke dalam atau disini dulu? Kakak temenin sebentar disini sampai ada siswa lain yang datang." ujar Rifky.
" Tidak usah, nanti kakak telat sampai di tempat kerja. Oh iya, kakak kerja apa di kota?"
" Mmm... kerja di bidang jasa. Jadi, kakak tidak harus datang ke tempat kerja setiap hari."
" Jasa apa?"
" Udah, nggak usah mikirin kerjaan kakak. Belajar saja yang rajin dan jangan berbuat onar."
" Ya udah, kakak pergi saja. Dina masuk dulu sebentar lagi juga banyak siswa yang datang."
" Ingat pesan kakak! Assalamu'alaikum," ucap Rifky.
" Wa'alaikumsalam, kakak hati - hati... jangan ngebut."
" Iya, sayangku."
Setelah Rifky benar - benar pergi, Medina bergegas masuk ke dalam gerbang sekolah dan akan menunggu teman yang lain di tempat parkir.
" Hai... Medina. Sendirian aja, saya temani kamu disini ya?"
Medina kaget saat tiba - tiba Dani sudah berdiri di hadapannya. Entah sejak kapan pria yang sangat dibencinya itu berada tepat di depan matanya.
" Pergi sana! Saya tidak butuh pecundang sepertimu." ketus Medina.
" Kau sebut saya pecundang? Sepertinya kau sangat mengenal diriku,"
Dani meraih lengan Medina dan semakin mendekatkan tubuhnya hingga berjarak hanya beberapa centi saja.
" Lupakan masa lalu, kita bisa mengukir cerita lebih indah." bisik Dani dengan seringai di bibirnya.
__ADS_1
" Jangan mencari masalah denganku!" geram Medina.
" Why? Apa kita tidak bisa sekedar berteman?" senyum licik tersungging dari pria itu.
" Jangan paksa saya untuk berbuat kasar!"
Medina mendorong tubuh Dani hingga membentur pohon besar di belakangnya. Dengan amarah yang kian memuncak, Medina mencengkeram kuat dagu Dani.
" Jangan pernah mengganggu ketenanganku atau kau akan kubuat menghilang dari bumi ini!" ancam Medina seraya memukul perut Dani dengan sangat kencang lalu pergi keluar gerbang sekolah menunggu para sahabatnya.
" Sial...! Gadis brutal itu sangat kuat, tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkannya." gumam Dani sambil memegangi perutnya yang sakit.
¤ ¤ ¤
Medina duduk di bawah pohon diluar gerbang sekolah sambil memainkan ponselnya. Jenuh juga sendirian seperti anak ayam kehilangan induknya.
" Assalamu'alaikum, Meong...!"
Empat sahabat Medina itu entah sejak kapan sudah nangkring diatas motor masing - masing di depan Medina.
" Astaghfirullah... Wa'alaikumsalam. Kalian ngagetin aja sih," sungut Medina.
" Pagi - pagi udah lecek aja tuh muka, Mey? Apa ada masalah?" tanya Ririn.
" Nggak ada, udah yuk masuk. Kalian lama banget ditungguin dari tadi." gerutu Medina.
" Woiii... Bukannya kita yang lama, tapi kamu yang kepagian berangkatnya." sahut Bayu.
Mereka berlima segera masuk ke dalam area sekolah karena sebentar lagi bel masuk berbunyi. Medina dan Ririn bergandengan masuk kelas diikuti tiga cowok tampan di belakangnya.
" Kenapa, Bay?" tanya Adam.
" Coba pikirkan deh, setiap hari kita seperti ini terus tsk ada perubahan." kata Bayu.
" Perubahan apa?" tanya Johan bingung.
" Coba lihat posisi kita selama sekolah disini. Medina sama Ririn berjalan di depan layaknya putri raja, kita ngikutin di belakang seperti bodyguard aja." keluh Bayu.
" Oh... jadi kamu mau berjalan di depan seperti pangeran?" ledek Ririn.
" Bukan begitu, cuma_..."
" Udah, jangan pada berisik! Ayo masuk kelas!" titah Medina.
Kali ini Medina masuk terlebih dahulu bersama dengan Adam. Di dalam sudah ada Dani yang selalu tersenyum kearahnya.
" Sabar Medina, jangan terpancing emosi." batin Medina teringat dengan pesan Rifky.
" Kenapa, Mey? Ada masalah dengan Dani?" lirih Adam.
" Tidak, kamu tenang aja." jawab Medina.
" Jangan sembunyikan apapun dariku!" tegas Adam dengan suara tertahan.
" Dam, I'm fine. Kita bahas saja nanti sepulang sekolah."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, bel masuk berbunyi pertanda jam pelajaran segera dimulai. Semua siswa duduk rapi di tempatnya masing - masing.
¤ ¤ ¤
Sepulang sekolah, Medina langsung pulang ke rumah tanpa mengecek keadaan pasar terlebih dahulu. Suasana hatinya sedang buruk semenjak bertemu dengan Dani tadi pagi.
" Dina, kamu nggak makan? Ayah sudah masakin makanan kesukaan kamu." ujar pak Hasan yang melihat anaknya berbaring di depan tv sambil bermain ponsel.
" Dina belum lapar, Yah." jawab Medina dengan muka malas.
" Ada apa lagi? Apa Rifky yang membuatmu tidak bersemangat hari ini?" ledek pak Hasan.
" Ihh... Ayah! Kenapa bawa - bawa kak Rifky sih?" sungut Medina.
" Ya sudah, kalau begitu nanti malam ikut ayah ke rumah kepala sekolah di tempat ayah mengajar. Setelah itu kita makan di tempat favorit kamu."
" Benarkah? Ya sudah, Dina siap - siap dulu." Medina sangat bersemangat karena sang ayah akan mengajaknya makan di warung ujung desa yang menjual sate madura.
" Siap - siap apa? Perginya nanti habis Isya', Dina."
" Hehehee... Dina pikir sekarang." ucap Medina nyengir.
Pak Hasan hanya geleng - geleng kepala dengan tingkah putri semata wayangnya yang kini tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Karena terlalu sayangnya, pak Hasan tidak pernah bisa melarang apapun yang dilakukan Medina.
Semenjak ibunya Medina meninggal, gadis itu selalu melampiaskan kesedihannya dengan latihan taekwondo setiap hari. Tak ada yang berani menegurnya termasuk sang ayah sendiri.
" Din, apa malam ini Rifky akan pulang?" tanya pak Hasan.
" Tidak tahu, Yah. Kak Rifky tidak bilang apa - apa sama Medina." jawab Medina.
" Memangnya kamu istrinya, sampai dia harus pamit sama kamu." kekeh pak Hasan.
" Ayaahhhh...!" sungut Medina kesal.
" Hehehee... putri ayah memang sudah bukan anak kecil lagi sekarang."
Pak Hasan duduk di samping Medina yang sedang rebahan. Dibelainya perlahan puncak kepala putrinya dengan lembut dan menyunggingkan seulas senyum di bibirnya.
" Maafkan Dina, ayah. Selama ini Medina tidak pernah menghormati ayah, Medina anak yang durhaka." isak Medina.
" Tidak, Nak. Kamu adalah putri terbaik ayah. Kamu adalah satu - satunya harta milik ayah yang harus dijaga dengan segenap jiwa raga ayah." tutur pak Hasan lembut penuh kasih sayang.
Medina tak bisa lagi menahan airmata yang semakin deras. Dipeluknya tubuh sang ayah dengan sangat erat untuk meluapkan rasa rindu yang telah bertahun - tahun ia pendam.
" Dina sayang ayah,"
" Ayah juga sangat menyayangimu, Nak."
.
.
TBC
.
__ADS_1
.